NABI PUN DAHULU DI TUDUH PEMECAH BELAH

NABI PUN DAHULU DI TUDUH PEMECAH BELAH
.
Seringkali orang yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni dan meninggalkan segala macam amalan-amalan bid’ah juga tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Islam sering dituduh sebagai pihak yang merusak kerukunan dan persatuan (pemecah belah) umat.
.
Tuduhan pemecah belah dan meruntuhkan persaudaraan itu, ternyata juga pernah dialamatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pada masa dahulu menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang benar yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan meninggalkan tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Tauhid.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh merusak persatuan dan pemecah belah bisa kita ketahui dari riwayat ketika masuk Islamnya kepala kabilah Daus yaitu Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi, yang satu kabilah dengan Abu Hurairah, seorang Sahabat Nabi yang terkenal. Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi adalah salah seorang pemuka bangsa Arab yang memiliki kedudukan tinggi. Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi juga dikenal sebagai seorang sastrawan cerdik lagi ulung.
.
Dalam sebuah riwayat di sebutkan, Ath-Thufail meninggalkan kampung halamannya di Tihamah menuju Mekah yang pada saat itu di Mekah sedang terjadi pertentangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang kafir Quraisy yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Ketika Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi sampai di Mekah, ia ditemui dan disambut dengan sangat baik dan disediakan tempat singgah yang terbagus oleh para pemuka dan pembesar bangsa Qurais.
.
Dan kepada Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi mereka berkata : “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah datang ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai Nabi itu telah mencela-cela urusan (peribadatan) kami DAN MEMECAH-BELAH PERSATUAN KAMI, SERTA MENCERAI-BERAIKAN PERSAUDARAAN KAMI. Kami khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinanmu atas kaummu. Oleh karena itu, jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan mendengar apa pun darinya, karena dia mempunyai kata-kata seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang istri dari suaminya”.
.
Itulah kata-kata yang disampaikan para pembesar kafir Qurais kepada Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi. Namun ternyata Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi malah tertarik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam.
.
Kalau kita perhatikan kata-kata para pembesar kafir Qurais yang merasa terusik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemecah belah persatuan dan mencerai beraikan persaudaraan tersebut, ternyata sama persis dengan tuduhan orang-orang yang menyimpang dan sesat sa’at ini yang merasa terusik amalan-amalan bid’ah mereka yang menuduh para penyeru umat untuk kembali kepada kemurnian Islam dan meninggalkan segalam macam bid’ah dalam urusan ibadah.
.
Mengapa para penyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni sa’at ini mendapatkan perlakuan dan tuduhan yang sama dengan yang didapatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
.
Jawabannya :
.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata : “Siapa saja yang mengikuti para Nabi, maka akan mendapatkan seperti yang didapat oleh para Nabi”.
.
Semoga kita berada dalam barisan para Nabi dan Rasul, bukan berada dalam barisan Abu Jahal dan Abu Lahab walaupun konsekuensinya mendapatkan tuduhan pemecah belah umat, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dahulu dituduh pemecah belah.
.
SIAPA SESUNGGUHNYA PEMECAH BELAH UMAT ?
.
Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak akan bisa dipersatukan. Padahal kiblat mereka sama, Nabinya sama yang di ibadahi juga sama, yaitu Allah Ta’ala.
.
Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih ?
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏
.
“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).
.
Yang dimaksud jalan-jalan lain dalam ayat diatas yaitu, macam-macam bid’ah dan syubhat. Sebagaimana diterangkan oleh Imam Mujahid rahimahullah dalam tafsirnya, Beliau berkata : “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).
.
Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).
.
Dari keterangan para Ulama diatas, maka jelaslah sesungguhnya terjadinya perselisihan sehingga umat terpecah belah dan saling bermusuhan adalah diakibatkan adanya orang-orang yang membuat bid’ah ditengah-tengah umat.
.
Apabila tidak ada yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah), maka niscaya umat Islam pun akan utuh dalam persatuan diatas kemurnian Islam berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
.
Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Umar bin Khatab, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/02-memahami-perkataan-umar-bin-khatab
.
_______________

Iklan

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kaum yang di murkai oleh Allah Ta’ala dan kaum yang sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala terangkan di dalam Al-Qur’an.
.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
.
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah: 7).
.
Yang dimaksud ayat di atas adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.
إن الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ وَإِنَّ الضَّالِّينَ النَّصَارَى
.
“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu adalah orang-orang Yahudi, dan sesungguhnya orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani”. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Fatihah, 7).
.
Dalam sejarah Islam di ketahui bahwa kaum Yahudi sangat memusuhi umat Islam, dan rasa permusuhan mereka Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
.
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS. Al-Maidah: 82).
.
Begitu pula kaum Nasrani, mereka memiliki rasa permusuhan dan perasa’an tidak senang terhadap umat Islam. Sikap mereka demikian Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah, 120).
.
Permusuhan dan makar kaum Yahudi dan juga kaum Nasrani begitu panjang tercatat dalam sejarah Islam. Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia untuk kembali mentauhidkan Allah Ta’ala, tidak henti-hentinya makar kaum Yahudi dan Nasrani ditujukan kepada kaum muslimin hingga sampai sa’at ini.
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani akan senang kepada umat Islam apabila kita mengikuti mereka, sebagaimana disebutkan dalam penghujung ayat di atas,
.
حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Hingga kamu mengikuti agama mereka”.
.
Mengikuti jejak langkah mereka maka sama artinya kita membenarkan kesesatan mereka, padahal karena kesesatan mereka itulah yang menjadikan mereka mendapatkan murka Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala juga mengancam kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka, tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongannya,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
.
“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 120).
.
Imam Ibnu Katsir terkait ayat di atas mengatakan, Di dalam ayat ini terkandung makna ancaman dan peringatan yang keras bagi umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar mereka jangan sekali-kali mengikuti jalan-jalan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, sesudah mereka mempunyai pengetahuan dari Al-Qur’an dan sunnah, na’uzubillah min zalik. Khitab ayat ini ditujukan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi perintahnya ditujukan kepada umatnya.
.
Allah Ta’ala mengancam tidak akan memberikan pertolongan dan bantuannya kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi dan Nasrani.
.
Namun ternyata banyak umat Islam yang tidak menghiraukan ancaman Allah Ta’ala tersebut. Banyak dari umat Islam yang secara tidak sadar telah mengikuti jejak langkah mereka. Mengikuti jejak langkah (agama) mereka bukan berarti kaum muslimin keluar (murtad) dari agama Islam, lalu masuk ke dalam agama mereka, namun pengertiannya adalah mengikuti perilaku mereka.
.
Berikut ini diantara beberapa perilaku kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam,
.
๏ Beribadah dengan alat musik
.
Dalam kitab “Perjanjian Lama” milik kaum Yahudi disebutkan, “Biarkan orang-orang zionis bergembira dengan kekuasan mereka. Hendaklah mereka memuji-Nya dengan bergoyang dan memukul rebana …Haliluyaa… pujilah Tuhan dalam kesuciannya. Pujilah Dia dengan gambus dan kecapi. Pujilah Dia dengan memukul rebana dan bergoyang. Pujilah Dia dengan gitar dan seruling. Pujilah Dia dengan berbagai warna sorak-sorai”. (Mazmûr, hlm. 149-150).
.
Cara-cara peribadahan kaum Yahudi di atas ternyata diikuti oleh kaum Sufi. Dalam ajaran sufi ada berbagai acara yang mereka anggap ibadah yang pelaksanaannya sama persis dengan cara beribadah orang-orang Yahudi yang kita sebutkan di atas. Ada acara bid’ah kaum Sufi yang disebut dengan zikir jamâ’i, duba’an, rajaban, manaqiban, salawatan dan maulidan.
.
Dalam acara-cara tersebut digunakan juga alat-alat pujian yang digunakan oleh orang-orang Yahudi dalam ibadah mereka. Seperti gambus, rebana, kadang-kadang dilengkapi dengan guitar dan seruling sambil berteriak-teriak dalam mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allâh Ta’âla dan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
.
