SIAPA YANG SEBENARNYA INTOLERAN ?

SIAPA SEBENARNYA YANG INTOLERAN ?

Para da’i yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, mengikuti manhaj Shalafus Shalih, dan orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi, menjauhi praktek-praktek ibadah yang di buat-buat (bid’ah), sering di tuduh sebagai kelompok intoleran, tidak bisa menerima perbeda’an, suka mencela amalan-amalan orang lain yang tidak sefaham.

Benarkah tuduhan tersebut ?

Atau, apakah bukan mereka ahli bid’ah yang sebenarnya intoleran itu ?

Kita sering menyaksikan dalam kehidupan bermasyarakat, mereka para pelaku bid’ah sering mencibir, mencemo’oh, dan memusuhi pihak atau orang-orang yang tidak mau mengikuti, duduk bersama mereka melakukan amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka ada-adakan.

Rasa tidak suka dan permusuhan ahli bid’ah kepada pihak yang tidak mau duduk bersama mereka mengamalkan amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka adakan, sungguh nyata dan terang-terangan.

Orang-orang yang tidak mau bersama mereka mengamalkan ke bid’ahan sering di kucilkan bahkan sampai di musuhi.

Begitu pula para da’i yang menyeru umat untuk beribadah sesuai petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menjauhi amalan-amalan yang di buat-buat (bid’ah), sering menjadi bulan-bulanan, di cibir, di jadikan bahan olok-olokan, di caci maki dan di hinakan bahkan tidak jarang yang di usir dari kampung halamannya.

Jadi siapa yang sebenarnya intoleran itu ?

Ada riwayat mayshur, suatu sa’at Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling).

Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil.

Lalu syaikh tersebut menyuruh mereka ; “Bertasbihlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu syaikh itu berkata lagi ; “Bertahmidlah seratus kali”. Dan demikianlah seterusnya . .

Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya, tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia segera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu ia pun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya.

Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud : “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidak lah saya melihat melainkan kebaikan”.
Lalu Abu Musa menceritakan keada’an halaqah dzikir tersebut.

Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikit pun ?”

Abu Musa pun menjawab : “Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka”.

Berkatalah Ibnu Mas’ud, Mari kita pergi menuju mereka.

Sesampainya di tempat tujuan, lalu Ibnu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya.

Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ?”

Mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, tahlil dan takbir”.

Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ?, ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”,
Mereka pun menjawab :

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ

“Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”.

Ibnu Mas’ud pun berkata :

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”.

Berkata Amru bin Salamah, “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang An-Nahrawan bersama kaum Khawarij”.

(Riwayat Darimi dengan sanad shahih).

Coba kita perhatikan riwayat tersebut !

Ibnu Mas’ud menegur dan mencela orang yang sedang berdzikir di pimpin oleh seorang syaikh.

Bukankah apa yang mereka lakukan baik ?

Mereka sedang berdzikir, apakah dzikir itu tidak baik ?

Lalu mengapa Ibnu Mas’ud menegur mereka ?

Mereka mendapatkan teguran dan cela’an dari Ibnu Mas’ud, karena model dzikir yang mereka lakukan tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, mereka telah berbuat bid’ah dalam ibadah.

Kalau sa’at ini ada orang yang menegur, mencela amalan-amalan atau acara-acara baru (bid’ah) dikatakan intoleran.

Apakah mereka berani juga menyebut Sahabat Ibnu Mas’ud intoleran, karena menegur dan mencela sekelompok orang yang berbuat bid’ah ?

Apakah mereka berani juga mengatakan, Sahabat Ibnu Mas’ud tidak bisa menerima perbeda’an ?

Apakah mereka berani juga mengatakan, Sahabat Ibnu Mas’ud suka mencela amalan-amalan orang lain yang tidak sefaham ?

برك الله فيكم

Дδµ$ $ąŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

==============

Iklan