ASAL NYOMOT DALIL

ASAL NYOMOT DALIL
.
Sudah menjadi kebiasa’an para penyesat umat dalam membela kesesatannya adalah mengeluarkan dalil asal-asalan atau asal nyomot dalil. Dan tentu saja orang awam yang menjadi korban. Karena orang-orang awam tidak akan bisa mengetahui kalau tokoh yang di ikutinya asal-asalan dalam berdalil.
.
Contoh paling aktual sa’at ini, ketika umat Islam menentang pencalonan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta.
.
Seorang pembela Ahok Nusron Purnomo dengan lantang dan mata mau loncat berkata, Saya ingin mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi pernah mengatakan : “Khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum, yalunahum, yalunahum, yalunahum”.
.
Nusron mengartikan : “Sebaik-baiknya masa adalah masaku pada sa’at Nabi Muhammad, setelah itu masa sahabat, setelah itu masa sahabat Bani Umayyah, setelah itu masa sahabat Bani Abbasiyah, setelah itu masa ulama-ulama, ulama, ulama sampai sekarang. Ini adalah derajat kebaikan”.
.
Nusron melanjutkan, Saya ingin bertanya, . . pada abad Bani Abbasiyah, khalifah Abbasiyah ke-16 Sultan Khalifah Al-Muktadid Billah pernah mengangkat seorang gubernur namanya Umar bin Yusuf, seorang Kristen ta’at menjadi gubernur di Al- Anbar Irak, apakah waktu itu tidak ada surat al-maidah 51 ? pada zaman itu, apakah pada sa’at itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan Al-Maida. Mohon ma’af, apakah ulama-ulama sa’at itu, kalah saleh kalah alim dengan ulama-ulama hari ini ?
.
Itulah diantara argumen Nusron dalam membela Ahok. Nusron ingin menunjukkan bahwa pada masa Al-Mu’tadhid Billah ternyata ada seorang Gubernur non muslim yang di angkat oleh Al-Mu’tadhid Billah. Dan Nusron mengklaim bahwa masa itu adalah masa terbaik. Dengan menunjukkan masa Al-Mu’tadhid Billah tersebut, Nusron ingin menunjukkan di bolehkannya mengangkat seorang Gubernur non muslim oleh umat Islam.
.
Begitulah Nusron Purnomo membawakan hadits di atas dengan pengertiannya menurut Nusron sendiri.
.
Apakah benar ada hadits sebagaimana yang di tunjukkan Nusron, juga arti dan maknanya sesuai dengan yang di sebutkan Nusron ?
.
Berikut ini adalah hadits yang di maksud Nusron, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
.
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Yang dimaksud sebaik-baik umatku pada masaku dalam hadits diatas adalah para Sahabat Nabi, kemudian
generasi selanjutnya yaitu Tabi’in dan generasi selanjutnya yaitu Tabi’ut Tabi’in. Itulah tiga generasi terbaik umat Islam yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Tabi’in adalah generasi setelah para Sahabat, dan Tabi’ut Tabi’in adalah generasi setelah para Tabi’in.
.
Tiga generasi terbaik umat di atas adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi (Salafus shalih).
.
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar dan selamat merujuk kepada mereka (Salafus shalih).
.
Lalu bagaimana dengan Al-Mu’tadhid Billah yang di sebutkan Nusron ?
.
Al-Mu’tadhid Billah di lahirkan pada 242 H. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H.
.
Al-Mu’tadhid Billah yang di maksud Nusron ternyata tidak termasuk kepada tiga generasi terbaik umat yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tiga generasi terbaik umat berakhir pada tahun 180 H. Yaitu dengan wafatnya Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi, seorang Tabi’ut Tabi’in yang terakhir wafat. Sementara Muqtadir Billah mulai menjadi khalifah pada tahun 279 H.
.
Maka nampak jelas argumen yang di tunjukkan Nusron sebagai dalil di bolehkannya memilih pemimpin non muslim adalah dalil asal nyomot.
.
Sebagai tambahan :
.
Sahabat Nabi yang terakhir wafat adalah : Abu Thufail ‘Aamir bin Waatsilah Al-Laitsiy. Wafat tahun 100 H.
.
Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Abu Roja’ Al-‘Uthoridi. Wafat tahun 106 H.
.
Dan Tabiut Tabi’in yang terakhir wafat adalah : Ubaidulloh bin ‘Amru bin Abil Walid Al-Asadi. Wafat tahun 180 H.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
————-

PENTINGNYA MENYAMPAIKAN KEBENARAN WALAUPUN DIBENCI SELURUH MANUSIA

.
