UMAT ISLAM AKAN TERPECAH KEDALAM BANYAK GOLONGAN

UMAT ISLAM AKAN TERPECAH KEDALAM BANYAK GOLONGAN
.
Sungguh disesalkan perpecahan terjadi diantara kaum muslimin yang menjadikan umat Islam saling bermusuhan antara satu golongan dengan golongan yang lainnya, dan masing-masing golongan merasa paling benar. Selain itu setiap golongan juga saling membanggakan golongannya masing-masing. Hal ini memang sudah Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya :
.
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (٥٣) فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ (٥٤)
.
“Kemudian mereka (pengikut para rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”. (QS. Al-Mu’minun: 53-54).
.
“Sampai suatu waktu”. Yakni sampai kepada batas waktu mereka di binasakan. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Mu’minun: 54).
.
Akan terpecahnya umat Islam kepada banyak firqoh sesungguhnya sudah di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
.
“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al-Jama’ah”. (HR. Abu Daud 4597).
.
Yang di maksud Al-Jama’ah, silahkan lihat di sini, https://agussantosa39.wordpress.com/category/06-ahlu-sunnah/11-memahami-arti-jamaah-secara-luas/
.
Perpecahan diantara umat Islam sesungguhnya menodai kehormatan agama Islam sebagai agama yang mulia, agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan persaudara’an. Padahal umat Islam menghadapi berbagai macam problamatika sosial. Dan dampak buruk lainya dari perpecahan adalah lemahnya kaum muslimin dalam menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu membuat makar untuk menghancurkan Islam dan umatnya.
.
Karena perpecahan diantara umat Islam itu berdampak buruk, maka umat Islam semestinya segera sadar akan ruginya akibat dari perpecahan. Bukankah perpecahan itu dilarang oleh Allah Ta’ala, sebagaimana di sebutkan dalam firmannya :
.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. (QS. Ali Imran: 103).
.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan“. (Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran: 103).
.
Imam Al Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini : “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasa’an dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan”. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159).
.
Imam Asy-Syaukani berkata tentang tafsir ayat ini : “Allah memerintahkan mereka bersatu di atas landasan agama Islam, atau kepada Al Qur’an. Dan melarang mereka dari perpecahan yang muncul akibat perselisihan di dalam agama”. (Fahul Qadir 1/367).
.
Tidaklah Allah Ta’ala melarang umat Islam berpecah belah, kalau tidak perpecahan itu berdampak buruk terhadap Islam sebagai agama yang sempurna dan umat Islam sebagai penganutnya.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
.
Solusi untuk menyatukan umat Islam silahkan baca di sini, https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-ikhtilaf-iftiraq/12-solusi-untuk-menyatukan-perpecahan-diantara-umat/
.
Ada sebagian pihak yang mendhaifkan hadits akan terpecahnya umat Islam. Bantahannya silahkan kunjungi di sini, https://almanhaj.or.id/453-kedudukan-hadits-tujuh-puluh-tiga-golongan-umat-islam.html
.
.
————————

KAMI DENGAR DAN KAMI TA’AT

KAMI DENGAR DAN KAMI TA’AT
.
Sifat seorang muslim yang benar, ketika mendengar perintah atau larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah, “Sami’na wa atho’na”, kami dengar dan kami ta’at.
.
Tidak perlu untuk mengamalkan perintah atau larangan Allah dan Rasul-Nya, sebelumnya terlebih dahulu mencari tahu tujuan dan maksudnya dari perintah atau larangan tersebut, baru kemudian di amalkan.
.
Namun bukan berarti pula kita di larang untuk mengetahui hikmah dari perintah atau larangan Allah dan Rasul-Nya. Apabila kita bisa mengetahuinya maka tidak di larang bahkan bisa menjadi baik apabila akan menambah keimanan kita terhadap syari’at Islam.
.
Yang di larang adalah mencari tahu terlebih dahulu tujuan dan maksud dari perintah atau larangan tersebut baru kemudian mau mengamalkan atau meninggalkannya.
.
