AHLUL BID’AH MEMAKNAI AL-QUR’AN SESUKA HATI

AHLUL BID’AH MEMAKNAI AL-QUR’AN SESUKA HATI

Para pengikut hawa nafsu dalam memaknai al qur’an ataupun hadits, mereka maknai sesuka hati, dengan tujuan untuk membela dan membenarkan amalan-amalan batilnya.

Berikut ini dari sekian banyak tafsiran mereka yang menyimpang,

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

“Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” ? ? ? ?

Sampai sebegitu jauhnya mereka artikan lafazh Ayat, padahal itu adalah Firman Allah ta’ala yang tidak seharusnya di pelitir semena-mena.

Apakah ada Ulama salaf yang memiliki penafsiran seperti itu ? ? ?

Pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan menyebutkan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan dari air itu segala sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai pencipta’an manusia.

Sebagai bukti bahwa ayat 30 dari surat al Anbiyya ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat selanjutnya :

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”. (QS al Anbiyya : 31).

Sungguh fatal penafsiran mereka. Apakah belum sampai ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka ?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2874].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa mengatakan tentang al-Qur’an dgn akalnya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2875].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Barangsiapa mengatakan tentang Al Qur`an dgn pendapatnya, maka dia tetap salah walaupun pendapatnya benar”. [HR. Tirmidzi No.2875].

Kesalahan fatal penafsiran mereka adalah :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Berikut adalah detail ayatnya :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖوَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖأَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”.

Perhatikan keterangan Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist yang menerangkan bahwa segala sesuatu tercipta dari air.

Dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه وَقَالَ
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah, Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu. Beliau menjawab : “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.”

Ayat ini menerangkan bahwa segala yang hidup membutuhkan air atau pemelihara’an kehidupan segala sesuatu adalah dengan air.

Sitologi (Ilmu tentang susunan dan fungsi sel) misalnya, menyatakan bahwa air adalah komponen terpenting dlam pembentukan sel yang merupakan satuan banggunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Sedang biokimia menyatakan bahwa air adalah unsure yang sangat penting pada setiap interaksi dan perubahan yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Air berfungsi sebagai media, factor pembantu, bagian dari proses interaksi, atau bahkan hasil dari sebuah proses interaksi itu sendiri. Sedangkan fisiologi menyatakan bahwa air sangat dibutuhkan agar masing-masing organ dapat berfungsi dengan baik. Hilangnya fungsi itu akan berarti kematian.

Tafsir Jalalain

Menurut Tafsir Jalalain, apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu. Kemudian Allah telah menjadikan langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis pula. Kemudian langit itu dibuka sehingga dapat menurunkan hujan yang sebelumnya tidak dapat menurunkan hujan. Kami buka pula bumi itu sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, yang sebelumnya tidak dapat menumbuhkannya.

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya airlah yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap keesaan Allah. [Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008, hlm. 126-127]

Qatadah mengatakan: “Kami menciptakan setiap yang tumbuh dari air”. Maka setiap yang tumbuh itu ialah hewan dan tumbuhan. Sebagian kaum cendekia dewasa kini berpendapat bahwa setiap hewan pada mulanya diciptakan di laut. Maka seluruh jenis burung, binatang melata dan binatang darat itu berasal dari laut. Kemudian setelah melalui masa yang sangat panjang, hewan-hewan itu mempunyai karakter sebagai hewan darat, dan menjadi berjenis-jenis. Untuk membuktikan hal itu, mereka mempunyai banyak bukti.

Apakah mereka tidak beriman dengan jalan memikirkan dalil-dalil ini, sehingga mereka mengetahui Pencipta yang tidak ada sesuatu pun menyerupai-Nya, dan mereka meninggalkan jalan kemusyrikan.[5]

Jadi penafsiran mereka yang mengatakan :

“Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup”.

Sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah sperma, atau pencipta’an manusia dari sperma.

Maka Makna “Kulla” pada ayat 30 surat al anbiya tersebut artinya adalah : “Segala/ Setiap/ Semua” bukan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.

Dari berbagai sumber :

http://www.mutiarahadits.com/61/49/75/yang-menafsirkan-alquran-dengan-logikanya.htm

http://khansa.heck.in/kulla-syaiin-hayi.xhtml

___________________

“Setiap bid’ah adalah sesat . .”

Hadits inilah yang secara matia-matian ditolak oleh pembel bid’ah.. Sampai2 mereka membuat permisalan2 dari ayat maupun hadits lainnya. Misal.. Lafazh “Kulla” pada Surah Al Anbiyya ayat 30 :

“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

Yang diplintir “artinya” oleh sebagian pembela bid’ah menjadi : “Kami Ciptakan dari air Sperma, Sebagian Makluk Hidup”

SubhanAllah…, sampai sebegitu jauhnya mengartika lafazh Ayat, padahal hal itu adalah Firman Allah yang tidak seharusnya di pelitir artinya.

Berikut adalah detail ayatnya :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”

Kesalahan fatal para ahli bid’ah ADALAH :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Kesalahan fatal para ahli bid’ah ADALAH :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

وَقَالَ
الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء
” قَالَ قُلْت أَنْبِئْنِي عَنْ أَمْر إِذَا عَمِلْت بِهِ دَخَلْت
الْجَنَّة قَالَ ” أَفْشِ السَّلَام وَأَطْعِمْ الطَّعَام وَصِلْ
الْأَرْحَام وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاس نِيَام ثُمَّ اُدْخُلْ الْجَنَّة
بِسَلَامٍ”

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah : “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu .”Beliau menjawab, “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.” Aku bertanya, “Beritahu kami tentang sesuatu, jika aku mengerjakannya maka aku akan masuk surga”. Beliau bersabda. “Sampaikan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi (persaudaraan), dan bangunlah di tengah malam tatkala manusia sedang tidur, kemudian masuklah ke surga dengan damai.”

Jadi, pemahaman para ahli bid’ah sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah Sperma, atapun air..

Sebagai bukti bahwa ayat al Anbiyya ayat 30 ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya :

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (QS al An Biyya : 31)

Jadi Jika ayat

” وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

diartikan “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” maka pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan air itu segal sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai penciptaan manusia dari sperma.

Dan Makna “Kulla” masih tetap diartikan “Segala/Setiap/Semua” dan tidak bisa diartikan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.
Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

وَقَالَ
الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء
” قَالَ قُلْت أَنْبِئْنِي عَنْ أَمْر إِذَا عَمِلْت بِهِ دَخَلْت
الْجَنَّة قَالَ ” أَفْشِ السَّلَام وَأَطْعِمْ الطَّعَام وَصِلْ
الْأَرْحَام وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاس نِيَام ثُمَّ اُدْخُلْ الْجَنَّة
بِسَلَامٍ”

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah : “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu .”Beliau menjawab, “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.” Aku bertanya, “Beritahu kami tentang sesuatu, jika aku mengerjakannya maka aku akan masuk surga”. Beliau bersabda. “Sampaikan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi (persaudaraan), dan bangunlah di tengah malam tatkala manusia sedang tidur, kemudian masuklah ke surga dengan damai.”

Jadi, pemahaman para ahli bid’ah sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah Sperma, atapun air..

Sebagai bukti bahwa ayat al Anbiyya ayat 30 ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya :

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (QS al An Biyya : 31)

Jadi Jika ayat

” وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

diartikan “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” maka pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan air itu segal sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai penciptaan manusia dari sperma.

Dan Makna “Kulla” masih tetap diartikan “Segala/Setiap/Semua” dan tidak bisa diartikan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.

http://khansa.heck.in/kulla-syaiin-hayi.xhtml

_______________________