MENGENAL ISTILAH SANAD

MENGENAL ISTILAH SANAD
.
Di dalam ilmu hadits ada sebuah istilah yang sangat populer, yaitu sanad.
.
Apa itu sanad ?
.
Sanad adalah silsilah para periwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Sanad / isnad merupakan kekhususan umat Islam. Al-Qur’an telah diriwayatkan kepada kita oleh para perawi dengan sanad yang mutawatir. Demikian pula telah sampai kepada kita hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang shahih. Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang ada pada kaum Nashrani dan Yahudi tanpa sanad yang bersambung dan shahih, sehingga sangat diragukan keabsahan kedua kitab tersebut.
.
Isnad hadits adalah silsilah para perawi yang meriwayatkan matan (sabda) hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Para ahli hadits telah memberikan kriteria yang ketat agar suatu hadits dinilai sebagai hadits yang shahih, mereka ketat dalam menilai para perawi hadits tersebut. Karenanya mereka (para ahli hadits) mendefinisikan hadits shahih dengan definisi berikut :
.
مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنْ مِثْلِهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ
.
“Yaitu hadits yang sanadnya bersambung dengan penukilan perawi yang ‘adil dan dhoobith (kuat hafalannya) dari yang semisalnya hingga kepuncaknya tanpa adanya syadz dan penyakit (‘illah)”
.
Yaitu para perawinya dari bawah hingga ke atas seluruhnya harus tsiqoh dan memiliki kredibilitas hafalan yang sempurna (lihat Nuzhatun Nadzor hal 58), serta sanad tersebut harus bersambung dan tidak ada ‘illahnya (penyakit) yang bisa merusak keshahihan suatu hadits.
.
Oleh karenanya dari sini nampaklah urgensinya pengecekan kevalidan isnad suatu hadits
.
Ibnu Siiriin berkata :
.
لَمْ يَكُوْنُوا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ
.
“Mereka dahulu tidak bertanya tentang isnad, akan tetapi tatkala terjadi fitnah maka mereka berkata : “Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian”, maka dilihatlah Ahlus sunnah dan diambilah periwayatan hadits mereka dan dilihatlah ahlul bid’ah maka tidak diambil periwayatan hadits mereka”
.
Perkataan Ibnu Siiriin rahimahullah ini dibawakan oleh Imam Muslim dalam muqoodimah shahihnya hal 15 di bawah sebuah bab yang berjudul :
.
بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ
.
“Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (menjelaskan aib) para perawi yang sesuai ada pada mereka diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembela’an terhadap syari’at yang mulia”.
.
• MENIRU NUR HASAN
.
Di masa lalu ada yang bernama Nur Hasan Ubaidah pendiri Islam Jama’ah yang ngaku-ngaku memiliki sanad yang mangkul sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Hasan Ubaidah mengatakan, bahwa orang yang Islamnya tidak bersanad (tidak mangkul) maka islamnya diragukan.
.
Prilaku Hasan Ubaidah yang dinyatakan sesat oleh para Ulama, ternyata sa’at ini jejak langkahnya ada yang meniru.
.
Kalau perkata’an Hasan Ubaidah di tujukan kepada semua umat Islam yang di luar jama’ahnya, kalau yang meniru Hasan Ubaidah di tujukan kepada mereka yang di sebut wahabi.
.
Orang-orang yang meniru Hasan Ubaidah berkata kepada yang mereka sebut wahabi ; Ulama wahabi tidak bersanad, Ulama wahabi ilmunya di ragukan, Ulama wahabi ilmunya dangkal, Fatwa mereka batil dan tertolak. Kira-kira seperti itu celotehan dan teriakan mereka.
.
Mereka sangat bersemangat sekali meneriakan kata-kata seperti itu. Mereka tidak sadar kalau prilakunya boleh meniru-niru dari seseorang yang sudah di sesatkan oleh para Ulama.
.
Sebenarnya, tuduhan mereka yang mengatakan wahabi tidak punya sanad, hanyalah cara-cara mereka yang di pakai sa’at terdesak atau bernafsu ingin memenangkan perdebatan.
.
Padahal cara-cara tersebut tidak pernah dilakukan oleh para ulama dari madzhab manapun. Tidak ada seorangpun dari para ulama madzhab yang pernah berkata : “Fatwa kamu tertolak karena kamu tidak bersanad !!”
.
Sering terjadi perdebatan diantara para ulama madzhab dalam masalah fikih, namun tidak seorangpun dari mereka ketika membantah yang lain dengan berdalih “Pendapat anda batil karena anda tidak bersanad !!!”
.
Para Ulama ahlus sunnah, ketika berdebat dengan para ahlul bid’ah dalam masalah aqidah maka para ulama ahlus sunnah membantah dengan cara menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sama sekali mereka tidak pernah berkata kepada Ahlul Bid’ah “Kalian di atas kebatilan karena tidak bersanad !!!”.
.
Syari’at Islam bersumber kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian juga ijmaa’ para ulama. Apabila terjadi perselisihan maka Allah memerintahkan kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
.
“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59).
.
Allah Ta’ala tidak pernah mengatakan “KEMBALILAH KALIAN KEPADA ORANG YANG BERSANAD”.
.
Diringkas dari:
https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/211-antara-habib-munzir-a-islam-jamaah
.
.
_____

