JANGAN BERGAUL DENGAN AHLI BID’AH

JANGAN BERGAUL DENGAN AHLI BID’AH
.
Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan teman dalam hidupnya. Terbukti di sa’at masa kanak-kanak sampai menginjak usia dewasa, seorang manusia akan mencari teman dalam kesehariannya. Seorang anak kecil dia akan mencari teman yang bisa di ajaknya bermain, tanpa memperdulikan status sosial atau agama temannya. Ketika menginjak usia dewasa seorang manusia tidak lagi asal berteman, tapi akan memilih teman yang memiliki kesama’an, apakah statusnya, kegemaran atau kesama’an idiologi.
.
Islam sebagai agama yang sempurna, memberikan petunjuk kepada umatnya untuk tidak asal berteman. Karena seorang teman bisa memberikan pengaruh yang kuat dalam hidupnya.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ
.
“Apabila engkau wahai Rasul melihat orang-orang musyrikin membicarakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kebatilan dan olokan, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicara’an yang lain”. (QS. Al-An’am: 68).
.
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :
.
و في الآية النهي عن مجالسة أهل البدع و الأهواء، و أن من جالسهم حكمه حكمهم، و قد ذهب إلى ذلك الإمام أحمد ب حنبل و الأوزاعي و ابن المبارك فإنهم قالوا في رجل شأنه مجالسة إهل البدع قالوا: ين عن مجالستهم فإن انتهى و إلا ألحق بهم، يعنون في الحكم (تفسر القرطبي / ٤ / ١٢٥ – ١٢٦).
.
“Pada ayat ini ada larangan untuk duduk bermajelis dengan ahli bid’ah dan ahli ahwa’. Siapa yang duduk bersama mereka, maka hukumnya sama dengan hukum mereka. Telah berpendapat seperti ini Imam Ahmad, Al-Auza’i dan Ibnul Mubarak. Mereka berkata tentang keada’an orang yang suka bermajelis dengan ahli bid’ah bahwa orang tersebut harus dilarang dari bermajelis dengan mereka jika dia berhenti (dari bermajelis dengan mereka), maka itu baik baginya karena menerima nasihat. Namun jika tidak, maka akan diikutkan dengan mereka, artinya hukumnya sama dengan hukum mereka”. (Tafsir Al-Qurthubiy, 4/125-126).
.
Berhati-hati dalam memilih teman juga di peringatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabdanya :
.
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
.
“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman“. (HR Abu Dâwud no. 4833).
.
Hadits di atas sebagai peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selektif dalam memilih teman. Karena seorang manusia memiliki sifat yang mudah di pengaruhi oleh teman bergaulnya.
.
Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Qâsim berkata, “Sifat manusia adalah cepat terpengaruh dengan teman pergaulannya“.
.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
لا تجالس أهل الأهواء فإن مجالستهم ممرضة للقلوب ( الشريعة للآجري برقم : ١٣٣ )
.
“Janganlah engkau duduk dengan ahli ahwa’ (ahli bid’ah), karena sesungguhnya bermajelis dengan mereka adalah penyakit bagi hati”. (Asy-Syari’ah, Al-Ajurriy, no.133).
.
Manusia-manusia yang menyimpang dan tersesat dari kebenaran, semenjak dahulu sampai hari ini adalah berawal dari perteman dengan orang yang menyimpang dan sesat. Begitu pula orang-orang salih yang berjalan di atas petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya berawal dari pertemanan dengan orang salih.
.
Sungguh besar pengaruh seorang teman bergaul bagi kehidupan manusia. Seorang teman bisa memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap agama seseorang. Rusak atau selamatnya agama seseorang bisa di pengaruhi oleh teman bergaulnya.
.
Berteman dengan orang yang menyimpang dan tersesat akan mendatangkan penyesalan di akhirat kelak. Sebagaimana penyesalannya orang-orang kafir yang di sebutkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
.
“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelaka’an besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an sesudah Al-Qur’an itu datang kepadaku”. (QS. Al Furqan: 27-29).
.
Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata, Sekalipun latar belakang turunnya ayat ini berkena’an dengan Uqbah ibnu Abu Mu’it atau lainnya dari kalangan orang-orang yang celaka, tetapi maknanya bersifat umum mencakup semua orang yang zalim. (Tafsir Imam Ibnu Katsir QS. Al-Furqon, 27).
.
Itulah penyesalan orang-orang yang berpaling dari kebenaran di akhirat karena salah memilih teman bergaul. Namun tentu saja ratapan mereka di akhirat tidak ada gunanya.
.
• Permisalan Teman Yang Baik Dan Teman Yang Buruk
.
