DALIL ASAL-ASALAN

DALIL ASAL-ASALAN
.
Dalil asal-asalan maksudnya, asal berdalil atau menggunakan dalil seenak hawa nafsu. Menggunakan dalTAHLILAN KEBO KYAI BODONGil seenak hawa nafsu biasa di lakukan ahli bid’ah. Sehingga para Ulama menyebut ahli bid’ah dengan sebutan pengikut hawa nafsu.
.
Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
.
لاَ تُجَالِسْ أَهْلَ اْلأَهْوَاءِ فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوْبِ
.
“Janganlah engkau duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena akan menyebabkan hatimu sakit”.
(Al-Ibaanah libni Baththah al-‘Ukbary (II/438 no. 371, 373).
.
Hasan al-Bashri (w 110 H) rahimahullah berkata :
.
لاَ تُجَالِسُوْا أَهْلَ اْلأَهْوَاءِ وَلاَ تُجَادِلُوْهُمْ وَلاَ تَسْمَعُوْا مِنْهُمْ
.
“Janganlah kalian duduk dengan pengikut hawa nafsu, janganlah berdebat dengan mereka dan janganlah mendengar perkata’an mereka”. (Ibnu Baththah al-‘Ukbari dalam al-Ibaanah, no. 395, 458).
.
Pengikut hawa nafsu yang di sebutkan para Ulama di atas maksudnya adalah ahli bid’ah.
.
• Akibat buruk asal berdalil
.
Akibat buruk dari asal berdalil, adalah maraknya bid’ah di tengah-tengah umat. Sebagaimana di katakan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
.
مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
.
“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati”. (Diriwayatkan oleh Ath-Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610).
.
• Yang pertama kali asal-asalan berdalil.
.
Yang pertama kali asal-asalan berdalil ternyata makhluk paling terkutuk yaitu Iblis laknatullah ‘alaihi biangnya kesesatan.
.
Ketika Allah Ta’ala menyuruh iblis untuk sujud kepada Adam ‘alaihis salam Iblis menolaknya, dan Iblis mengeluarkan dalil.
.
Iblis berkata (berdalil) :
.
أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
.
“Aku lebih baik dari padanya (Adam), Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah”. (QS. Al-Araf, 12).
.
Itulah dalil asal-asalan iblis sebagai alasan untuk menolak tidak mau sujud kepada Adam. Menurut iblis api lebih mulia daripada tanah. Karena asal berdalil itulah maka iblis yang asalnya makhluk ta’at berubah jadi makhluk paling sesat.
.
• Kesesatan berawal dari dalil asal-asalan
.
Asal berdalil atau berdalil asal-asalan akan menjadikan manusia menyimpang dan tersesat dari kebenaran.
.
Semua kelompok yang menyimpang dan sesat, bukan berarti keyakinan dan amal ibadah mereka tanpa dalil, bahkan mereka memiliki dalil yang sangat banyak untuk membela kesesatannya.
.
Semua kelompok yang menyimpang dan sesat, mereka pun menggunakan dalil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi, disamping menggunakan dalil yang lemah dan palsu. Namun penempatan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi tersebut di letakkan tidak pada tempatnya atau di maknai sesuai hawa nafsunya atau di fahami secara keliru.
.
• Cara berdalil yang benar
.
Perlu di ketahui, ketika hendak menggunakan dalil, maka ada dua hal yang perlu di perhatikan,
.
1. Keshahihan dalil (صِحَّةٌ الدَّلِيل).
.
2. Kebenaran dalam menempatkan dalil (صِحَّةٌ الاِسْتِدْلَاَلُ).
.
• Contoh asal berdalil
.
Diantara dari sekian banyak dalil asal-asalan, sebagai contohnya dalil berikut,
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
.
“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Riwayat Muslim).
.
Hadits di atas derajatnya sahih, dan hadits ini sering di gunakan oleh para pembela bid’ah hasanah sebagai dalil di bolehkannya berbuat bid’ah.
.
Membenarkan bolehnya berbuat bid’ah dengan hadits di atas adalah kesalahan dalam menempatkan dalil.
.
Hadits di atas bukan perintah atau persetujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah).
.
Tapi hadits di atas sebagai bentuk apresiasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang Sahabatnya yang bersegera melakukan amal salih, dalam hal ini yaitu sodaqoh.
.
Diantara cara untuk memaknai suatu hadits dengan tepat, yaitu dengan cara melihat asbabul wurud dari suatu hadits tersebut. Atau kronologinya dari sebuah hadits.
.
Adapun sebab turun atau kronologi dari hadist di atas yaitu, Di riwayatkan suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan suatu kaum dari Bani Mudlor dengan kondisi yang memprihatinkan, mereka bertelanjang kaki. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat yang ada untuk memberikan bantuan atau sodaqoh. Lalu datanglah seseorang dari kalangan anshor dengan membawa kantung yang tangannya hampir tidak bisa membawanya bahkan tidak mampu, kemudian orang-orang pun mengikuti sehingga terlihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, maka nampak wajah Rosulullah berseri-seri bagaikan perak bersepuh emas.
.
Lalu beliau bersabda ;
.
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.
.
“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”.
.
Itulah asbabul wurud atau kronologi dari hadits di atas.
.
Maka apabila hadis tersebut dijadikan dalil untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah adalah sungguh keliru, karena hadist tersebut tidak menunjukkan adanya perintah atau persetujuan Nabi kepada orang yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah).