ORANG-ORANG SESAT PUN BERDALIL

ORANG-ORANG SESAT PUN BERDALIL
.
Orang-orang yang menyimpang dan sesat, bukan berarti mereka tanpa dalil dalam melakukan amalan-amalan yang menyimpang dan sesatnya. Bahkan biasanya mereka menunjukkan banyak dalil. Tidak heran karena mereka asal berdalil. Hadits-hadits dha’if bahkan palsu juga riwayat-riwayat dusta selain dari ayat-ayat Al-Qur’an yang di tafsirkan sesuka hati, juga hadits-hadits sohih namun di fahami secara keliru juga di tempatkan secara serampangan atau hadits-hadits sohih tersebut di tempatkan bukan pada tempatnya (asal berdalil).
.
Begitulah orang-orang sesat dalam berdalil. Sehingga menjadikan mereka sesat justru karena dalil-dalil yang di jadikan hujjahnya.
.
• Iblis membangkang karena punya dalil
.
Iblis laknatullah biangnya kesesatan ketika di perintahkan untuk bersujud kepada Adam ‘alaihis salam, iblis pun menolak karena punya dalil. Dan dalilnya itulah yang menjadikannya menjadi makhluk tersesat. Padahal sebelumnya iblis makhluk yang ta’at.
.
Inilah dalil iblis ketika membangkang perintah Allah, sebagaimana yang Firmankan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an :
.
خَلَقْتَنِى مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
.
“Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya (Adam) dari tanah. (QS. Shaad, 76),
.
Itulah dalil iblis ketika menolak perintah Allah Ta’ala. Karena Adam ‘alaihis salam di ciptakan dari tanah. Sedangkan iblis di ciptakan dari api. Menurut iblis api lebih mulia daripada tanah.
.
• Para penentang Rasul juga berdalil
.
Berdalil dalam membela kesesatan juga di lakukan orang-orang sesat terdahulu. Sebagaimana yang di lakukan oleh orang-orang kafir Qurais ketika di peringatkan untuk tidak mengagungkan dan memuja berhala.
.
Mereka berdalil sebagaimana yang di sebutkan dalam Al-Qur’an,
.
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
.
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. (QS. Az Zumar: 3).
.
Itulah dalil mereka. Berhala-berhala yang mereka agungkan dan puja menurut mereka hanya sebagai sarana (washilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Padahal cara tersebut justru dilarang dalam Islam. Sebagai perbuatan menyekutukan Allah Ta’ala (syirik).
.
Memiliki dalil atau ada dalilnya, bukan berarti sudah berpijak di atas kebenaran(al-haq). Karena ternyata mereka yang telah dinyatakan sesat juga memiliki dalil yang di jadikan hujjah dalam membela kesesatannya. Sebagaimana iblis dan juga orang-orang sesat terdahulu.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_________________

JANGAN MERASA PALING BENAR SENDIRI ?

JANGAN MERASA PALING BENAR SENDIRI
.
Seringkali baik di dunia nyata ataupun di dunia maya kita mendapatkan celotehan orang yang berkata misalnya ; “Jangan merasa paling benar” atau “Jangan merasa benar sendiri”. Dan ucapan-ucapan semisal itu.
.
Itulah diantara ucapan sebagian orang awam atau orang yang merasa terusik keyakinannya atau orang yang tidak senang mendapatkan teguran atau nasehat.
.
Tidak ada seorang manusia pun yang berakal waras yang tidak memiliki keyakinan, apa yang dilakukannya atau di amalkannya merasa salah, menyimpang atau sesat.
.
Tanyakan kepada mereka para pelakon penyimpangan dan kesesatan, apakah yang mereka yakini dan amalkannya itu benar ?
.
Pasti mereka akan menjawab, bahwa apa yang mereka yakini dan amalkannya adalah benar.
.
Tidak akan kita temukan orang yang bergelimang kesesatan tapi dia menyadari bahwa yang di yakini dan dilakukannya sebagai kesesatan.
.
Sebagai contoh Fir’aun, seorang raja dzalim yang sesat dan melampaui batas, ketika di peringatkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam, untuk takut kepada adzab Allah Ta’ala. Fir’aun membantah bahwa yang dilakukannya adalah baik dan dia merasa diatas kebenaran.
.
Fir’aun berkata,
.
مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَىٰ وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ – (سورة غافر. ٢٩)
.
“Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tidak menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”.
.
Itulah ucapan Fir’aun yang merasa benar, dia tidak merasa dirinya di atas kesesatan, padahal sesat.
.
• Allah Ta’ala menjadikan semua manusia merasa benar
.
Mengapa semua orang, semua golongan yang ada di dunia ini merasa benar padahal satu sama lainnya berbeda-beda saling bertentangan ?
.
Jika kita membaca keterangan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, maka kita bisa mengetahui yang menjadikan semua manusia merasa benar itu karena memang Allah Ta’ala menjadikan semua manusia merasa di atas kebenaran.
.
Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya :
.
كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ
.
“Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerja’an mereka”. (QS. Al-An’am: 108).
.
Karena Allah Ta’ala menjadikan semua manusia, semua kelompok dan golongan merasa benar, maka tidak mengherankan jika semua manusia merasa benar dan tidak ada seorang pun yang merasa sesat. Walaupun para pelaku kesesatan.
.
Semua orang, semua kelompok boleh mengklaim di atas kebenaran. Namun apakah benar klaim mereka itu ?
.
• Kebenaran itu sudah jelas dan terang
.
Kebenaran itu sudah jelas dan terang sebagaimana terangnya sinar matahari di siang hari.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌٌ
.
“Sesungguhnya perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas”. (Muttafaqun ‘alaih).
.
• Kebenaran itu satu tidak berbilang
.
Semua umat manusia yang berbeda faham, keyakinan dan golongannya, merasa di atas kebenaran.
.
Namun apakah mungkin mereka semua di atas kebenaran, sementara diantara mereka berbeda dan saling bertentangan. Padahal kebenaran itu satu tidak berbilang.
.
Imam Malik rahimahullah berkata :
.
لا، والله حتى يصيب الحق، ما الحق إلا واحد، قولان مختلفان يكونان صوابًا جميعًا ؟ ما الحق والصواب إلا واحد
.
“Tidak, demi Allah, hingga ia mengambil yang benar. Kebenaran itu hanya satu. Dua pendapat yang berbeda tidak mungkin keduanya benar, sekali lagi kebenaran itu hanya satu”.
.
• Empat pilar yang harus dimiliki pengikut kebenaran
.
Orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq) ialah, orang-orang yang berdiri di atas empat pilar berikut ini :
.
1. Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
2. Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.
4. Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya
.
Itulah empat pilar yang harus dijadikan pijakan oleh orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq).
.
Apabila ada orang atau kelompok yang mengklaim di atas kebenaran (Al-Haq), namun tidak berdiri di atas empat pilar di atas, maka klaimnya sebagaimana klaim fir’aun yang dzalim dan sesat dan juga orang-orang yang menyimpang dan sesat lainnya.
.
Keyakinan merasa benar yang dibangun di atas empat pilar di atas, itulah kebenaran yang harus di bela dan harus di tampakkan kepada semua manusia. Walaupun dengan konsekuensi di musuhi kebanyakan orang.
.
Rasa tidak suka dan sikap permusuhan yang ditunjukkan orang-orang yang merasa terusik, tidak senang ditegur dan dinasehati, tidak seharus kebenaran jadi ditutupi dan disembunyikan.
.
Abu Ali Ad-Daqqoq berkata :
.
السَّاكِتُ عَن الحَقِّ شَيْطَانٌ أُخْرِسُ
.
“Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu”.
.
Abu Ali Ad-Daqqoq menyerupakan orang yang diam tidak menampakkan kebenaran sebagai setan yang bisu. Walaupun setan itu bisu tidak membuat makar tapi hakekatnya tetap mencelakakan.
.
Kebencian dan permusuhan orang-orang yang merasa terusik, tidak seharusnya lari dari tanggung jawab untuk menampakkan kebenaran. Kebencian dan permusuhan mereka kepada kebenaran sudah ada semenjak dahulu dan akan ada sepanjang masa.
.
Bukankah para Rasul yang di utus oleh Allah Ta’ala juga mendapatkan cibiran dan permusuhan dari para penentangnya. Besarnya permusuhan mereka tidak seharusnya menjadikan lemah untuk tetap istiqomah dalam dakwah dalam membela kebenaran yang sebenarnya.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
____________________

