RAJIN IBADAH BELUM TENTU DIATAS KEBENARAN

RAJIN IBADAH BUKAN JAMINAN DIATAS KEBENARAN

Suatu yang perlu di syukuri apabila kita selalu memiliki gairah dalam ibadah, karena tidak sedikit dari manusia yang malas bahkan tidak mau beribadah.

Apa gunanya harta melimpah jabatan yang tinggi apabila tidak mau beribadah, bukankah ibadah yang bisa memasukkan manusia ke dalam surganya Allah Ta’ala.

Kadang-kadang ibadah di jadikan patokan oleh sebagian manusia, bahwa orang yang mau beribadah apalagi ibadahnya rajin pasti akan masuk surga.

Persepsi demikian tidak sepenuhnya benar, karena banyak dari orang-orang sesat dan para penyesat umat, kental menggunakan symbol-symbol keagama’an dan mereka nampak sangat rajin beribadah, kuantitas ibadah mereka bahkan melebihi kadar ibadah manusia pada umumnya.

Sebagai contoh orang-orang khawarij, mereka adalah kelompok sesat yang benih-benih kemunculannya sudah nampak dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelompok khawarij di mata manusia mereka nampak sangat alim, mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara’ dan zuhud, akan tetapi tanpa disertai dengan ilmu.

Kelompok sesat khawarij sangat bersemangat sekali dalam ibadah, sifat mereka di terangkan oleh Rasulullah sebagai berikut,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يخَرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَتيِ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآَنْ. لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِليَ قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ. وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلىَ صَلاَتِهِمْ بِشَيْءٍ. وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلىَ صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ

“Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, yang mana baca’an kalian tidaklah sebanding baca’an mereka sedikitpun, tidak pula shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun, dan tidak pula puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun”. (Muslim II/743-744 No. 1064).

Dalam hadits diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan sifat-sifat dari orang-orang khawarij yang sangat bersemangat dalam ibadah.

Sampai-sampai Rasulullah menyebutkan, ibadahnya mereka (orang-orang khawarij) tidak sebanding dengan ibadahnya para Sahabat Nabi ‘sedikitpun’. Artinya orang-orang khawarij semangat ibadahnya jauh diatas para Sahabat. Padahal para Sahabat adalah orang-orang yang sangat giat dalam ibadah.

Bersemangat dalam ibadah-ibadah sunah terlebih lagi dalam ibadah-ibadah wajib merupakan perkara yang masyhur di kalangan orang-orang khawarij. Mereka dikenal sebagai qura’ (ahli membaca al-Qur’an).

Dalam Fathu Al-Bari, XII/283 disebutkan : ”Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura’ (ahli membaca Al-Qur’an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta’wil Al-Qur’an dengan ta’wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendapatnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu’ dan lain sebagainya”.

Besarnya semangat orang-orang khawarij dalam ibadah juga di sebutkan oleh Ibnu Abbas yang pernah menemui mereka sebagai utusan khalifah Ali bin Abi Thalib untuk berunding dengan mereka.

Ibnu Abbas berkata : ”Aku belum pernah menemui suatu kaum yang bersungguh-sungguh (dalam ibadah), dahi mereka terluka karena seringnya sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai gamis yang murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang tidur karena banyak berjaga di malam hari”. (Lihat Tablis Iblis, halaman 91).

Keterangan dari Ibnu Abbas menunjukkan akan besarnya semangat mereka dalam ibadah, bahkan melampaui batasan yang di syari’atkan. Mereka juga menjauhi kenikmatan dunia.

Besarnya semangat ibadah mereka, suka membaca al-Qur’an, rajin berdzikir, senang mendirikan shalat malam, rajin puasa dan ibadah-ibadah lainnya baik yang wajib maupun yang sunah, ternyata tidak menjadikan mereka diatas kebenaran, sebaliknya mereka diatas kesesatan. Bahkan mereka disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai anjing-anjing neraka.

Abu Ghalib rahimahullah berkata,

لَمَّا أُتِيَ بِرُءُوسِ الْأزَارِقَةِ فَنُصِبَتْ عَلَى دَرَجِ دِمَشْقَ جَاءَ أَبُو أُمَامَةَ فَلَمَّا رَآهُمْ دَمَعَتْ عَيْنَاهُ فَقَالَ كِلَابُ النَّارِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ هَؤُلَاءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلَاءِ قَالَ فَقُلْتُ فَمَا شَأْنُكَ دَمَعَتْ عَيْنَاكَ قَالَ رَحْمَةً لَهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ قَالَ قُلْنَا أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ هَؤُلَاءِ كِلَابُ النَّارِ أَوْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي لَجَرِيءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا ثِنْتَيْنِ وَلَا ثَلَاثٍ قَالَ فَعَدَّ مِرَارًا

”Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah (salah satu sekte khawarij yang dicetuskan oleh Nafi’ bin Al-Azraq) dan dipancangkan di atas tangga-tangga Kota Damaskus, datanglah Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuk matanya dan berkata, “Mereka adalah anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka. Mereka ini (Khawarij) adalah sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah kolong langit ini, dan sebaik-baik orang yang terbunuh dibawah kolong langit adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij). Abu Ghalib kemudian bertanya, ”Kenapa engkau menangis ?” Abu umamah radhiyallahu anhu- menjawab, ”Aku kasihan kepada mereka, dahulunya mereka itu ahlul islam” Abu Ghalib berkata lagi, ”Apakah pernyata’anmu, “Mereka adalah anjing-anjing neraka” adalah pendapatmu sendiri atau perkata’an yang engkau dengar (langsung) dari Nabi Sholllallahu ‘alaihi wa sallam ?” Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menjawab, ”Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh aku adalah orang yang lancang. Tapi perkata’an ini aku dengar dari Rasulullah Sholllallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua kali atau tiga kali.” (HR. At-Tirmidzi [3000], Ibnu Majah [176], Ahmad [V/253]).

Anjing-anjing neraka yang disebutkan oleh Rasulullah, sebagai cela’an yang buruk kepada mereka, khawarij adalah seburuk-buruk orang yang dibunuh diatas permuka’an bumi. Na’udzu billahi min dzalik.

Kesimpulannya :

Orang-orang yang rajin ibadah, nampak alim di mata manusia belum tentu akan menjadi penghuni surga, mereka belum tentu diatas kebenaran apalagi dianggapnya sebagai Wali Allah yang patut diikuti.

Sungguh banyak manusia awam terpesona dan tertipu oleh orang yang nampak shaleh, zuhud, wara’, alim padahal sejatinya orang tersebut sesat dan menyesatkan manusia.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________