Sebagai contoh sikap seorang muslim terhadap perintah Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh cecak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ
.
“Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua”. (HR. Muslim, no. 2240).
.
Dari Ummu Syarik radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
.
عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ: كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda: “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam”. (HR. Bukhari, no. 3359).
.
Imam Nawawi berkata : Dalam satu riwayat di sebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keada’annya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211).
.
Dalam hadits di atas umat Islam di perintahkan untuk membunuh cecak. Bahkan di sebutkan dalam hadits tersebut akan mendapatkan 100 kebaikan apabila kita bisa membunuhnya.
.
Menyikapi hadits tersebut, bagi seorang muslim tidak perlu mencari tahu terlebih dahulu maksud dari perintah itu, kemudian mau mengamalkannya apabila sudah mengetahui maksudnya.
.
Bukan berarti juga di larang untuk mengetahui maksudnya, karena sudah pasti di balik perintah tersebut ada hikmahnya. Hanya karena keterbatasan ilmu dan pikiran sehingga kita tidak bisa mengetahui hikmah di balik perintah tersebut.
.
Adapun hikmah di balik perintah membunuh cecak adalah, ternyata di ketahui di dalam kotoran binatang pemangsa nyamuk tersebut mengandung bakteri berbahaya yaitu Bakteri Escherichia Coli atau E Coli.
.
E Coli dikenal sebagai mikroba yang bisa menimbulkan keracunan dan sakit perut. Dan konon selain kotoran cicak yang mengandung E-Coli dapat membahayakan kesehatan tubuh, kabarnya juga menurut informasi yang belum di teliti kebenarannya, kotoran cecak dapat menembus plastik hingga tembus. Juga menurut sebuah sumber menyebutkan bahwa kotoran cicak mampu merusak layar handphone.
.
Itulah diantara hikmahnya perintah membunuh cecak yang ternyata kotoran hewan tersebut berbahaya bagi kesehatan tubuh.
.
Sikap seorang muslim yang benar, walaupun tidak mengetahui hikmahnya di balik perintah tersebut, tidak perlu mencari tahu apa maksudnya perintah itu, kemudian mau mengamalkannya. Sikap yang benar adalah “Sami’na wa atho’na”, kami mendengar dan kami mematuhinya.
.
Contoh lainnya sikap seorang muslim terhadap larangan Rasulullah duduk dengan meletakkan tangan kiri di belakang dan dijadikan sandaran atau tumpuan.
.
Syirrid bin Suwaid radhiyallahu ‘anhu berkata,
.
مَرَّ بِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِىَ الْيُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِى وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِى فَقَالَ «أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ».
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu Nabi bersabda : “Adakah engkau duduk seperti duduknya orang-orang yang dimurkai ?” (HR. Abu Daud no. 4848)
.
Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai dalam hadits tersebut adalah orang-orang Yahudi sebagaimana kata Imam Ath-Thibiy.
.
Sedangkan penulis ‘Aunul Ma’bud berkata bahwa yang dimaksud dimurkai di sini lebih umum, baik orang kafir, orang fajir (gemar maksiat), orang sombong, orang yang ujub dari cara duduk, jalan mereka dan semacamnya. (‘Aunul Ma’bud, 13: 135).
.
Dalam Iqthido’ Shirotil Mustaqim, Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits ini berisi larangan duduk seperti yang disebutkan karena duduk seperti ini dilaknat, termasuk duduk orang yang mendapatkan adzab. Hadits ini juga bermakna agar kita menjauhi jalan orang-orang semacam itu”.
.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, duduk seperti ini terlarang di dalam dan di luar shalat. Bentuknya adalah duduk dengan bersandar pada tangan kiri yang dekat dengan bokong. Demikian cara duduknya dan tekstual hadits dapat dipahami bahwa duduk seperti itu adalah duduk yang terlarang. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 25: 161).
