TAHLILAN KEBO KYAI BODONG

Efek dari bid’ah hasanah
.
TAHLILAN KEBO KYAI BODONG
.
Kebo keturunan trah Kyai Slamet yang tewas ditombak orang tidak dikenal di Taman Seruni, Solo Baru, Sukoharjo telah dimakamkan di Sitinggil Kidul Keraton Kasunanan Surakarta, Rabu (5/11/2014) dini hari.
.
Kerabat Keraton, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro menuturkan sebelum di kubur dilakukan prosesi seperti pemakaman Kebo-kebo trah Kyai Slamet yang telah meninggal sebelumnya.
.
Setelah di do’akan dan di mandikan menggunakan air kembang, Kebo bernama Kyai Bodong ini langsung dimasukan ke liang kubur yang telah digelar kain mori.
.
“Prosesi dilakukan sa’at tengah malam hingga hampir subuh tadi, karena kami ingin Kyai Bodong dapat dikuburkan segera,” ujar Satrio kepada Tribun Jateng, Rabu (5/11/2014).
.
Usai pemakaman, eks anggota DPRD Kota Solo ini menambahkan pihak Keraton akan menggelar do’a selametan arwah (tahlilan) layaknya manusia yang meninggal.
.
“Usai prosesi pemakaman nanti kami juga akan melakukan wilujengan (tahlilan) TUJUH HARI, LALU EMPAT PULUH HARI, SERATUS HARI hingga nantinya sampai ke NYEWU”. sambungnya.
.
http://jateng.tribunnews.com/2014/11/05/kebo-trah-kyai-slamet-keraton-solo-dimakamkan-dan-didoakan.
.
.
———————
.
.
Itulah dhantara bid’ah hasanah yang di lakukan sebagian umat Islam yang ada di negri ini.
.
Bid’ah hasanah lainnya di bawah ini,
.
SHALAWAT GASING ALA ASWAJA : https://m.youtube.com/watch?v=15wNen99AjA
.
DZIKIR LONCAT KATAK MODEL SUFI : https://m.youtube.com/watch?v=TnqD3HFzAmY
.
DZIKIR BREAKDANCE ALA SUFI : https://m.youtube.com/watch?v=1RJyZGDZC9A
.
.
Ingatlah tekad Iblis yang akan menyesatkan manusia semuanya !
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
.
”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, . .” (QS. Al Hijr : 39).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
=============

SHALAWAT TUYUL

.
Efek sesat bid’ah hasanah.
.
SHALAWAT TUYUL KYAI DIMAS KANJENG TA’AT PRIBADI
.
Membaca shalawat adalah amalan utama yang ringan di amalkan namun berpahala besar, tapi tentu saja shalawat yang di maksud adalah shalawat yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan shalawat yang di buat-buat ahli bid’ah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ
.
“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosanya), serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”. (H.R An-Nasa’i, no. 1297).
.
Hadits di atas menunjukkan keutama’an bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat.
.
Ahlus Sunnah dalam bershalawat juga dalam ibadah lainnya sudah cukup mengamalkan apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbeda dengan ahli bid’ah, mereka tidak pernah merasa puas dengan yang di ajarkan oleh Rasulullah. Sehingga banyak bermunculan shalawat-shalawat bid’ah dengan cara-caranya yang menyimpang, juga amalan-amalan bid’ah lainnya yang tidak pernah Nabi ajarkan.
.
Sebagaimana dalam video di bawah ini, cara ahli bid’ah bershalawat yang tidak pernah Nabi ajarkan.
.

.
Selain shalawat-shalawat bid’ah yang sudah terkenal di masyarakat, juga ada lagi SHALAWAT TUYUL.
.
Siapa yang mengajarkan SHALAWAT TUYUL ?
.
Siapa lagi kalau bukan ahli bid’ah yang tidak pernah merasa cukup dengan ajaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.
.
Diberitakan, pengikut Kyai Dimas Kanjeng Ta’at Pribadi yang sa’at ini (2016) di ringkus polisi karena kasus pembunuhan dan penipuan dengan nilai ratusan miliyar dengan modus menggandakan uang, mengajarkan kepada para pengikutnya SHALAWAT TUYUL.
.
Berita selengkapnya silahkan kunjungi situs di bawah ini,
.
http://www.radarcirebon.com/pengikut-dimas-kanjeng-di-tegalgubug-ini-ngaku-diajarkan-salawat-tuyul.html
.
Benar apa yang di katakan Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu : “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”. (al-Aqrimany:315, al-Mawa’idz).
.
Efek sesat bid’ah hasanah lainya silahkan lihat di sini : https://m.youtube.com/watch?v=TA3t5P_xtnc
.
Juga yang ini, DZIKIR LONCAT KATAK MODEL SUFI : https://m.youtube.com/watch?v=TnqD3HFzAmY
.
Dan yang ini, DZIKIR BREAKDANCE ALA SUFI : https://m.youtube.com/watch?v=1RJyZGDZC9A
.
TEKAD IBLIS AKAN MENYESATKAN MANUSIA SEMUANYA.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
.
”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, . .” (QS. Al Hijr : 39).
.
HATI-HATI DARI PENYESAT UMAT, YANG SESUNGGUHNYA MEREKA ADALAH SETAN DARI JENIS MANUSIA.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
=============

MEMAKNAI LAFADZ KULLU SESUKA HATI

MEMAKNAI LAFADZ KULLU SESUKA HATI

Demi membela keyakinan adanya bid’ah hasanah, sepertinya ahli bid’ah tidak merasa takut, walaupun harus menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tidak sesuai dengan makna yang sesungguhnya.

Mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an bukan dengan metode yang benar yang di syaratkan oleh para Ulama, diantaranya yaitu merujuk kepada penafsiran para Ulama ahli tafsir.

Tapi mereka memaknai ayat-ayat Al-Qur’an mengikuti hawa nafsu.

Sungguh celaka menafsirkan Al-Qur’an dengan hawa nafsu. Padahal Rasulullah sudah memberikan ancaman yang sangat keras.

Sebagaimana sabdanya :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2874].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa mengatakan tentang al-Qur’an dengan akalnya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2875].

Lafadz kullu (كل) dalam hadts :

كل بدعة ضلالة

“Semua bid’ah sesat”

Mereka menolak lafadz “kullu” (كل) dalam hadits tersebut diartikan “SEMUA”.

Mereka maknai lafadz “kullu” (كل) dalam hadits tersebut dengan arti “SEBAGIAN”.

Kemudian mereka menunjukkan lafadz “kullu” (كل) yang terdapat di dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Kemudian mereka membuat penafsiran sendiri terhadap ayat-ayat tersebut dengan model penafsiran yang tidak kita temukan dalam kitab-kitab tafsir para Ulama.

Berikut ini beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang terkait dengan lafadz “kullu” (كل) yang mereka maknai sesuka hati.

1. Allah Ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍ

”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya ayat 30).

Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menerangkan, bahwa air sebagai sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di muka bumi.

Artinya : Semua makhluk yang hidup di muka bumi bisa tumbuh dan bertahan hidup karena adanya air.
Itulah penafsiran yang benar.