KAMI DENGAR DAN KAMI TA’AT

KAMI DENGAR DAN KAMI TA’AT
.
Sifat seorang muslim yang benar, ketika mendengar perintah atau larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah, “Sami’na wa atho’na”, kami dengar dan kami ta’at.
.
Tidak perlu untuk mengamalkan perintah atau larangan Allah dan Rasul-Nya, sebelumnya terlebih dahulu mencari tahu tujuan dan maksudnya dari perintah atau larangan tersebut, baru kemudian di amalkan.
.
Namun bukan berarti pula kita di larang untuk mengetahui hikmah dari perintah atau larangan Allah dan Rasul-Nya. Apabila kita bisa mengetahuinya maka tidak di larang bahkan bisa menjadi baik apabila akan menambah keimanan kita terhadap syari’at Islam.
.
Yang di larang adalah mencari tahu terlebih dahulu tujuan dan maksud dari perintah atau larangan tersebut baru kemudian mau mengamalkan atau meninggalkannya.
.
Sebagai contoh sikap seorang muslim terhadap perintah Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh cecak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ
.
“Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua”. (HR. Muslim, no. 2240).
.
Dari Ummu Syarik radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
.
عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ: كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda: “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam”. (HR. Bukhari, no. 3359).
.
Imam Nawawi berkata : Dalam satu riwayat di sebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keada’annya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211).
.
Dalam hadits di atas umat Islam di perintahkan untuk membunuh cecak. Bahkan di sebutkan dalam hadits tersebut akan mendapatkan 100 kebaikan apabila kita bisa membunuhnya.
.
Menyikapi hadits tersebut, bagi seorang muslim tidak perlu mencari tahu terlebih dahulu maksud dari perintah itu, kemudian mau mengamalkannya apabila sudah mengetahui maksudnya.
.
Bukan berarti juga di larang untuk mengetahui maksudnya, karena sudah pasti di balik perintah tersebut ada hikmahnya. Hanya karena keterbatasan ilmu dan pikiran sehingga kita tidak bisa mengetahui hikmah di balik perintah tersebut.
.
Adapun hikmah di balik perintah membunuh cecak adalah, ternyata di ketahui di dalam kotoran binatang pemangsa nyamuk tersebut mengandung bakteri berbahaya yaitu Bakteri Escherichia Coli atau E Coli.
.
E Coli dikenal sebagai mikroba yang bisa menimbulkan keracunan dan sakit perut. Dan konon selain kotoran cicak yang mengandung E-Coli dapat membahayakan kesehatan tubuh, kabarnya juga menurut informasi yang belum di teliti kebenarannya, kotoran cecak dapat menembus plastik hingga tembus. Juga menurut sebuah sumber menyebutkan bahwa kotoran cicak mampu merusak layar handphone.
.
Itulah diantara hikmahnya perintah membunuh cecak yang ternyata kotoran hewan tersebut berbahaya bagi kesehatan tubuh.
.
Sikap seorang muslim yang benar, walaupun tidak mengetahui hikmahnya di balik perintah tersebut, tidak perlu mencari tahu apa maksudnya perintah itu, kemudian mau mengamalkannya. Sikap yang benar adalah “Sami’na wa atho’na”, kami mendengar dan kami mematuhinya.
.
Contoh lainnya sikap seorang muslim terhadap larangan Rasulullah duduk dengan meletakkan tangan kiri di belakang dan dijadikan sandaran atau tumpuan.
.
Syirrid bin Suwaid radhiyallahu ‘anhu berkata,
.
مَرَّ بِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِىَ الْيُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِى وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِى فَقَالَ «أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ».
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu Nabi bersabda : “Adakah engkau duduk seperti duduknya orang-orang yang dimurkai ?” (HR. Abu Daud no. 4848)
.
Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai dalam hadits tersebut adalah orang-orang Yahudi sebagaimana kata Imam Ath-Thibiy.
.
Sedangkan penulis ‘Aunul Ma’bud berkata bahwa yang dimaksud dimurkai di sini lebih umum, baik orang kafir, orang fajir (gemar maksiat), orang sombong, orang yang ujub dari cara duduk, jalan mereka dan semacamnya. (‘Aunul Ma’bud, 13: 135).
.
Dalam Iqthido’ Shirotil Mustaqim, Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits ini berisi larangan duduk seperti yang disebutkan karena duduk seperti ini dilaknat, termasuk duduk orang yang mendapatkan adzab. Hadits ini juga bermakna agar kita menjauhi jalan orang-orang semacam itu”.
.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, duduk seperti ini terlarang di dalam dan di luar shalat. Bentuknya adalah duduk dengan bersandar pada tangan kiri yang dekat dengan bokong. Demikian cara duduknya dan tekstual hadits dapat dipahami bahwa duduk seperti itu adalah duduk yang terlarang. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 25: 161).
.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Riyadhus Sholihin, “Duduk dengan bersandar pada tangan kiri di sifatkan dengan duduk orang yang dimurkai Allah. Adapun meletakkan kedua tangan di belakang badan lalu bersandar pada keduanya, maka tidaklah masalah. Juga ketika tangan kanan yang jadi sandaran, maka tidak mengapa. Yang dikatakan duduk dimurkai sebagaimana di sifati Nabi adalah duduk dengan menjadikan tangan kiri di belakang badan dan tangan kiri tadi diletakkan di lantai dan jadi sandaran. Inilah duduk yang dimurkai sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan”.