.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Riyadhus Sholihin, “Duduk dengan bersandar pada tangan kiri di sifatkan dengan duduk orang yang dimurkai Allah. Adapun meletakkan kedua tangan di belakang badan lalu bersandar pada keduanya, maka tidaklah masalah. Juga ketika tangan kanan yang jadi sandaran, maka tidak mengapa. Yang dikatakan duduk dimurkai sebagaimana di sifati Nabi adalah duduk dengan menjadikan tangan kiri di belakang badan dan tangan kiri tadi diletakkan di lantai dan jadi sandaran. Inilah duduk yang dimurkai sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan”.
.
Sebagian Ulama menyatakan, bahwa duduk semacam ini dikatakan makruh (tidak haram). Namun hal ini kurang tepat. Syaikh ‘Abdul Al ‘Abbad berkata, “Makruh dapat di maknakan juga haram. Dan kadang makruh juga berarti makruh tanzih (tidak sampai haram). Akan tetapi dalam hadits di sifati duduk semacam ini adalah duduk orang yang di murkai, maka ini sudah jelas menunjukkan haramnya”. (Syarh Sunan Abi Daud, 28: 49).
.
Mungkin ada yang bertanya, Apa masalahnya duduk seperti itu dilarang ?
.
Maka jawabnya, sebagaimana di sebutkan pada hadits tersebut bahwa duduk semacam itu adalah duduknya orang-orang yang dimurkai Allah.
.
Itulah beberapa hadits yang bisa menimbulkan pertanya’an bagi orang yang mendengarnya.
.
Sikap seorang muslim yang benar ketika mendapatkan perintah dari Allah dan Rasul-Nya adalah “Sami’na wa atho’na”, kami mendengar dan kami ta’at. Tidak di benarkan seorang muslim mencari-cari tahu apa maksudnya dari perintah atau larangan Allah dan Rasul-Nya tersebut kemudian baru mau mengamalkannya.
.
Hendaklah takut dengan ancaman Allah Ta’ala, sebagaimana Firmannya :
.
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
.
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa coba’an atau ditimpa azab yang pedih”. (QS. An-Nur: 63).
.
Ibnu Katsir berkata, “Khawatirlah dan takutlah bagi siapa saja yang menyelisihi syari’at Rasul secara lahir dan batin karena niscaya ia akan tertimpa fitnah berupa kekufuran, kemunafikan atau perbuatan bid’ah”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 281).
.
Perlu di ketahui bahwa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak di ucapkan berdasarkan hawa nafsu. Tapi berdasarkan wahyu dari Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala berfirman,
.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (٤)
.
“Dan tidaklah yang di ucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya)”. (QS. An Najm: 3-4).
.
Maka sikap seorang muslim yang benar, ketika mendapatkan perintah Allah dan Rasul-Nya tidak perlu mempertanyakan tujuan dan maksudnya dari perintah atau larangan tersebut. Tapi hendaklah “Sami’na wa atho’na”, kami mendengar dan kami ta’at.
.
Tambahan :
.
Apakah Tokek juga termasuk Cecak ?
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk membunuh hewan yang disebut sebagai wazagh.
.
Ada dua masalah dalam hal ini :
.
Pertama : Masalah cara penerjemahannya dari hewan wazagh ini, yang kadang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai cecak, dan kadang diterjemahkan sebagai tokek. Para ulama berbeda pendapat dalam menterjemahkannya.

Kedua : Apa maksue di balik perintah untuk membunuh wazagh ini.
.
Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk membunuh hewan ini ?
.
Sementara secara umum kita dilarang membunuh hewan tanpa alasan yang pasti. Disini para ulama memang berbeda pendapat.
.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa cicak / tokek termasuk hewan kecil yang mengganggu”. (Syarh Shahih Muslim, jilid 14 hal 236).
.
Al-Munawi mengatakan bahwa Allah memerintahkan untuk membunuh cicak / tokek karena hewan itu memiliki sifat yang jelek, yaitu konon dahulu hewan inilah yang meniup-niup api yang membakar Ibrahim sehingga menjadi besar”. (Faidhul Qadir, jilid 6 hal 193).
.
Makna Wazagh yang sebenarnya apakah Cecak atau Tokek ?
.