PENTINGNYA MENYAMPAIKAN KEBENARAN WALAUPUN DIBENCI SELURUH MANUSIA
.
Menyeru umat untuk menjauhi penyimpangan dan kesesatan dalam agama, bukanlah mimbar dakwah yang dihampari permadani dan dekorasi warna-warni serta berhiaskan bunga-bunga disekitarnya.
.
Menyeru umat untuk menjauhi penyimpangan dan kesesatan dalam agama, bukanlah mimbar dakwah untuk mendulang sanjungan dan puja-puji manusia. Tapi sebaliknya akan dibanjiri caci maki, cibiran dan hujatan.
.
Rintangan dan ujian dalam berjuang di jalan dakwah adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Ia pasti akan menghampiri, namun jangan pernah berhenti, karena para Nabi dan pengikutnya tidak pernah berhenti ataupun melemah karena rintangan dan ujian.
.
Nabi Nuh ‘alaihis salam menghadapi cacian kaumnya, begitu pula para Nabi lainnya tidak kalah berat ujian yang mereka hadapi.
.
Mendakwahkan yang haq merupakan kewajiban bagi setiap muslim dari Rabb-nya, terutama kepada yang memiliki kemampuan dakwah.
.
Namun tugas ini sungguh berat, karena akan mendapatkan perlawanan dari para pengikut hawa napsu yang tidak akan tinggal diam, karena mereka selalu merasa terusik, yang menurutnya apa yang mereka yakini dan lakukan adalah benar dan harus dibela.
.
Perlawanan dari para pengikut hawa nafsu telah ada sejak zaman para Nabi dahulu dan akan ada hingga akhir zaman.
.
Allah Ta’ala berfirman,
.
وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيۡنَ الۡاِنۡسِ وَالۡجِنِّ
.
“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin”. (Qs. al-An’am: 112).
.
Para pengemban dakwah akan selalu mendapatkan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari orang-orang yang selalu menentangnya. Mereka menganggap keterangan yang disampaikan para pengemban dakwah adalah omong kosong yang tidak perlu dipedulikan.
.
Ayat-ayat al-Qur’an dan hadits akan mereka remehkan walaupun disampaikan dengan terang dan jelas.
.
Zaman memang sudah berubah, namun para pengikut hawa nafsu akan selalu ada sepanjang zaman.
.
Seruan kepada kebenaran yang haqiqi, memurnikan agama dari prilaku orang-orang yang menyimpang dan penyesat umat, akan dianggap sebagai lelucon yang menurut mereka pantas ditertawakan. Ancaman dari Allah dan Rasul-Nya akan selalu mereka cibir dan nistakan.
.
Para pengikut hawa nafsu merasa gerah, ajaran warisan dari nenek moyang yang mereka agung-agungkan dan harus dilestarikan merasa digugat.
.
Para pengikut hawa nafsu akan selalu setia kepada ajaran leluhurnya, dan mereka berkata sebagaimana di Firmankan Allah ta’ala,
.
حَسْبُنَا مَا وَ جَدْنَا عَلَيْهِ أَبَاءَنَا
.
“Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek-moyang kami mengerjakannya”. (Qs. al-Ma’idah: 104).
.
Pribadi-pribadi berwatak seperti ini akan selalu ada dan menjadi batu sandungan bagi para pengemban dakwah.
.
Namun demikian, para pengemban dakwah tidak akan pernah mundur walau selangkah dalam menyampaikan al-Haq, meski mereka senantiasa dimusuhi, dicibir dan dilecehkan oleh pihak-pihak yang memusuhinya.
.
Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”. (Al-Aqrimany: 315, al-Mawa’idz).
.
Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah, “Ada seseorang yang puasa, sholat, i’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai ?”. Beliau menjawab, “Apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfaatnya untuk dia sendiri, tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/lebih utama”. Beliau menjelaskan bahwa manfaatnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah.
.
Memurnikan agama Allah, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu fardu kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Seandainya tidak ada yang menolak/membantah bahaya (bid’ah) nya para pelaku bid’ah, maka akan rusaklah agama ini.
.
با رك الله فيكم
.
.
By : Abu Meong
.
Kunjungi blog pribadi di : https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna
.
.
_____________

KEBENARAN ITU SUDAH JELAS DAN TERANG

KEBENARAN ITU SUDAH JELAS DAN TERANG
.
