HUKUM MEMAKAN MAKANAN DARI ACARA BID’AH

HUKUM MEMAKAN MAKANAN DARI ACARA BID’AH

Islam adalah agama sempurna, Islam mengatur semua aspek kehidupan termasuk soal makanan.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (Q.S Al-Baqarah: 168).

Makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia bisa membentuk sifat dan karakter juga mempengaruhi moral dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasa’an mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram akan menjauhkan seseorang dari Allah Ta’ala, seperti malas beribadah dan tidak takut bermaksiat.

Maka pantaslah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan kembali makanan yang sudah dimakannya setelah mengetahui makanan tersebut diperoleh dari perbuatan munkar. Berikut riwayatnya,

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلاَمٌ يُخَرِّجُ لَهُ الخَرَاجَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ، فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ لَهُ الغُلاَمُ: أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَمَا أُحْسِنُ الكِهَانَةَ، إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ، فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ، فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ، فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ، فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ

“Adalah Abu Bakr memiliki seorang budak yang memberi setoran kepadanya, dan Abu Bakr makan dari setoran tersebut. Pada suatu hari, budak itu datang membawa sesuatu, dan Abu Bakr memakan (sesuatu) itu. Budak tersebut berkata kepadanya, ‘Tahukah engkau, apa ini?’ Abu Bakr balik bertanya, ‘Apa ini?’ (Budak) itu menjawab, ‘Dahulu, Saya melakukan perdukunan pada seseorang di masa jahiliyah. Saya sebenarnya tidak pandai melakukan perdukunan tersebut, tetapi Saya menipunya. Lalu, ia memberi (makanan) tersebut kepadaku, dan inilah makanan yang telah engkau makan.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya lalu memuntahkan seluruh isi perutnya“. (Riwayat Al-Bukhâry no. 3842).

Begitulah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sangat takut terhadap makanan yang dimakannya diperoleh dari perkara yang diharamkan dalam Islam, padahal makanan yang dimakan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu tersebut asalnya halal.

Memakan makanan dari acara yang diharamkan dalam Islam, seperti acara-acara bid’ah para Ulama mengharamkan untuk memakannya. Walaupun hukumnya asalnya makanan tersebut halal. Hal itu diharamkan karena mengambil makanan tersebut adalah bentuk pertolongan terhadap kegiatan itu. Dan dikhawatirkan bisa menjadikan orang yang memakannya menjadi lemah hatinya untuk mengingkari kemungkaran tersebut dan bisa menjadi syubhat bagi orang awam yang melihat atau mengetahuinya. Juga menjadi bahan olok-olokan ahli bid’ah.

Fatwa haram ini diantaranya difatwakan oleh Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi, Asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh dan Asy-Syaikh Abdurrahim Al-Bukhari sebagaimana pernah dikutip di majalah An-Nashihah.

Namun apabila seorang yang mengambil makanan atau harta dari acara bid’ah bahkan syirik bisa menjelaskan bahwa acara atau kegiatan itu diharamkan, sedang makanan atau harta tersebut bisa dimanfa’atkan maka tidak apa-apa mengambilnya.

Sebagaimana yang dijelaskan Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah, berdasarkan satu riwayat bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengambil harta yang dipersembahkan untuk al-laata (perbuatan syirik) untuk membayar hutang Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqofy dan juga karena hukum asalnya makanan tersebut halal [lihat ta’liq Syaikh Bin Baz rahimahullah pada Fathul Majid, hal. 152, bab 9 (Maa Jaa fi Dzabhi li ghairillah)].

Namun ada pengecualian sebagai berikut :

1. Makanan yang terbuat atau tercampur dengan sembelihan untuk selain Allah Ta’ala, haram untuk dimakan,

2. Upah pekerja’an haram seperti perdukunan dan lain-lain, juga haram dimakan.

Kedua jenis makanan ini haram secara mutlak.

Berikut ini beberapa fatwa Ulama tentang memakan makanan dari acara -acara bid’ah.

1. Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbâd Al-Badr berkata : “Yang wajib adalah mengingatkan mereka untuk menjauhi bid’ah-bid’ah dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Terhadap seorang manusia, (kita mengingatkan) agar tidak memakan makanan yang dibuat untuk perkara-perkara bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan.” [Pelajaran Sunan Abu Dawud, kaset no. 137].

2. Mufti Umum Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Âlu Asy-Syaikh berkata : “Wallahu a’lam, tentang acara-acara yang diselenggarakan untuk perkara-perkara bid’ah, tidaklah boleh memakan (makanan) pada (acara) tersebut karena makanan tersebut diletakkan di atas hal yang tidak disyariatkan“. (Risalah Ilmiyah An-Nashihah, vol. 09 Th. 1/1426 H/2005 M, hal. 2-3).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

Iklan