Tokek dalam bahasa Arab disebut dengan kata Saamm Abrash. Binatang ini masih satu famili dengan cicak. Sedangkan cecak dalam bahasa Arab disebut dengan sihliyah (سحلية).
.
makna wazagh (وَزَغ), sebagian kalangan menterjemahkannya sebagai cecak, namun sebagian lagi menterjemahkan sebagai tokek.
.
Lalu mana yang benar, apakah yang dimaksud itu cecak, tokek atau memang keduanya ?
.
Sebagian Ulama menganggap tokek dan cicak masih satu jenis, sehingga hukum tokek sama dengan hukum cicak, yaitu haram. Imam Nawawi berkata, bahwa menurut ahli bahasa Arab, cicak (al-wazagh) masih satu jenis dengan tokek (saam abrash), karena tokek adalah cicak besar. (Al-Imam An-Nawawi, Syarah Muslim, jilid 7 hal. 406).
.
Pengarang kitab Aunul Ma’bud menerangkan bahwa, “Cicak itu ialah binatang yang dapat disebut juga tokek”. (Aunul Ma’bud, jilid 11 hal. 294).
.
Imam Syaukani berkata bahwa tokek adalah salah satu jenis cicak dan merupakan cicak besar. (Asy-Syaukani, Nailul Authar, jilid12 hal. 487).
.
Syihabuddin Asy-Syafii dalam kitabnya, At-Tibyan limaa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayaman, mengatakan bahwa berdasarkan penjelasan di atas, hukum haramnya cicak dapat juga diterapkan pada tokek, karena cicak dan tokek dianggap satu jenis. Maka tokek pun hukumnya haram. (Syihabuddin Asy-Syafii, At-Tibyan limaa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayaman, hal. 116).
.
Pendapat Ulama yang berbeda mengatakan bahwa yang diharamkan itu tokek dan bukan cecak. Sebab makna wazagh lebih lebih tepat diartikan sebagai tokek dan bukan cecak. Bahasa Arabnya cecak adalah sihliyah (سحلية).
.
Wallahu a’lam bishshawab
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_________________

LAKNAT ALLAH BAGI PELAKU BID’AH

LAKNAT ALLAH BAGI PELAKU BID’AH
.
Keburukan akibat dari melakukan kebid’ahan ternyata sangat besar. Betapa tidak, laknat Allah Ta’ala penguasa alam semesta di timpakan kepada mereka para pelaku bid’ah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
.
“Barangsiapa yang berbuat bid’ah atau melindungi/membantu pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat-Nya dan seluruh manusia”. (HR Bukhary,1870 dan Muslim, 1370).
.
Sungguh sangat tercela para pelaku bid’ah, karena bid’ah agama Islam ternoda kemurniannya. Seandainya tidak ada para Ulama yang mengingkari bid’ah, maka agama Islam bisa punah sebagaimana agama-agama terdahulu yang di bawa para Rasul.
.
Sebagaimana yang dikatakan Dr. Yusuf Qardhawi dalam Kitabnya As Sunnah wal Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi berkata : ”Apabila bid’ah dapat dibenarkan dalam Islam maka bukan tidak mungkin bila kemudian Islam akan menjadi agama yang sama dengan agama-agama sebelumnya, yang ahli-ahli agamanya menambahkan hal-hal baru dalam agamanya dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya agama tersebut berubah sama sekali dari yang aslinya”.
.
Perpecahan dan permusuhan sepanjang masa diantara sesama umat Islam bahkan sampai terjadi pertumpahan darah juga karena timbulnya kebid’ahan di tengah-tengah umat. Sebagaimana di sebutkan oleh Imam Asy-Syatibi (720-790 H) rahimahullaahu ta’ala yang berkata : “SEMUA BUKTI DAN DALIL INI MENUNJUKKAN BAHWA MUNCULNYA PERPECAHAN DAN PERMUSUHAN ADALAH KETIKA MUNCULNYA KEBID’AHAN”. (Al- I’tisham,I/157).
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏
.
“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).
.
