LEBIH BAIK BANYAK MENDENGAR DARIPADA BANYAK BICARA

LEBIH BAIK BANYAK MENDENGAR DARIPADA BANYAK BICARA

Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan manusia satu mulut, sedangkan mata dan telinga masing-masing dua. Orang bijak mengatakan, supaya kita lebih banyak melihat dan mendengar dibanding banyak berbicara.

Pepatah mengatakan, ”Diam itu adalah emas”. Diam yang dimaksud disini adalah ;

– Tidak bicara yang dusta
– Tidak bicara yang tidak bermanfa’at
– Tidak bicara karena tidak diperlukan
– Tidak bicara yang mengandung fitnah
– Tidak bicara yang hanya akan merendahkan kehormatan diri
– Tidak bicara yang sekiranya akan menyakiti orang lain.

Akan tetapi apabila bicara itu diperlukan untuk kebaikan, maka itu harus dilakukan walaupun bisa dibenci orang lain.

Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “Katakan yang benar walaupun pahit dan janganlah kamu gentar terhadap cerca’an orang yang mencerca”. (HR. al-Baihaqi).

Sungguh besar faedah dan akibatnya bagi orang yang bisa menahan sahwat lisannya, tidak selalu mengumbarnya. Karena setiap perkata’an yang diucapannya malaikat selalu mencatatnya.

Allah Ta’ala berfirman :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf -18].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan dua kakinya (kemaluan), maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”. (Shahih Al-Bukhari no. 6474).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkata’an yang tidak dipikirkan dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”. (Shahih Bukhori, no. 6477).

Betapa buruk akibat dari lisan yang tidak di jaga. Bukan saja merendahkan dirinya tapi juga mengundang murka Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Namun sungguh disayangkan, banyak orang yang tidak bisa tahan menjaga napsu bicaranya, padahal dengan banyaknya dia bicara malah bisa jadi menghilangkan kehormatannya, karena dari ucapan-ucapannya orang lain jadi bisa menakar dan menilai kwalitas dirinya.

Bukankah ada yang mengatakan ;

”KATA-KATAMU ADALAH KWALITAS DIRIMU”.

Menjaga kehormatan diri menunjukkan seseorang memiliki akhlak yang baik, menunjukkan lahir dan tumbuh berkembang dilingkungan keluarga yang baik. Namun sebaliknya seorang yang memiliki akhlak yang rendah umumnya mempunyai latar belakang masa kecil yang suram, masa kecil yang tidak tumbuh emosinya secara optimal. Dan tidak mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tua.

• Lebih baik banyak mendengar daripada banyak bicara

Banyak mendengar dan menyimak akan menjadikan manusia nampak lebih terhormat dan berwibawa, seorang pribadi yang bijaksana lebih suka mendengarkan daripada pada banyak bicara (yang tidak berguna). Seorang yang terhormat dan bermartabat dia tahu benar kapan dia harus bicara.

Mendengarkan dapat membantu kita menjadi tenang dan konsentrasi. Betapa pentingnya diam untuk mempelajari sesuatu. Ketika kita bicara, sulit untuk mempelajari lebih banyak hal daripada apa yang telah kita ketahui.

Tapi ketika diam mendengarkan apa yang dikatakan orang lain, maka kita dapat mulai mengerti segala sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan kita dapat mempunyai akses terhadap apa yang menurut pendapatnya tidak kita ketahui.

• Mendengarkan bisa mendatangkan hidayah

Anugerah yang paling besar bagi orang yang berusaha untuk mendengarkan adalah bisa menjadikan datangnya hidayah kepada dirinya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَبَشِّرۡ عِبَادِ ۙ ﴿۱۷

الَّذِيۡنَ يَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُوۡنَ اَحۡسَنَهٗ‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ هَدٰٮهُمُ اللّٰهُ‌ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمۡ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿۱۸

”. . Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku”,

”Yaitu bagi orang yang mendengarkan perkata’an lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (Az-Zumar Ayat : 17 – 18).

Orang yang berusaha untuk mendengarkan dan berusaha untuk menyimak keterangan dari orang yang datang kepadanya, kemudian dia mengambilnya apabila keterangan yang disampaikannya itu berasal dari Allah dan Rasulnya, maka Allah menjaminnya memberinya hidayah. Dan Allah Ta’ala mengatakan orang demikian sebagai orang yang berakal.

Tapi kebanyakan manusia, ketika mendapatkan keterangan yang berbeda dari yang difahaminya selama ini, ada perasa’an tidak senang, kemudian mencari celah untuk bisa membantah dan mengolok-oloknya. Bukan bertanya dari mas’alah yang dia tidak fahami malah mencibir dengan kata-kata buruk hina dan kasar.

– Sahabat Mu’adz bertanya :

يَا نَبِّيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَا خَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ

“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?”

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَ مَنَا خِرِهِِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya”.

– Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”. (Shahih Muslim no. 74).

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ

“Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa dasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah)”.

Mudah-mudahan kita bisa menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak berguna.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_____

Iklan