ASAL NYOMOT DALIL

ASAL NYOMOT DALIL
.
Sudah menjadi kebiasa’an para penyesat umat dalam membela kesesatannya adalah mengeluarkan dalil asal-asalan atau asal nyomot dalil. Dan tentu saja orang awam yang menjadi korban. Karena orang-orang awam tidak akan bisa mengetahui kalau tokoh yang di ikutinya asal-asalan dalam berdalil.
.
Contoh paling aktual sa’at ini, ketika umat Islam menentang pencalonan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta.
.
Seorang pembela Ahok Nusron Purnomo dengan lantang dan mata mau loncat berkata, Saya ingin mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi pernah mengatakan : “Khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum, yalunahum, yalunahum, yalunahum”.
.
Nusron mengartikan : “Sebaik-baiknya masa adalah masaku pada sa’at Nabi Muhammad, setelah itu masa sahabat, setelah itu masa sahabat Bani Umayyah, setelah itu masa sahabat Bani Abbasiyah, setelah itu masa ulama-ulama, ulama, ulama sampai sekarang. Ini adalah derajat kebaikan”.
.
Nusron melanjutkan, Saya ingin bertanya, . . pada abad Bani Abbasiyah, khalifah Abbasiyah ke-16 Sultan Khalifah Al-Muktadid Billah pernah mengangkat seorang gubernur namanya Umar bin Yusuf, seorang Kristen ta’at menjadi gubernur di Al- Anbar Irak, apakah waktu itu tidak ada surat al-maidah 51 ? pada zaman itu, apakah pada sa’at itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan Al-Maida. Mohon ma’af, apakah ulama-ulama sa’at itu, kalah saleh kalah alim dengan ulama-ulama hari ini ?
.
Itulah diantara argumen Nusron dalam membela Ahok. Nusron ingin menunjukkan bahwa pada masa Al-Mu’tadhid Billah ternyata ada seorang Gubernur non muslim yang di angkat oleh Al-Mu’tadhid Billah. Dan Nusron mengklaim bahwa masa itu adalah masa terbaik. Dengan menunjukkan masa Al-Mu’tadhid Billah tersebut, Nusron ingin menunjukkan di bolehkannya mengangkat seorang Gubernur non muslim oleh umat Islam.
.
Begitulah Nusron Purnomo membawakan hadits di atas dengan pengertiannya menurut Nusron sendiri.
.
Apakah benar ada hadits sebagaimana yang di tunjukkan Nusron, juga arti dan maknanya sesuai dengan yang di sebutkan Nusron ?
.
Berikut ini adalah hadits yang di maksud Nusron, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
.
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Yang dimaksud sebaik-baik umatku pada masaku dalam hadits diatas adalah para Sahabat Nabi, kemudian
generasi selanjutnya yaitu Tabi’in dan generasi selanjutnya yaitu Tabi’ut Tabi’in. Itulah tiga generasi terbaik umat Islam yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Tabi’in adalah generasi setelah para Sahabat, dan Tabi’ut Tabi’in adalah generasi setelah para Tabi’in.
.
Tiga generasi terbaik umat di atas adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi (Salafus shalih).
.
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar dan selamat merujuk kepada mereka (Salafus shalih).
.
Lalu bagaimana dengan Al-Mu’tadhid Billah yang di sebutkan Nusron ?
.
Al-Mu’tadhid Billah di lahirkan pada 242 H. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H.
.
Al-Mu’tadhid Billah yang di maksud Nusron ternyata tidak termasuk kepada tiga generasi terbaik umat yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tiga generasi terbaik umat berakhir pada tahun 180 H. Yaitu dengan wafatnya Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi, seorang Tabi’ut Tabi’in yang terakhir wafat. Sementara Muqtadir Billah mulai menjadi khalifah pada tahun 279 H.
.
Maka nampak jelas argumen yang di tunjukkan Nusron sebagai dalil di bolehkannya memilih pemimpin non muslim adalah dalil asal nyomot.
.
Sebagai tambahan :
.
Sahabat Nabi yang terakhir wafat adalah : Abu Thufail ‘Aamir bin Waatsilah Al-Laitsiy. Wafat tahun 100 H.
.
Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Abu Roja’ Al-‘Uthoridi. Wafat tahun 106 H.
.
Dan Tabiut Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi. Wafat tahun 180 H.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
————-

Iklan