SETAN MENYURUH IBADAH ?

SETAN MENYURUH MANUSIA UNTUK IBADAH ?

Apakah mungkin syetan laknatullah menyuruh manusia untuk beribadah ?

Persepsi orang awam selama ini, syetan hanyalah menyuruh manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk, jahat dan tercela sehingga pelakunya berlumuran dosa, seperti : Merampas hak orang lain, menipu, curang, menganiaya, minum khamer, berjudi, berzina dan lainnya.

Atau menyuruh manusia untuk meninggalkan kewajiban ibadah. Seperti melalaikan shalat atau bahkan meninggalkannya, tidak puasa, tidak mau
Infaq atau shadaqoh, atau meninggalkan ibadah-ibadah yang lainnya. Itulah anggapan orang-orang awam.

Kalau di katakan kepada orang awam, bahwa setan itu tidak saja menggoda dan menyuruh orang untuk berbuat dosa, tapi juga menggoda dan menyuruh manusia untuk semangat beribadah. Maka tentu saja orang awam akan keheranan.

Orang awam pun pasti akan berkata : Mana mungkin setan menyuruh manusia untuk ibadah. Bukankah setan itu di jadikannya untuk menggoda dan menyuruh manusia untuk melakukan kejahatan, kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan dosa ?

Perlu di ketahui, bahwa setan bukan saja menyuruh manusia untuk melakukan perbuatan maksiat, tapi juga menyuruh dan menyemangati manusia untuk ‘beribadah’.

Dalam sebuah hadits di sebutkan,

وقال الشيطان اهلكتهم باالذنوب، فأهلكونى بالاشتغفار، فلما رايت ذالك، فأهلكتهم بالاهواء.

“Dan berkata syetan, aku akan mencelakakan manusia dengan mendorong untuk berbuat dosa, tapi manusia pun bisa mencelakan aku dengan beristigfar, ketika aku melihat begitu, maka aku akan mencelakakan manusia dengan peribadahan yang dasarnya hawa nafsu (bid’ah)”.

Hadits di atas menyebutkan, bahwa setan akan mencelakakan manusia dengan di goda di bujuk dan di rayunya untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, namun apabila manusia yang di godanya tidak mau, maka kemudian setan pun tidak akan menyerah putus asa. Di cari cara yang lainya. Yaitu dengan menyuruh dan menyemangati manusia untuk melakukan amal ibadah. Namun ibadah yang dasarnya hawa nafsu.

Yang di maksud ibadah dasarnya hawa nafsu yaitu, amal ibadah yang dasarnya anggapan baik (hasanah).

Padahal amal ibadah atau acara keagama’an tersebut tidak pernah Nabi amalkan, perintahkan dan tidak pernah juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya. Artinya perkara dalam urusan ibadah yang di buat-buat (muhdats), perkara dalam urusan ibadah yang baru (bid’ah).

Sungguh cerdik benar syetan dalam rangka menjalankan aksinya menyesatkan manusia.

Bisa kita saksikan dari dulu hingga sa’at ini, begitu antusias dan semangatnya manusia melakukan amalan-amalan ibadah atau acara-acara keagama’an yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (bid’ah).

Apabila manusia sudah terpedaya dengan anggapan baiknya yang di bisikkan oleh syetan terhadap amalan-amalan bid’ahnya, maka akan sangat sulit untuk di sadarkan, bukannya sadar malah mencari-cari dalil pembenaran.

Dicari-carinya ayat-ayat al-Qur’an atau hadits yang kemudian di tafsirkan dan di maknai sesuka hati, lalu di jadikan dalil untuk membenarkan amalan-amalan bid’ahnya. Atau berdalil dengan perkata’an Ulama yang seolah-olah perkata’an Ulama tersebut wahyu yang di bawa oleh malaikat.

Bukan saja mencari-cari dalil untuk pembenaran namun juga akan sangat memusuhi kepada orang yang mengingatkan atau menegur dan menasehatinya.

Caci maki, cibiran, hujatan, dan sikap permusuhan pun di tunjukkan kepada pihak atau orang yang di rasa sudah mengusiknya.

Apabila sudah demikian, maka setan pun tertawa dan merayakan kemenangan besarnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الشيطان قال : وعزتك يا رب لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم …

“Sesungguhnya iblis berkata, wahai Robb, demi kebesaranmu dan Kemulia’anmu, aku benar-benar akan menyesatkan manusia selama ruh mereka masih ada di dalam jasadnya”. (As-Shahihah, 104).

با رك الله فيكم

,Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

_____________

Iklan