PENTINGNYA MENGETAHUI ASBABUL WURUD DARI SEBUAH HADITS

PENTINGNYA MENGETAHUI ASBABUL WURUD DARI SEBUAH HADITS
.
Asbabul Wurud artinya, sebab turun atau kronologi atau historis dari sebuah hadits.
.
Perlu di ketahui, bahwa untuk memahami suatu hadits dengan baik, tepat dan benar, diantaranya diperlukan metodologi atau suatu cara. Tidak cukup hanya sekedar melihat teksnya saja dari sebuah hadits, lebih khususnya kepada hadits yang mempunyai Asbabul Wurud, (sebab turunnya). Melainkan juga kita harus melihat konteksnya.
.
Dengan kata lain, ketika kita ingin menggali pesan moral dari sebuah hadits, perlu memperhatikan konteks historitasnya, kepada siapa hadis itu disampaikan, dalam kondisi sosio kultural yang bagaimana Nabi waktu itu menyampaikannya. Tanpa memperhatikan konteks historisitasnya (Asbabul Wurud) maka akan mengalami kesalahan dalam menangkap makna suatu hadits, bahkan dapat terperosok ke dalam pemahaman yang keliru.
.
Untuk itu, mengapa Asbabul Wurud menjadi sangat penting dalam diskursus ilmu hadits, seperti pentingnya Asbabun Nuzul dalam kajian tafsir Al-Qur’an. Perlu diketahui juga, bahwa tidak semua hadis mempunyai Asbabul Wurud.
.
• PENGERTIAN ASBABUL WURUD DAN URGENSINYA
.
Di bawah ini sedikit penjelasan tentang Asbabul Wurud menurut pendapat beberapa ulama.
.
Menurut Imam As-Suyuthi, secara terminology (syara’) Asbabul Wurud berarti :
.
أنه ما يكون طريقا لتحديد المراد من الحديث من عموم أو حصوص أو إطلاق أوتقييد أونسخ أونحو ذالك
.
“Sesuatu yang menjadi thoriq (metode) untuk menentukan suatu hadis yang bersifat umum, atau khusus, mutlak atau muqayyad, dan untuk menentukan ada tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadits”.
.
Sedangkan KH. Hasbi Ash-Shiddiqie mengatakan :
.
علم يعرف به السبب الذي ورد لأجله الحديث والزمان الذي جاء به
.
“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menyampaikan sabdanya dan waktu Nabi menuturkannya”.
.
Mengetahui Asbabul Wurud bukanlah tujuan (ghayah), melainkan hanya sebagai sarana (washilah) untuk memperoleh ketepatan makna dalam memahami pesan moral suatu hadits. Supaya tidak terjebak hanya kepada teksnya saja dari sebuah hadits, dan terperosok kepada kesalah fahaman dalam memaknai terlebih lagi salah penerapannya.
.
• Contoh Hadits dan Asbabul Wurudnya
.
Berikut ini contoh salah satu hadits dan Asbabul Wurudnya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)
.
“Barangsiapa mencontohkan atau memulai suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Riwayat Muslim).
.
Dan berikut Asbabul Wurudnya dari hadits diatas,
.
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيصَدْرِ النَّهَارِ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ
.
Kami bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang.
.
عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ
.
Umumnya mereka dari kabilah Mudhar atau seluruhnya dari Mudhar, lalu wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka.
.
فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ
.
Beliau masuk kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat,
.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍوَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَإِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
.
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An-Nisa: 1).
.
وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ
.
Dan membaca ayat di surat Al Hasyr,
.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr: 18).
.
تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
.
Telah bershadaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.
.
قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ
.
Jarir berkata, Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurroh (yaitu sejumlah apa yang mampu dibawa dan diikat dengan sesuatu), hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu.
.
قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ
.
Jarir berkata, Kemudian berturut-turut orang memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersinar seperti emas.
.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
.
Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam ini, sunnah hasanah, maka baginya berhak atas pahala, dan pahala orang yang mengamalkannya (sunnah tersebut) setelahnya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah (sunnah yang buruk) dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”(HR Muslim dalam Kitab Zakat, Bab Motivasi Untuk Bershadaqah Walaupun dengan Sebutir Kurma no. 1017).
.
Itulah Asbabul Wurudnya dari hadits di atas.
.
• Salah menerapkan hadits akibat tidak melihat Asbabul Wurudnya
.
Hadits diatas, yaitu hadits,
.
مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)
.
“Barangsiapa mencontohkan atau memulai suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Riwayat Muslim).
.
Sering dijadikan dalil oleh sebagian umat Islam untuk membenarkan bolehnya membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah).
.
Membolehkan membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah) dengan berdalilkan hadits di atas adalah salah satu contoh salah dalam memaknai dan menerapkan sebuah hadits.
.