Ada kalanya kita menemukan orang, kalau sudah terpojok atau tidak mampu membela keyakinan batilnya, lalu dia berkata :
.
“Kita lihat saja di akhirat nanti, siapa yang benar”
.
Ucapan tersebut tidaklah keluar kecuali dari lisan orang jahil.
.
Mengetahui kebenaran tidak perlu harus menunggu kematian terlebih dahulu dan meyakininya di akhirat nanti. Sesungguhnya kebenaran (Al-Haq), sudah sangat jelas dan terang, tidak ada kesamaran padanya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌٌ
.
“Sesungguhnya perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas”. (Muttafaqun ‘alaih).
.
Semua umat manusia yang berbeda faham, keyakinan dan golongannya, merasa di atas kebenaran.
.
Namun apakah mungkin mereka semua di atas kebenaran, sementara diantara mereka berbeda dan saling bertentangan. Padahal kebenaran itu satu tidak berbilang.
.
Imam Malik rahimahullah berkata :
.
لا، والله حتى يصيب الحق، ما الحق إلا واحد، قولان مختلفان يكونان صوابًا جميعًا ؟ ما الحق والصواب إلا واحد
.
“Tidak, demi Allah, hingga ia mengambil yang benar. Kebenaran itu hanya satu. Dua pendapat yang berbeda tidak mungkin keduanya benar, sekali lagi kebenaran itu hanya satu”.
.
• Haqekat kebenaran (Al-Haq).
.
Allamah Ar-Raghib Al-Ishfahani menyebutkan, bahwa makna kebenaran (Al-Haq) adalah: Kesesuaian. (Mu’jam Mufradat Al-Fauzhil Qur’an hal. 124-125).
.
• Siapa saja pengikut kebenaran ?
.
Orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq) ialah, orang-orang yang berdiri di atas empat pilar berikut ini :
.
1. Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
2. Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
3. Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.
.
4. Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya
.
Itulah empat pilar yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq).
.
(1) Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
Kebenaran (al-haq) hanyalah yang datangnya dari Allah Ta’ala, adapun yang datang dari selain-Nya, adalah kebatilan, penyimpangan dan kesesatan.
.
Yang datangnya dari Allah Ta’ala sebagai kebenaran (al-hak), Allah Ta’ala sebutkan dalam beberapa firman-Nya,
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
َلَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِين
.
“Sesungguhnya telah datang al-haq (kebenaran) kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah engkau termasuk sekali-kali orang yang ragu-ragu”. (Yunus: 94).
.
– Allah Ta’ala berrman :
.
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
.
“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa al-haq, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu”. (An-Nisaa’: 105).
.
Itulah diantara beberapa firman Allah Ta’ala, yang menerangkan bahwa yang di turunkan Allah adalah kebenaran (al-haq).
.
Karena kebenaran (al-haq) itu hanya yang datangnya dari Allah Ta’ala, maka barang siapa yang mengimani dan mengikuti-Nya, maka orang itu di atas kebenaran (al-haq). Dan barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala, maka dia adalah orang yang menyimpang dan tersesat.
.
(2) Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Pilar ke dua, yang di jadikan pijakan oleh orang-orang yang berdiri di atas kebenaran (al-haq) adalah mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Nabi Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala, maka yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah kebenaran (al-haq). Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,
.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
.
“Wahai manusia sesungguhnya telah datang Rasul itu (Muhammad) kepada kamu, dengan (membawa) al-haq dari Rabbmu, maka berimanlah kamu, itu lebih baik bagimu”. (An-Nisa: 170).
.
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Yaitu Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang haq dan penjelasan yang memuaskan dari Allah. Maka, berimanlah dengan apa yang dia bawa dan ikutilah dia, itu lebih baik bagi kamu”.
.
Apa yang Rasulullah sampaikan kepada umatnya, adalah wahyu dari Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya :
.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)
.
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. (Ucapannya) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An-Najm: 3-4).
.
Ayat di atas menerangkan, bahwa yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah wahyu dari Allah Ta’ala, bukan berdasarkan, perasa’an atau akalnya. Oleh karenanya, apabila seseorang beriman kepada Allah Ta’ala, maka harus beriman pula kepada apa yang di sampaikan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena apa yang di sampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdasarkan wahyu.
.
(3) Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.
.
Pilar selanjutnya, yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (al-haq) adalah yang mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat dalam memahami agama. Karena para Sahabat adalah generasi terbaik umat. Mereka adalah sebaik-baik manusia.
.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
خَيْرَ أُمَّتي قَرْنِيْ
.