Adapun ahli bid’ah, mereka menafsirkannya sebagai berikut :

Lafadz KULLA (كل) pada ayat ke 30 Surat Al-Anbiyya tersebut, maknanya “SEBAGIAN”. Sehingga ayat itu berarti : Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluk hidup. Karena Allah juga berfirman menceritakan tentang penciptaan jin dan Iblis yang berbunyi : “Khalaqtanii min naarin”. Artinya : “Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api”.

http://aswajazone.blogspot.co.id/2012/04/makna-kullu-bidah-dholalah.html?m=1

Tanggapan :

Allah Ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya: 30).

Ayat ke 30 Surat Al-Anbiya di atas menerangkan bahwa AIR MERUPAKAN SUMBER KEHIDUPAN BAGI SEMUA MAKHLUK YANG HIDUP DI MUKA BUMI.

AYAT TERSEBUT BUKAN SEDANG MENERANGKAN MENGENAI PENCIPTA’AN MANUSIA ATAU APAPUN.

Perhatikan penafsiran ayat tersebut dalam kitab tafsir jalalain,

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan : “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya air lah yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap ke esa’an Allah ?”. [Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008, hlm. 126-127].

Untuk mendapatkan penafsiran yang benar ayat ke 30 dari surat Al-Anbiyya tersebut, maka diantaranya harus melihat kepada ayat sebelumnya masih dalam ayat yang sama.

Perhatikanlah ayat sebelumnya !

Allah Ta’ala berfirman :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

”Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”

Dengan melihat ayat sebelumnya, maka jelaslah bahwa ayat ke 30 surat Al-Anbiyaa tersebut sedang menerangkan tentang langit dan bumi yang dahulunya bersatu. Dan menerangkan bahwa air sebagai sumber kehidupan bagi makhluk yang ada di bumi.

Maka jelaslah makna air dalam ayat ke 30 dalam Surat Al-Anbiyaa tersebut adalah air yang sesungguhnya, bukan jenis air apapun.

Dan lafadz (كُلَّ) pada ayat tersebut, artinya SETIAP / SEMUA. Karena memang semua makhluk yang hidup di muka bumi kehidupannya bergantung kepada air.

Tidak ada satu pun makhkuk hidup di muka bumi yang tidak membutuhkan air.

Jadi sangat keliru apabila lafadz kullu (كل) pada ayat tersebut diartikan SEBAGIAN.

2. Ayat lainnya yang di salah tafsirkan ialah,

Allah Ta’ala berfirman :

ﺗُﺪَﻣِّﺮُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻳُﺮَﻯ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺴَﺎﻛِﻨُﻬُﻢْ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧَﺠْﺰِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣِﻴﻦَ

“Angin yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”. (QS al-Ahqaf: 25).

Ahli bid’ah berkata :

Kata kullu (كل) belum tentu berarti “SEMUA”. sebagai contoh kata kullu dalam ayat ke 25 surat Al-Ahkaf. Angin topan pada ayat diatas tidak menghancurkan Nabi Hud dan orang-orang beriman. juga tidak menghancurkan langit dan bumi.

Tanggapan :

Kalimah “kullu” (كل) yang terdapat pada ayat ke 25 surat Al-Ahkaf tersebut, harus dimaknai “SEMUA”. Tidak bisa di maknai “SEBAGIAN”

Karena memang realitanya Allah Ta’ala menghancurkan “SEMUA” yang Allah perintahkan untuk di hancurkan, yaitu orang-orang yang durhaka dari kaum ‘Ad.

Perhatikan di penghujung ayat tersebut,

ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧَﺠْﺰِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣِﻴﻦَ

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”.

Di penghujung ayat tersebut menerangkan tentang pembalasan Allah Ta’ala kepada kaum yang berdosa, yaitu kaum ‘Ad. Juga penghujung ayat tersebut sebagai penjelas bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk di hancurkan hanyalah orang-orang yang berdosa.

Adapun Nabi Hud ‘alaihis salam beserta orang-orang beriman, tentu saja tidak termasuk kepada orang-orang berdosa. Dan tidak Allah perintahkan untuk di hancurkan.

Jadi memang benar apabila lafadz kullu (كل) pada ayat tersebut dimaknai “SEMUA” karena kenyata’annya memang Allah Ta’ala menghancurkan semua kaum ‘Ad yang berdosa.

Adapun pengecualiannya,

ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺴَﺎﻛِﻨُﻬُﻢْ

“Kecuali tempat tinggal mereka (negri tempat mereka berada)”.

Yang tidak Allah Ta’ala hancurkan. Tidak bisa merubah makna kata kullu (كل) pada ayat tersebut. menjadi “SEBAGIAN”. Karena tempat tinggal mereka, sebagaimana halnya Nabi Hud ‘alaihis salam dan orang-orang beriman, bukan yang Allah Ta’ala perintahkan untuk di hancurkan.

Yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk dihancurkan. Yaitu kaum ‘Ad yang berdosa, Adapun Nabi Hud dan orang-orang beriman, begitu pula langit dan bumi tidak hancur, karena memang tidak Allah Ta’ala perintahkan untuk dihancurkan.

Perhatikan penjelasan Ibnu Jarir dalam tafsirnya :

اِنَّمَا عَنَى بِقَوْلِهِ : { تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِاَمْرِ رَبِّهَا } مِمَّا اُرْسِلَتْ بِهَلاَكِهِ لاَنَّهَا لَمْ تُدَمِّْ هُوْدًا وَمَنْ كَانَ آمَنَ بِهِ

“Sesungguhnya yang di maksudkan Allah Subhanahu wa ta’alla dengan firmanNya : Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya. Adalah bahwa angin menghancurkan segala sesuatu YANG DIKEHENDAKI oleh Allah Ta’alla untuk di hancurkan. Sebab angin tidak menghancurkan Nabi Hud alaihis salam dan orang-orang yang beriman kepadanya”. (Lihat: تفسير الطبرى (13/ 26-27)).

Penjelasan Ibnu Jarir dalam tafsirnya tersebut menerangkan, bahwa yang dimaksud angin yang menghancurkan segala sesuatu, maksudnya ialah YANG DI KEKENDAKI oleh Allah Ta’ala untuk di hancurkan. Dalam hal ini adalah kaum ‘Ad yang berdosa.

Penafsiran yang sama kita dapatkan dari Imam Al-Qurtubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut :

اَيُّ كَلُّ شَيْءٍ مَرَّتْ عَلَيْهِ مِنْ رَجَالِ عَادٍ وَاَمْوَالِه

“Maksudnya, yang di hancurkan hanyalah segala sesuatu yang dilewati angin dari kaum ‘Ad dan harta mereka”. (الجامع لاحكام القرآن (16/206). Al-Qurtubi).

Dari keterangan para Ulama ahli tafsir diatas, maka jelaslah makna kata kullu (كل) yang benar pada ayat ke 25 surat Al-Ahkaf tersebut adalah “SEMUA” bukan “SEBAGIAN”.

3. Ayat lainnya yang di salah artikan,

Allah Ta’ala berfirman :

وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَيْءٍ

“Ratu Balqis itu telah diberikan semua (segala sesuatu)”. (Q.S An-Naml: 23).