Silakan dilihat peribadahan orang-orang Sufi yang mengikuti ajaran kaum Yahudi di bawah ini,
.
Tari Sufi full musik: https://youtu.be/u28vrj-zEh0
.
Tarekat hulahup kaum Sufi:

.
Tarekat disco ahli bid’ah : https://youtu.be/pYLvgnUcQFA
.
Dzikir model dangdutan kaum Sufi: https://youtu.be/rCRbHvDcRK8
.
Yahana vs Yahudi: https://youtu.be/OYGor7wlvIQ
.
๏ Menggoyang-goyangkan kepala ketika beribadah
.
Disebutkan, diantara sebab muasal penamaan pengikut nabi Musa ’alaihissalam dari orang-orang Bani Israil dinamakan Yahudi adalah karena kebiasaan mereka ketika membaca Taurat mengangguk-anggukkan kepala. Hal ini dapat kita saksikan sendiri bagaimana orang-orang Yahudi ketika beribadah di depan Dinding Ratapan (tempat ibadah mereka) yang terdapat di masjid Aqsha.
.
Abu Bakar Tharthûsy mengatakan : “Bergoyang dalam berzikir dan berusaha agar pingsan, yang pertama sekali melakukannya adalah pengikut Samiri ketika mengajak mereka untuk menyembah ‘Ijil (anak sapi). Mereka bergoyang-goyang disekelilingnya dan pura-pura pingsan. Maka ia adalah agama para penyembah ‘Ijil. Barangsiapa menyerupai mereka berarti mereka termasuk golongan mereka”. (Tahrîmus Samâ’, hlm. 269-270, Tafsîr Qurtubi,10/366, 11/238).
.
Perilaku kaum Yahudi yang menggoyang-goyangkan kepala sa’at ibadah juga diikuti oleh kaum Sufi. Kebanyakan kaum Sufi ketika berzikir kepalanya digoyang kekanan dan kekiri. Bahkan ada yang benar-benar bergoyang sambil berdiri seperti dalam acara-acara sepesial mereka. Perbuatan tersebut mereka anggap sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allâh Ta’âla.
.
Itulah perilaku sebagian dari umat Islam yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi.
.
Selain mengikuti jejak langkah kaum Yahudi, orang-orang Sufi juga mengikuti jejak langkah kaum Nasrani.
.
Berikut ini diantarannya,
.
๏ Tarbiyah Ruhiyah
.
Diantara ajaran kaum Nasrani yang di adopsi oleh orang-orang Sufi diantaranya adalah Tarbiyah Ruhiyah.
.
Dalam agama Nasrani tarbiyah ruhiyah dilakukan dengan beberapa bentuk. Mulai dari menghindari segala kenikmatan dunia, seperti tidak mengkosumsi sesuatu yang enak dan lezat, tidak memakai pakaian bagus, menjauhi pernikahan sampai pada tinggkat bersemedi di gua-gua. Sa’at mereka menganggap telah mencapai puncak kesucian jiwa, mereka meyakini bahwa Zat Allâh Ta’âla menyatu dengan diri mereka. Yang mereka sebut dengan istilah : Menyatunya Lahût dengan Nasût. Hal serupa juga ditiru oleh orang-orang sufi dalam mentarbiyah dirinya untuk mencapai tingkat hakikat.
.
Tokoh Sufi Abu Tolib al-Makki menyatakan, terdapat empat perkara yang dapat membantu murid melaksanakan pembersihan hati iaitu: Berlapar, berjaga malam, berdiam diri (tidak bercakap), dan bersunyian diri (Khalwat/Uzlah). [Qutul Qulub, 1/132].
.
๏ Tidak menikah
.
Ajaran kaum Nasrani lainnya yang di adopsi oleh sebagian kaum Sufi adalah tidak menikah dengan alasan agar lebih fokus beribadah demi mendapatkan surga.
.