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Para Sahabat adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (as- alafu ash-shalih).
.
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar, merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih).
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
.
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
.
“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).
.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas menyebutkan, “Bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib mengikuti jalannya, perkata’an-perkata’annya, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka”.
.
Itulah keutama’an para Sahabat yang di terangkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
.
Maka bisa di jadikan barometer, siapa yang mengikuti jejak para Sahabat dalam aspek pemahaman, i’tiqad, perkata’an maupun amal, maka dia berada di atas kebenaran (al-haq) .
.
(4) Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Islam sudah memberikan tuntunan untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Terlalu banyak firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
.
“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa: 59).
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
.
“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah”. (QS. Asy Syura: 10).
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى
.
”Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123).
.
– Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
.
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).
.
Ayat-ayat dan hadits di atas memberikan petunjuk kepada kita, supaya mengembalikan setiap yang di perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Itulah empat pilar, yang harus di jadikan pijakan oleh orang-orang yang mengikuti kebenaran.
.
Setelah kita mengetahui empat landasan utama dalam mengikuti kebenaran, maka kini kita dapat mengetahui, barang siapa yang tidak berpijak kepada empat landasan di atas, maka mereka adalah orang-orang yang menyimpang dan tersesat. Walaupun mereka mengklaim sebagai, orang atau golongan yang benar.
.
Kebenaran (al-haq) bisa di klaim oleh siapa pun dan oleh kelompok mana pun.
.
Banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan mengimani Kitab-Nya, namun faktanya, banyak orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
Tidak sedikit orang yang menuhankan manusia, mereka selalu membenarkan apapun yang datang dari orang yang mereka anggap hebat, anggap alim, anggap shalih. Apapun yang datang dari orang yang mereka ikuti dan kagumi mereka jadikan seolah-olah wahyu yang tidak boleh di bantah dan selalu di ikuti. Maka orang-orang seperti ini hakekatnya bukan pengikut kebenaran (al-haq). Tapi orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Banyak yang mengaku cinta Rasulullah, namun faktanya justru menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membuat-buat ajaran baru, mereka mengerjakan amalan-amalan yang tidak Rasulullah ajarkan. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran (al-haq), tapi orang yang menyimpang dan sesat.
.
Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita supaya mengikuti dan menapaki jejak para Sahabat dalam beragama. Namun faktanya, banyak dari umat Islam yang tidak searah dan menyimpang dari manhajnya para Sahabat. Mereka membuat toriqoh-toriqoh baru. Toriqoh-toriqoh yang ajarannya berbeda dengan yang di tempuh, di fahami dan di amalkan para Sahabat. Maka orang-orang tersebut hakekatnya bukanlah pengikut kebenaran (al-haq), tapi orang-orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Allah Ta’ala memerintahkan supaya mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Namun yang terjadi, banyak dari umat Islam ketika berselisih, mereka mengembalikan kepada madzhabnya, gurunya, syaikhnya, ustadznya, kiyainya atau jama’ahnya. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran, tapi orang-orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Jalan menuju kebenaran (al-haq), hanyalah satu, yaitu jalan yang Allah Ta’ala sudah tunjukan, jalan yang mendapatkan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jalan yang telah di tempuh oleh para Sahabat generasi terbaik umat. Jalan yang di atasnya tidak ada perselisihan dan pertikaian.
.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat satu garis, kemudian bersabda : “Ini adalah jalan Allah. Kemudian beliau menggaris beberapa garis ke kanan dan ke kiri lalu bersabda : “Ini adalah “Subul” (jalan-jalan), dan di setiap jalan-jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya. Kemudian beliau membaca (ayat 153, surat al-An’aam): “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan lain, sehingga ia akan memisahkan kalian dari jalan-Nya”. (H.R Ahmad (II/318).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.

================

PENTINGNYA MENGETAHUI ASBABUL WURUD DARI SEBUAH HADITS

PENTINGNYA MENGETAHUI ASBABUL WURUD DARI SEBUAH HADITS
.
Asbabul Wurud artinya, sebab turun atau kronologi atau historis dari sebuah hadits.
.
Perlu di ketahui, bahwa untuk memahami suatu hadits dengan baik, tepat dan benar, diantaranya diperlukan metodologi atau suatu cara. Tidak cukup hanya sekedar melihat teksnya saja dari sebuah hadits, lebih khususnya kepada hadits yang mempunyai Asbabul Wurud, (sebab turunnya). Melainkan juga kita harus melihat konteksnya.
