PENGINGKARAN ULAMA TERHADAP BID’AH

PENGINGKARAN PARA ULAMA TERHADAP BID’AH

• Bid’ah-bid’ah sekitar jenazah.

1. Imam Al-Fairuz Abadi

Imam al-Fairuz Abadi berkata : “Biasanya Rasulullah takziah kepada keluarga mayit dan menyuruh mereka agar bersabar. Dan bukan kebiasa’an jika mereka berkumpul untuk mayit, membacakan al-Qur’an untuknya, dan mengkhatamkan al-Qur’an untuknya, baik di kuburannya atau lainnya. Kumpul-kumpul seperti ini adalah bid’ah yang tercela.”[Safar Sa’adah hlm. 111].

2. Ibnu Hajar Al-Haitami

Ibnu Hajar Al-Haitami ditanya tentang kebiasa’an manusia pada hari ketiga setelah kematian, mereka membuat makanan lalu membagikannya kepada orang fakir dan sebagainya, demikian juga pada hari ketujuh dan genap sebulannya berupa roti yang dibagikan ke rumah para wanita yang menghadiri jenazah sebagaimana adat penduduk setempat. Barangsiapa yang tidak melakukan hal itu maka dia akan dicela dan dicibir. Apakah jika mereka melakukan hal itu baik dengan niat adat atau sedekah diperbolehkan hukumnya, atau bagaimana ? Beliau menjawab : “SEMUA PERBUATAN YANG DISEBUT DALAM PERTANYA’AN DIATAS TERMASUK PERKARA BID’AH YANG TERCELA.”[Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra 2/7].

4. Imam Ibnu Nahhas

Imam Ibnu Nahhas mengatakan ketika menjelaskan tentang bid’ah-bid’ah seputar jenazah : “Diantaranya adalah apa yang dilakukan oleh kerabat mayit berupa membuat makanan dan selainnya, dan mengundang manusia kepadanya serta membaca khataman. Barangsiapa yang tidak melakukan hal itu maka seakan-akan telah meninggalkan suatu kewajiban. Hal ini jika diambil dari harta ahli waris yang boleh dipergunakan maka hukumnya BID’AH TERCELA, tidak ada contohnya dari salaf shalih. Dan jika dari peninggalan untuk anak yatim atau orang yang tidak ada padahal mayit tidak mewasiatkan harta tersebut maka haram memakannya dan menghadirinya serta wajib mengingkari dan melarangnya.”[Tanbihul Ghafilin hlm. 301].

5. Syaikh Ahmad Zaini Dahlan

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan mufti Syafi’iyyah Makkah, pernah ditanya masalah ngumpul-ngumpul pada keluarga mayit dan membuat makanan untuk mereka.

Beliau menjawab : “BENAR APA YANG DILAKUKAN KEBANYAKAN MANUSIA BERUPA KUMPUL-KUMPUL PADA KELUARGA MAYIT DAN MEMBUATKAN MAKANAN TERMASUK PERKARA BID’AH YANG MUNKAR. Apabila pemerintah yang Allah menguatkan sendi-sendi Islam dengannya melarang hal ini, dia akan diberi pahala”.

Kemudian Syaikh Zaini Dahlan menukil perkataan Ahmad bin Hajar dalam Tuhfatul Muhtaj lalu berkata : “Tidak ragu lagi bahwa melarang manusia dari bid’ah yang mungkar ini termasuk menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah, membuka pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu-pintu kejelekan. Sebab banyak di antara manusia, mereka memberatkan diri-diri mereka sehingga menjurus kepada keharaman.” [I’anah Thalibin juz 2 hlm. 145–146].

6. Syaikh Ahmad bin Hajar alu Buthami Ketika menyebutkan tentang bid’ah-bid’ah seputar jenazah,

Beliau berkata ; “Acara slametan ini tidak diperselisihkan tentang keharamannya karena termasuk makan harta dengan cara yang batil. Oleh karenanya, sebagian orang belakangan yang biasanya melegalkan bid’ah dengan bid’ah hasanah (!) menegaskan bahwa acara ini termasuk bid’ah yang sesat karena,

Pertama : Menyelisihi sunnah, sebab justru para tetangganyalah yang seharusnya membuatkan makanan bagi kerabat mayit, sebagaimana dalam hadits : ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far.’

Kedua : Pemborosan harta

Ketiga : Makan harta manusia dengan cara batil karena bisa jadi ahli waris adalah orang yang fakir miskin atau masih anak-anak, apalagi kadang-kadang manusia berhutang karena takut dicemo’oh oleh masyarakatnya sebab tidak mengadakan acara bid’ah ini.”[Tahdzirul Muslimin hlm. 278].

7. Syaikh Ali Mahfuzh, Setelah menukil ucapan para ulama madzhab empat tentang kumpul untuk takziah dan membuatkan makanan untuk mereka, Syaikh Ali Mahfuzh mengatakan : “Kesimpulannya, apa yang dilakukan oleh manusia sekarang berupa membuatkan makanan untuk para penakziah dan mengeluarkan dana untuk acara kematian, ketujuh dan empat puluh harinya, dan seterusnya; semua itu termasuk BID’AH YANG TERCELA dan menyelisihi petunjuk Rasulullah dan para salaf shalih setelahnya. Bahkan (perbuatan itu) seringkali menyebabkan kesulitan karena para keluarga mayit akan bersusah payah membuat makanan mewah yang tidak biasanya sekalipun dengan berhutang atau menjual barang. Anehnya, mereka menyangka bahwa hal itu adalah untuk sedekah yang pahalanya akan sampai kepada mayit, padahal makanan tersebut kebanyakannya malah masuk ke perut orang-orang yang mampu, sedangkan orang yang miskin, sekalipun minta, mereka tidak dapat, kalaupun dapat maka hanyalah sisa-sisanya saja.” Beliau melanjutkan, “Daripada menyia-nyiakan harta untuk acara bid’ah yang tidak diizinkan oleh syari’at dan tidak diterima oleh akal, sewajibnya bagi ahli waris untuk membayarkan hutang mayit pada manusia, sebab mereka adalah penanggung jawab setelahnya di dunia dan akhirat.” [l-Ibda’ fi Madharil Ibtida’ hlm. 211–212].

=================

Iklan