DILARANG SEMBARANGAN MENGAMBIL ILMU

DILARANG SEMBARANGAN MENGAMBIL ILMU

Pepatah Arab mengatakan :

العلم نور والجهل ضار

”Ilmu itu cahaya dan bodoh itu bahaya”.

Ilmu adalah penerang bagi manusia, dengan ilmu manusia bisa membedakan mana haq mana batil, mana sunnah mana bid’ah, mana yang tauhid mana yang syirik, mana yang baik mana yang buruk.

Sejatinya ketika manusia memiliki ilmu, maka akan menjadikan dirinya selamat bukan malah tersesat.

Apakah bisa kita rajin mencari ilmu, tapi malah justru menjadi tersesat ?

Tergantung dari mana kita mendapatkannya, apabila kita mengambil ilmu dari orang sesat, maka kita pun bisa terseret kesesatan. Maksud hati ke pulau impian tapi justru malah terdampar di pulau setan.

Mencari ilmu disyari’atkan dalam Islam. Sebagaimana syari’at Islam lainnya, mencari ilmu pun harus mengikuti tuntunan. Tidak ada satupun syari’at Islam yang tidak ada tuntunannya.

Dalam perkara mencari ilmu, Islam pun memberikan petunjuk, supaya para pencari ilmu tidak malah terjerumus kedalam lembah kegelapan.

Orang yang punya keinginan mendapatkan ilmu yang benar, harus waspada supaya tidak mengambil ilmu dari sembarang orang. Sehingga bukan menyelamatkan tapi justru malah mencelakakan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)”. (Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi).

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu ?” Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah)”. (Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246).

Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan : “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).

Hadits diatas menyebutkan, bahwa diantara tanda menjelang datangnya kiamat ialah diambilnya ilmu dari Ashaagir (الْأَصَاغِرِ). Yang di maksudkan Ashaagir (الْأَصَاغِرِ) yaitu ahli bid’ah. Sebagaimana yang diterangkan Imam Ibnul Mubarak diatas.

Mengambil ilmu dari ahli bid’ah akan menimbulkan banyak kerusakan ditengah-tengah umat, kemulia’an Islam ternodai juga perselisihan tidak kunjung reda. Karena bid’ah menimbulkan perpecahan diantara sesama umat Islam.

Mengambil ilmu dari ahli bid’ah menjadikan manusia tersesat, karena agama sebagai tuntunan yang seharusnya menjadi pedoman untuk meraih keselamatan, malah menyeret kedalam jurang kebinasa’an.

Maka pantaslah Ali bin Abi Thalib memperingatkan, supaya memperhatikan dari siapa ilmu itu didapat.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata :

اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ

“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama”. (Riwayat al Khaththib al Baghdadi di dalam al Kifayah, hlm. 121).

Seorang Sahabat yang lain yaitu Abdullah bin Mas’ud menyebutkan, ilmu yang datangnya dari ahli bid’ah, akan menjadikan umat bercerai-berai dan binasa.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ مِنْ أَكَابِرِهِمْ, فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ, وَ تَفَرَّقَتْ أَهْوَاءُهُمْ, هَلَكُوْا

“Manusia akan selalu berada di atas kebaikan, selama ilmu mereka datang dari para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika ilmu datang dari arah orang-orang kecil (ahli bid’ah) mereka, dan hawa-nafsu mereka bercerai-berai, mereka pasti binasa”. (Riwayat Imam Ibnul Mubarak di dalam az Zuhud, hlm. 281, hadits 815).

• Tuntunan para Ulama bagi penuntut ilmu

Para Ulama semenjak dahulu sampai hari ini, sudah memberikan bimbingan supaya tidak sembarangan dalam menuntut ilmu.

– Imam Malik rahimahullah berkata :

لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ : سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ, وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ, وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang : (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa’ (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicara’an-pembicara’annya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan”. (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 348).

– Syaikh Bakar Abu Zaid berkata : “Waspadalah terhadap Abu Jahal (bapak kebodohan), yaitu ahli bid’ah, yang tertimpa penyimpangan aqidah, diselimuti oleh awan khurafat, dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata “akal”. Dia menyimpang dari nash (wahyu), padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash ? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan ahlus syubuhat (orang-orang yang memiliki dan menebar kerancuan pemikiran) dan ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan ahli bid’ah dengan ash shaghir (anak-anak kecil)”. (Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid).

Syaikh Bakar Abu Zaid berkata : ”Wahai, penuntut ilmu. Jika engkau berada dalam kelonggaran dan memiliki pilihan, janganlah engkau mengambil (ilmu) dari ahli bid’ah, (yaitu) : seorang Rafidhah (Syi’ah), seorang Khawarij, seorang Murji’ah, seorang qadari (orang yang mengingkari takdir), seorang quburi (orang yang berlebihan mengagungkan kuburan), dan seterusnya, karena engkau tidak akan mencapai derajat orang yang benar aqidah agamanya, kokoh hubungannya dengan Allah, benar pandangannya, mengikuti atsar (jejak Salaf), kecuali dengan meninggalkan ahli bid’ah dan bid’ah mereka”. (Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 40).

– Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili hafizhahullah berkata : ”Sesungguhnya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in sesudah mereka telah memberikan bimbingan untuk mengambil ilmu dari orang yang ‘adil dan istiqamah. Mereka telah melarang mengambil ilmu dari orang yang zhalim dan menyimpang. Dan di antara orang yang menyimpang, yaitu para ahli bid’ah. Sesungguhnya mereka telah menyimpang dan menyeleweng dari agama dengan sebab bid’ah-bid’ah itu, maka tidak boleh mengambil ilmu dari mereka. Karena ilmu merupakan agama, dipelajari untuk diamalkan. Maka jika ilmu diambil dari ahli bid’ah, sedangkan ahli bid’ah tidak mendasarkan dan menetapkan masalah-masalah kecuali dengan bid’ah-bid’ah yang dia jadikan agama, sehingga ahli bid’ah itu akan mempengaruhi murid-muridnya secara ilmu dan amalan. Sehingga murid-murid itu akan tumbuh di atas bid’ah dan susah meninggalkan kebid’ahan setelah itu. Apalagi jika belajar dari ahli bid’ah itu pada masa kecil, maka pengaruhnya akan tetap dan tidak akan hilang selama hidupnya”. (Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, hlm 686, karya Syaikh Ibrahim ar Ruhaili).

Di sebutkan di dalam kitab Fatawa Aimmatil Muslimin, hlm 131, yang berisikan fatwa-fatwa sebagian ulama Mesir, Syam dan Maghrib mutaqaddimin : “Seluruh imam mujtahidin telah sepakat, bahwa tidak boleh mengambil ilmu dari ahli bid’ah”.

Itulah bimbingan para Ulama untuk para pencari ilmu, sehingga tidak sia-sia waktu yang diluangkan untuk belajar dan bisa mendapatkan ilmu yang benar dan beguna untuk keselamatan dunia akhirat. Aamiin.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

_____