Terdapat perbeda’an antara orang-orang yang salih dengan orang-orang yang buruk agamanya, sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
.
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
.
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”. (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).
.
Imam An Nawawi rahimahullah (L 631 H) berkata : “Hadits ini juga menunjukkan keutama’an bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227).
.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah (773-852 H) mengatakan : “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita”. (Fathul Bari 4/324).
.
Islam melarang umatnya bergaul dengan ahli bid’ah karena di khawatirkan akan mempengaruhi dan menjerumuskannya dalam kebid’ahan, sehingga kemudian kebid’ahan di yakininya sebagai ajaran agama dan akhirnya sulit untuk bertaubat. Bukankah kebid’ahan itu menjadikan pelakunya sulit untuk bertaubat. Sebagaimana yang di katakan Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah (w. 161 H),
.
وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا
.
“Dan pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya, sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya”. (Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, no. 238).
.
• Peringatan Para Ulama Untuk Tidak Bergaul Dengan Ahli Bid’ah.
.
Dan berikut peringatan para Ulama untuk tidak bergaul dengan ahli bid’ah,
.
– Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata :
.
لا تجلس مع صاحب بدعة، فإني أخشى عليك اللعنة (الإبانة لإبن بطة)
.
“Janganlah engkau duduk bersama ahli bid’ah, karena sesungguhnya aku takut engkau akan tertimpa laknat”. (Al-Ibanah, Ibnu Batthoh).
.
– Fudhail bin Iyadh berkata : “Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid’ah, maka hati-hatilah darinya. Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid’ah dia tidak akan diberi hikmah. Aku menginginkan ada benteng dari besi yang memisahkan aku dengan ahlul bid’ah…” Beliau berkata, “Aku bertemu orang-orang terbaik, dan mereka semua adalah Ahlus Sunnah, semuanya melarang bergaul dengan ahlul bid’ah”.
.

– Ibnu ‘Aun rahimahullah berkata :
.
من يجالس أهل البدع أشد علينا من أهل البدع (الإبانة لإبن بطة برقم: ٤٨٦)
.
“Orang yang duduk-duduk bersama ahli bid’ah itu lebih buruk ketimbang ahli bid’ah itu sendiri.” (lihat Al-Ibanah, Ibnu Batthoh, no. 486).
.
– Imam Ahmad berkata : “Tidaklah sepantasnya seseorang duduk dengan ahlul bid’ah atau bergaul dengannya, tidak pula punya hubungan dekat dengannya”. Beliau juga berkata dalam suratnya kepada Musaddad : “Janganlah kamu bermusyawarah dengan ahlul bid’ah dalam perkara agamamu dan janganlah berteman safar dengannya”.
.
– Ibnu Taimiyah berkata : “Jika pergaulan seseorang adalah dengan orang-orang jelek, maka peringatkanlah orang darinya. Jika dia beranggapan baik kepada ahlul bid’ah mengaku bahwa dia belum tahu keada’an mereka, maka dia diberitahu tentang keada’an mereka. Jika setelah dijelaskan, dia tidak berpisah dengan mereka (ahli bid’ah) dan tidak menampakkan pengingkaran terhadap mereka, maka dia digabungkan dan disikapi seperti mereka”.
.
– Yahya bin Sa’id Al-Qaththan berkata : Ketika Sufyan datang ke Bashrah, beliau melihat Rabi’ bin Shubaih serta kedudukannya di sisi manusia. Beliau bertanya, “Bagaimana pemahamannya ?” Mereka menjawab, “Pemahamannya adalah Ahlus Sunnah”. Beliau berkata, “Siapa teman-temannya ?” Mereka menjawab, “Orang-orang Qadariyyah (pengingkar takdir)”. Beliau berkata, “Berarti dia adalah pengingkar taqdir juga”.
.
– Abu Dawud As-Sijistani pernah berkata kepada Al-Imam Ahmad : “Aku melihat ada seorang Ahlus Sunnah sedang bersama dengan ahlul bid’ah. Apakah aku tinggalkan bicara dengannya ?”. Imam Ahmad menjawab, “Jangan, engkau beritahu dia bahwa orang yang kamu lihat dia bersamanya adalah ahlul bid’ah. Jika dia meninggalkan perbuatannya berbicara dengan ahlul bid’ah tersebut, maka sambunglah hubungan dengannya. Namun jika tetap seperti itu, tinggalkanlah. Ibnu Mas’ud berkata : Seseorang itu sama dengan temannya”.
.
