MENGENAL ISTILAH SANAD

MENGENAL ISTILAH SANAD
.
Di dalam ilmu hadits ada sebuah istilah yang sangat populer, yaitu sanad.
.
Apa itu sanad ?
.
Sanad adalah silsilah para periwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Sanad / isnad merupakan kekhususan umat Islam. Al-Qur’an telah diriwayatkan kepada kita oleh para perawi dengan sanad yang mutawatir. Demikian pula telah sampai kepada kita hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang shahih. Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang ada pada kaum Nashrani dan Yahudi tanpa sanad yang bersambung dan shahih, sehingga sangat diragukan keabsahan kedua kitab tersebut.
.
Isnad hadits adalah silsilah para perawi yang meriwayatkan matan (sabda) hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Para ahli hadits telah memberikan kriteria yang ketat agar suatu hadits dinilai sebagai hadits yang shahih, mereka ketat dalam menilai para perawi hadits tersebut. Karenanya mereka (para ahli hadits) mendefinisikan hadits shahih dengan definisi berikut :
.
مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنْ مِثْلِهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ
.
“Yaitu hadits yang sanadnya bersambung dengan penukilan perawi yang ‘adil dan dhoobith (kuat hafalannya) dari yang semisalnya hingga kepuncaknya tanpa adanya syadz dan penyakit (‘illah)”
.
Yaitu para perawinya dari bawah hingga ke atas seluruhnya harus tsiqoh dan memiliki kredibilitas hafalan yang sempurna (lihat Nuzhatun Nadzor hal 58), serta sanad tersebut harus bersambung dan tidak ada ‘illahnya (penyakit) yang bisa merusak keshahihan suatu hadits.
.
Oleh karenanya dari sini nampaklah urgensinya pengecekan kevalidan isnad suatu hadits
.
Ibnu Siiriin berkata :
.
لَمْ يَكُوْنُوا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ
.
“Mereka dahulu tidak bertanya tentang isnad, akan tetapi tatkala terjadi fitnah maka mereka berkata : “Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian”, maka dilihatlah Ahlus sunnah dan diambilah periwayatan hadits mereka dan dilihatlah ahlul bid’ah maka tidak diambil periwayatan hadits mereka”
.
Perkataan Ibnu Siiriin rahimahullah ini dibawakan oleh Imam Muslim dalam muqoodimah shahihnya hal 15 di bawah sebuah bab yang berjudul :
.
بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ
.
“Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (menjelaskan aib) para perawi yang sesuai ada pada mereka diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembela’an terhadap syari’at yang mulia”.
.
• MENIRU NUR HASAN
.
Di masa lalu ada yang bernama Nur Hasan Ubaidah pendiri Islam Jama’ah yang ngaku-ngaku memiliki sanad yang mangkul sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Hasan Ubaidah mengatakan, bahwa orang yang Islamnya tidak bersanad (tidak mangkul) maka islamnya diragukan.
.
Prilaku Hasan Ubaidah yang dinyatakan sesat oleh para Ulama, ternyata sa’at ini jejak langkahnya ada yang meniru.
.
Kalau perkata’an Hasan Ubaidah di tujukan kepada semua umat Islam yang di luar jama’ahnya, kalau yang meniru Hasan Ubaidah di tujukan kepada mereka yang di sebut wahabi.
.
Orang-orang yang meniru Hasan Ubaidah berkata kepada yang mereka sebut wahabi ; Ulama wahabi tidak bersanad, Ulama wahabi ilmunya di ragukan, Ulama wahabi ilmunya dangkal, Fatwa mereka batil dan tertolak. Kira-kira seperti itu celotehan dan teriakan mereka.
.
Mereka sangat bersemangat sekali meneriakan kata-kata seperti itu. Mereka tidak sadar kalau prilakunya boleh meniru-niru dari seseorang yang sudah di sesatkan oleh para Ulama.
.
Sebenarnya, tuduhan mereka yang mengatakan wahabi tidak punya sanad, hanyalah cara-cara mereka yang di pakai sa’at terdesak atau bernafsu ingin memenangkan perdebatan.
.
Padahal cara-cara tersebut tidak pernah dilakukan oleh para ulama dari madzhab manapun. Tidak ada seorangpun dari para ulama madzhab yang pernah berkata : “Fatwa kamu tertolak karena kamu tidak bersanad !!”
.
Sering terjadi perdebatan diantara para ulama madzhab dalam masalah fikih, namun tidak seorangpun dari mereka ketika membantah yang lain dengan berdalih “Pendapat anda batil karena anda tidak bersanad !!!”
.
Para Ulama ahlus sunnah, ketika berdebat dengan para ahlul bid’ah dalam masalah aqidah maka para ulama ahlus sunnah membantah dengan cara menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sama sekali mereka tidak pernah berkata kepada Ahlul Bid’ah “Kalian di atas kebatilan karena tidak bersanad !!!”.
.
Syari’at Islam bersumber kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian juga ijmaa’ para ulama. Apabila terjadi perselisihan maka Allah memerintahkan kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
.
“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59).
.
Allah Ta’ala tidak pernah mengatakan “KEMBALILAH KALIAN KEPADA ORANG YANG BERSANAD”.
.
Diringkas dari:
https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/211-antara-habib-munzir-a-islam-jamaah
.
.
_____

Iklan