.
Sebagian Ulama menyatakan, bahwa duduk semacam ini dikatakan makruh (tidak haram). Namun hal ini kurang tepat. Syaikh ‘Abdul Al ‘Abbad berkata, “Makruh dapat di maknakan juga haram. Dan kadang makruh juga berarti makruh tanzih (tidak sampai haram). Akan tetapi dalam hadits di sifati duduk semacam ini adalah duduk orang yang di murkai, maka ini sudah jelas menunjukkan haramnya”. (Syarh Sunan Abi Daud, 28: 49).
.
Mungkin ada yang bertanya, Apa masalahnya duduk seperti itu dilarang ?
.
Maka jawabnya, sebagaimana di sebutkan pada hadits tersebut bahwa duduk semacam itu adalah duduknya orang-orang yang dimurkai Allah.
.
Itulah beberapa hadits yang bisa menimbulkan pertanya’an bagi orang yang mendengarnya.
.
Sikap seorang muslim yang benar ketika mendapatkan perintah dari Allah dan Rasul-Nya adalah “Sami’na wa atho’na”, kami mendengar dan kami ta’at. Tidak di benarkan seorang muslim mencari-cari tahu apa maksudnya dari perintah atau larangan Allah dan Rasul-Nya tersebut kemudian baru mau mengamalkannya.
.
Hendaklah takut dengan ancaman Allah Ta’ala, sebagaimana Firmannya :
.
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
.
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa coba’an atau ditimpa azab yang pedih”. (QS. An-Nur: 63).
.
Ibnu Katsir berkata, “Khawatirlah dan takutlah bagi siapa saja yang menyelisihi syari’at Rasul secara lahir dan batin karena niscaya ia akan tertimpa fitnah berupa kekufuran, kemunafikan atau perbuatan bid’ah”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 281).
.
Perlu di ketahui bahwa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak di ucapkan berdasarkan hawa nafsu. Tapi berdasarkan wahyu dari Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala berfirman,
.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (٤)
.
“Dan tidaklah yang di ucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya)”. (QS. An Najm: 3-4).
.
Maka sikap seorang muslim yang benar, ketika mendapatkan perintah Allah dan Rasul-Nya tidak perlu mempertanyakan tujuan dan maksudnya dari perintah atau larangan tersebut. Tapi hendaklah “Sami’na wa atho’na”, kami mendengar dan kami ta’at.
.
Tambahan :
.
Apakah Tokek juga termasuk Cecak ?
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk membunuh hewan yang disebut sebagai wazagh.
.
Ada dua masalah dalam hal ini :
.
Pertama : Masalah cara penerjemahannya dari hewan wazagh ini, yang kadang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai cecak, dan kadang diterjemahkan sebagai tokek. Para ulama berbeda pendapat dalam menterjemahkannya.

Kedua : Apa maksue di balik perintah untuk membunuh wazagh ini.
.
Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk membunuh hewan ini ?
.
Sementara secara umum kita dilarang membunuh hewan tanpa alasan yang pasti. Disini para ulama memang berbeda pendapat.
.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa cicak / tokek termasuk hewan kecil yang mengganggu”. (Syarh Shahih Muslim, jilid 14 hal 236).
.
Al-Munawi mengatakan bahwa Allah memerintahkan untuk membunuh cicak / tokek karena hewan itu memiliki sifat yang jelek, yaitu konon dahulu hewan inilah yang meniup-niup api yang membakar Ibrahim sehingga menjadi besar”. (Faidhul Qadir, jilid 6 hal 193).
.
Makna Wazagh yang sebenarnya apakah Cecak atau Tokek ?
.
Tokek dalam bahasa Arab disebut dengan kata Saamm Abrash. Binatang ini masih satu famili dengan cicak. Sedangkan cecak dalam bahasa Arab disebut dengan sihliyah (سحلية).
.
makna wazagh (وَزَغ), sebagian kalangan menterjemahkannya sebagai cecak, namun sebagian lagi menterjemahkan sebagai tokek.
.
Lalu mana yang benar, apakah yang dimaksud itu cecak, tokek atau memang keduanya ?
.
Sebagian Ulama menganggap tokek dan cicak masih satu jenis, sehingga hukum tokek sama dengan hukum cicak, yaitu haram. Imam Nawawi berkata, bahwa menurut ahli bahasa Arab, cicak (al-wazagh) masih satu jenis dengan tokek (saam abrash), karena tokek adalah cicak besar. (Al-Imam An-Nawawi, Syarah Muslim, jilid 7 hal. 406).
.
Pengarang kitab Aunul Ma’bud menerangkan bahwa, “Cicak itu ialah binatang yang dapat disebut juga tokek”. (Aunul Ma’bud, jilid 11 hal. 294).
.
Imam Syaukani berkata bahwa tokek adalah salah satu jenis cicak dan merupakan cicak besar. (Asy-Syaukani, Nailul Authar, jilid12 hal. 487).
.
Syihabuddin Asy-Syafii dalam kitabnya, At-Tibyan limaa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayaman, mengatakan bahwa berdasarkan penjelasan di atas, hukum haramnya cicak dapat juga diterapkan pada tokek, karena cicak dan tokek dianggap satu jenis. Maka tokek pun hukumnya haram. (Syihabuddin Asy-Syafii, At-Tibyan limaa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayaman, hal. 116).
.
Pendapat Ulama yang berbeda mengatakan bahwa yang diharamkan itu tokek dan bukan cecak. Sebab makna wazagh lebih lebih tepat diartikan sebagai tokek dan bukan cecak. Bahasa Arabnya cecak adalah sihliyah (سحلية).
.
Wallahu a’lam bishshawab
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_________________

