HARAM MENABUH BEDUK MENURUT KH. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARY

HARAM MENABUH BEDUK MENURUT KH. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARY
.
Sebagian masjid-masjid yang ada di Indonesia menggunakan kentongan dan beduk sebagai pemberitahuan sudah tiba waktunya shalat. Padahal masjid’-masjid itu sudah di lengkapi alat pengeras suara.
.
Apakah kentongan dan beduk itu di syari’atkan dalam Islam, sehingga mereka harus menggunakannya dan tidak mau meninggalkannya ?
.
Kita simak saja pendapat KH. Muhammd Hasyim Asy’ari tentang beduk yang saya dapatkan dari postingan teman Fb berikut ini.
.
❁ KH. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARY (PENDIRI NU) MENGHARAMKAN KENTONGAN DAN BEDUK
.
Syeikh Muhammad Hasyim Asy’ary (pendiri NU), mengharamkan penggunaan kentongan dan bedug untuk menandai waktu sholat.
.
Pernyataan beliau ini terungkap dengan jelas pada salah satu risalah beliau yang berjudul Al Jaasuus Fi Bayaani Hukmi An Naquus :
.
الجاسوس في بيان حكم الناقوس
.
Pada risalah kecil ini, secara khusus beliau menjelaskan tentang hukum menggunakan kentongan dan bedug untuk memanggil masyarakat menunaikan sholat berjamaah atau menandai masuknya waktu shalat wajib.
.
Beliau pada awal risalah ini berkata : “Semula aku termasuk yang memperjuangkan pendapat bolehnya menggunakan kentongan atau bedug untuk menandai masuknya waktu shalat. Hingga pada suatu saat, yaitu pada awal tahun 1335 H, aku mendapat ujian, harus mondar mandir ke rumah sakit guna mengobatkan istriku yang menderika sakit di telinganya. Saat itu aku melihat langsung dengan kedua mataku, dan mendengar langsung dengan kedua telingaku orang orang nasrani yang memukul loncengnya guna menandai waktu ibadah dan pelajaran mereka. Saat itulah aku menyadari bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang mengharamkan penggunaan kentongan atau bedug. Dan pendapat yang membolehkan keduanya menyimpang dari jalan yang lurus. Karenanya, aku menulis risalah ini, guna menampakkan kebenaran.
.
Selajutnya beliau membawakan hadits hadits tentang sejarah disyari’atkannya adzan. Dan diantara alasan yang beliau utarakan dalam mengharamkan keduanya adalah :
.
1. Penggunaan kentongan dan bedug adalah salah satu simbol agama orang orang kafir.
.
2. Memukul kentongan dan bedug menyerupai orang kafir.
.
3. Memukul kentongan dan bedug sama saja menghidup-hidupkan simbol agama orang kafir.
.
4. Memukul kentongan dan bedug termasuk kemungkaran.
.
5. Memukul kentongan dan bedug jelas jelas telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam”.
.
Lebih lengkapnya anda bisa simak langsung pada risalah beliau yang berjudul, Al Jaasuus Fi Bayaani Hukmi An Naquus.
.
Penulis: DR Muhammad Arifin Baderi.
.
.
Copas dari postingan teman Facebook.
.
.
_____________
.
.
Benar apa yang dikatakan oleh KH. Muhammad Hasyim Asy’ary, bahwa bedug adalah salah satu simbol agama orang-orang kafir. Memukul kentongan dan bedug menyerupai orang kafir, dan sama saja menghidup-hidupkan simbol agama orang-orang kafir. Sehingga memukul kentongan dan bedug menurut KH. Muhammad Hasyim Asy’ary termasuk kemungkaran.
.
Memukul beduk sama dengan tasyabuh kepada orang-orang kafir. Dan tasyabuh (menyerupai) orang-orang kafir di haramkan dalam Islam.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
.
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
.
“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami”. (HR. Tirmidzi no. 2695).
.
Karena memukul beduk sama dengan menyerupai orang-orang kafir, maka atas dasar itulah KH. Muhammad Hasyim Asy’ary mengharamkannya.
.
Berikut ini bukti bahwa memukul beduk adalah perbuatan orang-orang kafir dalam peribadatan mereka.
.
❁ BEDUK DALAM KEPERCAYAAN UMAT HINDU
.
Seorang mantan Pandita Hindu ditanya :
.
Dari manakah asalnya beduk ?
.
Mantan Pandita Hindu menjawab :
.
Sebagian sekte Hindu beranggapan bahwa dhak (beduk) itu semula dibawa Dewa-dewa dari Swarga. Di kuil Iswara di Helebeid Maisur India yang dibangun Raja Narasingha (1136-1171) dilukiskan para Dewa membawa beduk.
.
Dewa Surya menghentikan keretanya tepat tengah hari, sehingga segala pekerjaan harus dihentikan sebab akan keluar Dewa-dewa jahat. Untuk tanda meninggalkan pekerjaan, sejak itu dipukullah dhak (beduk). Dalam Surya Deul (pura hitam) di Konara Orissa, dipatungkan kereta Surya tengah berhenti.
.
Sumber: https://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/pertanyaan-seorang-mantan-pandita-hindu.html
.
❁ KEGUNAAN BEDUK BAGI ETNIK TIONGHOA
.
Imam Pratama Nasution, dari Departemen Arkeologi Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mengatakan bahwa bedug merupakan sejenis gendang besar dan panjang yang biasa digunakan di beberapa Kelenteng atau Vihara.
.
Bedug juga saat ini masih digunakan sebagai penanda dimulainya ritual sembahyang umat Tionghoa di kelenteng atau vihara. Dan juga digunakan saat pertunjukan barongsai.
.
Sementara itu, Agni Malagina, dosen Program Studi China di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia mengatakan, di China dikenal drum atau Gu sejak 2000-an tahun silam.
.
Saat itu bedug digunakan sebagai genderang perang untuk memberi aba-aba kepada para prajurit. Misalnya suara bedug sebagai perintah untuk menutup gerbang kota atau menjelang tutupnya pasar.
.
Bahkan saat malam pergantian tahun, di Beijing China juga diperdengarkan bunyi drum (bedug) bersamaan dengan bunyi petasan. Dari keyakinan mereka, bunyi-bunyian itu dimaksudkan untuk mengusir makhluk jahat bernama Nian.
.
Selain itu, bedug juga menjadi salah satu alat yang selalu digunakan dalam perayaan keagamaan dan tradisi masyarakat Tionghoa. Karena itu, rumah-rumah ibadah seperti kelenteng, vihara dan kuil juga memiliki bedug.
.
Di kelenteng bedug juga memiliki ornamen dan corak yang bermacam-macam, seperti berbentuk burung, naga, bunga dan sebagainya.
.
Ornamen-ornamen itu merupakan simbol yang mengandung makna tertentu, ujar Agni Malagina kepada Jia Xiang Hometown di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
.
Sejumlah masyarakat etnis Tionghoa juga meyakini bahwa bedug adalah salah satu alat yang dipegang oleh salah seorang dewa.
.
Di zaman Zheng He, bedug digunakan untuk memanggil masyarakat atau penanda waktu”. Ungkap Agni Malagina.
.
Sumber: https://www.jia-xiang.biz/arti-bedug-di-masjid-dan-kelenteng
.
.
Selesai pembahasan
.
By: Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
.
__________

Iklan