BID’AH YANG DILARANG ADALAH BID’AH DALAM URUSAN IBADAH

BID’AH YANG DILARANG ADALAH BID’AH DALAM URUSAN IBADAH

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . Hati-hatilah dari perkara yang di ada-adakan, karena sesungguhnya yang di ada-adakan itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat”. (HR.Muslim:no.867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).

• BID’AH YANG DILARANG ADALAH BID’AH DALAM URUSAN AGAMA

Maksud bid’ah yang Nabi peringatkan kepada umatnya adalah bid’ah dalam urusan AGAMA bukan bid’ah dalam urusan DUNIA.

Darimana kita bisa mengetahui bahwa yang Nabi maksudkan adalah bid’ah dalam urusan AGAMA ?

Jawabannya :

Kita harus melihat hadits-hadits Nabi yang lainnya, karena antara satu hadits dengan hadits yng lainnya saling menjelaskan.

Perhatikan hadist-hadist berikut ini :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

Artinya :

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam URUSAN KAMI ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan atau perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari,no.20).

Dari Thahir As-Shilfi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah sallalloohu alaihi wasallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka, janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan, hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam DIINULLAH (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham hal 50).

Perhatikan Kalimat íni :

فلا تحدث في دين الله حدثا برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam DIINULLAH (agama Allah), menurut pendapatmu sendiri”

Apabila kita perhatikan hadist-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjalasan dari lisan Rosululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri, bahwa yang di maksud dengan jangan berbuat bid’ah itu, adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH.

Perlu di ketahui, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di utus, bukan untuk mengurus perkara-perkara DUNIA, seperti bagaimana cara bertani, membuat senjata perang, cara menunggang kuda, membuat bangunan dll. Tapi Rasulullah hallallaahu ‘alaihi wasallam di utus, untuk mengurus perkara-perkara AGAMA (urusan ibadah) seperti, cara shalat, berdo’a, zakat, shalawat, mengurus jenzah dll.

Urusan DUNIA Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wasallam menyerahkan kepada Umatnya untuk mengaturnya, selama tidak melanggar syariat.

Kita perhatikan riwayat berikut ini :

Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara DUNIAWI, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila itu adalah perkara DUNIA, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara AGAMA, maka kembalikanlah kepadaku”. (HR. Ahmad.)

Juga hadits berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ كَانَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَشَأْنُكُمْ بِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أُمُورِ دِينِكُمْ فَإِلَيَّ – سنن ابن ماجه

Dari Aisyah, semoga Allah meridhainya, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Jika sesuatu itu termasuk urusan DUNIAMU, maka itu urusan kamu (kamu yang lebih mengetahuinya), tetapi jika termasuk urusan AGAMAMU maka harus kembalikan kepadaku.” (H.R. Ibn Majah 7:333 No 2462)

• URUSAN DUNIA DAN URUSAN IBADAH

Perlu kita ketahui bahwa aktifitas kita di dunia, terbagi menjadi dua bagian,

Pertama : Urusan IBADAH

Contohnya : Syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdo’a dll.

Ke dua : Urusan DUNIA

Contohnya : Makan, minum, naik kendara’an, nonton televisi, menggunakan internet, facebook, komputer, berolahraga dll.

Walaupun urusan DUNIA, misalnya mencari nafkah, berolah raga, bertani, facebookan, tapi kita akan mendapatkan pahala dan bernilai ibadah dimata Allah, apabila yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah. Untuk kemaslahatan diri, keluarga dan Umat.

Shahabat Rasulullah Ali bin Abi Tholib berkata :

حيتنا كلها عباده

“Hidup kita seluruhnya ibadah”.

Tapi sebaliknya, urusan IBADAH seperti shalat, dzikir, puasa dll, tidak akan berpahala, apabila niatnya tidak ikhlas karena Allah.

Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan ;

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه “- متفق عليه –

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya . . .”. (Muttafaq ‘alaihi)

• QA’IDAH-QA’IDAHNYA

Urusan DUNIAWI ataupun urusan AGAMA / IBADAH, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda.

Berikut qa’idah-qa’idahnya :

– Urusan DUNIA :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya :

“Asalnya urusan dunia halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

– Urusan IBADAH :

اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ الْبُطْلاَنُ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى اْلأَمْرِ.

Artinya :

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Kaidah-kaidah di atas perlu di pahami, sehingga tidak rancu dalam memahami bidah.

Jadi kalau ada yang mengatakan ; mobil pesawat, motor, hp, Internet, facebook, speker, jam sebagai BID’AH, maka nampak sekali, orang yang mengatakan demikian tidak faham urusan DUNIA dan urusan AGAMA dan kaidahnya masing-masing.

Wasallam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

——————–

Iklan