PENGERTIAN QIYAS

PENGERTIAN QIYAS

Qiyâs atau analogi ialah suatu praktik penyamaan hukum antara sesuatu yang disebutkan hukumnya secara gamblang dalam agama (yang selanjutnya disebut al-maqis ‘alaih atau masalah utama) dengan suatu yang tidak dijelaskan hukumnya dalam agama (yang selanjutnya disebut al-maqis atau masalah cabang).

Penyamaan ini dilakukan karena ada kesamaan dalam penyebab hukum atau yang masyhur disebut dengan ‘illah.

RUKUN-RUKUN QIYAS

Pada setiap qiyâs yang benar, pasti terdapat empat hal atau rukun. Masing-masing rukun ini memiliki kriteria dan persyaratan tersendiri. Persyaratan-persyaratan tersebut bertujuan menjamin qiyâs tidak melampaui batas kekuatan hukumnya.

Rukun Pertama : Hukum Utama.

Yaitu hukum masalah utama yang ketetapannya termaktub dalam dalil al-Qur’ân, as-Sunnah atau ijmâ’. Adapun hukum yang berketatapan berdasarkan qiyâs atau yang dalil lainnya, maka tidak dibenarkan untuk dijadikan sebagai hukum utama dalam praktik qiyâs. Ini adalah syarat paling pokok pada hukum utama, walau sejatinya para Ulama’ merinci lebih jauh dari apa yang dipaparkan di sini.

Rukun Kedua : ‘Illah (Alasan Penetapan Hukum Pada Masalah Utama)

Qiyâs atau analogi ialah suatu praktik penyamaan antara hukum masalah utama dengan masalah cabang. Penyamaan ini berlandaskan adanya kesamaan dalam alasan hukum atau yang masyhur disebut dengan ‘illah.

Bila demikian, berarti pada setiap qiyâs pasti terdapat ‘illah yang mempersatukan antara kedua masalah.
Ulama’ ahli ushul fiqih telah bersepakat bahwa ‘illah yang berperan sebagai pemersatu ini haruslah memenuhi beberapa kriteria berikut :

1. Dia adalah sesuatu yang bersifat maknawi yang benar-benar berperan utama dalam keberadaan hukum pada masalah utama dan cabang. Sehingga, setiap kali ia ada, hukumnya juga ada. Dan sebaliknya, setiap kali dia tiada, maka hukumnya juga hilang atau tiada. Contoh, menurut madzhab Maliki, alasan penetapan hukum-hukum riba perniagaan (riba fadhl) pada kurma dan gandum ialah karena keduanya sebagai makanan pokok yang dapat disimpan. Berdasarkan ini mereka berpendapat bahwa setiap makanan pokok yang dapat disimpan berlaku padanya hukum-hukum riba perniagaan.

2. Illah harus nampak nyata, sehingga dengan mudah diidentifikasi atau dikenali. Syarat ini bertujuan agar penyamaan antara hukum masalah cabang dengan masalah utama dapat dilakukan dengan mudah.

3. Pemersatu tersebut adalah sesuatu yang tidak bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur’ân dan hadits. Karena qiyâs hanya berkekuatan hukum dalam kondisi darurat, yaitu ketika tidak ditemukan dalil al-Qur’ân, as-Sunnah atau Ijmâ’.

Rukun Ketiga : Masalah Cabang.

Karena tujuan qiyâs ialah mengetahui hukum masalah cabang, maka suatu hal yang alami bila masalah cabang ialah :

1.Masalah yang belum memiliki ketetapan hukum dalam dalil al-Qur’ân, as-Sunnah atau Ijmâ’.

2. Masalah cabang adalah masalah baru, terjadi setelah penetapan hukum pada masalah utama.

3. Pada masalah cabang terdapat makna pemersatu ‘illah yang ada pada masalah utama.

Rukun Keempat : Hukum Masalah Cabang

Hukum masalah cabang ialah hasil akhir dari praktik qiyâs. Karenanya, bila Anda telah berhasil menemukan hukum pada masalah cabang, maka Anda telah sukses menjalankan qiyâs. Hanya saja, Anda perlu tahu, apakah hasil qiyâs Anda tepat atau salah ? Tepat atau tidaknya proses qiyâs Anda, dapat dikenali dengan mengenali kriteria hukum masalah cabang.

Ulama’ ahli ushul fiqih telah menjelaskan bahwa hukum hasil qiyâs Anda harus sama dengan hukum pada masalah utama. Bila hukum hasil qiyâs anda berbeda dengan hukum pada masalah utama, maka ini menjadi bukti bahwa qiyâs Anda salah, atau yang sering disebut oleh para ulama’ dengan sebutan qiyâs ma’al farqi. Yaitu memaksakan qiyâs masalah cabang dengan masalah utama, padahal antara keduanya terdapat perbedaan mendasar.