Ahli bid’ah berkata :

Kata kullu (كل) tidak berarti semua, bisa kita perhatikan pada ayat di atas. Bagaimana bisa kata kullu (كل) diartikan semua, bukankah ratu Balqis tidak memiliki kebesaran sebagaimana kebesaran yang dimiliki Nabi Sulaiman ‘alaihis salam ?

Bantahan :

Di dalam al-Qur’an banyak dijumpai ungkapan-ungkapan yang disajikan dengan gaya bahasa kinayah (kiasan).

Kata-kata kinayah bisa di fahami hanya oleh orang-orang yang mempelajari ilmu balaghah (sastra Arab).

Dalam ilmu balaghah kata “kullu” pada ayat tersebut termasuk kepada kalimat kinayah (kiasan). yang berarti menerangkan sesuatu dengan perkata’an lain.

Makna kata “kullu” (كل) yang artinya “SEGALANYA” dari ayat tersebut mengandung arti, “RATU BALQIS MEMILIKI KERAJA’AN YANG BESAR”.

Sebagaimana disebutkan pada kalimat selanjutnya, masih dalam ayat yang sama.

وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

“Serta mempunyai singgasana yang besar.(QS. An-Naml: 23).

Ratu Balqis itu telah diberikan SEMUA (segala sesuatu), kalau kita fahami dengan ilmu balaghah (sastra Arab) tentu kita bisa faham, bahwa tentu saja ratu Balqis bukan berarti memiliki segalanya yang ada di dunia ini. Termasuk yang dimiliki keraja’an Nabi Sulaiman.

Arti SEMUA (segalanya) yang di miliki ratu Balqis mengandung pengertian : “RATU BALQIS MEMILIKI KERAJA’AN YANG BESAR”.

Jadi kata “kullu” (كل) pada ayat ke 23 dalam Surat An-Naml tersebut artinya memang “SEMUA” sebagai kinayah (kiasan) dari “KERAJA’AN YANG BESAR”.

Sebagai perumpama’an : Apabila ada orang kaya, dia disebut memiliki segalanya. Kita tentu faham, arti SEGALANYA yang dimaksud adalah : ORANG TERSEBUT SANGAT KAYA. Sehingga dikatakan, MEMILIKI SEGALANYA.

Kesimpulannya : Yang di sebut ratu Balqis memiliki segalanya, makna sesungguhnya ratu Balqis memang memiliki SEGALANYA dalam artian ratu Balqis memiliki KERAJA’AN YANG BESAR.

Jadi memaknai kata “kullu” (كل) pada ayat tersebut dengan artian “SEGALANYA” adalah pengertian yang benar.

MEMAKNAI KATA KULLU DENGAN BENAR

Kata KULLU (كُلُّ) bisa bermakna SEBAGIAN juga bisa bermakna SETIAP / SEMUA.

Untuk bisa mengetahui kata KULLU (كُلُّ) apakah bermakna SEBAGIAN atau SEMUA, maka kita harus memperhatikan berbagai qarinah (petunjuk) yang ada, baik dari konteks kalimat itu sendiri, maupun dari dalil-dalil lain yang shahih, atau dengan realita yang ada, sehingga kita tidak salah memaknainya.

Adapun kata KULLU (كُلُّ) pada hadìst,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Maka kata KULLU pada hadìst terebut bermakna SETIAP atau SEMUA.

Jadi arti yang benar dari hadits tersebut adalah :

”SETIAP atau SEMUA bid’ah adalah sesat”

Memaknai kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas dengan arti SETIAP atau SEMUA, bukan berdasarkan hawa nafsu. Tapi berdasarkan beberapa qarinah yang menunjukkan kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas memang menunjukkan arti SETIAP atau SEMUA.

Berikut beberapa qarinah yang menunjukkan kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas yang menunjukkan makna SETIAP atau SEMUA.

• Qarinah dari perkata’an para Salafus Shaalih

– Ibnu Umar berkata :

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

”Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).

– Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik (hasanah), berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

Dari perkata’an lbmu Umar dan Imam Malik diatas, kita mendapatkan keterangan bahwa semua bid’ah sesat. Tidak ada pengecualian.

Jadi kata kullu (كُلُّ) dalam hadits كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ mengandung arti SETIAP atau SEMUA.

• Qarinah dari sikap para Sahabat

Kata kullu dalam hadits كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ bermakna SETIAP atau SEMUA juga bisa kita perhatikan dari sikap para Sahabat yang mengingkari praktek-praktek bid’ah yang di lakukan sebagian orang sa’at itu.

Perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

(1) Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

(2) Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

(3) Terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad !, Begitu cepat kebinasa’an kalian !, Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad ? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah) ?”

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَه

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan”
Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid).

Riwayat-riwayat diatas menunjukkan bahwa para Sahabat mengingkari praktek-praktek baru dalam urusan ibadah yang tidak ada tuntunannya (bid’ah).

Kalaulah bid’ah dalam urusan ibadah itu ada yang baik, tentu para Sahabat yang disebutkan dalam riwayat-riwayat diatas tidak akan menegur orang yang melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah tersebut.

Maka jelas kata kullu (كُلُّ) pada hadìst كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ terebut bermakna SETIAP atau SEMUA.

Menurut kaidah atau ketetapan ilmu usul jika sesuatu kalimah diulang berkali-kali di beberapa tempat sebagaimana diulang-ulangnya kalimah kullu (كُلُّ) dalam menetapkan bahawa “setiap (كل) bid’ah itu sesat”, maka apabila ia terdapat dalam dalil-dalil (al-Quran, al-Hadist dan atsar yang sahih) maka ia menjadi dalil syarii kulli (دليل شرعي كلي) yaitu : “Pasti setiap (كل) bid’ah itu sesat.”

• MENURUT SEORANG ULAMA PAKAR BAHASA ARAB

Menurut Imam Asy-Syatibhi seorang Ulama Shalaf dan pakar gramatika bahasa Arab (nahu-sharf).

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

– Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

– Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

– Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

– Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

Tentang lafadz ”KULLU” pada hadits ”Kullu bid’ati dholaalah” Imam Asy Syatibhi rahimahullaah berkata :

“PARA ULAMA MEMAKNAI HADITS DI ATAS SESUAI DENGAN KEUMUMANNYA, TIDAK BOLEH DIBUAT PENGECUALIAN SAMA SEKALI. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA DALAM HADITS TERSEBUT YANG MENUNJUKKAN ADA BID’AH YANG BAIK (HASANAH)”.

(Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah).

Para pembela bid’ah hasanah yang memaknai lafadz ”Kullu” dengan membuat pengecualian ”ada bid’ah yang baik (hasanah)”, apakah lebih pintar dan lebih faham ilmu tata bahasa Arab nahwu sharf dibanding Imam Asy Syatibhi ?

Yang kredibilitasnya sebagai Ulama dikenal luas oleh umat Islam dan juga sebagai pakar / ahlinya tata bahasa Arab, nahwu sharf.