.
Dengan kata lain, ketika kita ingin menggali pesan moral dari sebuah hadits, perlu memperhatikan konteks historitasnya, kepada siapa hadis itu disampaikan, dalam kondisi sosio kultural yang bagaimana Nabi waktu itu menyampaikannya. Tanpa memperhatikan konteks historisitasnya (Asbabul Wurud) maka akan mengalami kesalahan dalam menangkap makna suatu hadits, bahkan dapat terperosok ke dalam pemahaman yang keliru.
.
Untuk itu, mengapa Asbabul Wurud menjadi sangat penting dalam diskursus ilmu hadits, seperti pentingnya Asbabun Nuzul dalam kajian tafsir Al-Qur’an. Perlu diketahui juga, bahwa tidak semua hadis mempunyai Asbabul Wurud.
.
• PENGERTIAN ASBABUL WURUD DAN URGENSINYA
.
Di bawah ini sedikit penjelasan tentang Asbabul Wurud menurut pendapat beberapa ulama.
.
Menurut Imam As-Suyuthi, secara terminology (syara’) Asbabul Wurud berarti :
.
أنه ما يكون طريقا لتحديد المراد من الحديث من عموم أو حصوص أو إطلاق أوتقييد أونسخ أونحو ذالك
.
“Sesuatu yang menjadi thoriq (metode) untuk menentukan suatu hadis yang bersifat umum, atau khusus, mutlak atau muqayyad, dan untuk menentukan ada tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadits”.
.
Sedangkan KH. Hasbi Ash-Shiddiqie mengatakan :
.
علم يعرف به السبب الذي ورد لأجله الحديث والزمان الذي جاء به
.
“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menyampaikan sabdanya dan waktu Nabi menuturkannya”.
.
Mengetahui Asbabul Wurud bukanlah tujuan (ghayah), melainkan hanya sebagai sarana (washilah) untuk memperoleh ketepatan makna dalam memahami pesan moral suatu hadits. Supaya tidak terjebak hanya kepada teksnya saja dari sebuah hadits, dan terperosok kepada kesalah fahaman dalam memaknai terlebih lagi salah penerapannya.
.
• Contoh Hadits dan Asbabul Wurudnya
.
Berikut ini contoh salah satu hadits dan Asbabul Wurudnya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)
.
“Barangsiapa mencontohkan atau memulai suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Riwayat Muslim).
.
Dan berikut Asbabul Wurudnya dari hadits diatas,
.
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيصَدْرِ النَّهَارِ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ
.
Kami bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang.
.
عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ
.
Umumnya mereka dari kabilah Mudhar atau seluruhnya dari Mudhar, lalu wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka.
.
فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ
.
Beliau masuk kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat,
.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍوَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَإِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
.
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An-Nisa: 1).
.
وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ
.
Dan membaca ayat di surat Al Hasyr,
.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr: 18).
.
تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
.
Telah bershadaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.
.
قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ
.
Jarir berkata, Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurroh (yaitu sejumlah apa yang mampu dibawa dan diikat dengan sesuatu), hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu.
.
قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ
.
Jarir berkata, Kemudian berturut-turut orang memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersinar seperti emas.
.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
.
Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam ini, sunnah hasanah, maka baginya berhak atas pahala, dan pahala orang yang mengamalkannya (sunnah tersebut) setelahnya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah (sunnah yang buruk) dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”(HR Muslim dalam Kitab Zakat, Bab Motivasi Untuk Bershadaqah Walaupun dengan Sebutir Kurma no. 1017).
.
Itulah Asbabul Wurudnya dari hadits di atas.
.
• Salah menerapkan hadits akibat tidak melihat Asbabul Wurudnya
.
Hadits diatas, yaitu hadits,
.
مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)
.
“Barangsiapa mencontohkan atau memulai suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Riwayat Muslim).
.
Sering dijadikan dalil oleh sebagian umat Islam untuk membenarkan bolehnya membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah).
.
Membolehkan membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah) dengan berdalilkan hadits di atas adalah salah satu contoh salah dalam memaknai dan menerapkan sebuah hadits.
.
Kesalahan memaknai dan menerapkan hadits tersebut adalah akibat dari tidak memperhatikan Asbabul Wurudnya (sebab turunnya) hadits tersebut.
.
Maka disinilah pentingnya mengetahui Asbabul Wurud (sebab turunnya) dari sebuah hadits, supaya tidak terjadi kesalahan memaknai sebuah hadits, yang berakibat salah penerapan.
