MENGENAL ISTILAH SANAD

MENGENAL ISTILAH SANAD
.
Di dalam ilmu hadits ada sebuah istilah yang sangat populer, yaitu sanad.
.
Apa itu sanad ?
.
Sanad adalah silsilah para periwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Sanad / isnad merupakan kekhususan umat Islam. Al-Qur’an telah diriwayatkan kepada kita oleh para perawi dengan sanad yang mutawatir. Demikian pula telah sampai kepada kita hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang shahih. Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang ada pada kaum Nashrani dan Yahudi tanpa sanad yang bersambung dan shahih, sehingga sangat diragukan keabsahan kedua kitab tersebut.
.
Isnad hadits adalah silsilah para perawi yang meriwayatkan matan (sabda) hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Para ahli hadits telah memberikan kriteria yang ketat agar suatu hadits dinilai sebagai hadits yang shahih, mereka ketat dalam menilai para perawi hadits tersebut. Karenanya mereka (para ahli hadits) mendefinisikan hadits shahih dengan definisi berikut :
.
مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنْ مِثْلِهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ
.
“Yaitu hadits yang sanadnya bersambung dengan penukilan perawi yang ‘adil dan dhoobith (kuat hafalannya) dari yang semisalnya hingga kepuncaknya tanpa adanya syadz dan penyakit (‘illah)”
.
Yaitu para perawinya dari bawah hingga ke atas seluruhnya harus tsiqoh dan memiliki kredibilitas hafalan yang sempurna (lihat Nuzhatun Nadzor hal 58), serta sanad tersebut harus bersambung dan tidak ada ‘illahnya (penyakit) yang bisa merusak keshahihan suatu hadits.
.
Oleh karenanya dari sini nampaklah urgensinya pengecekan kevalidan isnad suatu hadits
.
Ibnu Siiriin berkata :
.
لَمْ يَكُوْنُوا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ
.
“Mereka dahulu tidak bertanya tentang isnad, akan tetapi tatkala terjadi fitnah maka mereka berkata : “Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian”, maka dilihatlah Ahlus sunnah dan diambilah periwayatan hadits mereka dan dilihatlah ahlul bid’ah maka tidak diambil periwayatan hadits mereka”
.
Perkataan Ibnu Siiriin rahimahullah ini dibawakan oleh Imam Muslim dalam muqoodimah shahihnya hal 15 di bawah sebuah bab yang berjudul :
.
بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ
.
“Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (menjelaskan aib) para perawi yang sesuai ada pada mereka diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembela’an terhadap syari’at yang mulia”.
.
• MENIRU NUR HASAN
.
Di masa lalu ada yang bernama Nur Hasan Ubaidah pendiri Islam Jama’ah yang ngaku-ngaku memiliki sanad yang mangkul sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Hasan Ubaidah mengatakan, bahwa orang yang Islamnya tidak bersanad (tidak mangkul) maka islamnya diragukan.
.
Prilaku Hasan Ubaidah yang dinyatakan sesat oleh para Ulama, ternyata sa’at ini jejak langkahnya ada yang meniru.
.
Kalau perkata’an Hasan Ubaidah di tujukan kepada semua umat Islam yang di luar jama’ahnya, kalau yang meniru Hasan Ubaidah di tujukan kepada mereka yang di sebut wahabi.
.
Orang-orang yang meniru Hasan Ubaidah berkata kepada yang mereka sebut wahabi ; Ulama wahabi tidak bersanad, Ulama wahabi ilmunya di ragukan, Ulama wahabi ilmunya dangkal, Fatwa mereka batil dan tertolak. Kira-kira seperti itu celotehan dan teriakan mereka.
.
Mereka sangat bersemangat sekali meneriakan kata-kata seperti itu. Mereka tidak sadar kalau prilakunya boleh meniru-niru dari seseorang yang sudah di sesatkan oleh para Ulama.
.
Sebenarnya, tuduhan mereka yang mengatakan wahabi tidak punya sanad, hanyalah cara-cara mereka yang di pakai sa’at terdesak atau bernafsu ingin memenangkan perdebatan.
.
Padahal cara-cara tersebut tidak pernah dilakukan oleh para ulama dari madzhab manapun. Tidak ada seorangpun dari para ulama madzhab yang pernah berkata : “Fatwa kamu tertolak karena kamu tidak bersanad !!”
.
Sering terjadi perdebatan diantara para ulama madzhab dalam masalah fikih, namun tidak seorangpun dari mereka ketika membantah yang lain dengan berdalih “Pendapat anda batil karena anda tidak bersanad !!!”
.
Para Ulama ahlus sunnah, ketika berdebat dengan para ahlul bid’ah dalam masalah aqidah maka para ulama ahlus sunnah membantah dengan cara menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sama sekali mereka tidak pernah berkata kepada Ahlul Bid’ah “Kalian di atas kebatilan karena tidak bersanad !!!”.
.
Syari’at Islam bersumber kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian juga ijmaa’ para ulama. Apabila terjadi perselisihan maka Allah memerintahkan kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
.
“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59).
.
Allah Ta’ala tidak pernah mengatakan “KEMBALILAH KALIAN KEPADA ORANG YANG BERSANAD”.
.
Diringkas dari:
https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/211-antara-habib-munzir-a-islam-jamaah
.
.
_____

