FENOMENA RUWAIBIDHOH

FENOMENA RUWAIBIDHOH
.
Diantara fenomena akhir zaman, yaitu maraknya ruwaibidhoh bermunculan ke permuka’an di tengah-tengah umat.
.
Seorang Sahabat bertanya,
.
وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ ؟
.
“Apakah Ar-Ruwaibidhoh ?”
.
Kemudian di jelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
Ruwaibidhoh adalah :
.
” الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ ”
.
“Seorang laki-laki yang bodoh tetapi sok mengurusi urusan orang banyak”.
.
(HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912).
.
Yang di maksudkan bodoh dalam hadits di atas ialah orang yang tidak memiliki kapasitas, namun melibatkan diri kepada urusan orang banyak, tampil kepermuka’an kemudian mengeluarkan pendapat-pendapat atau penafsiran-penafsiran menurut pribadinya seolah-olah dirinya pakar atau ahlinya.
.
Ruwaibidhoh berbicara menurut hawa nafsunya. Menafsirkan Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri seolah-olah dia ahli tafsir, memaknai hadits seolah-olah dirinya ahli hadits, bicara sejarah seolah-olah dirinya pakar sejarah.
.
Para ruwaibidhoh bisa muncul ke permuka’an di tengah-tengah umat karena mereka memiliki kemampuan bicara dan sederet gelar akademik yang di sandangnya semacam sarjana, magister, doktor bahkan profesor. Sehingga orang awam menyebut mereka cendikiawan. Mereka juga memiliki posisi di organisi masa, lembaga atau ke partaian.
.
Tentang ruwaibidhoh di sebutkan dalam sebuah hadits sebagai berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
.
“Akan datang ke pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, sa’at itu pendusta di benarkan, orang yang benar justru di dustakan, pengkhianat di berikan amanah, orang yang di percaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhoh berbicara.” Di tanyakan : “Apakah Ar-Ruwaibidhoh ?” Beliau bersabda : “Seorang laki-laki yang bodoh tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912).
.
Hadits tentang ruwaibidhoh di atas sebagai nubuwat kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan merupakan cela’an kepada ruwaibidhoh juga sebagai peringatan dari Rasulullah kepada umatnya, supaya waspada dari sepak terjang mereka.
.
Sifat buruk dari ruwaibidhoh adalah berani membuat penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an atau memaknai hadits atau berfatwa atau berpendapat dalam permasalahan agama menurut logikanya. Hal ini sangat berbeda dengan para Shalafus Shalih.
.
Dalam taarikh Dimasyq Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa Atho Ibnu Rabah rahimahullah pernah ditanya tentang sesuatu. Atho Ibnu Rabah menjawab : “Aku tidak tahu”. Penanya kembali berkata : “Tidakkah engkau mau mengutarakan pendapat pribadimu dalam masalah ini ?” Atho Ibnu Rabah menjawab :
.
إني أستحي من اللَّه أن يدان فِي الأرض برأيي
.
“Aku malu pada Allah, jika orang-orang dimuka bumi ini beragama dengan pendapatku”.
.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu pernah berkata : ‘Bumi mana yang akan ku pijak, dan langit mana yang akan sanggup menaungiku, jika aku berkata tentang ayat dari kitab Allah dengan ra’yu-ku (pendapatku) atau dengan apa yang aku tidak tahu.’
.
Itulah sikap para Shalafus Shalih teladan umat. Mereka sangat khawatir mengelurkan pendapat dalam permasalahan agama menurut ra’yu-nya (logikanya). Padahal mereka paling faham tentang Islam.
.
• Ruwaibidhoh Sumber Perselisihan Umat.
.
Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ? Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu. Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah.” (kitab Al I’tisham, karya Asy Syathibi, II/691).
.
• Fenomena Ruwaibidhoh Sa’at Ini.
.
Akhir-akhir ini ramai di bicarakan seorang Nusron Purnomo pendukung koh Ahok yang non Muslim yang akan mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta.
.
Ketika umat Islam Indonesia marah dengan pernyata’an koh Ahok yang mengatakan umat Islam jangan mau di bohongi dengan surat Al-Maidah ayat 51.
.
Kemudian ayat 51 dari surat Al-Maidah tersebut menjadi ramai di perselisihkan penafsirannya. Berdasarkan ayat 51 surat Al-Maidah tersebut, umat Islam mengharamkan menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin bagi kaum Muslimin.
.
Berbeda dengan pendukung koh Ahok, mereka mati-matian membela jagoannya. Maka tampilah ke depan seorang Nusron pembela koh Ahok. Dengan lantang dan mata mau loncat, di depan perwakilan dari MUI dan umat Islam, Nusron berkata : “Teks apa pun bebas tafsir”. Itulah diantara perkata’an Nusron Purnomo sang pembela koh Ahok.
.
Sungguh nekat pendukung Ahok di atas. Ketika umat Islam mengharamkan memilih pemimpin kafir dengan merujuk kepada ayat Al-Qur’an. Nusron Purnomo memberikan bantahan, bahwa teks apa pun bebas tafsir. Yang di maksud Nusron, penafsiran dari para Ulama tentang haramnya memilih pemimpin kafir berdasarkan ayat 51 surat Al-Maidah tidak benar.
.
Benarkah teks apapun bebas tafsir ?
.
Timbulnya penyimpangan dan kesesatan dalam Islam, adalah karena adanya sebagian kelompok yang menafsirkan Al-Qur’an dengan hawa nafsunya (ra’yu).
.
Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ فَسَّرَ اْلقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
.
“Siapa saja yang menafsirkan Al Qur’an dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka”. (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Abi Syaibah).
.
Di dalam Islam, tidak di benarkan bagi siapa pun memberikan penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara serampangan. Para Ulama Ahlu Sunnah sangat ketat dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
.
Untuk memahami dengan benar kandungan dan maksud-maksud ayat al-Quran, diperlukan penafsiran oleh orang yang memenuhi kualifikasi. Meski kualifikasi itu tidak mutlak, namun para Ulama tafsir menetapkan syarat-syarat yang sangat ketat sehingga tidak semua orang dapat menafsirkan al-Quran.
.
Ibnu Taimiyyah, menulis yang ia kutip dari Ibnu Katsir bahwa pola penafsiran yang paling utama, pertama adalah menjelaskan ayat al-Qur’an dengan al-Qur’an kembali, jika belum nampak kejelasannya maka masuk ke tahapan yang kedua yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan mencari penjelasan dari hadis Nabi, jika dalam hadis belum nampak kejelasan maknanya maka masuk ke langkah ke tiga yaitu mencari pendapat sahabat. Dan jika dalam āsār sahabat pun belum nampak kejelasannya maka pergunakalanlah pendekatan kebahasaan (linguistik). (Ibnu Taimiyyah, Muqaddimah fi at-tafsīr, hal. 93-103).
.
Itulah metode para Ulama Shalafus Shalih yang di gunakan dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Para Shalafus Shalih tidak pernah ada yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan hawa nafsu, tidak sebagaimana para penyesat umat yang semena-mena menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjustifikasi faham atau kelompoknya.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
=================

Iklan