MUBAHALAH SENJATA TERAKHIR MENGHADAPI PEMBELA KEBATILAN

MUBAHALAH SENJATA TERAKHIR MENGHADAPI PEMBELA KEBATILAN

Di saat hawa nafsu menguasai, saat dakwah yang lembut dan penuh hikmah menemui jalan buntu, saat hujjah yang berlandaskan al-Qur’an dan as-sunnah tidak dapat menundukkan hati yang sudah kadung mengeras. Saat kebenaran disingkirkan dan keba­tilan semakin digandrungi. Maka dalam kondisi seperti ini Allah Ta’ala memberikan jalan keluar bagi seseorang yang memegang kebenaran yang sedang berhadapan dengan pengusung keba­tilan untuk menggunakan sebuah jalan yang insya Alloh dengan cara itulah Alloh akan menampak­kan mana yang benar dan mana yang salah.

Cara itulah yang dikenal dengan istilah “Mubahalah”.

• PENGERTIAN MUBAHALAH

Secara bahasa mubahalah (المب هلة) berarti saling melaknat. Berasal dari bahasa Arab بهل yang berarti melaknat. (Mukhtarush Shihah 1/27).

• DALIL MUBAHALAH

Mubahalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mubahalah dengan orang yahudi. (Surat al-Baqoroh: 94-95 dan Surat al-Jumu’ah: 6-8).

2. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mubahalah dengan orang-orang Nasrani. (QS. Ali Imron: 61).

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mubahalah dengan kaum musyrikin. (QS. Maryam: 75 dan dalam hadits yang diriwayatkan HR. Bukhori-Muslim).

• HUKUM MUBAHALAH

Mubahalah adalah salah satu cara syar’i yang digunakan untuk menghadapi lawan yang ba­til dan menentang kebenaran setelah segala daya dan upaya mengalami jalan buntu untuk menasi­hatinya, mendebatnya, serta berdialog dengannya. Sama saja apakah ini dilakukan dengan orang kafir atau pun sesama muslim. Hal ini untuk menunjuk­kan kebatilan apa yang diyakini oleh lawan. Ini di­lakukan dengan cara bersungguh-sungguh dalam berdo’a kepada Alloh Ta’ala dan ber-tadzorru’ kepada-Nya agar Alloh Ta’ala menampakkan mana di antara keduan­ya yang berada di atas kebatilan dan semoga Alloh Ta’ala menjauhkan hukuman-Nya segera kepadanya.

• SYARAT-SYARAT MUBAHALAH

1. Ikhlas hanya mengharapkan keridhoan Alloh Ta’ala dan demi mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Memiliki ilmu yang cukup bahwa dia berada di atas kebenaran dan lawannya di atas kebatilan.

3. Dilakukan dalam sebuah perkara agama yang penting. Seperti menentang para pembela kebatilan.

4. Sebelum mubahalah terlebih dahulu diusahakan untuk berdiskusi, dialog, pe­nyampaian hujjah dan dalil, hingga perdebatan pun dilakukan.

5. Mubahalah tidak boleh untuk urusan duniawi.

Syaikh al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang penggunaan mubahalah untuk urusan dunia, maka beliau menjawab, “Tidak boleh menyeret hukum ini untuk urusan dunia”. (Kaset Silsilah Huda wan Nur No. 703).

• MANFA’AT MUBAHALAH

1. Binasanya orang yang berada di atas kebatilan, baik segera maupun agak lama.

Dan telah berlalu ucapan Imam Ibnu Hajar rahimahullah : “Dan dari pengalaman bahwa orang yang melakukan mubahalah dan dia itu orang yang salah, maka dia tidak akan hidup sampai satu tahun dari saat dia bermubahalah. Dan saya pun pernah mengalaminya bermubahalah dengan seorang yang ta’ashub (fanatik) dengan kelom­pok batil, akhirnya setelah itu dia hanya hidup dua bulan.” (Fathul Bari 7/697).