ASAL NYOMOT DALIL

ASAL NYOMOT DALIL
.
Sudah menjadi kebiasa’an para penyesat umat dalam membela kesesatannya adalah mengeluarkan dalil asal-asalan atau asal nyomot dalil. Dan tentu saja orang awam yang menjadi korban. Karena orang-orang awam tidak akan bisa mengetahui kalau tokoh yang di ikutinya asal-asalan dalam berdalil.
.
Contoh paling aktual sa’at ini, ketika umat Islam menentang pencalonan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta.
.
Seorang pembela Ahok Nusron Purnomo dengan lantang dan mata mau loncat berkata, Saya ingin mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi pernah mengatakan : “Khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum, yalunahum, yalunahum, yalunahum”.
.
Nusron mengartikan : “Sebaik-baiknya masa adalah masaku pada sa’at Nabi Muhammad, setelah itu masa sahabat, setelah itu masa sahabat Bani Umayyah, setelah itu masa sahabat Bani Abbasiyah, setelah itu masa ulama-ulama, ulama, ulama sampai sekarang. Ini adalah derajat kebaikan”.
.
Nusron melanjutkan, Saya ingin bertanya, . . pada abad Bani Abbasiyah, khalifah Abbasiyah ke-16 Sultan Khalifah Al-Muktadid Billah pernah mengangkat seorang gubernur namanya Umar bin Yusuf, seorang Kristen ta’at menjadi gubernur di Al- Anbar Irak, apakah waktu itu tidak ada surat al-maidah 51 ? pada zaman itu, apakah pada sa’at itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan Al-Maida. Mohon ma’af, apakah ulama-ulama sa’at itu, kalah saleh kalah alim dengan ulama-ulama hari ini ?
.
Itulah diantara argumen Nusron dalam membela Ahok. Nusron ingin menunjukkan bahwa pada masa Al-Mu’tadhid Billah ternyata ada seorang Gubernur non muslim yang di angkat oleh Al-Mu’tadhid Billah. Dan Nusron mengklaim bahwa masa itu adalah masa terbaik. Dengan menunjukkan masa Al-Mu’tadhid Billah tersebut, Nusron ingin menunjukkan di bolehkannya mengangkat seorang Gubernur non muslim oleh umat Islam.
.
Begitulah Nusron Purnomo membawakan hadits di atas dengan pengertiannya menurut Nusron sendiri.
.
Apakah benar ada hadits sebagaimana yang di tunjukkan Nusron, juga arti dan maknanya sesuai dengan yang di sebutkan Nusron ?
.
Berikut ini adalah hadits yang di maksud Nusron, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
.
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Yang dimaksud sebaik-baik umatku pada masaku dalam hadits diatas adalah para Sahabat Nabi, kemudian
generasi selanjutnya yaitu Tabi’in dan generasi selanjutnya yaitu Tabi’ut Tabi’in. Itulah tiga generasi terbaik umat Islam yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Tabi’in adalah generasi setelah para Sahabat, dan Tabi’ut Tabi’in adalah generasi setelah para Tabi’in.
.
Tiga generasi terbaik umat di atas adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi (Salafus shalih).
.
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar dan selamat merujuk kepada mereka (Salafus shalih).
.
Lalu bagaimana dengan Al-Mu’tadhid Billah yang di sebutkan Nusron ?
.
Al-Mu’tadhid Billah di lahirkan pada 242 H. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H.
.
Al-Mu’tadhid Billah yang di maksud Nusron ternyata tidak termasuk kepada tiga generasi terbaik umat yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tiga generasi terbaik umat berakhir pada tahun 180 H. Yaitu dengan wafatnya Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi, seorang Tabi’ut Tabi’in yang terakhir wafat. Sementara Muqtadir Billah mulai menjadi khalifah pada tahun 279 H.
.
Maka nampak jelas argumen yang di tunjukkan Nusron sebagai dalil di bolehkannya memilih pemimpin non muslim adalah dalil asal nyomot.
.
Sebagai tambahan :
.
Sahabat Nabi yang terakhir wafat adalah : Abu Thufail ‘Aamir bin Waatsilah Al-Laitsiy. Wafat tahun 100 H.
.
Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Abu Roja’ Al-‘Uthoridi. Wafat tahun 106 H.
.
Dan Tabiut Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi. Wafat tahun 180 H.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
————-