Yang dimaksud jalan-jalan lain dalam ayat diatas yang akan mencerai beraikan umat dari jalan Allah yaitu, MACAM-MACAM BID’AH DAN SYUBHAT. Sebagaimana di terangkan oleh Imam Mujahid (21-102 H) rahimahullah dalam tafsirnya, Beliau berkata : “JALAN-JALAN DENGAN ANEKA MACAM BID’AH DAN SYUBHAT”. (Jami’ul Bayan V/88).
.
Itulah diantara keburukan yang di timbulkan dari kebid’ahan. Maka sudah sepantasnya apabila Allah Ta’ala para Malaikat dan seluruh manusia melaknat para pelaku bid’ah sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_____________

ALLAH MENOLAK IBADAH PARA PELAKU BID’AH

ALLAH MENOLAK IBADAH PARA PELAKU BID’AH
.
Sungguh kerugian teramat besar bagi para pelaku bid’ah baik di dunia maupun di akhirat kelak.
.
Kerugian mereka di dunia bisa kita saksikan, pengorbanan waktu dan juga tidak sedikit biaya yang mereka keluarkan untuk mendanai acara-acara bid’ahnya. Padahal apabila waktu dan uangnya mereka gunakan untuk amal saleh yang sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka jelas mereka akan mendapatkan balasan pahala yang melimpah.
.
Sebagai orang yang berakal, tentu saja setiap manusia tidak menginginkan mengalami kerugian dalam segala urusan. Begitu pula halnya dalam urusan ibadah. Bukankah segala aktifitas amal ibadah yang kita persembahkan sudah pasti kita berharap mendapatkan balasan pahala.
.
Tapi alangkah ruginya bagi para pelaku bid’ah, karena segala rupa amal ibadah yang mereka kerjakan ternyata di tolak Allah Ta’ala.
.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلاَ صَلاَةً وَلاَ صَدَقَةً وَلاَ حَجًّا وَلاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَلاَ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ الْعَجِين
.
“Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah, tidak menerima shalatnya, tidak menerima shadaqahnya, tidak menerima hajinya, tidak menerima umrahnya, tidak menerima jihadnya, tidak menerima taubatnya, dan tidak menerima tebusannya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung”.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :
.
أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ
.
“Allah tidak akan menerima amal perbuatan bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya”.
.
Apabila segala macam amal ibadah para pelaku bid’ah di tolak oleh Allah Ta’ala, lalu apa yang akan mereka dapatkan dari hasil ibadahnya ?
.
Bukankah karena amal ibadah manusia itu bisa masuk surganya Allah Ta’ala ?
.
Sungguh kerugian yang sangat besar yang mereka dapatkan dari bid’ah-bid’ah yang mereka kerjakan. Padahal segala rupa kebid’ahan yang mereka lakukan tidak terlepas dari pengorbanan.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________________

PENGINGKARAN PARA SAHABAT KEPADA BID’AH

PENGINGKARAN PARA SAHABAT KEPADA BID’AH
.
Para Sahabat Nabi adalah generasi terbaik umat, mereka adalah orang-orang yang paling baik paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi.
.
Para Sahabat sebagai generasi terbaik umat di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Para Sahabat sebagai generasi terbaik umat dan paling memahami ajaran Islam, maka tentu saja para Sahabat tidak akan pernah mendiamkan sekecil apapun dan dengan alasan apapun terjadi penyimpangan dalam agama.
.
• Perkata’an para Sahabat tentang bid’ah
.
Perkara bid’ah, tentu saja mendapatkan perhatian dari para Sahabat. Karena para Sahabat sangat mengetahui dampak buruk dari bid’ah. Berikut peringatan para Sahabat tentang bid’ah,
.
– Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
إِنَّ أَصْدَقَ القيل قيل الله و إِنَّ أَصْدَقَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّد و إِنَّ شَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، ألا و إِنَّ كل مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sesungguhnya perkata’an yang paling benar adalah firman Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasalam dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu (tempatnya di neraka)”. (Dikeluarkan oleh Ibnul Wudhah dalam al Bida’, hal. 31 dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100 [1/84]).
.
– Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah dan istiqomah, ikutilah (Sunnah Nabi) jangan berbuat bid’ah”. (diriwayatkan oleh ad-Daarimi).
.
– Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
اتبَّعِوُا وَلاَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Berittiba’lah kamu kepada Rasululloh dan janganlah berbuat bid’ah (perkara baru dalam agama), karena sesungguhnya agama ini telah di jadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”. (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan Al Laalikaa’iy, no. 104 [1/86]).
.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga berkata :
.
الْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
.
“Sederhana di dalam Sunnah lebih baik dibandingkan bersungguh-sungguh di dalam bid’ah”. (riwayat al-Hakim).
.
Maksudnya, sedikit amalan namun di atas Sunnah (sesuai bimbingan Nabi) lebih baik dibandingkan banyak beramal dan bersungguh-sungguh, namun di atas kebid’ahan.
.
– Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
كلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
.
“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya baik (hasanah)”. (Al Ibaanah, no. 205 (1/339) Al Laalikaa’iy, no. 126 [1/92]).
.
– Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
فَإِياَّكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلَالَة
.
“Berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah sesat”. (Hilyatul Awliyaa’ [1/233]).
.
– Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فلاَ تَتَعَبَّدُوْا بِهَا؛ فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخِرِ مَقَالا؛ فَاتَّقُوا اللهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ، خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
.
“Setiap ibadah yang tidak pernah diamalkan oleh para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, janganlah kalian beribadah dengannya. Karena generasi pertama tak menyisakan komentar bagi yang belakangan. Maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai para pembaca al-Qur’an (orang-orang alim dan yang suka beribadah) dan ikutilah jalan orang-orang sebelummu”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah).
.
Selain memperingatkan kesesatannya bid’ah, para Sahabat juga mengingkari orang-orang yang melakukan kebid’ahan. Ada beberapa atsar para Sahabat yang menunjukkan pengingkaran mereka kepada orang-orang yang melakukan kebid’ahan.
.
1. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma
.
Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah was salaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahtera’an bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was salaamu ‘alaa Rasuulillah”. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal”. (At-Tirmidzi, no. 2738).
.
Seorang laki-laki dalam riwayat di atas bersin kemudian mengucapkan, “Alhamdulillah” lalu menambahkan lafadz shalawat “Wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah”.
.
Penambahan lafadz “Shalawat” setelah mengucapkan “Alhamdulillah” yang di lakukan laki-laki tersebut ternyata mendapatkan teguran dari Ibnu Umar. Ibnu Umar kemudian mengajarkan kepada lelaki tersebut ucapan ketika bersin yang sesuai dengan yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu ucapan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal”.
.
Kenapa Ibnu Umar menegurnya, bukankah tambahan “shalawat” yang diucapkan seorang lelaki tersebut baik ?
.
Begitulah sikap para Sahabat selalu berhati-hati terhadap perkara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
2. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
.
Imaam Ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad dari al-Hakam bin al-Mubarak dari ‘Amr bin Yahya dari ayahnya dari datuknya (Amr bin Salamah) meriwayatkan, Abu Musa Al As’ari radhiyallahu ‘anhu, di riwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka,
.
كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ: هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً
.
“Bertakbirlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertakbir seratus kali (menghitung dengan kerikil). Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahlil” seratus kali” Dan mereka pun bertahlil seratus kali, kemudian syaikh itu berkata lagi, “bertasbih seratus kali”, lalu mereka pun bertasbih seratus kali.
.
– Ibnu Mas’ud bertanya :
.
فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟َ
.
Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?
.
– Abu Musa menjawab :
.
مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ
.
Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan.
.
– Ibnu Mas’ud berkata :
.
أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم
.
Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan.
.
ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ
.
Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu.
.
– Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka :
.
فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟
.
Benda apa yang kalian pergunakan ini ?
.
– Mereka menjawab :
.
قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ
.
Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya
.
– Ibnu Mas’ud berkata :
.
فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ
.
Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun.
.
وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ !
.
Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan.
.
هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَر
.
Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak.
.
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ
.
Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”
.