.
Akan tetapi sebagai bentuk apresiasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang Sahabatnya yang bersegera melakukan amal salih, dalam hal ini yaitu sodaqoh.
.
Dari kisah di atas juga jelas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshorlah yang pertama kali bersedekah, kemudian di ikuti oleh para sahabat yang lain.
.
Apakah sodaqoh atau bantuan seorang Sahabat dari ansor tersebut mau di katakan bid’ah (perkara baru) ?
.
Tentunya kita semua mengetahui, bahwa shodaqoh bukanlah perkara yang diada-adakan.
.
Dari riwayat itu juga nampak jelas, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Dalam riwayat hadits tersebut tidak menunjukkan ada seorang Sahabat yang membuat amalan baru atau suatu cara yang baru dalam Islam. Sodaqoh atau bantuan yang dilakukan Sahabat anshor bukan cara atau kreasi baru yang di buat seorang Sahabat.
.
Maka berdalil dengan hadits tersebut untuk membolehkan berbuat bid’ah atau menyatakan adanya bid’ah hasanah adalah cara pendalilan yang asal-asalan.
.
Contoh dalil asal-asalan lainnya, ketika umat Islam menentang pencalonan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta.
.
Seorang pembela Ahok Nusron Purnomo dengan lantang dan mata mau loncat berkata, Saya ingin mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi pernah mengatakan : “Khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum, yalunahum, yalunahum, yalunahum”.
.
Nusron mengartikan : “Sebaik-baiknya masa adalah masaku pada sa’at Nabi Muhammad, setelah itu masa sahabat, setelah itu masa sahabat Bani Umayyah, setelah itu masa sahabat Bani Abbasiyah, setelah itu masa ulama-ulama, ulama, ulama sampai sekarang. Ini adalah derajat kebaikan”.
.
Nusron melanjutkan, Saya ingin bertanya, . . pada abad Bani Abbasiyah, khalifah Abbasiyah ke-16 Sultan Khalifah Al-Muktadid Billah pernah mengangkat seorang gubernur namanya Umar bin Yusuf, seorang Kristen ta’at menjadi gubernur di Al- Anbar Irak, apakah waktu itu tidak ada surat al-maidah 51 ? pada zaman itu, apakah pada sa’at itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan Al-Maida. Mohon ma’af, apakah ulama-ulama sa’at itu, kalah saleh kalah alim dengan ulama-ulama hari ini ?
.
Itulah diantara argumen Nusron dalam membela Ahok. Nusron ingin menunjukkan bahwa pada masa Al-Mu’tadhid Billah ternyata ada seorang Gubernur non muslim yang di angkat oleh Al-Mu’tadhid Billah. Dan Nusron mengklaim bahwa masa itu adalah masa terbaik. Dengan menunjukkan masa Al-Mu’tadhid Billah tersebut, Nusron ingin menunjukkan di bolehkannya mengangkat seorang Gubernur non muslim oleh umat Islam.
.
Begitulah Nusron Purnomo membawakan hadits di atas dengan pengertiannya menurut Nusron sendiri.
.
Apakah benar ada hadits sebagaimana yang di tunjukkan Nusron, juga arti dan maknanya sesuai dengan yang di sebutkan Nusron ?
.
Berikut ini adalah hadits yang di maksud Nusron, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
.
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Yang dimaksud sebaik-baik umatku pada masaku dalam hadits diatas adalah para Sahabat Nabi, kemudian
generasi selanjutnya yaitu Tabi’in dan generasi selanjutnya yaitu Tabi’ut Tabi’in. Itulah tiga generasi terbaik umat Islam yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Tabi’in adalah generasi setelah para Sahabat, dan Tabi’ut Tabi’in adalah generasi setelah para Tabi’in.
.
Tiga generasi terbaik umat di atas adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi (Salafus shalih).
.
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar dan selamat merujuk kepada mereka (Salafus shalih).
.
Lalu bagaimana dengan Al-Mu’tadhid Billah yang di sebutkan Nusron ?
.
Al-Mu’tadhid Billah di lahirkan pada 242 H. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H.
.
Al-Mu’tadhid Billah yang di maksud Nusron ternyata tidak termasuk kepada tiga generasi terbaik umat yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tiga generasi terbaik umat berakhir pada tahun 180 H. Yaitu dengan wafatnya Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi, seorang Tabi’ut Tabi’in yang terakhir wafat. Sementara Muqtadir Billah mulai menjadi khalifah pada tahun 279 H.
.
Maka nampak jelas argumen yang di tunjukkan Nusron sebagai dalil di bolehkannya memilih pemimpin non muslim adalah dalil asal-asalan.
.
Sebagai tambahan :
.
Sahabat Nabi yang terakhir wafat adalah : Abu Thufail ‘Aamir bin Waatsilah Al-Laitsiy. Wafat tahun 100 H.
.
Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Abu Roja’ Al-‘Uthoridi. Wafat tahun 106 H.
.
Dan Tabiut Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi. Wafat tahun 180 H.
.
Referensi :
.

Kyai NU Sebut Nusron Wahid dan Para Pembela Ahok Punya Sifat “Basimah”

.
http://­waspada-khawarij.blog­spot.co.id/2011/06/­3-generasi-yang-awal-­sahabat-tabiin.html?­m=1
.

.
DALIL ASAL-ASALAN PERTAMA KALI DI LAKUKAN OLEH IBLIS, TAPI TERNYATA BANYAK DI TIRU OLEH MANUSIA. SEMOGA KITA TIDAK DI GOLONGKAN SEBAGAI PENGIKUT IBLIS.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______

Iklan