PERINGATAN DARI RASULULLAH UNTUK TIDAK BERBUAT BID’AH

PERINGATAN DARI RASULULLAH UNTUK TIDAK BERBUAT BID’AH
.
Ada sebagian pihak yang mengatakan akhir-akhir ini ada orang atau kelompok yang suka membid’ah-bid’ahkan amalan-amalan orang lain.
.
Pernyata’an tersebut sangat keliru. Karena memperingatkan umat untuk tidak terjerumus kepada amalan-amalan atau ajaran yang di buat-buat (bid’ah), sejak awal di utusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah di peringatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang kemudian di peringatkan juga oleh para Sahabat dan juga oleh para Ulama sepanjang masa. Jadi memperingatkan umat untuk menjauhi bid’ah itu bukan akhir-akhir ini. Tapi sudah semenjak dahulu pada masa awal kenabian.
.
Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya dari bid’ah, bisa kita perhatikan di dalam beberapa riwayat berikut ini,
.
– Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkata’an adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Muslim no. 867).
.
Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,
.
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
.
“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).
.
– Riwayat lainnya dari Sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata, Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut). Lalu ada yang berkata,
.
يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا
.
Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami ?
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
– Pada kesempatan yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِه -ِ (رواه أبو داود وأحمد وغيرهما بسند حسن).
.
“Sesungguhnya ahli kitab telah berpecah menjadi 72 firqah. Dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 millah (pengikut hawa nafsu/bid’ah), mereka semua berada di Neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah. Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan. Hai sekalian bangsa Arab, demi Allah, kalau kalian saja tidak mau melaksanakan ajaran Nabimu, maka orang lain akan lebih tidak mau lagi”. (H.R. Abu Dawud no 4597, Ahmad dalam Musnadnya (4/102) no 17061 dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan).
.
Dari riwayat-riwayat yang disebutkan diatas menunjukkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak dari awalnya di utus kepada manusia sudah memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan amalan-amalan atau ajaran-ajaran yang tidak di syari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Maka apabila sa’at ini ada orang yang mengatakan akhir-akhir ini ada kelompok yang suka membid’ah-bid’ahkan amalan orang lain adalah keliru, juga menunjukkan apabila orang tersebut tidak mengetahui sejarah kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_____________________