2. Orang yang tidak mau diajak mubahalah diang­gap sebagai kelompok yang salah, jika dia tidak punya alasan syar’i tentang alasannya menolak mubahalah.

Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Ya­hudi dan Nasrani pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Meninggikan agama dengan nampaknya ke­benaran dan hancurnya kebatilan.

Dan ini terbukti setelah tampaknya hasil muba­halah.

Sumber : Disalin sebagian dari Majalah ALFURQON no. 105edisi: 01 thn ke 10 Sya’ban 1431H/Juli-Agst 2010M.

• BOLEHKAH MUBAHALAH DENGAN SESAMA MUSLIM ?

Mubahalah boleh dilakukan dengan sesama orang Islam yang menyeleweng, ahli bid’ah dan semacamnya, berlandaskan bahwa, ada beberapa dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dulu mengajak orang lain sesama umat Islam untuk mubahalah.

Di antaranya :

1- Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan lebih dua masa.

2. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris).

• KISAH MUBAHALAH PARA ULAMA PEMBELA SUNNAH

1. Mubahalah Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dengan seorang yang ta’ashub kepada kelompok batil.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dan dari pengala­man bahwa orang yang melakukan mubahalah dan dia itu orang yang salah, maka dia tidak akan hidup sampai satu tahun dari saat dia bermubahalah. Dan saya pun pernah mengalaminya bermubahalah dengan seorang yang ta’ashub dengan kelompok batil, akhirnya setelah itu dia hanya hidup dua bulan.” (Fathul Bari 7/697).

Mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqolani diceritakan pula oleh Al-Hafizh as-Sakhowi rahimahullah dalam kitab al-jawahir wad Duror 3/1001.

As-Sakhawi dalam kitab Al- Jawahir wa Ad-Durar, “Biografi Syaikh Islam Ibnu Hajar” (I/1001), juga berkata, “Berkali-kali aku pernah mendengar Ibnu Hajar terlibat perdebatan serius dengan salah seorang pengagum Ibnu Arabi tentang diri Ibnu Arabi (dedengkot sufi) sehingga mendorongnya mengeluarkan ucapan yang dianggap tidak etis terhadap Ibnu Arabi. Tentu saja pengagum Ibnu Arabi tadi tidak bisa terima. Ia mengancam akan melaporkan Ibnu Hajar dan kawan-kawannya kepada sang sultan. Tetapi, ancaman itu ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan tenang. Ia mengatakan : ‘Jangan bawa-bawa sang sultan ikut campur dalam masalah ini. Mari kita mengadakan mubahalah saja’.

Jarang sekali dua orang yang mengadakan mubahalah, lalu pihak yang berdusta akan selamat dari musibah. Tantangan Ibnu Hajar ini disetujui oleh pengagum Ibnu Arabi tersebut.

Lalu, Ia mengatakan : ‘Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kesesatan, laknatilah aku dengan laknat-Mu’.

Lalu, Ibnu Hajar mengatakan : ‘Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kebenaran, laknatilah aku dengan laknat-Mu’.

Setelah itu, keduanya berpisah.

Ketika pengagum Ibnu Arabi tadi sedang berada di sebuah taman, ia kedatangan rombongan tamu seorang putra serdadu yang sangat tampan. Tidak lama kemudian tamu itu bermaksud minta pamit meninggalkannya dan teman-temannya, tanpa bersedia menginap.

Selepas isya’ tamu itu beranjak pergi. Ia dan teman-temannya ikut mengantarkannya sampai di daerah perbatasan. Sepulang dari mengantarkan tamu, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak pada kakinya. Ia mengeluhkan hal itu kepada teman-temannya. Setelah diperiksa, mereka tidak melihat apa-apa. Ia kemudian pulang ke rumahnya. Begitu sampai di rumah tiba-tiba ia menjadi buta, dan paginya ia meninggal dunia.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 97 Hijriyah. Sedangkan peristiwa mubahalah terjadi pada bulan Ramadhan tahun yang sama. Ketika berlangsung mubahalah, Ibnu Hajar tahu bahwa siapa yang bersalah akan mendapat celaka kurang dari waktu setahun’.”