Perkata’an Imam Asy Syatibhi tentu patut diperhatikan.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

SARANA BUKAN BID’AH

SARANA BUKAN BID’AH YANG DIMAKSUDKAN NABI
.
Seringkali kita mendapatkan omongan orang awam atau orang-orang yang gagal faham misalnya mereka berkata, “Pergi haji naik pesawat terbang berarti bid’ah, di zaman Nabi kan tidak ada pesawat terbang”. Atau omongan, “Dakwah di internet atau facebook berarti bid’ah, di zaman Nabi kan tidak ada internet dan facebook”. Atau mereka berkata, “Televisi, radio, jam dinding, madrasah, kalender, pengeras suara untuk panggilan adzan berarti bid’ah karena tidak ada di zaman Nabi ?”
.
Perkata’an-perkata’an seperti itu sering kita jumpai, baik di dunia maya ataupun di dunia nyata.
.
Benda-benda yang disebutkan di atas seperti, televisi, radio, pesawat terbang, jam dinding, mobil, sepeda motor, kalender dan lainnya, juga berbagai hasil karya inovasi yang di ciptakan manusia seperti, internet, facebook dan lainnya, memang benar bid’ah kalau di tinjau dari sisi bahasa. Karena bid’ah menurut bahasa adalah sejala perkara yang baru, baik yang terpuji ataupun yang tercela.
.
Sebagaimana yang di sebutkan oleh Ibnu ‘Asaakir,
.
مَا ابْتُدِعَ وَأُحْدِثَ مِنَ الأُمُوْرِ حَسَناً كَانَ أَوْ قَبِيْحًا
.
“Bid’ah (menurut bahasa) adalah perkara-perkara yang baru dan diada-adakan baik yang terpuji maupun yang tercela”. (Tabyiinu kadzibil muftari hal 97).
.
Jadi memang benar contoh-contoh di atas seperti, facebook, internet, kalender, televisi, radio, jam dinding, pengeras suara, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, hp, computer dll. Memang bid’ah menurut bahasa. Karena memang tidak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun bukan bid’ah yang dimaksud oleh syari’at. Karena bid’ah yang dimaksud oleh syari’at adalah membuat-buat cara-cara baru dalam ibadah yang tidak ada di zaman Nabi.
.
Manusia adalah makhluk yang lebih unggul di banding makhluk yang lainnya. Manusia tidak memiliki sayap, tapi ternyata manusia mampu melayang di udara bahkan katanya sampai bisa mendarat di bulan. Wallahu a’lam.
.
Diantara keunggulan manusia di banding makhluk hidup lainnya, karena Allah Ta’ala melengkapi pencipta’annya dengan akal. Sehingga dengan akalnya manusia inovatif, insfiratif dan kreatif, maka tercipta berbagai karya imaginer buah dari akalnya yang berkembang. Dan manusia pun bisa hidup secara dinamis sepanjang zaman.
.
Kalau di zaman dahulu syi’ar sebatas di mimbar, maka sa’at ini dengan perkembangan teknologi informasi yang berkembang pesat, maka dakwah bisa di sampaikan kapan saja dan dimana saja tanpa di batasi ruang dan waktu.
.
Adanya berbagai perangkat teknologi informasi yang di ciptakan manusia sa’at ini, bisa digunakan sebagai sarana untuk dakwah dan dakwah pun bisa dilakukan dengan mudah.
.
Dalam waktu yang cepat pengolahan dan penyajian materi bisa menggunakan teknologi komputer, gadget bahkan telpon genggam.
.
Sehingga materi dakwah yang baru ditulis bisa di sampaikan dalam waktu hitungan detik dengan menggunakan media internet. Yang apabila di sampaikan dengan cara seperti di masa lalu bisa membutuhkan waktu yang lama.
.
Munculnya beragam jejaring sosial sa’at ini, maka dakwah pun bisa semakin meluas.
.
Apakah berbagai alat yang di gunakan bisa di katakan bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi ?
.
Sarana, metode atau alat yang di gunakan umat Islam apakah untuk tujuan sebagai penunjang kelancaran ibadah atau tidak ada korelasinya dengan urusan ibadah, bukanlah bid’ah yang di maksudkan oleh syari’at.
.
Adapun bid’ah yang di larang oleh syari’at ialah, sebagaimana yang di definisikan oleh para Ulama sebagai berikut,
.
– Imam Al-’Iz bin ‘Abdis salam berkata :
.
هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ
.
“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Qowa’idul Ahkam 2/172).
.
– Imam An-Nawawi berkata :
.
هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ
.
“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).
.

– Al-Fairuz Abadi berkata :
.
الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ
.
“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).
.
Dari definisi-definisi bid’ah yang di sebutkan oleh para Ulama di atas, maka bid’ah yang di maksud oleh syari’at adalah : “Menambah-nambah atau membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah yang tidak ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak di kerjakan, tidak di perintahkan juga tidak pernah di setujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
.
Dan bid’ah menurut syari’at seluruhnya tercela, artinya tidak ada yang baik, sebagaimana yang di katakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani sebagai berikut :
.
فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة
.
“Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela”. (Fathul Bari, 13: 253).
.
Perkata’an Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di atas, berdasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sebagai berikut,
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Apakah peralatan yang di gunakan untuk kebutuhan ibadah juga bid’ah ?
.
Peralatan atau metode yang di gunakan untuk beribadah, maka tidak termasuk kepada bid’ah yang di maksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Namun apabila suatu alat tertentu yang di gunakan untuk ibadah dan di yakini sebagai keharusan menggunakannya. Dan tidak mau meninggalkannya, padahal Nabi tidak pernah melakukannya, maka pengguna’an alat tersebut menjadi bid’ah yang sesat. Tapi apabila pengguna’an suatu alat tertentu dalam ibadah tanpa ada keyakinan dengan alat tersebut jadi lebih afdhol ibadahnya, maka alat yang di gunakan dalam ibadah tersebut bukan bid’ah yang dimaksud oleh syari’at.
.
• PERALATAN HANYALAH SEBAGAI SARANA DAN BUKAN TUJUAN (GHAYAH).
.
Kalau kita pergi ke masjid untuk shalat mengendarai sepeda, mobil atau becak. Maka kendara’an tersebut hanya sebagai sarana untuk sampainya ke masjid. Tidak lebih dari itu.
.
Sarana yang di gunakan tersebut termasuk ke dalam urusan duniawi yang memiliki qa’idah tersendiri.
.
Adapun qa’idahnya sebagai berikut :
.
الاصل فى العادة حلال حتى يقوم الدليل على النهي
.
“Asalnya urusan duniawi boleh (halal) kecuali ada dalil yang melarangnya (mengharamkannya)”.
.
Kalau di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang (jihad) menggunakan panah dan pedang. Lalu kalau sa’at ini menggunakan senjata api jenis Beretta 92 atau FN 57 atau menggunakan peluncur roket Grad BM 21, maka tentu saja peralatan perang tersebut bukan bid’ah yang di larang dalam syari’at. Jadi menggunakan peralatan tersebut tidak di hukumi bid’ah sehingga sesat dan masuk neraka. Karena peralatan tersebut hanya sebagai alat atau sarana.
.
Contoh lainya lagi misalnya pergi haji. Kalau di masanya Nabi pergi untuk melaksanakan ibadah haji kendara’an yang di gunakannya adalah unta, maka kalau sa’at ini menggunakan mobil Toyota, maka tentu saja mobil atau kendara’an tersebut bukan bid’ah yang di maksud oleh syari’at. Karena kendara’an tersebut hanya sarana. Jadi pergi haji tidak naik unta sebagaimana Nabi tapi mengendarai Toyota, maka tentu saja tidak di hukumi bid’ah sehingga sesat dan masuk neraka.
.
Banyak sarana yang di gunakan untuk beribadah atau syi’ar yang tidak ada di masa Nabi, misalnya : Madrasah dengan system pendidikannya, jam dinding, karpet, speker, media internet, kaca mata, radio, telivisi, telpon gengam, computer, laptop, gadget dan banyak lagi yang di gunakan sebagai sarana untuk berlangsungnya sebuah syi’ar atau ibadah.
.
Sarana dan peralatan yang di sebutkan di atas, kita boleh menggantinya atau bahkan tidak menggunakannya. Dan tidak ada keyakinan dengan menggunakan sarana dan peralatan tersebut jadi bertambah pahala ibadahnya, dan juga tidak ada keyakinan kalau tidak menggunakan sarana dan peralatan tersebut jadi berdosa.
.
Hal ini sangat berbeda dengan acara-acara, atau metode-metode juga amalan-amalan bid’ah yang di amalkan oleh para pelaku bid’ah. Mereka tidak mau meninggalkan bid’ah-bid’ahnya, karena mereka meyakini bid’ah-bid’ah yang mereka kerjakan sebagai cara dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Mereka meyakini di dalam bid’ah-bid’ah yang mereka kerjakan terdapat keutama’an. Bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan di yakini sebagai bentuk ibadah. Sehingga mereka tidak mau meninggalkannya.
.
Adapun sarana yang digunakan untuk menunjang terlaksananya ibadah, tidak menjadi masalah apabila harus di tinggalkan atau tidak di gunakan.
.
Inilah yang menunjukkan bahwa peralatan yang di gunakan untuk beribadah tersebut hanya sebatas sebagai sarana bukan tujuan dari ibadah.
.
Apakah ada yang meyakini akan mendapatkan tambahan pahala atau lebih afdhol, apabila pergi haji naik unta sebagaimana Nabi ?
.
Tentu saja tidak ada yang meyakini lebih afdhol kalau naik haji naik unta.
.
Atau ada yang merasa berdosa apabila pergi haji naik pesawat terbang, karena pesawat terbang buatan orang kafir ?
.
Pesawat terbang dan unta hanya sarana (kendara’an) untuk bisa tercapainya tujuan dari ibadah. Dan bukan tujuan dari ibadah.
.
Onta dan pesawat terbang termasuk perkara duniawi, yang qa’idahnya sebagaimana sudah di sebutkan di atas yaitu,
.
الاصل فى العادة حلال حتى يقوم الدليل على النهي
.
“Asalnya urusan duniawi boleh (halal) kecuali ada dalil yang melarangnya (mengharamkannya)”.
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
بارك الله فيكم
.
Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii/
.
.
_________________