DALIL ASAL-ASALAN

DALIL ASAL-ASALAN
.
Dalil asal-asalan maksudnya, asal berdalil atau menggunakan dalil seenak hawa nafsu. Menggunakan dalTAHLILAN KEBO KYAI BODONGil seenak hawa nafsu biasa di lakukan ahli bid’ah. Sehingga para Ulama menyebut ahli bid’ah dengan sebutan pengikut hawa nafsu.
.
Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
.
لاَ تُجَالِسْ أَهْلَ اْلأَهْوَاءِ فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوْبِ
.
“Janganlah engkau duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena akan menyebabkan hatimu sakit”.
(Al-Ibaanah libni Baththah al-‘Ukbary (II/438 no. 371, 373).
.
Hasan al-Bashri (w 110 H) rahimahullah berkata :
.
لاَ تُجَالِسُوْا أَهْلَ اْلأَهْوَاءِ وَلاَ تُجَادِلُوْهُمْ وَلاَ تَسْمَعُوْا مِنْهُمْ
.
“Janganlah kalian duduk dengan pengikut hawa nafsu, janganlah berdebat dengan mereka dan janganlah mendengar perkata’an mereka”. (Ibnu Baththah al-‘Ukbari dalam al-Ibaanah, no. 395, 458).
.
Pengikut hawa nafsu yang di sebutkan para Ulama di atas maksudnya adalah ahli bid’ah.
.
• Akibat buruk asal berdalil
.
Akibat buruk dari asal berdalil, adalah maraknya bid’ah di tengah-tengah umat. Sebagaimana di katakan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
.
مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
.
“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati”. (Diriwayatkan oleh Ath-Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610).
.
• Yang pertama kali asal-asalan berdalil.
.
Yang pertama kali asal-asalan berdalil ternyata makhluk paling terkutuk yaitu Iblis laknatullah ‘alaihi biangnya kesesatan.
.
Ketika Allah Ta’ala menyuruh iblis untuk sujud kepada Adam ‘alaihis salam Iblis menolaknya, dan Iblis mengeluarkan dalil.
.
Iblis berkata (berdalil) :
.
أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
.
“Aku lebih baik dari padanya (Adam), Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah”. (QS. Al-Araf, 12).
.
Itulah dalil asal-asalan iblis sebagai alasan untuk menolak tidak mau sujud kepada Adam. Menurut iblis api lebih mulia daripada tanah. Karena asal berdalil itulah maka iblis yang asalnya makhluk ta’at berubah jadi makhluk paling sesat.
.
• Kesesatan berawal dari dalil asal-asalan
.
Asal berdalil atau berdalil asal-asalan akan menjadikan manusia menyimpang dan tersesat dari kebenaran.
.
Semua kelompok yang menyimpang dan sesat, bukan berarti keyakinan dan amal ibadah mereka tanpa dalil, bahkan mereka memiliki dalil yang sangat banyak untuk membela kesesatannya.
.
Semua kelompok yang menyimpang dan sesat, mereka pun menggunakan dalil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi, disamping menggunakan dalil yang lemah dan palsu. Namun penempatan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi tersebut di letakkan tidak pada tempatnya atau di maknai sesuai hawa nafsunya atau di fahami secara keliru.
.
• Cara berdalil yang benar
.
Perlu di ketahui, ketika hendak menggunakan dalil, maka ada dua hal yang perlu di perhatikan,
.
1. Keshahihan dalil (صِحَّةٌ الدَّلِيل).
.
2. Kebenaran dalam menempatkan dalil (صِحَّةٌ الاِسْتِدْلَاَلُ).
.
• Contoh asal berdalil
.
Diantara dari sekian banyak dalil asal-asalan, sebagai contohnya dalil berikut,
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
.
“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Riwayat Muslim).
.
Hadits di atas derajatnya sahih, dan hadits ini sering di gunakan oleh para pembela bid’ah hasanah sebagai dalil di bolehkannya berbuat bid’ah.
.
Membenarkan bolehnya berbuat bid’ah dengan hadits di atas adalah kesalahan dalam menempatkan dalil.
.
Hadits di atas bukan perintah atau persetujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah).
.
Tapi hadits di atas sebagai bentuk apresiasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang Sahabatnya yang bersegera melakukan amal salih, dalam hal ini yaitu sodaqoh.
.
Diantara cara untuk memaknai suatu hadits dengan tepat, yaitu dengan cara melihat asbabul wurud dari suatu hadits tersebut. Atau kronologinya dari sebuah hadits.
.
Adapun sebab turun atau kronologi dari hadist di atas yaitu, Di riwayatkan suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan suatu kaum dari Bani Mudlor dengan kondisi yang memprihatinkan, mereka bertelanjang kaki. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat yang ada untuk memberikan bantuan atau sodaqoh. Lalu datanglah seseorang dari kalangan anshor dengan membawa kantung yang tangannya hampir tidak bisa membawanya bahkan tidak mampu, kemudian orang-orang pun mengikuti sehingga terlihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, maka nampak wajah Rosulullah berseri-seri bagaikan perak bersepuh emas.
.
Lalu beliau bersabda ;
.
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.
.
“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”.
.
Itulah asbabul wurud atau kronologi dari hadits di atas.
.
