KELOMPOK BID’AH YANG PERTAMA KALI MUNCUL DI TENGAH-TENGAH UMAT ISLAM

KELOMPOK BID’AH YANG PERTAMA KALI MUNCUL DI TENGAH-TENGAH UMAT ISLAM
.
Sebagaimana umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali mereka di tinggal wafat oleh Rasul yang di utus kepada mereka, maka kemudian mereka mengada-adakan perkara-perkara baru dalam urusan ibadah.
.
Umat Nabi Nuh ‘alaihis salam berbuat bid’ah dengan membuat patung wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr yang tujuan awalnya menurut anggapan mereka baik, untuk mengenang orang-orang saleh supaya tidak melupakan kesalehan mereka yang kemudian oleh generasi selanjutnya patung-patung tersebut di sembah.
.
Umat Nabi Musa ‘alaihis salam berbuat bid’ah dengan membuat patung anak lembu yang menjadikan mereka sesat, sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an,
.
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
.
“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke Gunung Tur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka ?. Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf, 148).
.
Umat Nabi Isa ‘alaihis salam membuat rahbaniyah (kerahiban) yang mana Nabi Isa ‘alaihis salam tidak mengajarkannya. Perbuatan bid’ah yang di lakukan umat Nabi Isa tersebut di sebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (kerahiban) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemelihara’an yang semestinya”. (QS. Al-Hadid: 27).
.
Kaum Qurais, kaumnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada mulanya adalah pengikut ajaran Tauhid yang di bawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun akhirnya mereka pun menjadi umat yang sesat, karena segala macam bid’ah yang mereka lakukan. Lalu Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan mereka kepada ajaran yang benar.
.
Itulah bid’ah-bid’ah yang di lakukan umat-umat terdahulu sebelum di utusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kebid’ahan mereka itulah yang menjadikan agama terdahulu pada akhirnya mengalami penyimpangan (distorsi). Yang semula sebagai agama Tauhid akhirnya berubah menjadi agama penyembah berhala (pagan).
.
Membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), tidak saja di lakukan oleh umat-umat terdahulu, tapi ternyata juga di lakukan oleh umat Islam. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan kebid’ahan, tapi faktanya dapat kita saksikan, aneka macam bid’ah merebak di tengah-tengah umat.
.
Dan bid’ah yang pertama kali di lakukan umat Islam, ternyata muncul ketika para Sahabat masih hidup, yang di lakukan oleh sekolompok orang yang mengadakan dzikir berjama’ah yang di pimpin oleh seorang syaikh yang mendapatkan teguran dari Abullah bin Mas’ud.
.
Imaam Ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad dari al-Hakam bin al-Mubarak dari ‘Amr bin Yahya dari ayahnya dari datuknya (Amr bin Salamah) meriwayatkan, Abu Musa Al As’ari radhiyallahu ‘anhu, di riwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka,
.
كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ: هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً
.
“Bertakbirlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertakbir seratus kali (menghitung dengan kerikil). Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahlil” seratus kali” Dan mereka pun bertahlil seratus kali, kemudian syaikh itu berkata lagi, “bertasbih seratus kali”, lalu mereka pun bertasbih seratus kali.
.
Ibnu Mas’ud bertanya :
.
فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟َ
.
Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?
.
Abu Musa menjawab :
.
مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ
.
Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan.
.
Ibnu Mas’ud berkata :
.
أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم
.
Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan.
.
ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ
.
Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu.
.
Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka :
.
فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟
.
Benda apa yang kalian gunakan ini ?
.
Mereka menjawab :
.
قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ
.
Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya
.
Ibnu Mas’ud berkata :
.
فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ
.
Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun.
.
وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ !
.
Celaka kalian wahai umat Muhammad !, betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan.
.
هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَر
.
Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak.
.
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ
.
Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”
.
Mereka menjawab :
.
. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
.
Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan.
.
Ibnu Mas’ud menjawab :
.
وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ
.
“BETAPA BANYAK ORANG YANG MENGHENDAKI KEBAIKAN NAMUN TIDAK MENDAPATKANNYA”.
.
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ،
.
Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami : “Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya”. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian diantara kalian.
.
Itulah kelompok dari umat Islam yang pertama kali mengada-adakan perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah). Dan sampai sa’at ini kebid’ahan semakin merajalela sulit dibendung seiring dengan bermunculannya firqoh-firqoh menyimpang dan sesat yang bermunculan di tengah-tengah umat.
.
Ahli ‘bid’ah tentu saja, seribu argumen akan mereka bawa untuk membela kebid’ahannya. Mereka akan membawa banyak dalil yang di cari-cari.
.
Dzikir itu baik, di perintahkan dalam Islam, lebih baik berdzikir dari pada membuang-buang waktu dan banyak lagi alasan yang biasa mereka katakan.
.
Lalu mengapa Ibnu Mas’ud menegur mereka yang sedang mengadakan dzikir berjama’ah, bukankah apa yang mereka lakukan itu baik ?
.
Apakah Ibnu Mas’ud tidak faham jika berdzikir itu adalah perkara yang baik ?
.
Ibnu Mas’ud menegur mereka yang mengadakan dzikir berjama’ah, adalah karena dzikir dengan cara seperti itu tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Bagaimana pula sikap Ibnu Mas’ud apabila menyaksikan umat Islam sa’at ini (kaum sufi) yang mengadakan dzikir bukan saja berjama’ah tapi juga dengan loncat-loncat, berjingkrak, menari, berputar dan lainnya ?
.
Silakan di liat bagaimana kaum sufi berdzikir,
.
● Dzikir breakdance ala sufi, https://youtu.be/1RJyZGDZC9A
.
● Dzikir loncat katak ala sufi, https://youtu.be/5h6Cby1w5zE
.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari amalan-amalan bid’ah yang akan menjadikan pelakunya sulit untuk bertaubat.
.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί (Pecinta meong dan pengamat prilaku orang-orang menyimpang).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_________

Iklan