– Mereka menjawab :
.
. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
.
Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan.
.
– Ibnu Mas’ud menjawab :
.
وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ
.
Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya.
.
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ،
.
Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami : “Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya”. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian di antara kalian.
.
Itulah teguran Ibnu Mas’ud kepada orang-orang yang beribadah tidak sesuai dengan yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Dan ternyata sebagian dari mereka yang di tegur oleh Ibnu Mas’ud di ketahui bergabung dengan kelompok sesat khawarij, sebagaimana di sebutkan oleh Umar bin Salamah,
.
رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ
.
Kami melihat sebagian besar dari orang-orang yang ikut dalam halaqah itu adalah orang yang menyerang kami dalam Perang Nahrawaan yang bergabung bersama orang-orang khawarij.
.
Mengapa Ibnu Mas’ud menegur orang-orang yang sedang berdzikir, Bukankah dzikir itu baik ?
.
Yang jadi permas’alahan, model dzikir yang mereka lakukan tersebut tidak di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Ibnu Mas’ud pun menegur mereka.
.
3. Sa’id bin Musayyib (Tabi’in)
.
Pengingkaran terhadap penyimpangan dalam ibadah, juga di lakukan oleh generasi Tabi’in.
.
Sa’id bin Musayyib melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).
.
Shalat adalah amalan yang utama, tetapi ternyata apabila dilakukan menyelisihi sunnah Nabi, tidak ada tuntutannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah yang di ingkari dan ditegur oleh Sa’id bin Musayyib.
.
Itulah beberapa atsar para Sahabat dan Tabi’in yang mengingkari orang-orang yang menyelisihi Sunnah Nabi. Lalu bagaimana sekiranya para Sahabat menyaksikan sa’at ini begitu maraknya penyimpangan dalam agama. Bahkan penyimpangannya sa’at ini jauh melebihi dari yang di lakukan oleh orang-orang yang di tegur oleh para Sahabat di atas.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
Ada pihak yang mendha’ifkan riwayat Ibnu Mas’ud di atas. Bantahannya silahkan kunjungi blog di bawah ini: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/hadits-riwayat-ibnu-masud-yang-melarang.html?m=1
.
.
______

TIDAK ADA KE IMANAN BAGI ORANG YANG MEMBIARKAN KEBID’AHAN

.
TIDAK ADA KEIMANAN BAGI ORANG YANG MEMBIARKAN KEBID’AHAN
.
By : Abu Meong
.
Setiap para Nabi diutus kepada umatnya, Allah Ta’ala memberikan pendamping kepada para Nabi tersebut para sahabat setianya. Merekalah orang-orang yang membela para Nabi dari gangguan dan permusuhan orang-orang yang menentang dan memeranginya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
مَا مِنْ نَبيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أمَّةٍ قَبْلِي إلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأصْحَابٌ يَأخُذُونَ بِسنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لا يُؤْمَرونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلسَانِهِ فَهُوَ مُؤمِنٌ, وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلبِهِ فَهُوَ مُؤمِنٌ، وَلَيسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ
.
“Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali ia memiliki para pengikut dan sahabat yang setia, yang mengikuti ajarannya dan mematuhi perintahnya. Kemudian datang setelah mereka itu suatu generasi yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa memerangi mereka dengan tangannya, maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan lisannya maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya maka dia itu orang yang beriman. Setelah itu, tidak ada keimanan walau hanya sebesar biji sawipun”. (Hr. Muslim).
.
Sahabat setia para Nabi adalah orang-orang yang paling mengerti ajaran yang dibawa para Nabi. Mereka mengamalkan ajaran agama sesuai dengan yang mereka dapatkan dari Nabi, tanpa menambah-nambah ataupun mengurangi. Dan mereka juga tidak membuat-buat ajaran baru selain yang sudah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
.
Namun setelah generasi para sahabat Nabi, selanjutnya muncul orang-orang yang merubah-rubah dan membuat-buat ajaran baru dalam agama. Mengajarkan yang tidak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan. Sehingga agama yang dibawa para Nabi mengalami distorsi, menyimpang dan hilang kemurnianya.