BALASAN BAGI PARA PELAKU BID’AH

BALASAN BAGI PARA PELAKU BID’AH
.
Sungguh rugi di dunia dan di akhirat bagi para pelaku bid’ah. Di dunia rugi karena mereka melakukan amalan-amalan bid’ahnya tidak terlepas dari pengorbanan waktu dan tenaga bahkan biaya yang tidak sedikit yang mereka keluarkan untuk membiayai acara-acara bid’ah mereka. Padahal apabila biaya yang mereka keluarkan digunakan untuk membiayai syi’ar Islam yang di syari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka tentu saja mereka akan mendapatkan keuntungan berupa balasan pahala. Selain rugi di dunia, mereka juga akan mengalami kerugian di akhirat kelak, karena mereka telah melakukan kesesatan dalam agama. Mereka mendekatkan diri (taqorrub ilallah) dengan cara-cara yang tidak di syari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
.
Manusia yang berakal ketika beribadah kepada Allah Ta’ala yang di harapkan tentu saja adalah balasan pahala yang melimpah. Tidak ada orang yang beribadah menghendaki kesia-sia’an. Oleh karena itu hendaklah manusia beribadah sesuai dengan yang di syari’atkan. Tidak membuat-buat syari’at baru yang tidak di ajarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Karena apabila beribadah dengan cara-cara yang tidak di syari’atkan, maka bukan pahala yang akan di peroleh tapi justru akan mendapatkan kerugian. Amalan mereka para pelaku bid’ah akan tertolak. Sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan :
.
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
.
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak“. (H.R al-Bukhari dan Muslim).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
.
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak”. (H.R Muslim).
.
Dan lebih dari itu, selain amalan mereka di tolak juga akan mendapatkan adzab neraka sebagai akibat dari kesesatannya.
.
• Akibat Buruk dari Bid’ah
.
Dalam beberapa kesempatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya untuk tidak berbuat bid’ah. Karena bid’ah adalah kesesatan.
.
Diantara peringatannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Muslim no. 867).
.
Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dan melarang suatu perkara, kalau bukan perkara tersebut mendatangkan banyak keburukan. Dan berikut ini beberapa akibat buruk dari prilaku bid’ah berdasarkan keterangan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya,
.
1. Pelaku bid’ah akan mendapatkan laknat Allah Ta’ala.
.
Pelaku bid’ah yang dimaksud adalah mereka yang gemar melakukan kebid’ahan, bukan mereka yang tidak sengaja berbuat bid’ah. Maka balasan bagi mereka adalah laknat dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
.
مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
.
“Barangsiapa yang berbuat bid’ah atau melindungi/membantu pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat-Nya dan seluruh manusia”. (HR Bukhary,1870 dan Muslim, 1370).
.
Sungguh rugi para pelaku bid’ah, padahal mereka beribadah mengharapkan pahala, akan tetapi malah justru mendapatkan laknat.
.
2. Pelaku bid’ah akan semakin jauh dari Allah Ta’ala.
.
Tujuan dari ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala (taqorrub ilallah). Namun dengan berbuat bid’ah justru malah sebaliknya akan menjadikan jauh dari Allah Ta’ala.
.
Sebagaimana yang di riwayatkan dari Ayyub As-Sikhtiyani, salah seorang tokoh tabi’in, bahwa beliau mengatakan :
.
مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً – (حلية الأولياء، ج 1/ص 392).
.
“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah”. (Hilyatul Auliya’, 1/392).
.
3. Pelaku bid’ah terhalang untuk mendapatkan syafa’at.
.
Pada sa’at menghadapi beratnya keada’an di hari kiamat nanti, semua manusia membutuhkan syafa’at untuk menghilangkan penderita’an. Namun celaka bagi para pelaku bid’ah, mereka justru akan di usir dan tidak akan mendapatkan syafa’at.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام أَلَا وَإِنَّهُ سَيُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ – (متفق عليه).
.
“Sesungguhnya manusia pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim ‘alaihissalam. Ingatlah, bahwa nanti akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri, maka kutanyakan : Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku ? Akan tetapi jawabannya ialah : Kamu tidak tahu yang mereka ada-adakan sepeninggalmu”. (Muttafaq ‘Alaih).
.
4. Pelaku bid’ah akan menanggung dosa orang yang mengikutinya.
.
Kecelaka’an lainnya dari para pelaku bid’ah adalah di bebankannya kepada mereka sebagian dari dosa-dosa orang-orang yang di sesatkannya.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ
.
“(ucapan mereka) Menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan)”. (QS. An-Nahl: 25).
.
– Allah Ta’ala juga berfirman :
.
وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
.
“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan”. (QS. Al-Ankabut: 13).
.
