BAHAYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

BAHAYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

Agama adalah apa yang telah dikatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya, dan sabda Rasulullah dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Allah dan Rasul-Nya termasuk kebodohan yang sangat berbahaya.

Alangkah banyaknya orang-orang yang berbicara hanya berdasarkan akal, perasa’an, duga’an, dan perkira’an, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Umumnya manusia segan berbicara masalah-masalah dunia ketika di hadapannya ada orang-orang yang memiliki specialisasi dalam bidangnya. Sebagaimana orang-orang segan berbicara masalah kedokteran, ketika ada dokter di hadapannya. Mereka segan berbicara masalah arsitek, ketika ada arsitektur di hadapannya.

Tetapi sangat disayangkan banyak orang tidak segan berbicara masalah agama, padahal dia bukanlah ahlinya.

Padahal ketika dia berbicara, dia selalu diawasi oleh Pencipta agama yang haq ini, karena Allah selalu mendengar, melihat, dan menyaksikan segala yang dibicarakan manusia.

• Berbicara tanpa ilmu merupakan sikap mengikuti hawa-nafsu

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi Rahimahullahu berkata :

“Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya”.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ ٱللَّهِ

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. (Al-Qashshash: 50).

• Orang yang bicara perkara agama tanpa ilmu, maka akan menanggung dosa dari orang-orang yang di sesatkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ومنْ دعاَ إِلىَ ضَلاَلةِ كاَن عليهِ من الإثمِ مثْلُ آثامِ مَنْ تبعَهُ لاَ ينْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شَيئاً

”Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (Shohih Muslim Hadits No : 6750).

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu berkata : “Sesungguhnya banyak orang awam, yang sebagian mereka memberi fatwa kepada sebagian yang lain dengan apa yang mereka tidak mengetahuinya. Engkau dapati mereka mengatakan, “Ini halal, atau haram, atau wajib, atau tidak wajib”, sedangkan mereka tidak mengetahui sedikitpun tentang hal itu! Tidakkah mereka tahu, bahwa pada hari kiamat Allah akan menanyai mereka tentang apa yang telah mereka katakan. Tidakkah mereka tahu, bahwa jika mereka menyesatkan seseorang, dengan menghalalkan untuknya apa yang Allah haramkan, atau mengharamkan untuknya apa yang Allah halalkan, maka mereka kembali (kepada Allah) dengan dosa-dosa orang-orang yang mereka sesatkan, yang hal itu disebabkan oleh fatwa mereka itu”. (Kitabul ‘Ilmi, hal. 76).

• Berbicara tentang agama tanpa ilmu akan diminta tanggung jawab

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36).

Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata : “Seorang hamba akan ditanya tentang mendengar, melihat, dan berfikir pada hari kiamat, dan semuanya itu akan ditanya tentang apa yg telah diamalkan”. (Tafsir Al-Qur’anul Azhim, surat Al-Isra’: 36)

Maka termasuk makna ayat ini adalah :
”Janganlah kita mengikuti apa-apa yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya. Janganlah kita mengikuti perkataan, perbuatan, atau hati terhadap apa yang kita tidak tahu. Sehingga Allah melarang kita untuk meyakini kecuali dengan ilmu, atau kita berbuat kecuali dengan ilmu, atau kita berkata kecuali dengan ilmu. Maka tidaklah kita (langsung) meyakini apa saja yg kita dengar, dan apa saja yg kita lihat, tetapi kita wajib memperhati-kannya dan memikirkannya. Jika kita telah mengetahuinya dengan bukti yg nyata, maka kita meyakininya. Namun jika tidak, maka kita tinggalkan hal tersebut di daerah keraguan, perkira’an, dan persangka’an yang tidak dianggap.” (Ushulul Hidayah, hal. 97, karya Syeikh Ibnu Badis).

Setelah mengetahui peringatan dan ancaman dari Allah dan Rasulnya, maka apakah orang-orang yang berbicara tentang agama semata-mata dengan akalnya, perasa’annya, perkira’annya, persangka’annya, dan duga’annya, akan tetap nekad mengedepankan kebodohannya ?

PERKATA’AN TIDAK DI ANGGAP APABILA TIDAK DI BANGUN DI ATAS ILMU

Imam Bukhari berkata dalam kitab shahihnya :

باب : العلم قبل و العمل

“Bab: Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat”.

Perkata’an beliau ini beliau sandarkan kepada firman Allah ta’ala :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”. (QS. Muhammad [47]: 19).

Ibnul Munir rahimahullah berkata,

“Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat diterima benarnya suatu perkata’an dan perbuatan. Suatu perkata’an dan perbuatan itu TIDAK TERANGGAP kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan”. (Fathul Bari, 1/108).

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

http://abuzuhriy.com/janganlah-engkau-berkata-tanpa-ilmu/

________

Iklan