.
Prilaku orang-orang sesat terdahulu yang merubah-rubah ajaran agama dan juga membuat-buat ajaran baru yang tidak Nabi ajarkan, ternyata juga diikuti oleh sebagian dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun membuat-buat ajaran yang tidak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan. Sikap mereka yang mengikuti prilaku umat terdahulu yang sesat memang sudah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ. فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ
.
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi ?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi ?“. (Hr. Bukhari, no. 7319).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ, قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ: فَمَنْ
.
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi ?”. (Hr. Muslim, no. 2669).
.
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan BERBAGAI PENYIMPANGAN, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi sa’at ini”. (Syarh Muslim, 16: 219).
.
Orang-orang sesat terdahulu yang menambah-nambah dan membuat-buat ajaran baru yang tidak Nabi mereka ajarkan, mereka seolah-olah tidak merasa cukup dengan syari’at yang sudah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetapkan, padahal setiap agama yang dibawa para Nabi sudah mencukupi untuk dijadikan pedoman hidup bagi mereka.
.
Begitu pula sebagian dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membuat-buat ajaran baru yang tidak Allah dan Rasul-Nya ajarkan (bid’ah), seolah-olah mereka menganggap agama Islam masih ada yang kurang. Padahal agama Islam sudah sempurna. Dan kesempurna’an Islam Allah Ta’ala sebutkan dalam Firmannya,
.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. (Qs. Al-Maidah: 3).
.
Kesempurna’an Islam disebutkan juga oleh Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (Hr. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir, 1647).
.
Kesempurna Islam sebagaimana di Firmankan Allah Ta’ala dan juga Rasul-Nya, maka tidaklah diperlukan lagi adanya penambahan-penambahan atau mengada-adakan hal-hal yang baru berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran yang menganggap apa saja yang baik itu boleh saja dilakukan dalam agama meskipun tidak pernah diperintahkan, dilakukan atau pernah disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Islam telah sempurna, artinya tidak lagi memerlukan tambahan-tambahan dan pengurangan sedikitpun meskipun sekecil apapun dan alasan apapun.
.
Apapun alasannya, membuat-buat ajaran baru yang tidak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan, meskipun dianggap baik adalah suatu perkara besar yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan menjadikan segala amal ibadah yang dilakulan para pelaku bid’ah tertolak. Sebagaimana di sabadakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلاَ صَلاَةً وَلاَ صَدَقَةً وَلاَ حَجًّا وَلاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَلاَ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ الْعَجِين
.
“Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah, tidak menerima shalatnya, tidak menerima shadaqahnya, tidak menerima hajinya, tidak menerima umrahnya, tidak menerima jihadnya, tidak menerima taubatnya, dan tidak menerima tebusannya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung”.
.
Selain segala amal ibadah para pelaku bid’ah tertolak, juga menjadikan mereka semakin jauh dari Allah Ta’ala. Sebagaimana dikatakan oleh seorang Tabi’in
.
مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً
.
“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah”. (Hilyatul Auliya’, 1/392).
.
Dan para pelaku bid’ah juga mendapatkan laknat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (متفق عليه)
.
“Barangsiapa berbuat bid’ah di dalamnya, atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya”. (Muttafaq ‘Alaih).
.
Karena begitu bahayanya membuat-buat ajaran atau mengada-adakan amalan-amalan baru dalam urusan ibadah (bid’ah), maka kewajiban bagi seorang muslim, ketika melihat ada yang melakukan kebid’ahan, memerangi mereka dengan tangannya atau dengan lisannya atau apabila tidak memiliki kemampuan dengan tangan dan lisannya, maka wajib mengingkari dengan hatinya. Dan apabila membiarkanya, tidak memerangi juga tidak mengingkari mereka yang melakukan kebid’ahan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
.
وَلَيسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ
.
SETELAH ITU TIDAK ADA KEIMANAN WALAU HANYA SEBESAR BIJI SAWI PUN.
.
.
با رك الله فيكم
.
.
Kunjungi blog pribadi di : https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
____________