Imam Mujahid berkata : “Mereka memikul beban-beban dosa mereka, dan dosa-dosa orang yang menta’ati mereka, dan hal itu tidak meringankan siksa terhadap orang yang menta’ati mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Ankabut: 13).
.
Ayat-ayat di atas di tujukan kepada orang-orang kafir namun hakekatnya di tujukan kepada siapapun secara umum. Yaitu mereka yang menyesatkan manusia, maka akan menanggung sebagian dari dosa-dosa orang-orang yang di sesatkannya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مثلُ آثَامِ مَنِ اتَّبَعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شيئًا
.
“Dan barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, dia akan mendapatkan dosanya semisal dengan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”. (HR. Muslim no 1017).
.
5. Pelaku bid’ah sangat sulit untuk bertaubat.
.
Masih beruntung bagi setiap manusia ketika melakukan perbuatan dosa kemudian menyadari dan bertaubat lalu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosanya. Namun ternyata para pelaku bid’ah mereka akan sangat sulit untuk bertaubat.
.
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
إِنَّ اللهَ حَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ – (رواه أبو الشيخ والطبراني والبيهقي وغيرهم).
.
“Sesungguhnya Allah mencegah setiap pelaku bid’ah dari taubat”. (H.R. Abu Syaikh dalam Tarikh Ashbahan, At Thabrani dalam Al Mu’jamul Ausath, Al Baihaqy dalam Syu’abul Iman dan lainnya).
.
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ – (رواه أبو داود وأحمد وغيرهما بسند حسن).
.
“Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan”. (H.R. Abu Dawud no 4597).
.
Para pelaku bid’ah di gambarkan dalam hadits di atas seperti anjing yang terkena penyakit rabies. Maksudnya sangat sulit anjing yang terkena penyakit rabies tersebut untuk di sembuhkan.
.
– Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah (w. 161 H) berkata :
.
اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا
.
“Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan. Dan pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya, sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya”. (Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, no. 238).
.
Sulitnya para pelaku bid’ah untuk bertaubat, dan kemudian meninggalkan amalan-amalan atau acara-acara bid’ahnya, karena mereka meyakini bahwa bid’ah-bid’ah yang di lakukannya sebagai amal ibadah.
.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata : “Ahlul bid’ah tidak akan bertaubat selama ia menilai bahwa itu merupakan amalan yang baik. Karena taubat berpijak dari adanya kesadaran bahwa perbuatan yang dilakukan itu buruk. Sehingga dengan itu ia bisa bertaubat darinya. Jadi, selama perbuatan itu dianggap baik padahal pada hakikatnya jelek, maka ia tidak akan bertaubat dari perbuatan tersebut. Akan tetapi taubat adalah sesuatu yang mungkin (dilakukan) dan terjadi, yaitu jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan bimbingan kepadanya hingga ia dapat mengetahui kebenaran”. (At Tuhfatul Iraqiyyah, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah).
.
Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata : ”Rujuknya ahli bid’ah dari kesesatannya adalah hal yang paling sulit bagi mereka, karena mereka menganggap bahwa bid’ah yang mereka lakukan adalah bagian dari agama, mereka bertaqarrub kepada Allah dengan bid’ah tersebut. Ini yang mendorong mereka sulit bertaubat, menentang dan bahkan sombong”. (Fadhilatus Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali-Twit Ulama).
.
Bagaimana para pelaku bid’ah punya keinginan untuk bertaubat, sementara bid’ah-bid’ah yang di lakukannya di yakini sebagai ibadah.
.
Bukankah taubat itu berawal dari kesadaran, bahwa apa yang dilakukannya sebagai perbuatan dosa ?, sementara para pelaku bid’ah memandang segala rupa bid’ah yang di lakukannya sebagai amal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
.
6. Pelaku bid’ah akan di usir dari telaga Al-Haud pada hari kiamat.
.
Pada hari kiamat manusia akan di giring dan di kumpulkan di Mauqif (Padang mahsyar). Sa’at itu manusia mengalami penderita’an yang berat sesuai dengan amal buruk yang mereka lakukan di dunia. Pada sa’at itu Allah Ta’ala menyediakan telaga (Al-Haudh) kepada setiap para Nabi supaya umatnya bisa minum dari setia telaga tersebut untuk menghilangkan penderita’an mereka.
.
Telaga yang diperuntukkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam airnya lebih putih daripada susu, lebih manis dari madu, lebih harum daripada minyak kesturi, panjang dan lebarnya sejauh perjalanan sebulan, bejana-bejananya seindah dan sebanyak bintang di langit. Maka kaum Mukminin dari ummat beliau akan meminum seteguk air dari Al-Haudh (telaga) ini, maka ia tidak akan merasa haus lagi setelah itu selamanya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا
.
“Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dibandingkan minyak misik. Bejananya bagaikan bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan pernah merasa dahaga selamanya”. (HR. Bukhari no: 7579 dan Muslim no: 2292).
.
Itulah telaga (Al-Haud) yang di peruntukkan untuk umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata tidak semua umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat minum di telaga tersebut. Ada sebagian dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang justru akan di usir supaya menjauh. Diantara mereka yang di usir adalah para pelaku bid’ah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا – (رواه مسلم وابن ماجه وأحمد)
.
“Aku akan mendahului kalian menuju telaga. Sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya onta yang kesasar. Aku memanggil mereka : “Hai datanglah kemari…!” namun dikatakan kepadaku : “Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu”. Maka kataku : “Menjauhlah kesana… menjauhlah kesana (kalau begitu)”. (HR. Muslim no 249, Ibnu Majah no 4306).
.
Begitulah keada’an mereka para pelaku bid’ah di Padang Mahsyar. Sa’at mereka menderita menahan dahaga dan ketika hendak minum dari Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka di halau seperti unta.
.
5. Pelaku bid’ah dikhawatirkan akan mati dalam keada’an Suu’ul Khatimah.
.
Ketika seorang manusia tutup usia, sangat penting baginya mati dalam keada’an baik (khusnul khotimah). Dan apabila sebaliknya, yaitu mati dalam keada’an buruk, sedang bermaksiat kepada Allah Ta’ala (suu’ul khotimah) maka kecelaka’an yang akan menimpa baginya.
.
Para pelaku bid’ah adalah orang-orang yang bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Mereka seolah-olah merasa tidak puas dengan syari’at yang sudah di tetapkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, padahal agama Islam sudah sempurna. Sehingga mereka membuat cara-cara baru dalam ibadah yang tidak pernah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan. Dan mereka menganggap segala macam yang mereka ada-adakannya sebagai bentuk sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala (taqorrub ilallah). Maka sangat dikhawatirkan bagi mereka mati dalam keada’an sedang bermaksiat (suu’ul khotimah) yaitu menyelisihi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
.
6. Wajah pelaku bid’ah akan menghitam di hari kiamat.
.
Wajah umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di hari kiamat akan putih berseri-seri. Namun tidak demikian dengan wajah para pelaku bid’ah, wajah mereka hitam legam.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
.
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula yang hitam muram”. (QS. Ali ‘Imran: 106).
.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,
.
يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةَ، حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالُفُرُقَة -ِ {تفسير ابن كثير – (ج 2 / ص 92)}.
.
“Yaitu : hari kiamat, ketika wajah ahlussunnah wal jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah hitam legam”. (Tafsir Ibnu Katsier, 2/92. Oleh Abul Fida’ Ibnu Katsier, tahqiq: DR. Sami Muhammad Salamah, cet.2, th. 1420/1999, Daarut Taybah).
.
7. Pelaku bid’ah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekafiran
.
Para ulama dari dahulu sampai sa’at ini berbeda pendapat tentang kafir tidaknya sejumlah firqah ahlul bid’ah, seperti khawarij, qadariyyah dan yang lainnya. Hal ini didukung oleh dhahir ayat yang berbunyi :
.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
.
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”. (QS. Al An’am: 159).
.
Diantara mereka ada yang jelas-jelas mengkafirkan firqah bid’ah tertentu seperti batiniyyah dan yang lainnya. Jika ada ulama yang berselisih tentang suatu perkara, apakah ia dihukumi kafir atau tidak ? Tentunya setiap orang yang berakal akan merinding untuk ditempatkan di persimpangan yang sarat marabahaya seperti ini. Siapa yang rela kalau ada orang yang mengatakan kepadanya : “Sesungguhnya para ulama berselisih pendapat mengenaimu; apakah kamu telah kafir, atau sekedar sesat ?” Atau yang mengatakan : “Sesungguhnya ada sebagian ulama yang mengkafirkan kamu dan menganggap darahmu halal…?!” tentunya tak seorang pun mau dikatakan seperti itu. (Mukhtasar Al I’tisham, hal 38).
.
Itulah beberapa akibat buruk dari melakukan kebid’ahan. Alangkah berat dan menghinakan balasan yang akan diperoleh oleh para pelaku bid’ah, sungguh sudah selayaknya mereka renungkan amalan dan acara-acara bid’ah yang selalu mereka kerjakan. Cukuplah dengan syari’at yang sudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Karena tidak ada satupun cara yang akan bisa menyampaikan menuju surga melainkan semuanya sudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya.
.
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (HR. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir 1647).
.
Semoga bermanfa’at.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
___________________