Ajaran kaum Nasrani ini terdapat dalam Injil Matius fasal 19 ayat 12, yang berbunyi : “Ada orang yang tidak kawin,… ia membuat dirinya demikian karena keraja’an surga. Barangsiapa yang dapat melakukan maka hendaklah ia melakukannya”. Dalam surat Paulus kepada penduduk Karnitus fasal 7 ayat 1, berbunyi : “Sangat baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita”.
.
Berkata salah seorang tokoh sufi, Abu Sulaiman al-Darani : “Tiga perkara yang jika seseorang lakukan maka dia telah cenderung kepada dunia ; Mencari rezeki, menikah dan menulis hadits”. (Ihya’ Uludmuddin, 1/379).
.
Jika dibandingkan apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Sufi di atas dengan apa yang terdapat dalam ajaran Nasrani ternyata tidak jauh berbeda. Dan sebetulnya memang kaum Sufi mengikuti ajaran mereka.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam diantaranya, peringatan bid’ah Maulid Nabi, yaitu memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini sama dengan peraya’an Natal, yaitu peraya’an kelahiran Yesus Kristus.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti sebagian umat Islam adalah peringatan Kenaikan Isa Al Masih, Naiknya Tuhan Yesus Kristus ke langit. Sebagian umat Islam pun ada yang ikut-ikutan membuat peringatan seperti itu, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj, naiknya Nabi Muhammad ke langit.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang di ikuti sebagian umat Islam adalah peraya’an Tahun Baru Masehi, sebagian dari umat Islam pun ada yang membuat peraya’an bid’ah Tahun Baru Hijriyah.
.
Itulah beberapa perilaku sesat kaum Yahudi dan Nasrani yang di ikuti oleh sebagian umat Islam. Dan masih banyak lagi perilaku mereka yang diikuti.
.
Benarlah apa yang di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
.
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi ?”. (HR. Muslim no. 2669).
.
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.
.
Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa dalam shalat ketika membaca Al Fatihah kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 1: 65.
.
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini”. (Syarh Muslim, 16: 219).
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί (pecinta meong dan dan pengamat aliran menyimpang dan sesat).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam–sudah-sempurna/
.
.
________

SEGALA YANG BAIK SUDAH DI AJARKAN NABI

SEGALA YANG BAIK SUDAH DI AJARKAN NABI
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong.
.
Ahli bid’ah sepertinya tidak pernah merasa puas dengan amalan-amalan yang sudah di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka banyak membuat cara-cara baru dalam urusan ibadah (bid’ah) yang menurut hawa nafsu mereka baik.
.
Padahal seandainya mereka benar-benar mau mendapatkan kebaikan (pahala), seharusnya mencukupkan diri dengan yang sudah di ajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan semuanya.
.
Sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
.
إنَّهُ لَمْ يَكُن نَبِيٌّ قَبْلِي إلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
.
“Sungguh tidak ada satupun Nabi sebelumku, melainkan ia pasti menunjukkan (mengajarkan) kepada umatnya segala bentuk kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan umatnya dari segala macam keburukan yang ia ketahui”. (Shahih Muslim: 1844).
.
Hadits di atas sebagai petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa segala yang baik sudah di ajarkan kepada umatnya.
.
Seandainya ahli bid’ah faham dengan hadits Nabi di atas, maka seharusnya mereka tidak perlu lagi membuat-buat bid’ah yang akan menjadikan mereka tersesat dan mendapatkan adzab Allah Ta’ala di akhirat nanti.
.
Lalu untuk apa mereka berbuat bid’ah, perkara yang buruk, padahal segala yang baik sudah di ajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ?
.
Apakah ahli bid’ah sudah mengamalkan segala bentuk kebaikan yang di ajarkan Nabi, dan merasa masih kurang ?
.
Sehingga mereka membuat-buat lagi ajaran atau amalan-amalan baru yang tidak di contohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii/
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Umar bin Khatab silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/02-memahami-perkataan-umar-bin-khatab/
.
.
___________