Kesalahan memaknai dan menerapkan hadits tersebut adalah akibat dari tidak memperhatikan Asbabul Wurudnya (sebab turunnya) hadits tersebut.
.
Maka disinilah pentingnya mengetahui Asbabul Wurud (sebab turunnya) dari sebuah hadits, supaya tidak terjadi kesalahan memaknai sebuah hadits, yang berakibat salah penerapan.
.
Kenapa dikatakan salah memaknai dan menerapkannya apabila hadits diatas dijadikan dalil untuk membenarkan bolehnya berbuat bid’ah ?
.
Karena hadits tersebut bukan perintah atau persetujuan Nabi kepada orang yang membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah). Tapi sebagai bentuk apresiasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang Sahabatnya yang mendahului berbuat amal salih. Dalam hal ini shodaqoh.
.
Apakah shodaqoh yang di lakukan seorang Sahabat tersebut mau di katakan perkara baru ?
.
Tentu saja sodaqoh yang di lakukan seorang Sahabat tersebut bukan perkara baru. Tetapi amal saleh yang sudah ada perintahnya dalam Islam.
.
Dan seorang Sahabat yang mendahului bersedekah tersebut, juga karena ada anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), maksudnya beramal salih. Perhatikan khutbah Rasulullah shalaihu ‘alaihi wa sallam diatas.
.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
.
“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS. Al Hasyr: 18).
.
Ayat diatas sebagai perintah dari Allah Ta’ala untuk beramal saleh, untuk kehidupan di akhirat.
.
• Penjelasan para Ulama tentang hadits diatas
.
– Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terhadap hadits diatas menjelaskan,
.
“Yang dimaksud dengan,
.
“من سن في الإسلام سنة حسنة”
.
“Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam ini, sunnah hasanah,
.
Ialah memelopori suatu amal yang telah ada, bukan membuat amalan baru. Karena barangsiapa yang mengada-adakan suatu amalan yang tidak ada asalnya dalam Islam, maka amalan tersebut tertolak, dan bukan sebuah amalan yang baik. Yang dimaksud ialah sebagaimana laki-laki dari kalangan Anshar tersebut, radhiyallahu ‘anhu yang membawa kurma sebanyak satu shurrah. Hal ini menjadi dalil bahwa barangsiapa yang meniru perbuatan semisal dengan apa yang dilakukan pelopor sunnah ini, maka tercatat bagi si pelopor sunnah tersebut, pahala, baik ia masih hidup maupun telah meninggal”. (Syarh Riyadh As Shalihin).
.
– Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly terhadap hadits diatas dalam Bahjatun Nazhirin 1/258 mengatakan : “Hadits ini bukanlah hujjah bagi mereka yang menghias-hiasi perbuatan bid’ah, dan mereka yang berkata bahwa dalam Islam terdapat yang namanya “bid’ah hasanah” .
.
Inilah dalil bahwa tafsir mereka hanyalah omong kosong dan kedustaan yang nyata, dan bantahannya sangat jelas, bahwa setiap apa yang diperbuat oleh lelaki Anshar itu hanyalah memulai shadaqah, dan shadaqah ialah perbuatan yang telah disyariatkan lewat berbagai nash, lantas mereka menyangka bahwa shahabat ini telah mendatangkan suatu bid’ah hasanah ?!”. (selesai perkataan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly).
.
• Arti kata “sanna” (سَنَّ)
.
Kata “sanna” (سَنَّ) secara bahasa adalah : “Memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain”. Sebagaimana terdapat di dalam kamus-kamus bahasa Arab.
.
Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata : “Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya”. (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306).
.
Juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya, (Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220).
.
Lalu bagaimana dengan Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits di atas, apakah Kata “sanna” (سَنَّ) tersebut mengandung arti memulai atau merintis amalan yang benar-benar baru ?
.
Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits di atas BUKAN BERARTI BERKREASI MEMBUAT AMALAN BARU YANG TIDAK ADA CONTOH SEBELUMNYA. Tapi berupa amalan yang memang sudah ada tuntunannya atau perintahnya. KITA BISA MENGETAHUI MAKNANYA TERSEBUT BERDASARKAN SEBAB TURUNNYA atau KRONOLOGINYA HADITS TERSEBUT.
.
Oleh karenanya kata “sanna” (سَنَّ) bukan berarti harus berkreasi amalan baru atau berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya.
.
Akan tetapi lafal “sanna” (سَنَّ) bersifat umum, yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.
.
Namun dengan melihat SEBAB TURUNNYA atau KRONOLOGINYA hadits tersebut, maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits itu, adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan membuat-buat amalan baru (bid’ah).
.
Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits diatas : “Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, MAKSUD NABI ADALAH BARANG SIAPA YANG MENGAMALKANNYA UNTUK DI IKUTI”. (Tahdziib al-Lughoh 12/298).
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
_____________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s