NASEHAT EMAS BUYA HAMKA UNTUK PARA PEJUANG SUNNAH

NASEHAT EMAS BUYA HAMKA UNTUK PARA PEJUANG SUNNAH
.
Berjuanglah terus, wahai mubaligh menegakkan citamu, dan serahkanlah dirimu kepada Tuhan.
.
Terhadap sesama pemeluk Islam, ambillah satu sikap yang paling baik.
.
Jika engkau dipandang musuh, pandanglah mereka kawan.
.
Jika engkau dihina, muliakan mereka !
.
Jika engkau diinjak, angkat mereka ke atas agar sampai tersundak ke langit.
.
Adapun kemuliaan yang sejati hanyalah pada siapa yang lebih takwa kepada Allah !
.
Oleh karena itu, ketika orang-orang berebut keuntungan duniawi, mari kita merebut takwa !
.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 78, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
.
.
_____________

TEGURAN RASULULLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG DALAM IBADAH

TEGURAN RASULULLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG DALAM IBADAH
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong.
.
Sesungguhnya ibadah itu di bangun di atas petunjuk Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya dan juga sunnahnya para Sahabat Nabi generasi terbaik umat.
.
Ibadah bukan di bangun di atas prasangka baik dan tujuannya baik. Betapa banyak manusia semenjak dahulu sampai sa’at ini, mereka bersemangat mengamalkan ajaran-ajaran baru (bid’ah), amalan-amalan yang di buat-buat (muhdats) dengan tujuan taqorrub Ilallah untuk mendapatkan pahala yang melimpah. Namun ternyata kesesatan yang di lakoninya.
.
Orang yang menyelisihi sunnah dan orang-orang yang hendak berlebih-lebihan dalam ibadah dengan tujuan taqorrub Ilallah ternyata sudah ada pada zamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ternyata Rasulullah mengingkari dan menegurnya.
.
Berikut ini pengingkaran Rasulullah terhadap para Sahabatnya yang menyelisihi sunnah.
.
1. Teguran Rasulullah kepada orang yang hendak shalat tahajjud sepanjang malam, puasa sepanjang tahun dan tidak akan menikah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
.
“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
.
فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا
.
Setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka.
.
Mereka berkata,
.
وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟
.
“Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang ?”
.
Salah seorang dari mereka berkata,
.
أَمَّا أَنَا، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا،
.
“Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan tidak akan berbuka”. Dan yang lainnya berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”.
.
فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ : ”أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ
.
Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendatangi mereka dan berkata, “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa.
.
َلَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
.
“Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”. (HR. Bukhari no.5063).
.
Dalam hadits di atas ketiga orang Sahabat berniat untuk mengerjakan amal ibadah sebanyak-banyaknya, karena merasa ibadah mereka sangat jauh di banding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata niat baik mereka mendapatkan teguran dari Rasulullah.
.
Tujuan mereka baik, hendak beribadah sebanyak-banyaknya.
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai dan menegurnya ?
.
Permasalahannya, walaupun tujuannya hendak ibadah sebanyak-banyaknya, ikhlas karena Allah. Namun apabila tidak ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya, maka perbuatan tersebut sebagai kemaksiatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan tersebut adalah kesesatan. Sehingga Rasulullah mengingkari, menegur dan mencelanya.
.
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui seorang Sahabatnya mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang di ajarkan kepadanya.
.
Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :
.
قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah (berdo’a) :
.
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ
.
“Ya Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”.
.
Nabi berkata :
.
فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ
.
“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah do’a ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”.
.
Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :
.
فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
.
“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata, “Dan aku beriman kepada RASUL-MU yang Engkau utus”
.
Nabi berkata, “Tidak”, (bukan begitu), (tapi ucapkan) “Dan aku beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”. (HR Al-Bukhari no 6311).
.
Perhatikan baik-baik riwayat di atas ! !
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan ucapan Al-Baroo’ bin ‘Aazib yang mengatakan, “Dan aku beriman kepada RASUL-MU yang Engkau utus”.
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan ucapan Al-Baroo’ bin ‘Aazib ?
.
Permas’alahannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya mengajarkan kepada Al-Baroo’ bin ‘Aazib dengan perkata’an “Dan aku beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”.
.
Dalam riwayat di atas kita mendapatkan pelajaran dari Rasulullah bahwa menyelisihi apa yang sudah Nabi ajarkan, walaupun sedikit saja, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tidak menyukainya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya.
.
3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Utsman bin Madz’uun yang tidak akan menikah karena ingin memperbanyak ibadah.
.
Di riwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur seorang Sahabatnya Utsman bin Madz’uun yang tidak akan menikah karena ingin memperbanyak ibadah.
.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi sallam pun berkata kepadanya :
.
يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا, أَفَمَا لَكَ فِيَ أُسْوَةٌ ؟ فَوَاللهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ للهِ, وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُوْدِهِ
.
“Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Rohbaniyah tidaklah di syariatkan kepada kita. Tidakkah aku menjadi teladan bagimu ?. Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan akulah yang paling menjaga batasan-batasan-Nya”. (HR Ibnu Hibban, Ahmad, dan At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir).
.
Riwayat di atas menunjukkan bahwa, walaupun tujuannya baik hendak memperbanyak ibadah, akan tetapi di lakukan dengan cara menyelisihi sunnah Nabi, maka bukanlah perkara yang di ridhoi Allah dan Rasul-Nya.
.
4. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata, orang-orang mengangkat suara tatkala berdo’a, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلى أنْفُسكُمْ إنَّكُمْ لَيسَ تَدْ عُونَ أصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إنّكُم تَدْ عُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا
.
“Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang bisu atau yang tidak ada. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru Maha Mendengar lagi Maha Dekat”. (HR al-Bukhâri, no. 4205).
.
Riwayat di atas mengandung tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana cara berdo’a yang benar. Juga merupakan cela’an kepada orang-orang yang berdo’a namun tidak sesuai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Pada sa’at ini sebagian orang berdo’a bukan saja di lantunkan dengan suara keras tapi juga dengan di nyanyikan.
.
5. Abu Musa Al Asy’ari berkata,
.
ﻟَﻤَّﺎ ﻏَﺰَﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺧَﻴْﺒَﺮَ ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻤَّﺎ ﺗَﻮَﺟَّﻪَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺷْﺮَﻑَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺍﺩٍ ﻓَﺮَﻓَﻌُﻮﺍ ﺃَﺻْﻮَﺍﺗَﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﺭْﺑَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺃَﺻَﻢَّ ﻭَﻟَﺎ ﻏَﺎﺋِﺒًﺎ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﻗَﺮِﻳﺒًﺎ
.
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yang tidak ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat”. (HR Muslim, no. 2704).
.
Riwayat di atas juga merupakan teguran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang yang punya semangat taqorrub ilallah namun tidak dengan cara yang benar.
.
Itulah beberapa riwayat pengingkaran dan teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya yang punya niat baik hendak memperbanyak ibadah akan tetapi Rasulullah tidak mengajarkannya, maka niat baik mereka bukanlah di pandang sebagai amal salih. Tapi sebagai kesesatan.
.
Lalu bagaimana dengan mereka yang mudah sekali membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), apakah mereka yakin bid’ah-bid’ah yang mereka buat dan amalkan di ridhoi Allah dan Rasul-Nya ?
.
Perhatikan teguran Rasulullah kepada Al-Baroo’ bin ‘Aazib di atas. Padahal Al-Baroo’ bin ‘Aazib menyelisihi sunnah Nabi hanya sedikit. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang banyak melakukan amal ibadah namun amalannya banyak menyelisihi Nabi, apakah mereka di akhirat kelak tidak akan mendapatkan teguran dari Allah dan Rasul-Nya ?
.
Semoga bermanfa’at.
.
Ingatlah tekad Iblis yang akan menyesatkan manusia semuanya !
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
.
”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, . .” (QS. Al Hijr : 39).
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
__________________