Maka apabila hadis tersebut dijadikan dalil untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah adalah sungguh keliru, karena hadist tersebut tidak menunjukkan adanya perintah atau persetujuan Nabi kepada orang yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah).
.
Akan tetapi sebagai bentuk apresiasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang Sahabatnya yang bersegera melakukan amal salih, dalam hal ini yaitu sodaqoh.
.
Dari kisah di atas juga jelas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshorlah yang pertama kali bersedekah, kemudian di ikuti oleh para sahabat yang lain.
.
Apakah sodaqoh atau bantuan seorang Sahabat dari ansor tersebut mau di katakan bid’ah (perkara baru) ?
.
Tentunya kita semua mengetahui, bahwa shodaqoh bukanlah perkara yang diada-adakan.
.
Dari riwayat itu juga nampak jelas, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Dalam riwayat hadits tersebut tidak menunjukkan ada seorang Sahabat yang membuat amalan baru atau suatu cara yang baru dalam Islam. Sodaqoh atau bantuan yang dilakukan Sahabat anshor bukan cara atau kreasi baru yang di buat seorang Sahabat.
.
Maka berdalil dengan hadits tersebut untuk membolehkan berbuat bid’ah atau menyatakan adanya bid’ah hasanah adalah cara pendalilan yang asal-asalan.
.
Contoh dalil asal-asalan lainnya, ketika umat Islam menentang pencalonan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta.
.
Seorang pembela Ahok Nusron Purnomo dengan lantang dan mata mau loncat berkata, Saya ingin mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi pernah mengatakan : “Khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum, yalunahum, yalunahum, yalunahum”.
.
Nusron mengartikan : “Sebaik-baiknya masa adalah masaku pada sa’at Nabi Muhammad, setelah itu masa sahabat, setelah itu masa sahabat Bani Umayyah, setelah itu masa sahabat Bani Abbasiyah, setelah itu masa ulama-ulama, ulama, ulama sampai sekarang. Ini adalah derajat kebaikan”.
.
Nusron melanjutkan, Saya ingin bertanya, . . pada abad Bani Abbasiyah, khalifah Abbasiyah ke-16 Sultan Khalifah Al-Muktadid Billah pernah mengangkat seorang gubernur namanya Umar bin Yusuf, seorang Kristen ta’at menjadi gubernur di Al- Anbar Irak, apakah waktu itu tidak ada surat al-maidah 51 ? pada zaman itu, apakah pada sa’at itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan Al-Maida. Mohon ma’af, apakah ulama-ulama sa’at itu, kalah saleh kalah alim dengan ulama-ulama hari ini ?
.
Itulah diantara argumen Nusron dalam membela Ahok. Nusron ingin menunjukkan bahwa pada masa Al-Mu’tadhid Billah ternyata ada seorang Gubernur non muslim yang di angkat oleh Al-Mu’tadhid Billah. Dan Nusron mengklaim bahwa masa itu adalah masa terbaik. Dengan menunjukkan masa Al-Mu’tadhid Billah tersebut, Nusron ingin menunjukkan di bolehkannya mengangkat seorang Gubernur non muslim oleh umat Islam.
.
Begitulah Nusron Purnomo membawakan hadits di atas dengan pengertiannya menurut Nusron sendiri.
.
Apakah benar ada hadits sebagaimana yang di tunjukkan Nusron, juga arti dan maknanya sesuai dengan yang di sebutkan Nusron ?
.
Berikut ini adalah hadits yang di maksud Nusron, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
.
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Yang dimaksud sebaik-baik umatku pada masaku dalam hadits diatas adalah para Sahabat Nabi, kemudian
generasi selanjutnya yaitu Tabi’in dan generasi selanjutnya yaitu Tabi’ut Tabi’in. Itulah tiga generasi terbaik umat Islam yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Tabi’in adalah generasi setelah para Sahabat, dan Tabi’ut Tabi’in adalah generasi setelah para Tabi’in.
.
Tiga generasi terbaik umat di atas adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi (Salafus shalih).
.
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar dan selamat merujuk kepada mereka (Salafus shalih).
.
Lalu bagaimana dengan Al-Mu’tadhid Billah yang di sebutkan Nusron ?
.
Al-Mu’tadhid Billah di lahirkan pada 242 H. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H.
.
Al-Mu’tadhid Billah yang di maksud Nusron ternyata tidak termasuk kepada tiga generasi terbaik umat yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tiga generasi terbaik umat berakhir pada tahun 180 H. Yaitu dengan wafatnya Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi, seorang Tabi’ut Tabi’in yang terakhir wafat. Sementara Muqtadir Billah mulai menjadi khalifah pada tahun 279 H.
.
Maka nampak jelas argumen yang di tunjukkan Nusron sebagai dalil di bolehkannya memilih pemimpin non muslim adalah dalil asal-asalan.
.
Sebagai tambahan :
.
Sahabat Nabi yang terakhir wafat adalah : Abu Thufail ‘Aamir bin Waatsilah Al-Laitsiy. Wafat tahun 100 H.
.
Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Abu Roja’ Al-‘Uthoridi. Wafat tahun 106 H.
.
Dan Tabiut Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi. Wafat tahun 180 H.
.
Referensi :
.

