SARANA BUKAN BID’AH

SARANA BUKAN BID’AH YANG DIMAKSUDKAN NABI
.
Seringkali kita mendapatkan omongan orang awam atau orang-orang yang gagal faham misalnya mereka berkata, “Pergi haji naik pesawat terbang berarti bid’ah, di zaman Nabi kan tidak ada pesawat terbang”. Atau omongan, “Dakwah di internet atau facebook berarti bid’ah, di zaman Nabi kan tidak ada internet dan facebook”. Atau mereka berkata, “Televisi, radio, jam dinding, madrasah, kalender, pengeras suara untuk panggilan adzan berarti bid’ah karena tidak ada di zaman Nabi ?”
.
Perkata’an-perkata’an seperti itu sering kita jumpai, baik di dunia maya ataupun di dunia nyata.
.
Benda-benda yang disebutkan di atas seperti, televisi, radio, pesawat terbang, jam dinding, mobil, sepeda motor, kalender dan lainnya, juga berbagai hasil karya inovasi yang di ciptakan manusia seperti, internet, facebook dan lainnya, memang benar bid’ah kalau di tinjau dari sisi bahasa. Karena bid’ah menurut bahasa adalah sejala perkara yang baru, baik yang terpuji ataupun yang tercela.
.
Sebagaimana yang di sebutkan oleh Ibnu ‘Asaakir,
.
مَا ابْتُدِعَ وَأُحْدِثَ مِنَ الأُمُوْرِ حَسَناً كَانَ أَوْ قَبِيْحًا
.
“Bid’ah (menurut bahasa) adalah perkara-perkara yang baru dan diada-adakan baik yang terpuji maupun yang tercela”. (Tabyiinu kadzibil muftari hal 97).
.
Jadi memang benar contoh-contoh di atas seperti, facebook, internet, kalender, televisi, radio, jam dinding, pengeras suara, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, hp, computer dll. Memang bid’ah menurut bahasa. Karena memang tidak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun bukan bid’ah yang dimaksud oleh syari’at. Karena bid’ah yang dimaksud oleh syari’at adalah membuat-buat cara-cara baru dalam ibadah yang tidak ada di zaman Nabi.
.
Manusia adalah makhluk yang lebih unggul di banding makhluk yang lainnya. Manusia tidak memiliki sayap, tapi ternyata manusia mampu melayang di udara bahkan katanya sampai bisa mendarat di bulan. Wallahu a’lam.
.
Diantara keunggulan manusia di banding makhluk hidup lainnya, karena Allah Ta’ala melengkapi pencipta’annya dengan akal. Sehingga dengan akalnya manusia inovatif, insfiratif dan kreatif, maka tercipta berbagai karya imaginer buah dari akalnya yang berkembang. Dan manusia pun bisa hidup secara dinamis sepanjang zaman.
.
Kalau di zaman dahulu syi’ar sebatas di mimbar, maka sa’at ini dengan perkembangan teknologi informasi yang berkembang pesat, maka dakwah bisa di sampaikan kapan saja dan dimana saja tanpa di batasi ruang dan waktu.
.
Adanya berbagai perangkat teknologi informasi yang di ciptakan manusia sa’at ini, bisa digunakan sebagai sarana untuk dakwah dan dakwah pun bisa dilakukan dengan mudah.
.
Dalam waktu yang cepat pengolahan dan penyajian materi bisa menggunakan teknologi komputer, gadget bahkan telpon genggam.
.
Sehingga materi dakwah yang baru ditulis bisa di sampaikan dalam waktu hitungan detik dengan menggunakan media internet. Yang apabila di sampaikan dengan cara seperti di masa lalu bisa membutuhkan waktu yang lama.
.
Munculnya beragam jejaring sosial sa’at ini, maka dakwah pun bisa semakin meluas.
.
Apakah berbagai alat yang di gunakan bisa di katakan bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi ?
.
Sarana, metode atau alat yang di gunakan umat Islam apakah untuk tujuan sebagai penunjang kelancaran ibadah atau tidak ada korelasinya dengan urusan ibadah, bukanlah bid’ah yang di maksudkan oleh syari’at.
.
Adapun bid’ah yang di larang oleh syari’at ialah, sebagaimana yang di definisikan oleh para Ulama sebagai berikut,
.
– Imam Al-’Iz bin ‘Abdis salam berkata :
.
هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ
.
“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Qowa’idul Ahkam 2/172).
.
– Imam An-Nawawi berkata :
.
هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ
.
“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).
.

– Al-Fairuz Abadi berkata :
.
الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ
.
“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).
.
Dari definisi-definisi bid’ah yang di sebutkan oleh para Ulama di atas, maka bid’ah yang di maksud oleh syari’at adalah : “Menambah-nambah atau membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah yang tidak ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak di kerjakan, tidak di perintahkan juga tidak pernah di setujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
.
Dan bid’ah menurut syari’at seluruhnya tercela, artinya tidak ada yang baik, sebagaimana yang di katakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani sebagai berikut :
.
فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة
.
“Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela”. (Fathul Bari, 13: 253).
.
Perkata’an Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di atas, berdasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sebagai berikut,
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Apakah peralatan yang di gunakan untuk kebutuhan ibadah juga bid’ah ?