BID’AH SULIT DI BENDUNG, KARENA BANYAK ORANG CARI MAKAN

BID’AH SULIT DI BENDUNG, KARENA BANYAK ORANG CARI MAKAN
.
Diantara penyebab sulit di bendungnya penyimpangan dalam agama (bid’ah), karena ada hubungannya dengan urusan perut. Hal ini di terangkan oleh Buya Hamka dalam tulisannya.
.
Berikut tulisan Buya Hamka,
.
KARENA CARI MAKAN
.
Setan masuk ke segala pintu menurut tingkat orang yang dimasuki. Kebanyakannya karena mencari makanan pengisi perut.
.
Paling akhir Setan berusaha supaya orang mengatakan terhadap Allah apa yang tidak mereka ketahui.
.
Setan pun dapat menyelundup ke dalam suasana keagamaan sehingga lama-kelamaan orang berani menambah agama,
.
Mengatakan peraturan Allah, padahal bukan dari Allah, mengatakan agama, padahal bukan agama.
.
Lama-lama orang pun telah merasa itulah dia agama.
.
Asalnya soal makanan juga.
.
Demikian pintarnya Setan sehingga kalau ada orang yang berani menegur, mereka yang menegur itulah yang akan dituduh Kaum Muda (Wahabi, pen) yang mengubah-ubah agama dan membongkar-bongkar masalah khilafiyah.
.
(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 309, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
.
https://osimilikiti.blogspot.co.id/2016/10/buya-hamka-tentang-wahabi.html?m=1
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______________

WAJIB MEMPERINGATKAN PARA PELAKU BID’AH

WAJIB MEMPERINGATKAN PARA PELAKU BID’AH

Buya Hamka menulis :

Dalam Islam mungkin saja terjadi hal-hal tambahan seperti itu. Tidak berasal dari Al-Qur’an, tidak dituntunkan oleh Sunnah Rasul.