MEMAHAMI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB

MEMAHAMI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB

Perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan :

” نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ”

“Sebaik-baik bid’ah, adalah ini”

Seringkali dijadikan dalil, untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah.

Bagaimana sebenarnya perkata’an Umar bin Khatab tersebut ?

Untuk memahami perkata’an Umar bin Khatab dengan benar, maka kita harus memahami perkata’an Umar bin Khatab tersebut sebagaimana yang difahami dan di jelaskan oleh para Ulama Mu’tabar yang keilmuannya di akui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Berikut ini penjelasan Imam Ibnu Katsir seorang Ulama ahli tafsir bermadzhab Syafi’i dan Ibnu Rajab, semoga Allah Ta’ala merahmati mereka berdua.

Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab menjelaskan tentang perkata’an Umar bin Khatab sebagai berikut,

– Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : “Bid’ah ada dua macam, bid’ah menurut syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. DAN BID’AH LUGHOWIYAH (bahasa) SEPERTI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB KETIKA MENGUMPULKAN MANUSIA UNTUK SHALAT TARAWIH : “INILAH SEBAIK-BAIKNYA BID’AH”. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adziem 1/223).

– Ibnu Rajab Rahimahullah berkata : ”JADI PERKATA’AN UMAR, “SEBAIK-BAIK BID’AH ADALAH INI”, ADALAH BID’AH SECARA LUGHOWI (BAHASA)”. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2:128).

Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab tersebut, maka kita mendapatkan penjelasan bahwa, perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan ; ”Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Adalah bid’ah secara bahasa. Bukan bid’ah menurut syari’at.

Bagaimana mungkin shalat tarawih berjama’ah mau dikatakan bid’ah menurut syari’at, karena bid’ah menurut syari’at adalah tercela (sesat).

Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullaah, Beliau berkata :

فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة

“MAKA BID’AH MENURUT SYARI’AT ADALAH TERCELA”. (Fathul Bari, 13: 253).

Perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani di atas, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

“Hati-hatilah dengan perkara yang di ada-adakan (dalam urusan ibadah) karena setiap perkara yang di ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).

• SHALAT TARAWIH BERJAMA’AH BUKAN BID’AH

Perlu di ketahui, bahwa shalat tarawih berjama’ah bukan bid’ah sebagaimana yang di katakan sebagian orang.

Shalat tarawih berjama’ah adalah sunnah, karena pernah di lakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya. Sebagaimana di sebutkan dalam riwayat berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)

Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radhiyallahu ‘anha : “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam hari sholat di masjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau, beliau sholat dan pengikut bertambah ramai (banyak) pada hari ke tiga dan ke empat orang-orang banyak berkumpul menunggu Nabi, tetapi Nabi tidak keluar (tidak datang) ke masjid lagi. Maka di waktu pagi, Nabi bersabda : “Sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku khawatir kalau sholat ini (tarawih) di wajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata: “Hal itu terjadi pada bulan Ramadlan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari riwayat di atas, maka sangat jelas, bahwa shalat tarawih secara berjama’ah bukan bid’ah. Tapi sunnah, karena pernah di lakulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya.

Adapun kemudian di tinggalkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir apabila shalat tarawih di wajibkan kepada umatnya. Sebagaimana Rasulullah bersabda :

وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

“Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku khawatir kalau sholat ini (tarawih) di wajibkan pada kalian”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana mungkin shalat tarawih secara berjama’ah mau dikatakan bid’ah, bukankah bid’ah itu sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan arti bid’ah, yang di jelaskan oleh para Ulama berikut ini.

– Imam An-Nawawi berkata :

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).

– Al-Fairuz Abadi berkata :

الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ

“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).

– Imam Al-‘Aini berkata :

وَقِيْلَ: إِظْهَارُ شَيْءٍ لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ

“Dan dikatakan juga (bid’ah adalah) menampakkan sesuatu (dalam urusan ibadah) yang tidak ada pada masa Rasulullah dan tidak ada juga di masa para sahabat”. (Umdatul Qori’ 25/37).

Kesimpulannya :

Perkata’an Umar bin Khatab yang menyebutkan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” adalah bid’ah secara bahasa, sebagaimana di jelaskan para Ulama di atas. Bukan bid’ah menurut syari’at.