– Ibnul Jauzi berkata : “Takutlah kalian kepada Allah dari berteman dengan mereka (ahli bid’ah). Wajib untuk mencegah anak-anak dari pergaulan bersama mereka, agar tidak ada pada hati mereka satu kebid’ahan pun. Sibukkanlah mereka dengan hadits-hadits Rasulullah agar lembut hati mereka”.
.
– Imam Al-Barbahari berkata : “Jika nampak kepadamu dari seseorang satu kebid’ahan, hati-hatilah darinya. Karena yang dia sembunyikan darimu lebih banyak dari yang ditampakkannya”.
.
• Akibat Buruk Bergaul Dengan Ahli Bid’ah.
.
Para Ulama memperingatkan untuk tidak bergaul dengan ahli bid’ah karena akibat buruk yang ditimbulkannya. Dan berikut ini beberapa akibat buruk bergaul dengan mereka.
.
– Sufyan Ats-Tsauri berkata : “Seseorang yang duduk dengan ahlul bid’ah tidak akan selamat dari satu diantara tiga perkara, Menjadi fitnah bagi yang lainnya, masuk dalam hatinya kebid’ahan hingga dia tergelincir dengannya, atau di masukkan oleh Allah ke dalam neraka …”
.
– Ketika ada orang yang berkata kepada Ibnu Sirin, Sesungguhnya fulan (salah seorang ahlul bid’ah) ingin datang dan berbicara denganmu. Beliau berkata, “Katakan kepadanya, jangan datang kepadaku. Sesungguhnya hati anak Adam itu lemah. Aku khawatir mendengar satu kalimat darinya kemudian hatiku tidak bisa kembali seperti semula”.
.
– Duduk dengan ahlul bid’ah menentang perintah Allah dan Rasul-Nya serta menyimpang dari jalan sahabat. Karena Allah berfirman : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa coba’an atau ditimpa azab yng pedih.” (An-Nur:63).
.
– Duduk dengan ahlul bid’ah menyebabkan kecinta’an kepada mereka. Ibnu Mas’ud berkata, “Seseorang hanya akan berteman dan berjalan dengan orang yang sejenis dengannya”.
.
– Duduk dengan ahlul bid’ah bermudharat bagi ahli bid’ah itu sendiri, karena diantara hikmah menjauhi mereka adalah agar jera dan kemudian rujuk (keluar) dari kebid’ahannya. Adanya orang yang dekat dengannya akan menjadi sebab jauhnya dia dari bertaubat, karena merasa jalan yang ditempuhnya adalah kebenaran.
.
– Duduk dengan ahlul bid’ah menjadi sebab orang lain berburuk sangka kepadanya.
.
Ini hanyalah sebagian dari keburukan yang kita ketahui. Hanya Allah yang tahu betapa banyak mafsadah yang muncul akibat duduk dan berteman dengan ahlul bid’ah. Mudah-mudahan ini cukup sebagai nasihat bagi orang yang menginginkan keselamatan agamanya. (Mauqif Ahlis Sunnah hal. 550-551)
.
• Beberapa Contoh Kasus Orang Yang Terjatuh Dalam Kesesatan Karena Berteman Dengan Ahli Bid’ah.
.
Berteman dengan ahlul bid’ah adalah bencana yang besar dan bahaya yang menyebar. Karena ahlul bid’ah lebih berbahaya dari orang fasik. Banyak orang yang bergaul dengan ahlul bid’ah dan tidak selamat dari kebid’ahan mereka.
.
Al-Imam Adz-Dzahabi berkata, dalam biografi Rawandi : Dia berteman dengan Rafidhah dan orang-orang menyimpang lainnya. Jika dihukum, dia menjawab, “Aku hanya ingin tahu ucapan-ucapan mereka”. Sampai akhirnya dia pun menjadi mulhid (atheis/penyimpang) dan turun dari dien dan millah (agama) ini.
.
Al-Imam Adz-Dzahabi juga berkata, dalam biografi Ibnu Aqil Al-Hanbali, ketika menukil ucapannya, beliau berkata, “Para ulama Hanbali ingin agar aku menjauhi sekelompok ulama, padahal itu menyebabkan aku luput dari sebagian ilmu”.
.
Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari ucapannya : “Para ulama melarangnya bergaul dengan Mu’tazilah namun dia enggan menerimanya. Akhirnya dia terjatuh dalam jerat mereka dan menjadi lancang dalam menakwil dalil-dalil. Kepada Allah sajalah kita memohon keselamatan”. (Ni’matul Ukhuwah hal. 21-25)
.
Setelah mengetahui banyak akibat buruknya bergaul dengan ahli bid’ah, maka sangat tepat apabila seorang muslim tidak bergaul dengan mereka karena khawatir akibat buruk yang di timbulkannya.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______________________________

Iklan