SULITNYA BERDEBAT DENGAN ORANG JAHIL

SULITNYA BERDEBAT DENGAN ORANG JAHIL

Berdebat dengan orang jahil bukan perkara mudah, permas’alahannya karena orang jahil tidak faham landasan ilmu (ilmu ushul).

Sulitnya berdebat dengan orang jahil, bahkan dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

“Aku mampu berdebat dengan sepuluh orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah faham landasan ilmu”

Apabila Imam Asy-Syafi’i saja tidak mampu mengalahkan orang jahil dalam berdebat, apalagi kita ?

Padahal Imam Asy-Syafi’i adalah seorang ulama besar yang banyak melakukan dialogh dan pandai dalam berdebat. Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata :

“Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandaiannya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).

Berdebat dengan orang jahil memang sulit, tapi adakalanya kita menemukan orang jahil yang besar kepala dan memancing-mancing kita untuk berdebat.

Maka kalau kita mau melayaninya berdebat, ada beberapa pertanya’an sebelum di mulainya perdebatan yang perlu di pertanyakan kepadanya.

Berikut ini pertanya’annya :

1. Sebutkan syarat diterimanya Ibadah !
2. Sebutkan Maslahah Mursalah dan perbeda’annya dengan bid’ah !
3. Sebutkan Al-Aadah dan Al-Ibaadah, dan kaidahnya masing-masing.

1. Syarat diterimanya Ibadah perlu di pertanyakan. Karena menurut orang jahil, ibadah cukup niatnya karena Allah, cukup niatnya Ikhlas, walaupun tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana amalan-amalan bid’ah mau diterima dan mendapatkan pahala, karena bid’ah itu tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Bagaimana mau sesuai dengan tuntunan Rasulullah, Karena bid’ah itu tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penjelasan syarat diterimanya ibadah, silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/07-kaidah-dalam-ibadah/02-dua-syarat-diterimanya-ibadah/

2. Maslahah Mursalah perlu di tanyakan. Karena orang jahil sering menyebutkan perkara-perkara yang sebenarnya Maslahah Mursalah sebagai bid’ah hasanah.

Maslahah Mursalah dengan bid’ah banyak perbeda’annya. Dengan mengetahui perbeda’an diantara keduanya, maka kita bisa mengetahui, bahwa yang mereka katakan bid’ah hasanah, sebenarnya Maslahah Mursalah.

Contohnya ; Pesawat terbang, pengeras suara, membangun sekolah atau madrasah, ilmu nahu, kalender hijriyah, memberi titik dan harakat pada ayat-ayat Al-Qur’an, ilmu tajwid, berdakwah dengan facebook atau internet, daurah, dan banyak lagi.

Contoh-contoh diatas sering orang jahil katakan sebagai bid’ah hasanah. Maka perlu ditanyakan kepadanya, perbeda’an antara Maslahah Mursalah dengan bid’ah. Kalau dia tidak mampu menyebutkan perbeda’an antara Maslahah Mursalah dengan bid’ah, maka pantaslah kalau perkara-perkara yang Maslahah Mursalah mereka katakan bid’ah. Itulah bukti kejahilannya.

Pembahasan tentang Maslahah Mursalah silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-sunnah/%e2%80%a2-maslahah-mursalah/

3. Al-Aadah dan Al-Ibaadah, ini perlu di pertanyakan. Karena orang jahil tidak memahami permas’alahan ini.

Kita sering mendapatkan perkata’an mereka seperti :

“Mana larangannya di dalam Al-Qur’an dan hadist yang melarang tahlilan atau maulid Nabi ?”

Itulah bukti kejahilan mereka tidak mengenal ilmu ushul, tidak memahami Al-Aadah dan Al-Ibaadah dan kaidahnya masing-masing.

Perkara ibadah yang ditanyakan bukan dalil larangangannya, tapi dalil yang memerintahkannya. Karena urusan ibadah kaidahnya,

الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Pembahasan tentang Al-Aadah dan Al-Ibaadah silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/08-bidah/%e2%80%a2-memahami-al-aadah-dan-al-ibaadah/

Semua pertanya’an diatas bisa dipastikan tidak akan mampu orang jahil jawab dengan benar. Karena mereka tidak memahami permas’alahan ini, yang termasuk ke dalam ilmu ushul.

Karena mereka tidak faham ilmu ushul, maka pantas lah kalau sulit berdebat dengan mereka. Berdebat dengan mereka pun akan sia-sia. Perdebatan hanya akan menjadi debat kusir yang tidak akan menemukan titik temunya. Debat kusir bukan tradisinya orang alim.

Maka apabila kita tidak menanggapi ajakan mereka untuk berdebat. Dan meninggalkan perdebatan dengan mereka, bukanlah suatu yang hina. Bahkan justru meninggalkan perdebatan dengan mereka adalah kemuliya’an.

Sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i rahimahullah, Beliau berkata :

Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan

ﻓﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳﻤُﻮْﺕُ

Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati

Apabila ada orang bertanya kepadaku, jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??

Jawabku kepadanya :

Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??

[“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i].

Imam Asy-Syafi’i berkata :

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ

Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

Akupun enggan untuk menjawabnya

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

[Diwân Imam Asy-Syâfi’iy].

Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

“Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”

[Diwan Asy-Syafi’i hal. 156].

Imam Syafi’i juga berkata :

”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, toh diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi Singa meladeni anjing”.

Berdebat bukanlah untuk mencari kemenangan, sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i rahimahullah :

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”

[Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar].

Berdebat harus diniatkan untuk mencari kebenaran, maka seseorang yang akan melakukan perdebatan harus cukup ilmu dan mengenal adab. Tanpa memiliki ilmu dan adab, maka hindari perdebatan, karena hanya akan melahirkan keburukan, saling menghinakan sebagai bentuk keburukan akhlak. Dan akhirnya meruntuhkan ukhuwah islamiyyah.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=====================