SUDAH TRADISI

SUDAH TRADISI

Ketika diperingatkan untuk menjauhi perkara-perkara atau amalan-amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah dan Rasulnya, ada sebagian dari orang awam yang berkata : ”Ini sudah tradisi”.

Ucapan seperti itu sama dengan perkata’an orang-orang musyrik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka diperintahkan untuk meninggalkan tradisi-tradisi nenek moyangnya. Mereka berkata, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an :

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az Zukhruf: 22).

Begitulah jawaban mereka orang-orang musyrik yang menolak seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diperingatkan untuk meninggalkan ajaran-ajaran nenek moyangnya.

• ISLAM TIDAK ANTI TRADISI

Islam tidak anti budaya dan tradisi, hal ini bisa kita perhatikan, misalnya dalam riwayat Bukhari di kitab Al-Libas diuraikan ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam agar beliau membuat stempel seperti yang diperbuat para pemimpin-pemimpin dunia untuk mencap buku-buku dan surat-surat mereka, karena mereka tidak mau menerima surat ataupun tulisan kecuali jika ada stempelnya, maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam pun mengabulkan usul tersebut.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam membuatnya dari perak dengan bertuliskan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Melalui sirah dan sunnahnya juga, kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melenyapkan semua tradisi atau adat bangsa Arab sebelum Islam (jahiliah). Tetapi yang Rasulullah lenyapkan hanyalah yang batil dan yang buruknya saja.

Bahkan dalam ibadah haji misalnya, kebanyakan tata caranya dipertahankan oleh Islam padahal ia telah dijalankan secara turun-temurun oleh bangsa Arab dari ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, seperti thawaf, sa’i dari Shafa ke Marwa, dan lainnya.

Sementara yang tidak sesuai dengan akidah Islam dihapus, seperti ucapan orang-orang jahiliah terdahulu dalam talbiah “Labbaik la syariika laka illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa ma malak” yang ditujukan kepada berhala-berhala orang jahiliah. Kemudian yang dihapuskan adalah thawaf yang dilakukan sambil telanjang oleh mereka. Mereka beralasan bahwasannya mereka melakukan thawaf mengelilingi Baitullah dengan tidak mengenakan pakaian yang digunakan untuk maksiat.

Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mempertahankan atau meninggalkan tradisi leluhur tentu saja berdasarkan wahyu. Dan kita pun umatnya boleh menjadikan tradisi itu dihilangkan atau dipertahankan, dengan syarat tradisi tersebut tidak melanggar atau bertentangan dengan syari’at Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================

Iklan