PENGIKUT HAWA NAFSU

PENGIKUT HAWA NAFSU

Pengikut hawa nafsu atau ahli hawa atau disebut juga ahli bid’ah.

Telah berkata Abdullah bin Aun Al-Bashri Rahimahullah : “Jika hawa nafsu telah menguasai hati, maka seseorang akan menganggap baik sesuatu yang buruk”. (Kitab Sallus Suyuf: 24).

Pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang sudah sampai kepadanya keterangan yang jelas dan terang namun tidak peduli tidak mau memikirkannya tidak mau mengkajinya terlebih lagi menerima kemudian mengamalkannya. Disebut sebagai ahli bid’ah karena tidak mau keluar dari kebid’ahannya, masih terus mengamalkan bid’ah-bid’ahnya, bahkan masih terus mengajak orang lain untuk berbuat bid’ah.

Ahli hawa menjadikan hawa nafsu sebagai ilahnya, mereka ikuti hawa nafsunya dan mereka berpaling dari keterangan yang datang kepadanya walaupun terang dan jelas. Itulah sifat mereka yang paling nyata.

Allah Ta’ala berfirman tentang sifat mereka :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (sesembahannya) dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya“. (Al-Jaathiya: 23).

Ibnu Katsir berkata : ”Yakni ia berjalan dengan hawa nafsunya. Apa yang dilihat baik oleh hawa nafsunya maka ia lakukan dan apa yang dilihatnya jelek maka ia tinggalkan”.

Itulah jalannya para pengikut hawa nafsu, mereka melihat kebaikan dan keburukan dengan logikanya bukan dengan petunjuk Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Keberada’an para pengikut hawa napsu sudah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Sesunguhnya akan muncul pada umatku beberapa kaum hawa nafsu mengalir pada mereka sabaimana mengalirnya penyakit anjing dalam tubuh mangsanya. Tidak tersiksa darinya satu urat dan persendian pun kecuali dia masukinya”.

• Pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang disesatkan Allah

Pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang menutup rapat telinga dan matanya kemudian memalingkan mukanya dari al-haq, dan kesesatan yang jadi pilihannya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“… Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang rnengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Qashash 28:50).

• Pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang sombong

Para pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang sombong, karena sifatnya yang tidak mau mendengarkan, menyimak, mempelajari terlebih lagi mau menerima keterangan yang sampai kepadanya, karena para pengikut hawa nafsu merasa dirinya lebih pintar, lebih tinggi kedudukannya. Atau mereka memandang rendah orang yang membawa keterangan tersebut dibandingkan tokohnya, guru-gurunya, atau syaikhnya. Itulah hakekat sombong sebenarnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya, Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ? Beliau menjawab, Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91).

• Pengikut hawa nafsu Allah Ta’ala mengibaratkannya dengan seekor anjing

Sungguh hina orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, sampai-sampai Allah Ta’ala mengumpamakannya dengan seekor anjing.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا

”Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami“. (QS. al-A’raf: 176).

Sungguh rugi dan hina para pengikut hawa nafsu, sesat, di ibaratkan seekor anjing dan mendapatkan ancaman tidak akan mendapatkan hidayah dan penolong.

Allah Ta’ala berfirman :

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

”Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan, maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah ? Dan tidaklah bagi mereka seorang penolongpun”. (QS. ar-Rum: 29).

Allah Ta’ala berfirman :

وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

”Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Shad: 26).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

Iklan