CERDIK DAN LICIKNYA SETAN DALAM MENCELAKAKAN MANUSIA

CERDIK DAN LICIKNYA SETAN DALAM MENCELAKAKAN MANUSIA

Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Sebagai musuh abadi bagi Adam dan keturunannya, Allah Ta’ala menjelaskan dalam firmannya :

وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS Az-Zukhruf: 62).

Dalam ayat di atas Allah Ta’ala menegaskan, bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka hendaklah manusia selalu waspada terhadap berbagai bujuk rayunya. Goda’an dan bujuk rayu setan, hanya akan menjadikan manusia berakhir dalam penyesalan dan kebinasa’an.

Dalam menjalankan programnya menjerumuskan manusia, setan tidak mengenal putus asa. Dengan berbagai trik, intrik licik, cara halus dan kasar semua upaya dikerahkan untuk meraih tujuannya. Selama 24 jam siang dan malam, setan tidak pernah berhenti menjalankan tipu dayanya.

Tujuan utama setan adalah mencelakakan manusia sehingga menjadikan manusia berkubang dosa, dan akan menjadi temannya setan di dalam kobaran panasnya adzab api neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

“Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Setiap waktu di dorong-dorongnya manusia untuk melakukan berbagai kejahatan dan kemaksiatan dan pelanggaran-pelanggaran dalam agama lainnya.

Sehingga banyak dari manusia yang tidak bisa melepaskan dirinya dari perbuatan dosa, bahkan tidak sedikit dari manusia yang menjadikan kemaksiatan bagian dari kehidupannya sehari-hari, apakah menyangkut kegemaran atau pekerja’an. Namun demikian, ada juga sebagian dari manusia yang tidak mau mengikuti bujuk rayu setan, dia menyadarinya kemudian beristigfar.

Tapi setan tidak mengenal lelah dalam mencelakakan manusia. Ketika tidak mempan dari kanan di intipnya dari kiri. Di umpan dari depan di tikam dari belakang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ

“Iblis berkata : Karena Engkau telah menghukumiku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 14-17).

Cerdik dan liciknya setan laknatullah ‘alaihi, menjadikan manusia sungguh tidak berdaya menghadapi aksinya. Ketika manusia tidak bisa di tipu dengan sesuatu, maka setan mencari cara lainnya.

Sehingga yang terjerat tipu daya setan bukan saja orang awam tapi juga orang-orang alim. Bukankah banyak riwayat, orang saleh yang terjerat tipu daya setan yang akhirnya tersesat dan bahkan kemudian menyesatkan banyak manusia.

Banyak manusia yang bisa menjauhi perbuatan-perbuatan yang tercela menurut syari’at, seperti berjudi, menipu, merampas, peraktek riba, dan lainnya.

Tapi setan tidak menyerah, dicarinya cara lain yang lebih halus, nampak indah dimata manusia, padahal kemungkaran yang amat besar.

Dalam sebuah hadits di sebutkan,

وقال الشيطان اهلكتهم باالذنوب، فأهلكونى بالاشتغفار، فلما رايت ذالك، فأهلكتهم بالاهواء.

“Dan berkata syetan, aku akan mencelakakan manusia dengan mendorong untuk berbuat dosa, tapi manusia pun bisa mencelakan aku dengan beristigfar, ketika aku melihat begitu, maka aku akan mencelakakan manusia dengan peribadahan yang dasarnya hawa nafsu (bid’ah)”.

Begitu mahirnya setan dalam menjerumuskan manusia, ketika manusia lari dari perbuatan yang dianggapnya sebagai dosa, maka setan tidak putus asa, di arahkannya manusia untuk melakukan kemungkaran dalam bentuk yang berbeda.

Di dorong dan di semangatinya manusia untuk melakukan amalan-amalan yang tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan, tidak pernah Rasulullah perintahkan juga tidak pernah menyetujuinya.

Sebagai pakarnya dalam soal menipu dan memperdaya, setan menjadikan manusia antusias dan sangat semangat melakukan amalan-amalan atau acara-acara yang tidak pernah di lakukan, di perintahkan dan di setujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembimbing umat.

Kita saksikan semenjak dahulu hingga hari ini, betapa banyak manusia berbondong-bondong mengamalkan acara-acara atau amalan-amalan baru yang di ada-adakan yang di buat-buat. Sebagian dari mereka mengetahui dan menyadarinya bahwa yang di lakukannya adalah perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), namun mereka menganggapnya sebagai bid’ah hasanah.