.
Peralatan atau metode yang di gunakan untuk beribadah, maka tidak termasuk kepada bid’ah yang di maksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Namun apabila suatu alat tertentu yang di gunakan untuk ibadah dan di yakini sebagai keharusan menggunakannya. Dan tidak mau meninggalkannya, padahal Nabi tidak pernah melakukannya, maka pengguna’an alat tersebut menjadi bid’ah yang sesat. Tapi apabila pengguna’an suatu alat tertentu dalam ibadah tanpa ada keyakinan dengan alat tersebut jadi lebih afdhol ibadahnya, maka alat yang di gunakan dalam ibadah tersebut bukan bid’ah yang dimaksud oleh syari’at.
.
• PERALATAN HANYALAH SEBAGAI SARANA DAN BUKAN TUJUAN (GHAYAH).
.
Kalau kita pergi ke masjid untuk shalat mengendarai sepeda, mobil atau becak. Maka kendara’an tersebut hanya sebagai sarana untuk sampainya ke masjid. Tidak lebih dari itu.
.
Sarana yang di gunakan tersebut termasuk ke dalam urusan duniawi yang memiliki qa’idah tersendiri.
.
Adapun qa’idahnya sebagai berikut :
.
الاصل فى العادة حلال حتى يقوم الدليل على النهي
.
“Asalnya urusan duniawi boleh (halal) kecuali ada dalil yang melarangnya (mengharamkannya)”.
.
Kalau di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang (jihad) menggunakan panah dan pedang. Lalu kalau sa’at ini menggunakan senjata api jenis Beretta 92 atau FN 57 atau menggunakan peluncur roket Grad BM 21, maka tentu saja peralatan perang tersebut bukan bid’ah yang di larang dalam syari’at. Jadi menggunakan peralatan tersebut tidak di hukumi bid’ah sehingga sesat dan masuk neraka. Karena peralatan tersebut hanya sebagai alat atau sarana.
.
Contoh lainya lagi misalnya pergi haji. Kalau di masanya Nabi pergi untuk melaksanakan ibadah haji kendara’an yang di gunakannya adalah unta, maka kalau sa’at ini menggunakan mobil Toyota, maka tentu saja mobil atau kendara’an tersebut bukan bid’ah yang di maksud oleh syari’at. Karena kendara’an tersebut hanya sarana. Jadi pergi haji tidak naik unta sebagaimana Nabi tapi mengendarai Toyota, maka tentu saja tidak di hukumi bid’ah sehingga sesat dan masuk neraka.
.
Banyak sarana yang di gunakan untuk beribadah atau syi’ar yang tidak ada di masa Nabi, misalnya : Madrasah dengan system pendidikannya, jam dinding, karpet, speker, media internet, kaca mata, radio, telivisi, telpon gengam, computer, laptop, gadget dan banyak lagi yang di gunakan sebagai sarana untuk berlangsungnya sebuah syi’ar atau ibadah.
.
Sarana dan peralatan yang di sebutkan di atas, kita boleh menggantinya atau bahkan tidak menggunakannya. Dan tidak ada keyakinan dengan menggunakan sarana dan peralatan tersebut jadi bertambah pahala ibadahnya, dan juga tidak ada keyakinan kalau tidak menggunakan sarana dan peralatan tersebut jadi berdosa.
.
Hal ini sangat berbeda dengan acara-acara, atau metode-metode juga amalan-amalan bid’ah yang di amalkan oleh para pelaku bid’ah. Mereka tidak mau meninggalkan bid’ah-bid’ahnya, karena mereka meyakini bid’ah-bid’ah yang mereka kerjakan sebagai cara dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Mereka meyakini di dalam bid’ah-bid’ah yang mereka kerjakan terdapat keutama’an. Bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan di yakini sebagai bentuk ibadah. Sehingga mereka tidak mau meninggalkannya.
.
Adapun sarana yang digunakan untuk menunjang terlaksananya ibadah, tidak menjadi masalah apabila harus di tinggalkan atau tidak di gunakan.
.
Inilah yang menunjukkan bahwa peralatan yang di gunakan untuk beribadah tersebut hanya sebatas sebagai sarana bukan tujuan dari ibadah.
.
Apakah ada yang meyakini akan mendapatkan tambahan pahala atau lebih afdhol, apabila pergi haji naik unta sebagaimana Nabi ?
.
Tentu saja tidak ada yang meyakini lebih afdhol kalau naik haji naik unta.
.
Atau ada yang merasa berdosa apabila pergi haji naik pesawat terbang, karena pesawat terbang buatan orang kafir ?
.
Pesawat terbang dan unta hanya sarana (kendara’an) untuk bisa tercapainya tujuan dari ibadah. Dan bukan tujuan dari ibadah.
.
Onta dan pesawat terbang termasuk perkara duniawi, yang qa’idahnya sebagaimana sudah di sebutkan di atas yaitu,
.
الاصل فى العادة حلال حتى يقوم الدليل على النهي
.
“Asalnya urusan duniawi boleh (halal) kecuali ada dalil yang melarangnya (mengharamkannya)”.
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
بارك الله فيكم
.
Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii/
.
.
_________________