APAKAH ULAMA DIKATAKAN SESAT KARENA BERBUAT KESALAHAN ?

APAKAH ULAMA DIKATAKAN SESAT KARENA BERBUAT KESALAHAN ?

Apakah seorang Ulama dikatakan sesat atau sudah melakukan kesesatan karena mereka membawakan hadis do’if bahkan palsu, atau melakukan suatu kesalahan ?

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

ولو إنا كلما أخطأ إمامٌ في اجتهاده في آحاد المسائل خطأ مغفوراً له، قمنا عليه، وبدَّعناه وهجرناه، لما سَلِمَ معنا

”Seandainya setiap perkata’an imam yang keliru dalam ijtihadnya pada permasalahan-permasalahan yang sebenarnya hal itu masih bisa diampuni, lantas kita kecam ia, kita bid’ahkan ia (sebagai ahlul-bid’ah), dan kita hajr ia, maka tidak akan ada (seorang ulama pun) yang selamat. (Kitab Siyar ‘Alam An Nubala karya Adz-Dzahabi VIII/352).

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya seorang ulama besar, apabila kebenarannya lebih banyak, dan diketahui bahwa dirinya adalah pencari kebenaran, luas ilmunya, tampak kecerdasannya, dikenal kepribadiannya yang shalih, wara’ dan berusaha mengikuti sunnah maka kesalahannya dimaafkan. Kita tidak boleh mencap sesat, tidak boleh meninggalkannya, dan melupakan kebaikannya. Memang benar, kita tidak boleh mengikuti bid’ah dan kesalahannya. (Siyar A’lam An-Nubala V/271).

Asy-Syaikh Thaahir Al-Jazaairi berkata :

عدُّوا رجالكم، واغفروا لهم بعضَ زَلَّاتِهم، وعضّوا عليهم بالنواجذ لتستفيد الأُمة منهم، ولا تُنَفِّرُوهم لئلا يزهدوا في خدمتكم

”Kembalilah kepada ulama kalian dan maafkanlah sebagian kesalahan mereka. Gigit erat mereka dengan gigi gerahammu agar umat bisa mengambil manfa’at dari mereka. Jangan kalian menjauhi mereka agar supaya mereka dapat belaku zuhud dalam berkhidmat kepada kalian”.

Sa’id bin Al-Musayyab berkata : “Banyak para ulama ahli ijtihad yang Salaf maupun khalaf, mereka mengatakan sebuah perkataan atau melakukan perbuatan yang termasuk kebid’ahan sementara mereka tidak mengetahui bahwa perkara tersebut adalah bid’ah. Hal itu dikarenakan beberapa sebab, di antaranya karena mereka menetapkan shahih sebuah hadits padahal dha’if, atau dikarenakan pemahaman yang salah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Ada kalanya hal itu juga dikarenakan mereka ijtihad dalam sebuah masalah, padahal dalil-dalil yang menjelaskannya, namun dall-dalil tersebut belum sampai kepada mereka. Apabila tindakan mereka itu masih dalam rangka melakukan ketakwaan kepada Allah semampu mereka, maka mereka termasuk dalam firman Allah Ta’ala.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah” [Al-Baqarah : 286]

Wallahu a’lamu bisshowab

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

======================