Padahal para Shalafus Shalih sebagai generasi terbaik umat memperingatkan, bahwa bid’ah dalam urusan agama tidak ada yang baik, yang terpuji, tidak ada bid’ah hasanah. Semua bid’ah tercela, sebuah kesesatan yang bisa mendatangkan murka Allah subhanahu wa ta’ala.

– Sahabat Nabi, Ibnu Umar berkata :

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).

– Imam Malik, seorang Ulama besar gurunya Imam Syafi’i berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

– Imam Syafi’i berkata :

من استحسن فقد شرع

“Barang siapa yang menganggap baik (bid’ah), maka ia telah membuat syariat”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).

– Imam Syafi’i berkata :

إنما الاستحسان تلذذ

“Sesungguhnya istihsan (menganggap baik) itu hanyalah menuruti hawa nafsu”. (Ar-Risalah: 507).

Iblis laknatullah ‘alaihi yang menyandang titel sebagai pakar penyesat manusia, mahir benar memainkan perannya, dengan kepiawaiannya iblis mampu menyihir manusia, menjadikan manusia memandang kemaksiatan sebagai keta’atan, bid’ah jadi dipandang sebagai ibadah.

Makar iblis yang mendorong manusia untuk melakukan amalan-amalan atau acara-acara bid’ah, adalah tipu daya iblis paling jitu. Bukan saja orang awam yang terkecoh tetapi mampu juga memperdaya orang alim.

Orang alim yang berhasil diperdaya setan, bagi setan adalah keberhasilan yang sangat menguntungkan.

Orang alim yang sudah terpedaya kemudian dijadikan setan sebagai bagian dari pasukannya. Dengan kemahirannya seorang alim memainkan dalil, menjadikan kesesatan merajalela sulit dibendung.

Manusia antusias menyimak ketika orang alim memberikan pelajaran agama, ketika orang alim berfatwa. Padahal yang keluar dari lisan orang alim yang sudah disesatkan setan ibarat bisa ular yang mematikan.

Sungguh pandai setan menghiasi keburukan. Menjadikan manusia semangat menjalankan kesesatan. Waktu, harta bahkan nyawa sekalipun dikorbankan untuk kesesatan yang dilakoninya. Orang yang sudah disesatkan setan selain dirinya sesat juga sangat semangat menyesatkan orang banyak.

Ibnu Mas’ud berkata :

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَه

“Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya”. (Riwayat Darimi).

Perkata’an Ibnu Mas’ud tersebut, sehubungan dengan halaqoh dzikir yang dilakukan sekelompok orang, namun cara dzikir mereka tidak sesuai tuntunan dari Allah dan Rasulnya.

Ketika mereka mandapatkan teguran dari Ibnu Mas’ud, mereka menjawab :

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ

“Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”.

Begitulah para pelakon bid’ah. Selalu pandai membuat bantahan.

Maha benar Allah Ta’ala dalam firman-Nya :

وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ أَكْثَرَ شَىْءٍ جَدَلً

”Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”. (Q.S Al-Kahfi: 54).

Para pelaku bid’ah berharap, dengan amalannya mendapatkan limpahan pahala yang banyak. Mereka menganggap perbuatannya sebagai bentuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah Ta’ala.

Semenjak dahulu hingga sa’at ini, para pelaku bid’ah punya banyak hujjah yang dijadikan andalan untuk membela amalan-amalan bid’ahnya. Dan hujjah mereka yang paling terkenal adalah anggapan baik (ihtisan).

Bid’ah yang dalam Islam di cela sebagai perbuatan sesat sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tegaskan :

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

”Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Mereka para pembela bid’ah entah sadar atau tidak, bahwa dengan keyakina tentang adanya BID’AH HASANAH, adalah musibah terbesar dari berbagai macam musibah yang menimpa ummat ini.

Keyakinan adanya bid’ah hasanah pada akhirnya akan menghalalkan semua bentuk bid’ah yang pada gilirannya akan memunculkan syariat-syariat baru dalam agama.

Memang sungguh licik dan cerdik iblis dan bala tentaranya menyesatkan manusia, sehingga sebagian besar manusia terpedaya oleh tipu muslihatnya.

Tipu daya iblis tersebut padahal sudah disebutkan dalam Al-Qur’an,

Allah Ta’ala berfirman :

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, . .” (QS. Al Hijr : 39).

Begitulah kenyata’an yang terjadi semenjak dahulu hingga sa’at ini, manusia lebih banyak yang terpedaya oleh makar iblis dibanding yang selamat.

الله المستعان

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=================

Iklan