BID’AH KHUTBAH JUM’AT DENGAN BAHASA INDONESIA KARENA TIDAK ADA DIZAMAN NABI

BID’AH KHUTBAH JUM’AT DENGAN BAHASA INDONESIA KARENA TIDAK ADA DIZAMAN NABI

Para pembela bid’ah hasanah sering mengatakan bahwa khutbah jum’at dengan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya selain bahasa Arab adalah bid’ah, karena tidak ada dizaman Nabi. Tidak aneh sebetulnya dengan pendapat mereka demikian. Hal itu berangkat dari pemahaman mereka yang gagal faham memahami bid’ah, bukankah mereka katakan ; pesawat terbang bid’ah, becak bid’ah, martabak bid’ah karena kata mereka tidak ada dizaman Nabi. Jadi segala perkara yang tidak ada dizaman Nabi mereka katakan bid’ah. Kegagalan faham mereka adalah tidak memahami mana urusan ibadah mana urusan duniawi. Mana bid’ah menurut bahasa mana bid’ah menurut syari’at.

Perlu di fahami bahwa tujuan (maqoosidus syari’at) dari khutbah diantaranya adalah : Memberi nasehat, peringatan, pelajaran, kabar baik dan ancaman dari Allah ta’ala. Maka apabila khutbah jum’at di sampaikan dengan bahasa yang tidak dimengerti umat, maka apa tujuan disyari’atkannya khutbah ?

Tidak ada dalil yang mewajibkan khutbah harus berbahasa arab. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam khutbah dengan bahasa Arab, karena Rasulullah adalah bangsa Arab begitu pula para Sahabat.

Pendapat yang masyhur di kalangan syafiiyah berpendapat :

”Khutbah disyaratkan menggunakan bahasa arab bagi yang mampu, kecuali jika semua jama’ah tidak memahami bahasa arab, maka khatib menggunakan bahasa mereka”. (al-Majmu’, 4/522).

Abu Hanifah berpendapat :

”Khutbah dianjurkan menggunakan bahasa arab dan bukan syarat. Khatib boleh menggunakan bahasa selain arab”. (Rad al-Mukhtar, 1/543).

Khutbah menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa yang difahami kaum setempat, sejalan dengan prinsip syariah, bahwa Allah mengutus para nabi-Nya dengan bahasa kaumnya.

Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

”Tidaklah Kami mengutus seorang Rasul-pun, kecuali dengan bahasa kaumnya. Agar rasul itu menjelaskan (kebenaran) kepada mereka”. (QS. Ibrahim: 4).

Kesimpulan menarik dari as-Syaukani,

ثم اعلم أن الخطبة المشروعة هي ما كان يعتاده صلى الله تعالى عليه وآله وسلم من ترغيب الناس وترهيبهم فهذا في الحقيقة روح الخطبة الذي لأجله شرعت, وأما اشتراط الحمد لله أو الصلاة على رسول الله أو قراءة شيء من القرآن فجميعه خارج عن معظم المقصود من شرعية الخطبة

”Ketahuilah bahwa khutbah yang disyariatkan adalah kkhutbah yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu memotivasi masyarakat dan memberi peringatan bagi mereka. Pada hakekatnya, bagian ini adalah inti khutbah, yang karenanya, disyariatkan adanya khutbah jumat. Sementara persyaratan memuji Allah, shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau membaca beberapa ayat al-Quran, semua ini bukan tujuan utama disyariatkannya khutbah”.

Kemudian beliau menegaskan,

ولا يشك منصف أن معظم المقصود هو الوعظ دون ما يقع قبله من الحمد والصلاة عليه صلى الله تعالى عليه وآله وسلم, وقد كان عرف العرب المستمر أن أحدهم إذا أراد أن يقوم مقاما ويقول مقالا شرع بالثناء على الله وعلى رسوله وما أحسن هذا وأولاه, ولكن ليس هو المقصود بل المقصود ما بعده

”Orang cerdas tidak akan ragu bahwa tujuan utama dalam khutbah nasehat (bagi jamaah), bukan pujian atau shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, kebiasaan masyarakat arab turun-temurun, ketika mereka hendak menyampaikan ceramahnya, mereka mulai dengan memuji Allah dan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini kebiasaan yang sangat bagus dan mulia. Namun, ini bukan tujuan utama khutbah. Yang menjadi inti khutbah adalah nasehat setelahnya”. (ar-Raudhah an-Nadiyah, 1/137).

• Fatwa Al-Majma’ al-Fiqhi

Al-Majma’ al-Fiqhi di bawah Rabithah Alam Islami juga menguatkan pendapat yang menyatakan, bahasa arab bukan syarat khutbah jumat.

Dalam sebuah keputusannya dinyatakan,

الرأي الأعدل هو أن اللغة العربية في أداء خطبة الجمعة والعيدين في غير البلاد الناطقة بها ليست شرطاً لصحتها ، ولكن الأحسن أداء مقدمات الخطبة وما تضمنته من آيات قرآنية باللغة العربية ، لتعويد غير العرب على سماع العربية والقرآن ، مما يسهل تعلمها ، وقراءة القرآن باللغة التي نزل بها ، ثم يتابع الخطيب ما يعظهم به بلغتهم التي يفهمونها

”Pendapat paling kuat, bahwa bahasa arab untuk bahasa pengantar khutbah jumat atau khutbah id, di selain negeri yang tidak berbahasa arab, bukanlah bagian dari syarat sah khutbah. Hanya saja yang terbaik, menyampaikan mukaddimah khutbah dan ayat al-Quran yang dibaca, menggunakan bahasa arab. Untuk membiasakan orang non arab agar medengarkan bahasa arab dan al-Quran. Yang ini memudahkan mereka belajar bahasa arab, serta membaca al-Quran dengan bahasa asli dia diturunkan. Selanjutnya khatib bisa menyampaikan nasehat dengan bahasa mereka, yang bisa mereka pahami”. (Keputusan al-Majma’ al-Fiqhi, volume 5, keputusan ke-5, hlm. 99).

• Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya :

Apa hukum khutbah jum’at dengan bahasa selain bahasa Arab ?

Syaikh rahimahullah menjawab : ”Yang benar dalam masalah ini adalah tidak boleh bagi khotib berbicara ketika khutbah jum’at dengan bahasa yang tidak dipahami oleh jama’ah yang hadir. Apabila jama’ah tersebut bukan orang Arab dan tidak paham bahasa Arab, maka khotib lebih tepat berkhutbah dengan bahasa mereka karena bahasa adalah pengantar agar sampai penjelasan kepada mereka. Alasan lain, maksud dari khutbah adalah untuk menjelaskan hukum Allah subhanahu wa ta’ala pada hamba-Nya, juga memberikan nasehat dan petunjuk. Namun ketika membaca ayat Al Qur’an haruslah dengan bahasa Arab, lalu setelah itu boleh ditafsirkan dengan bahasa yang jama’ah pahami.

Dalil yang menunjukkan bahwa khutbah diharuskan dengan bahasa yang jama’ah pahami adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tidaklah kami mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya untuk memberi penjelasan pada mereka.” (QS. Ibrahim: 4). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa agar sampainya penjelasan, hendaklah pembicara menggunakan bahasa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara.

Demikian fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam

Kesimpulan :

Khutbah jum’at dengan bahasa Indonesia atau dengan bahasa yang dimengerti umat setempat bukanlah bid’ah, karena sudah menjadi ketetapan dan ijma’ para Ulama Shalaf maupun Khalaf. Mayoritas ulama menetapkan bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber hukum Islam dalam menetapkan sesuatu hukum.

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

===================