Sumber : Kisah Karomah Para Wali, Abul Fida’ Abdurraqib al-Ibi, Penerbit Darul Falah

Artikel: http://www.kisahislam.net

2. Mubahalah Syaikh Tasana’ulloh

Seorang ahli hadits India, Syaikh Tsana’ulloh al­-Amritsari rahimahullah (wafat 1367 H) pernah menantang Mirza Ghulam Ahmad al-Qodiyani pada tahun 1326 H bahwa barang siapa di antara keduanya yang ber­dusta dan berada di atas kebatilan, maka dia akan mati duluan dan terkena penyakit kolera. Akhirnya, selang beberapa waktu yang tidak lama, Mirza ter­kena penyakit kolera kemudian meninggal dunia, sedangkan Syaikh Tsana’ulloh rahimahullah, beliau hidup setelah itu empat puluh tahun lamanya.

• DALIL MUBAHALAH DARI FATWA ULAMA

Mubahalah itu tidak khusus hanya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dulu mengajak orang lain untuk mubahalah. Di antaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan yang terpanjang dari dua masa (sampai melahirkan, dan sampai 4 bulan 10 hari).

Dan juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris).

Dan tidak mengapa dalam hal mubahalah Ahlis Sunnah waljama’ah terhadap ahli syirik, bid’ah dan semacamnya tetapi sesudah ditegakkan hujjah (argumentasi) dan upaya menghilangi syubhat (kesamaran), dan memberikan nasihat dan peringatan, sedang itu semua tak guna.

Bukan termasuk kepastian (setelah mubahalah itu) munculnya tanda/ bukti atas dustanya orang yang batil dan dhalimnya orang yang dhalim, karena Allah Ta’ala menunda dan mengakhirkan, sebagai coba’an dan istidroj/ uluran.

Wallohu a’lam.

Mufti; Markas Fatwa dengan bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih (Asy-Syabakah Al-Islamiyah juz 8 halaman 85).

Kesimpulan dari Fatwa Ulama Diatas :

1. Boleh mubahalah/melaknat sesama muslim dalam masalah iddah, ‘aul dan faroidh

2. Boleh melaknat atas sesama muslim, jika seorang muslim yakin saudaranya telah berbuat syirik, bid’ah dan semacamnya.

• MUBAHALAH ULAMA INDONESIA DENGAN UMAT ISLAM YANG DIANGGAP MENYIMPANG

1. Habib Rizieq mengajak mubahalah Gus Dur (gus dur secara dzahir muslim) ( http://forum.detik.com/habib-rizieq-tantang-gus-dur-perang-sumpah-mubahalah-t43090.html ) , dan Habib Rizieq mnerima tantangan mubahalah sofyan tsauri (yang zahirnya terlihat muslim) ( http://www.detiknews.com/read/2010/10/06/142132/1457035/10/fpi-akan-ladeni-tantangan-mubahalah-sofyan-tsauri )

2. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Ridwan dan Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali Muhammad Dai memperbolehkan Irena handono dan Dicky candra bermubahalah,( sesame muslim ) http://kontaktokoh.multiply.com/reviews/item/116 ) ,

3. Prof KH Ali Mustafa Yaqub, MA (Pakar Ilmu Hadits) mengatakan “saya siap bermubahalah kepada setiap ajaran sesat ” ( yang notabene umat muslim juga ) lihat di http://indrayogi.multiply.com/reviews/item/22

4. Lembaga Pengka-jian-Penegakan dan Penerapan Syariat Islam (LP3SyI) bermubahalah dengan Darul Islam (DI) Filah yang juga notabene mubahalah sesama muslim, http://bataviase.co.id/node/182885

5. Ustadz hartono Ahmad jaiz menantang Mubahalah Ahmad Syafi’I Ma’arif dan Gus Dur http://www.nahimunkar.com/tantangan-mubahalah-untuk-ahmad-syafii-maarif-dan-gus-dur/

Wassalam

Dirangkum dari berbagai sumber.

_____________________

Iklan