Bagaimana mungkin shalat tarawih berjama’ah mau dikatakan bid’ah menurut syari’at, karena shalat tarawih berjama’ah, pernah di lakukan Nabi bersama para Sahabatnya. Artinya shalat tarawih berjama’ah itu sunnah.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

==================

MEMAHAMI PEMBAGIAN BID’AH MENJADI LIMA

MEMAHAMI PEMBAGIAN BID’AH MENJADI LIMA OLEH AL-‘IZZ BIN ABDIS SALAM

Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah (lahir thn 577 H) bermazhab Syafi’i.

Dalam kitabnya Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, dia membahagi bid‘ah menjadi lima kategori :

1. Bid‘ah Wajibah
2. Bid‘ah Muharramah
3. Bid‘ah Mandubah
4. Bid‘ah Makruhah
5. Bid‘ah Mubahah

(‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam, Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, hal. 133).

Sebenarnya pembagian bid’ah menjadi lima yang di buat Al-‘Izz bin Abdis Salam tersebut, merujuk kepada ta’rif bid‘ah yang disebutnya pada awal kitab dia sendiri.

Kalau memperhatikan ta’rif (definisi) bid’ah yang Al-‘Izz bin Abdis Salam sebutkan, yaitu :

البدعة فعل ما لم يعهَدْ في عصر رسول الله

“Bid‘ah adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasulullah”.

(Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, m.s. 133).

Maka, ta’rif (definisi) bid’ah yang Al-‘Izz bin Abdis Salam sebutkan tersebut, mencakup semua perkara bid’ah. Baik bid’ah dalam urusan duniawi (al-‘Aadah), maupun bid’ah dalam urusan ibadah (al-‘Ibaadah).

Sehingga, apabila ada orang yang mengatakan ada bid’ah hasanah dalam urusan Ibadah, berhujah dengan perkata’an Al-‘Izz bin Abdis Salam, tentu saja sangat keliru. Karena Al-‘Izz bin Abdis Salam tidak menta’rif bid’ah hanya dalam urusan Ibadah. Namun ta’rif bid’ah secara umum.

Dengan ta’rif (definisi) bid’ah yang Al-‘Izz bin Abdis Salam sebutkan yang mencakup segala perkara, secara umum. Maka pantas kalau Al-‘Izz bin Abdis Salam membagi bid’ah menjadi lima.

Adapun sebagian orang yang mengatakan ada bid’ah hasanah dalam urusan Ibadah dengan berhujah kepada perkat’an Al-‘Izz bin Abdis Salam, maka sangat tidak tepat.

Karena bid’ah dalam urusan Ibadah (bid’ah menurut syari’at), semuanya tercela tidak ada yang baik. Tidak ada bid’ah hasanah.

Perhatikan perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah sebagai berikut, (Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah seorang Ulama besar bermadzhab Syafi’i lahir pada thn 773 H. Dia amirul mukminin dalam bidang hadits. Banyak kitab yang dia tulis. Yang paling terkenal adalah, kitab Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari dan Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam. Tidak ada seorang muslim yang alim yang tidak mengenal dua kitab tersebut). Perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani sangat patut di perhatikan.

Semua bid’ah dalam urusan ibadah tercela, tidak ada yang baik, tidak ada bid’ah hasanah. Dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai berikut,

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata :

فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة

“MAKA BID’AH MENURUT SYARI’AT ADALAH TERCELA”. (Fathul Bari, 13: 253).

* Yang dimaksud bid’ah menurut syari’at adalah, “Membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah”. Maka menurut syari’at tercela.

Perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang menyebutkan, bid’ah menurut syari’at tercela berdasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

“Hati-hatilah dengan perkara yang di ada-adakan (dalam urusan ibadah) karena setiap perkara yang di ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).

Kita kembali kepada perkata’an Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam.

Dalam menyebutkan bid’ah yang wajib, Al-‘Izz bin Abdis Salam mencontohkan seperti ; Mempelajari Ilmu Nahu yang dengan ilmu tersebut dapat memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi. (Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, hal. 133).

Mempelajari Ilmu Nahu tentu saja bukan bid’ah menurut syari’at, karena bid’ah menurut syariat semuanya tercela.

Sebagaimana yang di katakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani di atas :

فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة

“Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela.” (Fathul Bari, 13: 253).

Apakah mungkin mempelajari Ilmu Nahu yang dengan ilmu tersebut kita jadi bisa memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi adalah tercela ?

Mempelajari Ilmu Nahu tentu saja bukan perkara yang tercela, bahkan suatu yang wajib bagi yang memiliki kemampuan, sebagaimana yang Al-‘Izz bin Abdis Salam sebutkan.

Maka yang di maksudkan mempelajari Ilmu Nahu sebagai bid’ah yang wajib oleh Al-‘Izz bin Abdis Salam adalah bid’ah menurut bahasa, bukan bid’ah menurut syari’at.

Perhatikan penjelasan dari Imam As-Syatibi rahimahullah sebagai berikut: “Barangsiapa yang mengatakannya bid’ah (mempelajari Ilmu Nahu), maka yang di maksud adalah bid’ah menurut “BAHASA” sebagaimana perkata’an Umar bin Khatab “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” ketika melihat orang-orang berkumpul (berjama’ah) untuk shalat ramadhan (tarawih)”. “Atas dasar kejahilan dalam membedakan antara sunnah dan bid’ah, maka pendapat yang mengatakannya bid’ah, tidak perlu di perhatikan”. (al-Syatibi, al-I’tishom, 27-28. [nukilan terpisah]).

* Imam Al-Syatibi seorang Ulama besar (wafat 790), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu).

Ada beberapa kitab nahwu sharf yang beliau tulis, ini menunjukkan Imam As-Syatibhi sebagai pakarnya Ilmu Nahu Sharaf. Dan kitab yang paling terkenal yang Imam As-Syatibhi tulis adalah, Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya. Maka sangat layak kalau perkata’an Imam As-Syatibhi di atas kita perhatikan.

Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam, yang membagi bid’ah menjadi lima, adalah seorang Ulama Ahlu Sunnah. Namun demikian, walaupun dia seorang Ulama. Tetap saja bukan manusia ma’shum yang selalu benar dan tidak akan pernah salah.

Sehingga wajar kalau pembagian bid’ah menjadi lima di kritisi, di bantah oleh Ulama besar lainnya seperti oleh Imam As-Syathibi dan Imam As-Syaukani. Bahkan Imam As-Syatibhi menyebutnya, pembagian bid’ah menjadi lima oleh Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam sebagai pembagian yang di ada-adakan.

Kita perhatikan tanggapan dari Imam As-Syatibhi dan Imam As-Syaukani terhadap pembagian bid’ah menjadi lima yang di buat oleh Imam Al-Izz bin Abdis Salam berikut ini,

(1) Tanggapan dari Imam Asy-Syathibi.

