BARANGSIAPA MENGHIDUPKAN SUNNAHKU

BARANGSIAPA MENGHIDUPKAN SUNNAHKU

Diantara hujah lainnya yang sering dibawa para pembela bid’ah, adalah hadits berikut ini.

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِيْ قَدْ أُمِيْتَتْ بَعْدِيْ فَإِنَّ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أََنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya barang siapa yang menghidupkan suatu sunnah dari sunnahku yang telah dimatikan (ditinggalkan) setelah aku (wafat), maka sesungguhnya bagi dia daripada pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun . . dst.

Tanggapan :

Hadits itu menyebutkan : “Sesungguhnya barang siapa yang MENGHIDUPKAN suatu sunnah . . dst.

Hadits itu TIDAK menyebutkan : “Sesungguhnya barangsiapa MEMBUAT amalan baru.

MENGHIDUPKAN dengan MEMBUAT adalah sangat beda.

MENGHIDUPKAN artinya : menghidupkan kembali perkara (sunnah) yang sudah pernah ada. Namun di tinggalkan manusia.

Jadi kalau ada orang yang membela amalan bid’ah, dengan membawa hadits tersebut adalah sangat keliru. Karena hadits itu bukan menyuruh untuk membuat AMALAN BARU. Nampak sekali pendalilan seperti ini adalah cara pendalilan yang di cari-cari.

Tidak ada satupun amalan-amalan bid’ah sa’at ini yang dilakukan manusia, pernah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lebih dari itu, hadits ini masih diperselisihkan keshahihannya. Meski At Tirmidzi menganggapnya hasan, dan beliau memang terkenal gampang menghasankan hadits, namun salah satu perawi hadits ini ialah Katsier bin Abdillah bin Amru bin ‘Auf Al Muzani.

Berikut ini nukilkan sanad hadits diatas selengkapnya ;

Imam At Tirmidzi rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَرْوَانَ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيِّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ … الحديث (جامع الترمذي, كتاب العلم, باب: ما جاء في الأخذ بالسنة واجتناب البدع, حديث رقم 2601).

Abdullah bin Abdirrahman mengabarkan kepada kami, katanya, Muhammad bin ‘Uyainah mengabarkan kepada kami, dari Mirwan bin Mu’awiyah Al Fazary, dari Katsir bin ‘Abdillah, yaitu : bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany, dari Ayahnya, dari Kakeknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ibnul Harits :…. Al hadits”. (H.R. Tirmidzi, no 2601).

Cacat hadits ini ialah pada silsilah rawi yang bercetak tebal di atas. Untuk lebih jelasnya, berikut nukilkan komentar para ahli hadits mengenai riwayat mereka :

1. Al Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف المزني: يروي عن أبيه عن جده، روى عنه مروان بن معاوية وإسماعيل بن أبى أويس، منكر الحديث جدا، يروي عن أبيه عن جده نسخة موضوعة لا يحل ذكرها في الكتب ولا الرواية عنه (كتاب المجروحين 2/221).

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany; Ia meriwayatkan dari Ayahnya dari kakeknya. Sedang yang meriwayatkan dari Katsir ialah Marwan bin Mu’awiyah dan Isma’il bin Abi Uwais. (Katsir ini) munkarul hadits jiddan [Keduanya merupakan jarhun syadied (kritikan pedas), yang menjatuhkan hadits orang itu ke tingkat dha’if jiddan (lemah sekali) bahkan maudhu’ (palsu)]. Ia meriwayat-kan dari ayahnya dari kakeknya sekumpulan hadits maudhu’ (palsu) yang tidak halal untuk disebutkan dalam kitab-kitab dan tidak halal untuk diriwayatkan. (Kitabul Majruhien 2/221).

2. Imam An Nasa’i rahimahullah berkata :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف: متروك الحديث (الكامل لابن عدي 6 / 58).

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf, matruukul hadits. (Al Kamil, oleh Ibnu ‘Adiy 6/58).

3. Imam Syafi’i dan Abu Dawud rahimahumallah menyifatinya dengan kata-kata :

ركن من أركان الكذب (ميزان الاعتدال 3 / 407)

“Salah satu tiang daripada tiang-tiang kedusta’an”. (Mizanul I’tidal, 3/407). [
Maksudnya ia salah seorang pembohong besar].

4. Ibnu Hajar Al ‘Asqalany rahimahullah berkata :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف المزني المدني ضعيف أفرط من نسبه إلى الكذب (تقريب التهذيب – 2 / 39)

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany Al Madany, dha’if, namun orang yang menuduhnya sebagai pendusta agak berlebihan (Taqribut Tahdzieb, 2/39).

Kesimpulannya, hadits di atas derajatnya dha’if jiddan atau minimal dha’if. Sehingga tidak bisa dijadikan landasan dalam berdalil.

http://www.muslim.or.id

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

______________________