Perkataan Para Ulama Tentang Bid’ah

1- Sufyan at-Tsauri rahimahullah berkata: “Bid’ah lebih disenangi oleh Iblis daripada maksiat kerana pelaku maksiat akan bertaubat darinya, sedangkan pelaku bid’ah tidak akan bertaubat darinya”. (Musnad Ibnul Ja’ad, 1885. Majmu’ al-Fatawa, 11/472) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah”.

2- Asy-Syatibi rahimahullah berkata : “Sesusungguhnya golongan yang selamat (dan mereka itu ahlus sunnah), diperintahkan untuk memusuhi ahl bid’ah, mengusir mereka, dan menghukum orang yang berusaha mendekati mereka dengan hukuman mati atau yang kurang dari itu. Sunguh para ulama telah memberi peringatan agr tidak bersahabat serta bermajlis bersama mereka”.(1/158).

3- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang bahaya ahli bid’ah : “Seandainya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menjadikan adanya orang-orang yang mencegah bahaya mereka (iaitu ahli bid’ah) ma ini akan rosak dan kerosakannya akan lebih besar dari berkuasanya musuh yang memerangi. Kerana, musuh jika ia berkuasa tidak akan merosakkan hati dan agama melainkan hanya mengikut saja. Ada pun ahli bid’ah, mereka akan merosak hati sejak pertama kalinya”. (Majmu’ al-Fatawa, 28/232).

4- al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : “Janganlah kamu duduk bersama pelaku bid’ah kerana ia akan menjadikan hati kamu sakit.” (al-I’tisham, 1/172)

5- Asy Syaukaniy berkata : “ Maka jika Alloh telah menyempurnakan agamanya sebelum Nabinya wafat, maka apa artinya pendapat bid’ah yang dibuat-buat oleh kalangan ahli bid’ah tesebut . Kalau memang hal tersebut merupakan agama menurut keyakinan mereka, maka berarti mereka telah beranggapan bahwa agama ini belum sempurna kecuali dengan tambahan pemikiran mereka, dan itu berarti pembangkangan terhadap Al Qur’an. Kemudian jika pemikiran mereka tersebut tidak termasuk dalam agama, maka apa manfaatnya mereka menyibukkan diri mereka dengan sesuatu yang bukan dari agama ini. Ini merupakan hujjah yang kokoh dan dalil yang agung yang selamanya tidak mungkin dapat dibantah oleh pemilik pemikiran tersebut. Dengan alasan itulah, hendaknya kita menjadikan ayat yang mulia ini sebagai langkah awal untuk menampar wajah-wajah ahli logika, membungkam mereka serta mematahkan hujjah-hujjah mereka”. [Al Qaulul Mufid Fii Adillatil Ijtihaad Wattaqliid, hal. 38, Merupakan bagian dari Risalah Assalafiyyah, Cet: Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah.] .

6- Ibnu Rajab berkata : “Perkataan Nabi sollallohu ‘alaihi wasallam setiap bid’ah itu adalah kesesatan- merupakan jawami’ul kalim (satu kalimat yang ringkas namun mempunyai arti yang sangat luas – pent) yang meliputi segala sesuatu, kalimat itu merupakan salah satu dari pokok-pokok ajaran agama yang agung” [Jami’ul ‘ulum wal hikam, hal. 283

7Ibnu Hajar Berkata : “Perkataan Rosululloh sollallohu ‘alaihi wasallam , setiap bid’ah itu adalah kesesatan , merupakan suatu kaidah agama yang menyeluruh, baik itu secara tersurat maupun tersirat. Adapun secara tersurat, maka seakan-akan beliau bersabda: “Hal ini bid’ah hukumnya dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”, sehingga ia tidak termasuk bagian dari agama ini, sebab agama ini seluruhnya merupakan petunjuk. Oleh karena itu maka apabila telah terbukti bahwa suatu hal tertentu hukumnya bid’ah, maka berlakulah dua dasar hukum itu (setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan bukan dari agama), sehingga kesimpulannya adalah tertolak”. [Fathul Baariy, (13/254)

8 Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata : “Sesungguhnya perkataan Rosululloh sollallohu ‘alaihi wasallam , setiap bid’ah , merupakan ungkapan yang bersifat umum dan menyeluruh, karena diperkokoh dengan kata yang menunjukkan makna menyeluruh dan umum yang paling kuat, yakni kata(setiap)” [Al Ibdaa’ Fii Kamaalisy Syari’i Wa Khatarul Ibdaa’, hal. 13] ,  Beliau berkata pula: Maka setiap apa saja yang diklaim sebagai bid’ah hasanah, maka hendaklah dijawab dengan dalil ini. Dan atas dasar inilah, maka tak ada sedikitpun peluang bagi ahlul bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka itu sebagai bid’ah hasanah. Karena ditangan kita terhunus pedang pamungkas yang berasal dari Rosululloh sallallohu ‘alaihi wasallam , yakni kalimat : setiap bid’ah itu adalah kesesatan . Sesungguhnya pedang pamungkas ini dibuat dalam “industri kenabian dan kerasulan”, bukan hasil ciptaan berbagai rumah produksi yang penuh kegoncangan, ia merupakan produk kenabian yang diciptakan secara optimal. Karena itulah tidak mungkin orang yang memiliki pedang pamungkas seperti ini akan mampu dihadapi oleh siapapun dengan suatu bid’ah yang dianggapnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rosululloh telah mengatakan : setiap bid’ah itu adalah kesesatan”. . [Al Ibdaa’ Fii Kamaalisy Syari’i Wa Khatarul Ibdaa’]