Kyai NU Sebut Nusron Wahid dan Para Pembela Ahok Punya Sifat “Basimah”

.
http://­waspada-khawarij.blog­spot.co.id/2011/06/­3-generasi-yang-awal-­sahabat-tabiin.html?­m=1
.

.
DALIL ASAL-ASALAN PERTAMA KALI DI LAKUKAN OLEH IBLIS, TAPI TERNYATA BANYAK DI TIRU OLEH MANUSIA. SEMOGA KITA TIDAK DI GOLONGKAN SEBAGAI PENGIKUT IBLIS.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______

FENOMENA RUWAIBIDHOH

FENOMENA RUWAIBIDHOH
.
Diantara fenomena akhir zaman, yaitu maraknya ruwaibidhoh bermunculan ke permuka’an di tengah-tengah umat.
.
Seorang Sahabat bertanya,
.
وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ ؟
.
“Apakah Ar-Ruwaibidhoh ?”
.
Kemudian di jelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
Ruwaibidhoh adalah :
.
” الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ ”
.
“Seorang laki-laki yang bodoh tetapi sok mengurusi urusan orang banyak”.
.
(HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912).
.
Yang di maksudkan bodoh dalam hadits di atas ialah orang yang tidak memiliki kapasitas, namun melibatkan diri kepada urusan orang banyak, tampil kepermuka’an kemudian mengeluarkan pendapat-pendapat atau penafsiran-penafsiran menurut pribadinya seolah-olah dirinya pakar atau ahlinya.
.
Ruwaibidhoh berbicara menurut hawa nafsunya. Menafsirkan Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri seolah-olah dia ahli tafsir, memaknai hadits seolah-olah dirinya ahli hadits, bicara sejarah seolah-olah dirinya pakar sejarah.
.
Para ruwaibidhoh bisa muncul ke permuka’an di tengah-tengah umat karena mereka memiliki kemampuan bicara dan sederet gelar akademik yang di sandangnya semacam sarjana, magister, doktor bahkan profesor. Sehingga orang awam menyebut mereka cendikiawan. Mereka juga memiliki posisi di organisi masa, lembaga atau ke partaian.
.
Tentang ruwaibidhoh di sebutkan dalam sebuah hadits sebagai berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
.
“Akan datang ke pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, sa’at itu pendusta di benarkan, orang yang benar justru di dustakan, pengkhianat di berikan amanah, orang yang di percaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhoh berbicara.” Di tanyakan : “Apakah Ar-Ruwaibidhoh ?” Beliau bersabda : “Seorang laki-laki yang bodoh tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912).
.
Hadits tentang ruwaibidhoh di atas sebagai nubuwat kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan merupakan cela’an kepada ruwaibidhoh juga sebagai peringatan dari Rasulullah kepada umatnya, supaya waspada dari sepak terjang mereka.
.
Sifat buruk dari ruwaibidhoh adalah berani membuat penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an atau memaknai hadits atau berfatwa atau berpendapat dalam permasalahan agama menurut logikanya. Hal ini sangat berbeda dengan para Shalafus Shalih.
.
Dalam taarikh Dimasyq Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa Atho Ibnu Rabah rahimahullah pernah ditanya tentang sesuatu. Atho Ibnu Rabah menjawab : “Aku tidak tahu”. Penanya kembali berkata : “Tidakkah engkau mau mengutarakan pendapat pribadimu dalam masalah ini ?” Atho Ibnu Rabah menjawab :
.
إني أستحي من اللَّه أن يدان فِي الأرض برأيي
.
“Aku malu pada Allah, jika orang-orang dimuka bumi ini beragama dengan pendapatku”.
.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu pernah berkata : ‘Bumi mana yang akan ku pijak, dan langit mana yang akan sanggup menaungiku, jika aku berkata tentang ayat dari kitab Allah dengan ra’yu-ku (pendapatku) atau dengan apa yang aku tidak tahu.’
.
Itulah sikap para Shalafus Shalih teladan umat. Mereka sangat khawatir mengelurkan pendapat dalam permasalahan agama menurut ra’yu-nya (logikanya). Padahal mereka paling faham tentang Islam.
.
• Ruwaibidhoh Sumber Perselisihan Umat.
.
Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ? Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu. Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah.” (kitab Al I’tisham, karya Asy Syathibi, II/691).
.
• Fenomena Ruwaibidhoh Sa’at Ini.
.
Akhir-akhir ini ramai di bicarakan seorang Nusron Purnomo pendukung koh Ahok yang non Muslim yang akan mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta.
.
Ketika umat Islam Indonesia marah dengan pernyata’an koh Ahok yang mengatakan umat Islam jangan mau di bohongi dengan surat Al-Maidah ayat 51.
.
Kemudian ayat 51 dari surat Al-Maidah tersebut menjadi ramai di perselisihkan penafsirannya. Berdasarkan ayat 51 surat Al-Maidah tersebut, umat Islam mengharamkan menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin bagi kaum Muslimin.
.
Berbeda dengan pendukung koh Ahok, mereka mati-matian membela jagoannya. Maka tampilah ke depan seorang Nusron pembela koh Ahok. Dengan lantang dan mata mau loncat, di depan perwakilan dari MUI dan umat Islam, Nusron berkata : “Teks apa pun bebas tafsir”. Itulah diantara perkata’an Nusron Purnomo sang pembela koh Ahok.
.
Sungguh nekat pendukung Ahok di atas. Ketika umat Islam mengharamkan memilih pemimpin kafir dengan merujuk kepada ayat Al-Qur’an. Nusron Purnomo memberikan bantahan, bahwa teks apa pun bebas tafsir. Yang di maksud Nusron, penafsiran dari para Ulama tentang haramnya memilih pemimpin kafir berdasarkan ayat 51 surat Al-Maidah tidak benar.
.
Benarkah teks apapun bebas tafsir ?
.
Timbulnya penyimpangan dan kesesatan dalam Islam, adalah karena adanya sebagian kelompok yang menafsirkan Al-Qur’an dengan hawa nafsunya (ra’yu).
.
Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ فَسَّرَ اْلقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
.
“Siapa saja yang menafsirkan Al Qur’an dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka”. (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Abi Syaibah).
.
Di dalam Islam, tidak di benarkan bagi siapa pun memberikan penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara serampangan. Para Ulama Ahlu Sunnah sangat ketat dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
.
Untuk memahami dengan benar kandungan dan maksud-maksud ayat al-Quran, diperlukan penafsiran oleh orang yang memenuhi kualifikasi. Meski kualifikasi itu tidak mutlak, namun para Ulama tafsir menetapkan syarat-syarat yang sangat ketat sehingga tidak semua orang dapat menafsirkan al-Quran.
.
Ibnu Taimiyyah, menulis yang ia kutip dari Ibnu Katsir bahwa pola penafsiran yang paling utama, pertama adalah menjelaskan ayat al-Qur’an dengan al-Qur’an kembali, jika belum nampak kejelasannya maka masuk ke tahapan yang kedua yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan mencari penjelasan dari hadis Nabi, jika dalam hadis belum nampak kejelasan maknanya maka masuk ke langkah ke tiga yaitu mencari pendapat sahabat. Dan jika dalam āsār sahabat pun belum nampak kejelasannya maka pergunakalanlah pendekatan kebahasaan (linguistik). (Ibnu Taimiyyah, Muqaddimah fi at-tafsīr, hal. 93-103).
.
Itulah metode para Ulama Shalafus Shalih yang di gunakan dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Para Shalafus Shalih tidak pernah ada yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan hawa nafsu, tidak sebagaimana para penyesat umat yang semena-mena menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjustifikasi faham atau kelompoknya.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
=================