TA’ASHUB / CINTA GOLONGAN

TA’ASHUB / CINTA GOLONGAN

Diantara penyebab berbagai permasaalahan ummat hari ini di berbagai belahan dunia adalah fitnah ta’ashub, kegemaran mengkotak-kotakkan diri dan orang lain. Masing-masing mengklaim kelompoknya paling benar.

Ada lagi yang bermudah-mudah dalam membid’ahkan orang, memfasikkan orang, bahkan mengkafirkan kaum muslimin tanpa dalil dan burhan (keterangan yang jelas).

Syaikh Anis Thohir Al Andunisy berkata : Saya menasehatkan kepada ikhwah sekalian untuk menghindari fitnah tahazzub (bangga/cinta golongan) dan perilaku-perilaku diatas.

Islam itu satu dan tak berbagi, aqidah itu satu dan tak berbilang, tidak ada istilah aqidah ahlussunnah, akhlak fulaniy, thoriqoh fulaniyah, hizb fulanilany.. Tidak, tidak ….

Syaikh mengatakan, Ta’ashub itu dua macam :

Pertama : Ta’ashub dalam bentuk kelompok yang dipimpin oleh seorang amir

Kedua : Ta’ashub secara makna, dimana mereka mencela kelompok pertama namun tanpa sadar mereka juga masuk dalam problem yang sama, seperti orang yang mengajak ta’ashub pada syaikh fulan dan fulan.

Keduanya sama-sama tercela…

Wallahulmusta’an.

Jadilah muslim aswiyaa, yang lurus, yang berpegang teguh dengan Kitabulah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mengikuti dalil kemanapun dalil membawa kita.

Syaikh melanjutkan, Ada sebuah qaidah yang bila anda terapkan dalam memecahkan berbagai masaalah dalam semua bidang ilmu baik ilmu hadits, fiqh, ushul fiqh dan lain-lain, niscaya anda akan menemukan ketenangan dalam beragama, terbebas dari taqlid buta dan ashobiyyah.

Qaidah itu adalah :

1. Mencari dalil (طلب الدليل)

2. Memastikan keabsahan dalil (صحة الدليل)

3. Cara pendalilan yang benar (الاستدلال)

Ingat dengan baik ketiga hal ini, dengan menerapkan kaidah ini, Insya Allah anda akan merasakan kebahagiaan dalam beragama.

Madinah 12 Dzulqa’dah 1435 H.

* Catatan kecil di majelis Syaikh Anis Thohir Al Andunisy hafidzahullah.

• FANATIK DAN CINTA GOLONGAN

Kebanyakan manusia, condong untuk saling berbangga diri dan menonjolkan kelompok dan golongannya masing-masing.

Padahal Allah Taála menegur mereka dengan firman-Nya.

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)

Di antara sebab menonjol terjadinya perpecahan dan saling berbangga diri dalam kehidupan bermasyarakat adalah fanatisme golongan. Yaitu sikap fanatik terhadap suatu golongan dengan mengajak orang lain agar membela golongannya dan bergabung bersamanya dalam rangka memusuhi lawannya baik dalam kondisi terzalimi atau menzalimi. (Lihat Lisanul ‘Arab).

Dalam bahasa Arab, fanatisme golongan disebut dengan العَصَبِيَّةُ (‘ashabiyah) dan التَّعَصُّبُ (ta’ashshub).

Dari sini kita fahami bahwa fanatisme adalah sikap memposisikan diri pada sebuah golongan, membelanya secara membabi-buta tanpa memperhatikan nilai-nilai kebenaran yang ada, dan mengajak orang lain agar bergabung bersamanya.

• BAGAIMANA FANATISME DALAM PANDANGAN ISLAM

Sikap fanatik terhadap golongan, mazhab, tokoh, kabilah/suku, ataupun yang lainnya, merupakan penyakit yang berbahaya. Sungguh penyakit ini telah menimpa umat terdahulu, bahkan umat Islam yang kita berada padanya hingga memecah belah persatuan mereka.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Umat Yahudi terpecah belah menjadi 71 golongan, umat Nashrani terpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah ?’. Beliau menjawab : (golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada”. (HR. at-Tirmidzi).

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullaah berkata, “Sesungguhnya sikap fanatik adalah penyakit kronis yang telah membinasakan umat terdahulu dan sekarang. Penyakit inilah yang pertama kali terjadi dalam sejarah makhluk-makhluk yang Allah ciptakan, yaitu sa’at menimpa iblis terlaknat. Dengan sebab itulah ia menjadi makhluk pertama yang bermaksiat kepada Allah. Kefanatikannya terhadap bahan asal pencipta’annya (yakni, api) menyebabkannya kufur dan menolak perintah untuk sujud penghormatan kepada Nabi Adam ‘alaihis salaam.

Sebagaimana Allah ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an :

خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Engkau (Allah) menciptakan aku dari api sementara Engkau menciptakan dia (Adam) dari tanah liat.” (Al-A’raf: 12)

(Lihat at-Ta’ashshub adz-Dzamim wa Atsaruhu hlm. 20).

• MENGAPA FANATISME TERJADI ?

Muncul satu pertanya’an, bukankah fanatisme itu merupakan penyakit yang berbahaya bagi suatu umat, lalu mengapa sampai menimpa mereka ?