Menjadi kebiasaan kemudian, tak tahu lagi dari mana asal-usulnya.

Kalau ada orang yang datang di belakang menegurnya, marahlah orang yang telah biasa berpegang dengan yang lama itu.

Oleh sebab itu, menjadi kewajibanlah bagi ahli-ahli agama mengadakan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap perbuatan mengada-ada yang berkenaan dengan ibadah itu.

(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 399, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).

________________

JADILAH PENOLONG AGAMA ALLAH

JADILAH PENOLONG AGAMA ALLAH
.
Allah memerintahkan kita supaya menolong agama-Nya. ’Menolong Allah’ bukan berarti Allah Ta’ala lemah dan butuh pertolongan manusia.
.
Al Qurthubi mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang menolong agama dan nabi-Nya. (al Jami’ li Ahkamil Qur’an juz XII hal 386).
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
.
”Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya. Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid : 25).
.
Tatkala berbicara tentang “Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” Kemudian Allah melanjutkannya dengan menjelaskan makna pertolongan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menolong manhaj dan da’wah-Nya, adapun Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah membutuhkan pertolongan dari mereka. “Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (Fii Zhilalil Qur’an juz VI hal 4395).
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
.
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40).
.
Sesungguhnya Allah tidaklah membutuhkan pertolongan sedikit pun dari hambanya. Karena Dia maha kuat. Akan tetapi Allah hendak menguji dari hambanya mana yang layak untuk mendapatkan pertolongannya.
.
Menolong agama Allah diantara maksudnya adalah, memurnikan risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari para pelaku penyimpangan dan penyesat umat. Membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjauhkan umat dari kesyirikan, bid’ah, khurafat dan tradisi-tradisi nenek moyang (jahiliyah) yang tidak sesuai dengan syari’at Islam.
.
Memang sulit dan besar aral rintangan yang akan dihadapi para pengemban dakwah dalam menyampaikan kebenaran karena besarnya permusuhan, perlawanan dan kecaman dari mereka yang merasa terusik amalan-amalan dan kepercaya’an batilnya. Tapi sebagaimana Allah sebutkan bahwa Allah ta’ala akan memberikan pertolongan dan meneguhkan kedudukan orang-orang yang istiqomah dalam membela agama Allah.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
.
”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad: 7).
.
.
با رك الله فيكم
.
By: Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________

KEMBALIKAN KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

KEMBALIKAN KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

Tidak ada ujungnya perselisihan di tengah-tengah umat Islam dari dahulu hingga sa’at ini seolah-olah kaum muslimin tidak punya pedoman yang bisa menyatukan mereka. Padahal Islam sudah memberikan tuntunan untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Terlalu banyak firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam yang memerintahkan kita untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah”. (QS. Asy Syura: 10).

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى

”Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123).

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar-Rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian”. (HR. Abu Daud 4607).

Ayat-ayat Al-Qur’an juga hadits Nabi diatas menerangkan dengan jelas, bahwa apabila ada perselisihan diantara umat Islam untuk mengembalikannya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Maka sudah selayaknya umat Islam menghentikan pertikaian yang mengakibatkan mereka saling bermusuhan. Dan mengembalikannya setiap ada perselisihan kepada Qur’an dan Sunnah. Bukan kepada madzhab manapun atau kepada siapapun selain Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala sebutkan dalam Firmannya di atas, barangsiapa mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya apabila ada perselisihan, maka hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya,

ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Dan sebagai jaminan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya kepada mereka yang mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka tidak akan sesat dan celaka.

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى

”Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123).

Kita ikuti pendapat siapapun apabila sesuai dengan keterangan dari Allah dan Rasul-Nya. Dan kita tinggalkan pendapat atau keterangan dari manapun apabila bertentangan dengan Allah dan Rasul-Nya.

با رك الله فيكم

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________