Berkata Imam Asy-Syathibi : “Sesungguhnya pembagian tersebut adalah PEMBAGIAN YANG DI ADA-ADAKAN, tidak ada satupun dalil syar’i yang mendukungnya, BAHKAN PEMBAGIAN ITU SENDIRI SALING BERTOLAK BELAKANG, sebab hakikat bid’ah adalah jika sesuatu itu tidak memiliki dalil yang syar’i, tidak berupa dalil dari nas-nas syar’i, dan juga tidak terdapat dalam kaidah-kaidahnya. SEBAB SEANDAINYA DISANA TERDAPAT DALIL SYAR’I TENTANG WAJIBNYA, ATAU SUNNAHNYA ATAU BOLEHNYA NISCAYA TIDAK MUNGKIN BID’AH ITU ADA, DAN NISCAYA AMALAN-AMALAN TERSEBUT MASUK KE DALAM AMALAN-AMALAN SECARA UMUM YANG DI PERINTAHKAN, ATAU YANG DI BERIKAN PILIHAN. Karena itu maka mengumpulkan beberapa hal tersebut sebagai suatu bid’ah, dan antara keberadaan dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, maka semua itu merupakan pengumpulan antara dua hal yang saling menafikan”. (Al-I’tisham, 1/246).

(2) Tanggapan dari Imam As-Syaukani.

Dalam penjelasan Imam Asy-Syaukani mengenai hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang artinya : “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami yang bukan dari padanya, maka hal itu tertolak”. (muttafaq alaih).

Imam Asy-Syaukani mengatakan :

ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ؛ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻳَﻨْﺪَﺭِﺝُ ﺗَﺤْﺘَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﺣْﻜَﺎﻡِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﺤَﺼْﺮُ. ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺻْﺮَﺣَﻪُ ﻭَﺃَﺩَﻟَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺇﺑْﻄَﺎﻝِ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻪُ ﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀُ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﺴِﻴﻢِ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻗْﺴَﺎﻡٍ ﻭَﺗَﺨْﺼِﻴﺺِ ﺍﻟﺮَّﺩِّ ﺑِﺒَﻌْﻀِﻬَﺎ ﺑِﻠَﺎ ﻣُﺨَﺼِّﺺٍ ﻣِﻦْ ﻋَﻘْﻞٍ ﻭَﻟَﺎ ﻧَﻘْﻞٍ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻚ ﺇﺫَﺍ ﺳَﻤِﻌْﺖ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻫَﺬِﻩِ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﺑِﺎﻟْﻘِﻴَﺎﻡِ ﻓِﻲ ﻣَﻘَﺎﻡِ ﺍﻟْﻤَﻨْﻊِ ﻣُﺴْﻨِﺪًﺍ ﻟَﻪُ ﺑِﻬَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜُﻠِّﻴَّﺔِ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺸَﺎﺑِﻬُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻧَﺤْﻮِ ﻗَﻮْﻟِﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : { ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٌ } ﻃَﺎﻟِﺒًﺎ ﻟِﺪَﻟِﻴﻞِ ﺗَﺨْﺼِﻴﺺِ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗَﻊَ ﺍﻟﻨِّﺰَﺍﻉُ ﻓِﻲ ﺷَﺄْﻧِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟِﺎﺗِّﻔَﺎﻕِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ، ﻓَﺈِﻥْ ﺟَﺎﺀَﻙ ﺑِﻪِ ﻗَﺒِﻠْﺘﻪ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻉَ ﻛُﻨْﺖ ﻗَﺪْ ﺃَﻟْﻘَﻤْﺘﻪ ﺣَﺠَﺮًﺍ ﻭَﺍﺳْﺘَﺮَﺣْﺖ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﺩَﻟَﺔِ. ‏(ﻧﻴﻞ ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ, ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻼﺓ, ﺑﺎﺏ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺛﻮﺏ ﺍﻟﺤﺮﻳﺮ ﻭﺍﻟﻤﻐﺼﻮﺏ ‏).

“Hadits ini merupakan salah satu pondasi agama, karena tak terhingga banyaknya hukum yang masuk ke dalamnya. ALANGKAH JELASNYA DALIL INI SEBAGAI PEMBATAL BAGI APA YANG DI LAKULAN SEBAGIAN FUQAHA KETIKA MEMBAGI BID’AH MENJADI MACAM-MACAM. Atau ketika mereka mengkhususkan jenis bid’ah tertentu yang tertolak, tanpa bersandar pada dalil baik secara logika maupun riwayat. KARENANYA, KETIKA MENDENGAR ADA ORANG MENGATAKAN : “INI BID’AH HASANAH”, WAJIB BAGI ANDA UNTUK MENOLAKNYA. Yaitu dengan bersandar pada keumuman hadits ini dan hadits-hadits senada seperti : “KULLU BID’ATIN DHOLALAH”. Anda harus menanyakan dalil mana yang mengkhususkan bid’ah-bid’ah lain yang masih diperdebatkan, setelah disepakati bahwa hal itu merupakan bid’ah ? Kalau ia bisa mendatangkan dalilnya, kita akan terima. Namun jika tidak mampu, maka anda telah membungkamnya seribu bahasa, dan tak perlu melanjutkan perdebatan”. (Nailul Authar, 1/66 cet. Daarul Fikr).

Ahli bid’ah bisa saja berkelit dan berkilah dengan mengatakan, Imam As-Syathibi dan Imam As-Syaukani bukan pengikut madzhab Syafi’i, jadi tidak boleh menanggapi, mengkritisi atau membantah pendapat dari Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam yang bermadzhab Syafi’i.

Jika ahli bid’ah berkilah seperti itu, maka kita minta kepada mereka, untuk menunjukkan keterangan dari Allah dan Rasul-Nya, juga perkata’an para Sahabat dan Imam madzhab yang melarang pengikut suatu madzhab menanggapi, mengkritisi atau membantah pengikut madzhab lain.

Bahkan dalam banyak riwayat, Ulama dari salah satu madzhab biasa menanggapi, mengkritisi atau membantah pendapat Ulama lainnya yang berlainan madzhab.

Kita juga mengetahui, Imam Syafi’i mengkritisi pendapat dari Asbagh bin Al-Farj bin Sa’di, seorang faqih dari kibar ulama yang bermadzhab Maliki. Juga Imam Syafi’i menanggapi dan membantah pendapat Imam Ahmad bin Hambal (madzhab Hambali) tentang kekufuran mereka yang meninggalkan shalat.

• AL-‘IZZ BIN ABDUS SALAM SEORANG ULAMA YANG SANGAT ANTI BID’AH

Ahli bid’ah sering menjadikan pembagian bid’ah menjadi lima yang disebutkan Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam sebagai dalil adanya bid’ah hasanah.

Padahal Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam adalah seorang Ulama yang sangat anti terhadap amalan-amalan bid’ah.

Apakah mungkin Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam membenarkan adanya bid’ah hasanah menurut syari’at, sementara Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam banyak sekali mengingkari bid’ah-bid’ah yang di lakukan sebagian umat Islam ?

Berikut bid’ah-bid’ah yang diingkari Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam ;

1. Berjabat tangan setelah shalat

Al-‘Izz bin Abdis Salam menjawab ketika ditanya hukumnya bersalaman setelah shalat.

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata : ”Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk bid’ah kecuali bagi orang yang baru datang dan bertemu dengan orang yang dia berjabat tangan dengannya sebelum sholat, karena berjabat tangan disyari’atkan tatkala datang”.

(Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

2. Mengangkat kedua tangan ketika berdo’a

Al-’lzz bin Abdus Salam berkata :

و لا يستحبّ رفع اليدين فى الدعاء إلا فى المواطن الّتى رفع فيها رسول الله صلّى الله عليه و سلّم يديه

“Dan tidaklah disukai (disunnahkan) mengangkat kedua tangan ketika berdo’a, kecuali pada tempat-tempat yang padanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya”. (Fataawaa Al ‘Izz Ibnu Abdissalaam, hal. 47, no. 15, Cet. Daarulbaaz).

3. Mengusap wajah setelah berdo’a

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata :

و لا يمسح وجهه بيديه عقب الدعاء إلاّ جاهل

”Dan tidaklah mengusap wajah setelah do’a kecuai orang jahil”.

(Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

4. Bersholawat ketika qunut.

Al-‘Izz bin Abdis Salam juga melarang bersholawat kepada Nabi ketika qunut.

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata : ”Dan tidak semestinya ditambah sedikitpun atau dikurangi atas apa yang dikerjakan Rasulullah tatkala qunut”.

(Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

Ketika mengornentari perkata’an Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam di atas, Syaikh Al-Albany berkata : “Di dalam perkata’an beliau ini terdapat isyarat bahwasanya kita tidak memperluas istilah bid’ah hasanah, sebagaimana yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang sa’at ini. Saya katakan : “Dari apa yang telah dibahas, maka menjadi jelaslah bahawasanya yang dimaksudkan oleh Ai-’lzz bin Abdus Salam dalam pembagian beliau terhadap bid’ah adalah bid’ah secara bahasa, bukan merupakan pengertian bid’ah menurut agama.”

5. Mentalqin mayat

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata : ”Mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid’ah”. (Lihat Kitab fataawaa Al-‘Izz bin Abdis Salam, hal: 96).

6. Al-‘Izz bin Abdis Salam juga menyatakan, Bahwa mengirim baca’an qur’an kepada mayat tidaklah sampai”. (Lihat Kitab fataawaa Al-Izz bin Abdis Salam, hal: 96).

Dan banyak lagi bid’ah-bid’ah yang diingkari oleh Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam seperti : Menancapkan pedang di atas mimbar, shalat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua sholat tersebut”.

(Tobaqoot Asy-Syafi’iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-‘Iz bin Abdissalam).

Kesimpulannya :

Pembagian bid’ah menjadi lima yang di buat Al-‘Izz bin Abdis Salam bukan sebagaimana yang mereka ahli bid’ah fahami. Dan mereka yang menyebutkan adanya bid’ah hasanah dengan membawa-bawa Al-Izz bin Abdis Salam adalah keliru, karena Al-‘Izz bin Abdis Salam adalah seorang Ulama Ahlus Sunnah, dan Al-‘Izz bin Abdis Salam sangat anti terhadap praktek-praktek bid’ah di masanya.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===============

MEMAHAMI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB

MEMAHAMI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB

Perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan :

” نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ”

“Sebaik-baik bid’ah, adalah ini”

Seringkali dijadikan dalil, untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah.

Bagaimana sebenarnya perkata’an Umar bin Khatab tersebut ?

Untuk memahami perkata’an Umar bin Khatab dengan benar, maka kita harus memahami perkata’an Umar bin Khatab tersebut sebagaimana yang difahami dan di jelaskan oleh para Ulama Mu’tabar yang keilmuannya di akui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Berikut ini penjelasan Imam Ibnu Katsir seorang Ulama ahli tafsir bermadzhab Syafi’i dan Ibnu Rajab, semoga Allah Ta’ala merahmati mereka berdua.

Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab menjelaskan tentang perkata’an Umar bin Khatab sebagai berikut,

– Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : “Bid’ah ada dua macam, bid’ah menurut syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. DAN BID’AH LUGHOWIYAH (bahasa) SEPERTI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB KETIKA MENGUMPULKAN MANUSIA UNTUK SHALAT TARAWIH : “INILAH SEBAIK-BAIKNYA BID’AH”. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adziem 1/223).

– Ibnu Rajab Rahimahullah berkata : ”JADI PERKATA’AN UMAR, “SEBAIK-BAIK BID’AH ADALAH INI”, ADALAH BID’AH SECARA LUGHOWI (BAHASA)”. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2:128).

Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab tersebut, maka kita mendapatkan penjelasan bahwa, perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan ; ”Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Adalah bid’ah secara bahasa. Bukan bid’ah menurut syari’at.

Bagaimana mungkin shalat tarawih berjama’ah mau dikatakan bid’ah menurut syari’at, karena bid’ah menurut syari’at adalah tercela (sesat).

Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullaah, Beliau berkata :

فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة

“MAKA BID’AH MENURUT SYARI’AT ADALAH TERCELA”. (Fathul Bari, 13: 253).

Perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani di atas, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

“Hati-hatilah dengan perkara yang di ada-adakan (dalam urusan ibadah) karena setiap perkara yang di ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).

• SHALAT TARAWIH BERJAMA’AH BUKAN BID’AH

Perlu di ketahui, bahwa shalat tarawih berjama’ah bukan bid’ah sebagaimana yang di katakan sebagian orang.

Shalat tarawih berjama’ah adalah sunnah, karena pernah di lakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya. Sebagaimana di sebutkan dalam riwayat berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)

Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radhiyallahu ‘anha : “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam hari sholat di masjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau, beliau sholat dan pengikut bertambah ramai (banyak) pada hari ke tiga dan ke empat orang-orang banyak berkumpul menunggu Nabi, tetapi Nabi tidak keluar (tidak datang) ke masjid lagi. Maka di waktu pagi, Nabi bersabda : “Sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku khawatir kalau sholat ini (tarawih) di wajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata: “Hal itu terjadi pada bulan Ramadlan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari riwayat di atas, maka sangat jelas, bahwa shalat tarawih secara berjama’ah bukan bid’ah. Tapi sunnah, karena pernah di lakulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya.

Adapun kemudian di tinggalkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir apabila shalat tarawih di wajibkan kepada umatnya. Sebagaimana Rasulullah bersabda :

وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

“Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku khawatir kalau sholat ini (tarawih) di wajibkan pada kalian”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana mungkin shalat tarawih secara berjama’ah mau dikatakan bid’ah, bukankah bid’ah itu sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan arti bid’ah, yang di jelaskan oleh para Ulama berikut ini.

– Imam An-Nawawi berkata :

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).

– Al-Fairuz Abadi berkata :

الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ

“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).

– Imam Al-‘Aini berkata :

وَقِيْلَ: إِظْهَارُ شَيْءٍ لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ

“Dan dikatakan juga (bid’ah adalah) menampakkan sesuatu (dalam urusan ibadah) yang tidak ada pada masa Rasulullah dan tidak ada juga di masa para sahabat”. (Umdatul Qori’ 25/37).

Kesimpulannya :

Perkata’an Umar bin Khatab yang menyebutkan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” adalah bid’ah secara bahasa, sebagaimana di jelaskan para Ulama di atas. Bukan bid’ah menurut syari’at.

Bagaimana mungkin shalat tarawih berjama’ah mau dikatakan bid’ah menurut syari’at, karena shalat tarawih berjama’ah, pernah di lakukan Nabi bersama para Sahabatnya. Artinya shalat tarawih berjama’ah itu sunnah.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

==================