APAKAH PARA SAHABAT TIDAK TAHU BID’AH HASANAH ?

APAKAH PARA SAHABAT TIDAK TAHU BID’AH HASANAH ?

Ada beberapa riwayat masyhur yang meriwayatkan para Sahabat menegur orang-orang yang mengamalkan perbuatan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari riwayat-riwayat tersebut sebetulnya kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa tidak ada amalan baru dalam urusan ibadah yang dibenarkan dan dipandang baik oleh Islam.

Jika amalan baru dalam urusan ibadah (bid’ah) dibenarkan dalam Islam, tentu para Sahabat tidak akan menegur orang-orang yang melakukan perbuatan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut beberapa riwayat para Sahabat yang menegur orang yang melakukan ibadah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah ;

1- Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

Shalat adalah amalan yang utama, tetapi ternyata apabila dilakukan tidak ada tuntutannya dari Allah dan Rasulnya, maka itulah yang diingkari dan ditegur oleh Sa’id bin Musayyib.

Apakah Sa’id bin Musayyib tidak tahu ada bid’ah hasanah ?

2- Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar
radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

Seorang laki-laki bersin kemudian dia mengucapkan, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah”. Seorang lelaki tersebut menambahkan lafadz
”shalawat” setelah mengucapkan
”Alhamdulillah”. Tapi ternyata mendapatkan teguran dari Ibnu Umar.

Kenapa Ibnu Umar menegur, bukankah tambahan shalawat yang diucapkan seorang lelaki tersebut baik ?

Ibnu Umar menegur lelaki tersebut karena yang dilakukannya adalah membuat-buat perkara baru dalam urusan agama.

Apakah Ibnu Umar tidak tahu bid’ah hasanah ?

3- Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu ‘anhu, Diriwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka, “Bertasbihlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahmidlah seratus kali” Dan demikianlah seterusnya . . Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya, tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud , “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan”. Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun ?” Abu Musa pun menjawab, “Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka”. Berkatalah Ibnu Mas’ud, Mari kita pergi menuju mereka. Lalu Ibnu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? Ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”, Mereka pun menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”. Berkata Amru bin Salamah, “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang An-Nahrawan bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih).

Mengapa Ibnu Mas’ud menegur orang-orang yang sedang berdzikir, Bukankah dzikir baik ?

Ibnu Mas’ud menegur mereka, karena dzikir yang mereka lakukan tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apakah Ibnu Mas’ud tidak tahu ada bid’ah hasanah ?

Beberapa riwayat tadi menyebutkan para Sahabat menegur orang-orang yang melakukan perkara-perkara baru dalam urusan agama. Mengapa para Sahabat tidak mendiamkannya ?

Apakah para Sahabat tidak tahu bid’ah hasanah ?

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================