PEMBUNUHAN KARAKTER

PEMBUNUHAN KARAKTER

Diantara cara yang digunakan para penentang kebenaran yang memusuhi para Nabi dan utusan Allah semenjak dahulu hingga dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan cara ”Pembunuhan karakter”.

Pembunuhan karakter atau perusakan reputasi adalah suatu cara untuk mencoreng kehormatan seseorang.

Tindakan ini dapat meliputi pernyata’an yang menjelek-jelekan, memfitnah, menuduh atau menggelari orang yang dibenci atau dianggap musuh dengan sebutan-sebutan rendah dan hina dan sebutan tendensius lainnya. Dengan maksud untuk melemahkan yang dianggapnya sebagai lawan. Pembunuhan karakter biasa dilakukan orang culas ketika perlawanannya menemui jalan buntu.

Pembunuhan karakter pernah dilakukan orang-orang musyrik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menyebut Rasulullah sebagai tukang sihir, pendusta, penyair, dukun dll.

Para penentang Rasulullah sa’at itu mereka merasa sebagai orang-orang yang lebih pandai, lebih unggul sehingga mereka merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya.

Sebagaimana difirmankan Allah ta’ala :

وَ مَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

”Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. [QS. Hud: 27].

Merasa diri lebih pintar, lebih unggul sehingga mereka selalu mengingkari apa saja yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan TUKANG DUSTA / PEMBUAL adalah cara mereka melemahkan dakwah Rasulullah. Begitulah reaksi dan perlawanan mereka kepada para penyeru kebenaran, ketika segala usahanya sia-sia.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata : “Orang-orang zhalim dan musyrik telah menjuluki Nabi dan para sahabatnya dengan julukan yang jelek dan mengejeknya. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah dituduh penyihir, gila, dukun, pendusta dan lain-lain”. (Fathu Rabbi al-Bariyyah bi Talkhisi al-Hamawiyyah).

Sebesar apapun permusuhan mereka. Orang-orang yang menyeru kepada kebenaran pasti akan tetap selalu ada. Mereka akan selalu teguh di atas prinsipnya dalam berdakwah. Permusuhan mereka tidak akan melemahkan dan membahayakannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang muncul di atas al-haq (kebenaran). Orang-orang yang merendahkan mereka tidak akan dapat membahayakan mereka sampai datang urusan dari Allah, sedangkan mereka tetap demikian”. (HR Muslim: 1920, at-Turmudziy: 2229).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

===========================

Iklan