MEMAHAMI BID’AH

MEMAHAMI BID’AH

Bid’ah secara bahasa adalah :

مااخترع علي غيرمثال ثابق

“Apa-apa yang baru tanpa ada contoh sebelumnya”.

(Lihat : Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/43,Majma’ Al-Lugah Al-‘Arabiyah, Darud Dakwah, Syamilah).

Ibnu Sikkiet berkata :

اَلْبِدْعَةُ: كُلُّ مُحْدَثَةٍ.

“Bid’ah itu segala sesuatu yang baru”. (Lihat Tahdziebul Lughah, pada kata [بدع]).

Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidy berkata :

البَدْعُ: إِحْدَاثُ شَئْ ٍلَمْ يَكُنْ لَهُ مِنْ قَبْلُ خَلْقٌ وَلاَ ذِكْرٌ وَلاَ مَعْرِفَة
ٌ
“Al-Bad’u (bid’ah) ialah mengadakan sesuatu yang tidak pernah diciptakan, atau disebut, atau dikenal sebelumnya”. (Lihat Kitaabul ‘Ain, 2/54).

Segala perkara atau sesuatu yang baru, yang tidak ada sebelumnya, baik urusan dunia atau urusan agama, atau apapun yang baru, maka dinamakan bid’ah.

Adapun bid’ah yang Rasululloh sallallahu ‘alaihi wa sallam peringatkan kepada umatnya, sebagaimana dalam sebuah hadist :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
ٌ
“. . Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607).

Yang dimaksud Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, peringatkan kepada umatnya untuk hati-hati terhadap bid’ah, adalah bid’ah dlm urusan AGAMA atau IBADAH.

Sebagaimana Pakar Bahasa Al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata :

الحدث في الدين بعد الاكمال

“Suatu hal yang baru dalam masalah agama, setelah agama tersebut sempurna“.

(Lihat : Al-Qamus Al-Muhith hal. 702, Mu’assasah Risalah, Beirut, cet. VIII, 1426 H, Syamilah).

• BID’AH YANG DILARANG ADALAH BID’AH DALAM URUSAN AGAMA

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
ٌ
“. . Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Maksud bid’ah yang Nabi peringatkan kepada umatnya adalah bid’ah dalam urusan AGAMA atau IBADAH bukan bid’ah dalam urusan DUNIA.

Darimana kita bisa mengetahui bahwa yang Nabi maksudkan adalah bid’ah dalam urusan AGAMA atau IBADAH ?

Jawabannya :

Kita harus melihat hadits-hadits Nabi yang lainnya, karena antara satu hadits dengan hadits yang lainnya saling menjelaskan.
Perhatikan hadist-hadist berikut ini :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rasulullah lakukan / perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari, no. 20).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka, janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan, hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham hal 50).

Perhatikan Kalimat íni :

فلاتحدث في دين الله برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri”

Apabila kita perhatikan hadist-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjalasan dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, bahwa yang di maksud dengan jangan berbuat bid’ah itu, adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH.

Perlu di ketahui, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di utus, bukan untuk membimbing dan memberikan petunjuk terhadap umatnya terhadap perkara-perkara dunia, seperti bagaimana cara bertani, membuat senjata perang cara membangun rumah dll. Tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di utus, untuk mengurus perkara-perkara agama (urusan ibadah) seperti, cara shalat, berdo’a, zakat, shalawat, mengurus jenzah dll.

Urusan dunia Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan kepada umatnya untuk mengaturnya, selama tidak melanggar syariat.

Kita perhatikan riwayat berikut ini : Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara duniawi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىّ
َ
“Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad).

Urusan IBADAH ataupun urusan DUNIA, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda. Berikut penjelasannya,

Qa’idah urusan ibadah :

الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

Artinya : “Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yng memerintahkannya”

Adapun qa’idah urusan duniawi :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya : “Asalnya urusan dunia halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”

Setelah kita mengetahui urusan Ibadah dan urusan Duniawi dan kaidahnya masing-masing. Maka sangat keliru apabila ada orang yang berkata : ”Berarti pesawat terbang, facebook, televisi, hp, radio, pengeras suara, membangun sekolah, mobil berarti bidah, karena tidak ada di zaman Nabi ?

Perkata’an orang tersebut akibat tidak faham maksud bid’ah yang Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam peringatkan kepada umatnya.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

======