Ketahuilah bahwa terserangnya suatu umat oleh penyakit ini karena tingginya rasa ego pada diri mereka dengan merasa lebih dari selain mereka. Baik yang sifatnya sangat pribadi, seperti yang terjadi pada iblis, atau pun yang berkaitan dengan pihak lain seperti nenek moyang, mazhab, tokoh dll. Sehingga menjadilah ia sebagai penghalang bagi mereka untuk menerima kebenaran dari pihak lain.

Kasus-kasus fanatisme di tengah masyarakat tentunya beragam. Akan tetapi yang paling banyak terjadi di setiap umat dari masa ke masa adalah fanatik terhadap nenek moyang/pendahulu dan ajaran mereka. Tanpa peduli apakah pendahulu mereka di atas Al-Haq (kebenaran) atau tidak. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur`an sa’at mereka menolak dakwah para rasul.

Allah ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿٢٣﴾ فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَـٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَـٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“Dan sungguh telah Kami utus Nuh kepada kaumnya dan ia berkata, ‘Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah tidak ada bagi kalian sesembahan selain Dia, tidakkah kalian bertakwa? Maka sebagian orang-orang kafir dari kaumnya menjawab, ‘Tidaklah ia (Nuh) kecuali manusia biasa seperti kalian, seandainya Allah kehendaki pasti Dia akan mengutus malaikat, kami belum pernah mendengar ajakan (dakwah) seperti ini pada nenek moyang kami dahulu.” (Al-Mu’minuun : 23-24).

Demikian pula yang terjadi pada dua tokoh kafir Quraisy Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah, dengan alasan yang sama mereka menolak dakwah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengajak Abu Thalib paman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir kehidupannya kepada ajaran nenek moyang tersebut.

Tatkala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Thalib di akhir-akhir kehidupannya itu, “Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah sebuah kalimat yang aku akan membela engkau dengannya di hadapan Allah!” Maka Abu Jahl segera menimpali, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama ‘Abdul Muththalib (ayah Abu Thalib)?” Setiap kali Rasulullah mengulangi ucapannya maka ditimpali oleh Abu Jahl dengan perkataan yang sama, “Apakah engkau membenci agama ‘Abdul Muththalib?” Akhirnya Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan kafir karena terpedaya ucapan Abu Jahl untuk tetap berpegang dengan agama kekafiran yang dianut oleh nenek moyangnya. (Lihat kisah ini dalam Shahih Muslim, Kitabul Iman)

• APAKAH BOLEH FANATIK TERHADAP SALAH SATU DARI EMPAT MAZHAB ?

Merupakan sesuatu yang maklum dalam kehidupan beragama, bolehnya mengikuti mazhab imam yang empat yang tersebar di kalangan umat Islam; hanafi, maliki, syafi’i dan hanbali, dengan memahami dalil-dalilnya dan tidak mempertahankan pendapat mazhabnya sa’at bertentangan dengan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun sikap fanatik terhadap salah satu dari empat mazhab tersebut, dan meyakini salahnya mazhab selainnya, serta tidak mengindahkan kebenaran yang ada, merupakan sebab rusaknya persatuan umat. Terlebih jika fanatik dan taklid tersebut dilandasi ketidakpahaman terhadap mazhab yang dianut.

• PARA IMAM MADZHAB MELARANG FANATIK DAN TAKLID KEPADA MEREKA

Berikut pernyata’an mereka :

1. Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Haram bagi siapa saja yang tidak mengetahui dalil mazhabku/pendapatku untuk berfatwa dengan ucapanku. Karena kami manusia biasa, berpendapat dengan sebuah pendapat di hari ini, dan terkadang berpendapat yang lain darinya esok hari.”

2. Al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Sesungguhnya saya hanyalah manusia biasa, bisa salah dan bisa benar. Maka lihatlah pendapatku jika sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah maka ambillah (pendapatku tersebut). Namun jika menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah maka tinggalkanlah pendapatku.”

3. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah maka berpeganglah dengan sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah ucapanku.”

4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Janganlah kalian taklid kepadaku, kepada Malik, kepada asy-Syafi’i, atau al-Auza’i. Ambillah (pendapat) dari mana mereka mengambil”.

• AKIBAT BURUK FANATIK KEPADA IMAM MADZHAB

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, Akibat buruk fanatik kepada salah satu mazhab adalah :

1. Fanatik terhadap mazhab menjadi sebab ditolaknya nash-nash dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih ketika tidak sesuai dengan mazhab yang ia pegangi.

2. Memperbanyak munculnya hadits-hadits lemah bahkan palsu dalam rangka membela mazhab.

3. Membatasi diri dengan salah satu mazhab tanpa melihat mazhab yang lain apalagi mengambil pelajaran ilmiah darinya.

4. Tersebarnya sikap taklid dan jumud serta menutup rapat-rapat pintu ijtihad.

Oleh karena itu, wajib bagi kita semua umat Islam untuk meninggalkan sikap fanatik dan taklid buta. Kemudian berupaya berpegang-teguh dengan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta bimbingan para sahabatnya yang mulia.

Wallahu a’lamu bish shawab.

Dari berbagai sumber.

_____________

Iklan