HUKUM BERDEBAT

HUKUM BERDEBAT

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq)”. (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167).

Umar Bin Khattab berkata :

لا يجد عبد حقيقة الإيمان حتى يدع المراء وهو محق

“Seseorang tidak akan merasakan hakikat iman sampai ia mampu meninggalkan perdebatan yang berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran”. (Kanzul Ummal juz 3 hal 1165).

Para Ulama menerangkan bahwa tidak semua perdebatan tercela atau dilarang dalam Islam.

Perdebatan yang terlarang dalam Islam diantaranya :

– Memperdebatakan yang telah jelas kebenarannya

– Memperdebatankan ayat ayat mutasyabihat dari Al- Qur’an

– Memperdebatkan tanpa niat yang baik bukan karena Allah.

Adapun jika perdebatan itu untuk menampakkan kebenaran dan menjelaskannya, dengan niat yang baik dan konsisten dengan adab-adabnya maka perdebatan seperti inilah yang dipuji.

Allah Ta’ala berfirman :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl: 125).

Berdasarkan surah An-Nahl, ayat 125, berdebat adalah satu metode dakwah yang syar’i dan termaktub dalam Islam, dan sebagaimana yang dimaklumi, tujuan dakwah adalah untuk mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan.

Para Ulama mensyaratkan perdebatan sebagai berikut :

1. Niat karna Allah bukan untuk menunjukan kepandaian
2. Ilmu yng cukup
3. Menampakan kebenaran
4. Mutaba’ah
5. Adab dalam berdebat

* DEBAT DI LAKUKAN PARA NABI

– Nabi Nuh dengan kaumnya. (QS. Hud: 32).

– Nabi Ibrahim dengan kaumnya (QS. al- Baqarah: 258).

– Nabi Musa dengan fir’aun

– Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berdebat dngn kaum musyrik Makkah, nasrani Najran, dan yahudi Madinah.

* DEBAT DI LAKUKAN PARA SAHABAT

– Perdebatan antara ‘Umar bin Abdil ‘Aziz dengan Ghailan Ad-Dimasyqi Al-Qadari (pengikut faham Qadariyyah).

– Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang berdebat dengan kelompok Khawarij.

* DEBAT DI LAKUKAN PARA ULAMA

– Al-Auza’i yang berdebat dengan seorang pengikut aliran Qadariyyah.

– Abdul ‘Aziz Al-Kinani dengan Bisyr bin Ghiyats Al-Marisi Al Muktazili (Pengikut fahaman Muktazilah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata di dalam kitab Darut Ta’arud an Naqli wal ‘Aqli : ”Adapun debat yang sesuai syari’at (dalam rangka mendakwahi orang-orang jahil, atau dalam rangka sama-sama mencari kebenaran) adalah yang diperintahkan Allah”.

Seperti dalam firman-Nya :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

”Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125).

Bahkan justru merupakan sesuatu yang wajib atau mustahab (yang dianjurkan). Perdebatan seperti ini tidaklah dilarang dan dicela oleh syari’at.

Beliau juga berkata : “Jadi yang dimaksud larangan berdebat oleh para salaf adalah perdebatan yang dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain) atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti. berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran, serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan”.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================

Iklan