PEMBELA TRADISI NENEK MOYANG

PEMBELA TRADISI NENEK MOYANG

Kalau soal ngotot dan melotot sepertinya para pembela bid’ah itu, merasa mereka saja yang paling punya otot. Padahal orang yang mudah ngeluarin otot kata orang tanda otaknya lemot, ngomong asal jeplak kata orang tanda otak cekak, asal ngebacot kata orang tanda idiot. Semua itu kata orang, bukan kata saya.

Orang yang otaknya kosong, kalo ngomong songong, tidak ada rasa malu dan tidak faham adab walau di dunia MABOK (maya dan facebook) sekalipun. Tatakrama dalam bertingkah dan berbicara sepertinya buat mereka jadi barang langka.

Salah ibu mengandung apa ayah yang punya burung ?

Kalau ada orang bicara bid’ah tersinggung tidak kepalang, bid’ah di bela habis-habisan, tapi kalau di katakan ahli bid’ah marah, meradang.

Mestinya mereka senang di katakan ahli bid’ah, bukankah mereka pembela bid’ah ?

Membela bid’ah segala macam syubhat dikeluarin, ngelantur tidak ketulungan model orang ngelindur.

Muka ente berarti bid’ah, karena tidak ada di jaman Nabi ?

Kantong kresek berarti bid’ah, karena tidak ada di jaman Nabi ?

Pergi haji naek onta saja, pesawat kan bid’ah karena tidak ada di jaman Nabi ?

Martabak bid’ah, karena tidak ada di jaman nabi ?

Dan banyak lagi, kata-kata konyol keluar dari mulutnya yang bau jengkol.

Ujung-ujungnya ngomel-ngomel, dasar wahabi, wahaboy, wahabrot.

Astagfirullah . . . Apakah mereka belum tahu, kalau wahabi itu asma Allah, Al-wahhab, yang artinya maha pemberi karunia. Apakah mereka tidak khawatir, karunia Allah yang berupa hidayah Allah ta’ala jauhkan dari mereka.

Asma Allah saja begitu beraninya mereka lecehkan, apalagi nama manusia. Makanya tidak heran nama-nama para Ulama ahlussunnah, mereka lecehkan sedemikian rupa.

Mengapa mereka sangat membenci dakwah sunnah, yang mengajak manusia kepada Tauhid, meninggalkan tahayul, bid’ah dan churofat (TBC).

Kalau kita baca sejarah dakwah para Rasul, maka kita akan dapati bahwa kelompok yang paling keras menentang dakwah Tauhid adalah mereka yang membela AJARAN LELUHURNYA, TRADISI NENEK MOYANGNYA. Dan mereka para MUQOLLID tukang ikut-ikutan.

Begitu pula sa’at ini, para penentang dakwah Tauhid adalah orang-orang yang mempertahankan tradisi leluhur, dan para muqollid.

Para muqollid, pembela tradisi nenek moyang sa’at ini, perinsip beragama mereka sama persis dengan umat-umat terdahulu ketika diseru para Rasul untuk bertauhid, mereka menjawab ;

بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

”. . (Tidak), kami hanya mau mengikuti apa yang telah kami dapati dari bapak-bapak kami. nenek moyang kami . . ”. (Al Baqarah, 170).

Jawaban umat-umat terdahulu, sama persis jawabannya dengan para pembela bid’ah sa’at ini. Mereka berkata, pokoknya kita ikuti saja orang tua kita, guru-guru kita, mereka bukan orang-orang bodoh, masa mereka salah, masa mereka tidak faham permasalahan agama. Begitulah perkata’an mereka.

Bagi mereka, kiai, ajengan, ustadz dan habibnya adalah tuhan, mereka selalu ikuti apapun yang dikatakannya.

Persis orang-orang nasrani yang menuhankan pendeta-pendetanya, sebagaimana yang Rasulullah katakan kepada Adi bin Hatim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. membaca ayat : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Maka Adi bin Hatim berkata, “Mereka tidak menyembahnya”. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “Memang, tapi bukankah mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, lalu mereka itu mengikuti para ulama dan rahib-rahib mereka. Maka itulah penyembahan (Ibadah) mereka kepada rahib-rahibnya”.

Begitulah orang-orang nasrani selalu membenarkan dan mengikuti rahib-rahibnya. Sama persis para pembela bid’ah sa’at ini. Mereka selalu membenarkan dan mengikuti apa yang dikatakan kiai, habib dan ustadz-ustadznya. Bagi mereka, yang datang dari kiai, habib, dan ustadznya adalah kebenaran, adapun yang datang dari pihak lain, di matanya selalu salah.

• Sulitnya taubat bagi pelaku bid’ah

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata : “Ahlul bid’ah tidak akan bertaubat selama ia menilai bahwa itu merupakan amalan yang baik. Karena taubat berpijak dari adanya kesadaran bahwa perbuatan yang dilakukan itu buruk. Sehingga dengan itu ia bisa bertaubat darinya. Jadi, selama perbuatan itu dianggap baik padahal pada hakikatnya jelek, maka ia tidak akan bertaubat dari perbuatan tersebut. Akan tetapi taubat adalah sesuatu yang mungkin (dilakukan) dan terjadi, yaitu jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan bimbingan kepadanya hingga ia dapat mengetahui kebenaran”. (At Tuhfatul Iraqiyyah, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah).

Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata : “Rujuknya ahli bid’ah dari kesesatannya adalah hal yang paling sulit bagi mereka, karena mereka menganggap bahwa bid’ah yang mereka lakukan adalah bagian dari agama, mereka bertaqarrub kepada Allah dengan bid’ah tersebut”.

* Sulit bertaubat, mengapa demikian ?

Karena ahli bid’ah merasa, amalan yang di lakukannya sebagai ibadah.

Berbeda halnya dengan pelaku maksiat, ketika pelaku maksiat melakukan perbuatan maksiat, sebetulnya hatinya menolak dan tidak ingin mengulangi kembali perbuatan maksiatnya.

Bagaimana pelaku bid’ah punya keinginan untuk bertaubat, sementara dia merasa, bahwa apa yang di lakukanya (bid’ah) sebagai ibadah.

Bukankah taubat itu berawal dari kesadaran, bahwa apa yang dilakukannya sebagai perbuatan dosa ?

Bisa kita saksikan, bagaimana ahli bid’ah, berkelit, membela, mencari-cari hujah untuk membenarkan amalannya, tidak peduli hadits lemah, hadits palsu, bahkan cerita dusta sekalipun.

Allahul Musta’aan.

Agus Santosa Somantri

______

Iklan