PENULISAN HADITS ADALAH BID’AH ?

PENULISAN HADITS ADALAH BID’AH ?

Apakah menulis hadits adalah bid’ah, karena tidak di lakukan dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup ?

Dimasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, menulis hadits memang sesuatu yang jarang dilakukan, karena sa’at itu alat tulis menulis tidak semudah seperti sa’at ini, di samping itu, juga belum ada para pemalsu hadits. Sa’at itu periwayatan hadits berada di tangan orang-orang yang jujur dan terpercaya.

Ketika terjadi fitnah antara Ali radhiyallahu ‘anhu dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, para pendukung dari masing-masing golongan mulai berani memalsukan hadits atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan mengunggulkan pemimpin masing-masing, tambah lagi periwayatan hadits pun semakin meluas dan mencakup setiap golongan, baik yang jujur dan kuat hafalannya, maupun yang pendusta dan sering lupa.

Disisi lain, sa’at itu terbilang sedikit para Sahabat yang punya kemampuan membaca dan menulis.

Tapi sa’at itu ada sekelompok kecil sahabat yang mencatat hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah Abdullah bin Amr bin ‘Ash.

Banyak sekali riwayat yang menunjukkan bahwasanya pencatatan hadits itu memang sudah terjadi di jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan beliau sendiri yang memerintahkannya.

Di antara dalilnya ialah sabda Beliau pada sa’at khutbah di tahun pembuka’an kota Makkah ketika Abu Syah meminta kepada Beliau untuk dituliskan ceramah yang beliau sampaikan, “Tuliskanlah bagi Abu Syah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Juga hadits Abu Hurairah. Beliau menceritakan, “Sesungguhnya dia (Abdullah bin Amr) dahulu mencatat (hadits) sedangkan aku tidak mencatat.” (HR. Bukhari).

Begitu pula ketika Nabi ditanya oleh Abdullah bin Amr, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar sabdamu dan akupun mencatatnya.” Maka beliau mengatakan, “Ya, (silakan).” Abdullah berkata, “Baik pada saat marah maupun ridha ?” Beliau menjawab, “Iya, karena sesungguhnya aku tidak berkata kecuali haq.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih kata Syaikh Ahmad Syakir) (lihat Al Hadits An Nabawi, Mushthalahuhu, Balaghatuhu, Kutubuhu, hal. 40-49).

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin ‘Ash menulis hadits yang beliau dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ada orang yang berkata, “Sesungguhnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang berbicara sambil marah. Karena itu, jangan ditulis.” Hal ini dilaporkan oleh Abdullah bin Amr kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tulis saja! Demi Allah, tidaklah keluar dari dua bibir ini kecuali kebenaran.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 18:8).

Al-Zahrani dalam bukunya “Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah” menyatakan bahwa penulisan hadits telah di mulai sejak masa Rasulullah. Dengan adanya hadits-hadits yang mengandung perintah untuk menulis, yang berarti penulisan hadits sesungguhnya tersebut dimulai sejak masa Rasulullah, sekalipun yang diperioritaskan adalah wahyu yang turun.

Juga ada riwayat beberapa ungkapan para sahabat. Salah satunya adalah Abu Hurairah, yang menyatakan bahwa hafalannya tidak ada yang melindungi kecuali ‘Abdullah ibn ‘Amr, karena ia tidak menulis sedangkan Ibnu ‘Amr menulis hadits.

Bukti lain yang serupa adalah bentuk shahifah. Misalnya ada shahifah Abu Bakr, Shahifah ‘Ali ibn Abi Tahlib, dan shahifah ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash, semua itu merupakan bukti bahwa telah banyak pembukuan hadits pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada awalnya hadits-hadits Nabi memang belum boleh dicatat, karena ketika itu kaum muslimin masih di awal-awal turunnya al-Qur’an dan khawatir akan tercampur dengan catatan ayat. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk mencatat selain al-Qur’an.

Akan tetapi kemudian larangan itu Beliau hapus sesudah al-Qur’an banyak dihafal dan dicatat dengan baik oleh para sahabat. Sehingga tidak dikhawatirkan lagi catatan atau hafalan hadits tercampur dengan al-Qur’an.

Wasallam

Dirangkum dari berbagai sumber

_____________

Iklan