.
Kenapa dikatakan salah memaknai dan menerapkannya apabila hadits diatas dijadikan dalil untuk membenarkan bolehnya berbuat bid’ah ?
.
Karena hadits tersebut bukan perintah atau persetujuan Nabi kepada orang yang membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah). Tapi sebagai bentuk apresiasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang Sahabatnya yang mendahului berbuat amal salih. Dalam hal ini shodaqoh.
.
Apakah shodaqoh yang di lakukan seorang Sahabat tersebut mau di katakan perkara baru ?
.
Tentu saja sodaqoh yang di lakukan seorang Sahabat tersebut bukan perkara baru. Tetapi amal saleh yang sudah ada perintahnya dalam Islam.
.
Dan seorang Sahabat yang mendahului bersedekah tersebut, juga karena ada anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), maksudnya beramal salih. Perhatikan khutbah Rasulullah shalaihu ‘alaihi wa sallam diatas.
.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
.
“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS. Al Hasyr: 18).
.
Ayat diatas sebagai perintah dari Allah Ta’ala untuk beramal saleh, untuk kehidupan di akhirat.
.
• Penjelasan para Ulama tentang hadits diatas
.
– Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terhadap hadits diatas menjelaskan,
.
“Yang dimaksud dengan,
.
“من سن في الإسلام سنة حسنة”
.
“Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam ini, sunnah hasanah,
.
Ialah memelopori suatu amal yang telah ada, bukan membuat amalan baru. Karena barangsiapa yang mengada-adakan suatu amalan yang tidak ada asalnya dalam Islam, maka amalan tersebut tertolak, dan bukan sebuah amalan yang baik. Yang dimaksud ialah sebagaimana laki-laki dari kalangan Anshar tersebut, radhiyallahu ‘anhu yang membawa kurma sebanyak satu shurrah. Hal ini menjadi dalil bahwa barangsiapa yang meniru perbuatan semisal dengan apa yang dilakukan pelopor sunnah ini, maka tercatat bagi si pelopor sunnah tersebut, pahala, baik ia masih hidup maupun telah meninggal”. (Syarh Riyadh As Shalihin).
.
– Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly terhadap hadits diatas dalam Bahjatun Nazhirin 1/258 mengatakan : “Hadits ini bukanlah hujjah bagi mereka yang menghias-hiasi perbuatan bid’ah, dan mereka yang berkata bahwa dalam Islam terdapat yang namanya “bid’ah hasanah” .
.
Inilah dalil bahwa tafsir mereka hanyalah omong kosong dan kedustaan yang nyata, dan bantahannya sangat jelas, bahwa setiap apa yang diperbuat oleh lelaki Anshar itu hanyalah memulai shadaqah, dan shadaqah ialah perbuatan yang telah disyariatkan lewat berbagai nash, lantas mereka menyangka bahwa shahabat ini telah mendatangkan suatu bid’ah hasanah ?!”. (selesai perkataan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly).
.
• Arti kata “sanna” (سَنَّ)
.
Kata “sanna” (سَنَّ) secara bahasa adalah : “Memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain”. Sebagaimana terdapat di dalam kamus-kamus bahasa Arab.
.
Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata : “Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya”. (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306).
.
Juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya, (Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220).
.
Lalu bagaimana dengan Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits di atas, apakah Kata “sanna” (سَنَّ) tersebut mengandung arti memulai atau merintis amalan yang benar-benar baru ?
.
Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits di atas BUKAN BERARTI BERKREASI MEMBUAT AMALAN BARU YANG TIDAK ADA CONTOH SEBELUMNYA. Tapi berupa amalan yang memang sudah ada tuntunannya atau perintahnya. KITA BISA MENGETAHUI MAKNANYA TERSEBUT BERDASARKAN SEBAB TURUNNYA atau KRONOLOGINYA HADITS TERSEBUT.
.
Oleh karenanya kata “sanna” (سَنَّ) bukan berarti harus berkreasi amalan baru atau berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya.
.
Akan tetapi lafal “sanna” (سَنَّ) bersifat umum, yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.
.
Namun dengan melihat SEBAB TURUNNYA atau KRONOLOGINYA hadits tersebut, maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits itu, adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan membuat-buat amalan baru (bid’ah).
.
Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits diatas : “Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, MAKSUD NABI ADALAH BARANG SIAPA YANG MENGAMALKANNYA UNTUK DI IKUTI”. (Tahdziib al-Lughoh 12/298).
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
_____________________