Dengan demikian tidak dapat diterima bila hukum masalah utama wajib, sedangkan hasil qiyâs pada masalah cabang adalah hukum sunnah. Sebagaimana tidak dapat diterima qiyâs gaji (profesi) dengan hasil tanaman dalam hal zakat, karena zakat pertanian adalah 10% atau 5 %, sedangkan menurut penggiat zakat profesi, zakat profesi sebesar 2,5 %.
Penjelasan tentang rukun-rukun qiyâs ini saya sarikan dari kitab Irsyâdul Fuhûl karya Imam as-Syaukâni, 2/149-166.

SYARAT-SYARAT QIYAS

Ulama’ ahli ilmu Ushûl Fiqih telah membahas masalah ini dengan panjang lebar. Dari penjelasan mereka, dapat disarikan beberapa persyaratan berikut :

1. Hukum masalah utama ditetapkan berdasarkan dalil dari al-Qur’ân, as-sunnah atau ijmâ’ Ulama’.

2. Alasan (‘illah) penetapan hukum masalah utama dapat diketahui dengan logika, sehingga alasan ini dapat diterapkan pada masalah cabang.

3. Alasan penetapan hukum pada masalah utama didapatkan pula pada masalah cabang yang akan diqiyaskan.

4. Tidak ditemukan dalil khusus yang menetapkan suatu hukum pada masalah cabang yang akan diqiyaskan.

5. Proses qiyâs akan menghasilkan hukum yang sama dengan hukum yang pada masalah utama. Dengan demikian tidak dapat diterima bila hukum masalah utama wajib, sedangkan hasil qiyâs pada masalah cabang adalah hukumnya sunnah. Sebagaimana tidak dapat diterima qiyâs gaji (profesi) dengan hasil tanaman dalam hal zakat, karena zakat pertanian adalah 10% atau 5 %, sedangkan menurut penggiat zakat profesi, zakat profesi sebesar 2,5 %

6. Alasan penetapan hukum pada masalah utama dapat diketahui dengan jelas, sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para Ulama’ ahli ushul fiqh.

7. Alasan yang dijadikan penyatu antara masalah utama dengan masalah cabang adalah suatu hal yang dipertimbangkan dalam syari’at dan benar-benar memiliki pengaruh pada penetapan hukum

8. Qiyâs hanya berlaku pada hukum-hukum praktis, yaitu hukum yang ada kaitannya dengan amaliyah atau praktek. Sedangkan dalam urusan akidah atau idiologi maka qiyâs tidak dapat dijadikan dasar hukum, terlebih-lebih bila bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur’ân dan as-sunnah.

QIYAS SEBAGAI DALIL DALAM AGAMA

Imam Syâfi’i rahimahullah berkata, “Setiap urusan yang menimpa seorang muslim pastilah ada penjelasan tentang hukumnya atau petunjuk yang menunjukkan jalan kebenaran tentangnya. Karenanya, bila telah ditemukan hukum khusus tentang masalahnya, maka ia wajib untuk mengamalkanya. Namun bila tidak ditemukan hukum khusus tentang masalahnya, maka ia wajib mencari petunjuk menuju jalan kebenaran yaitu dengan berijtihad. Dan yang dimaksud dengan ijtihad ialah qiyâs.” (ar-Risâlah, hlm. 477).

Imam Syâfi’i rahimahullah menganggap bahwa qiyâs adalah ijtihad yang semestinya dilakukan oleh seorang Ulama’ ketika tidak menemukan hukum suatu masalah dalam al-Qur’ân dan as-Sunnah.

Ini bukanlah klaim yang tanpa dasar, akan tetapi sebaliknya. Klaim ini adalah hasil kajian panjang beliau rahimahullah, dari berbagai dalil dalam syari’at. Beliau rahimahullah mendapatkan praktek dan contoh nyata dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan kepada sahabatnya agar senantiasa menyamakan antara dua hal yang serupa dan membedakan antara dua hal yang berbeda.

BEBERAPA PRAKTEK QIYAS YANG DICONTOHKAN NABI KEPADA SAHABATNYA :

Pertama :

Pada suatu hari Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu mengadu kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Pada hari ini aku telah melakukan kesalahan besar, yaitu aku mencium (istriku), padahal aku sedang berpuasa. Menanggapi pengaduan sahabatnya ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ ؟ فَقُلْتُ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَفِيم

Apa pendapatmu bila engkau berkumur-kumur dengan air, padahal engkau sedang berpuasa ? Sahabat Umar menjawab, “Tentu tidak masalah.” Mendengar jawaban demikian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya dengan bersabda, “Lalu mengapa engkau risau ? (Riwayat Ahmad dan lainnya).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pada hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa muqadimah (permulaan) suatu hal yang terlarang tidak serta merta terlarang pula. Ciuman yang merupakan permulaan hubungan badan, tidak serta merta haram hanya karena hubungan badan bagi orang yang sedang berpuasa itu haram. Demikian pula dengan memasukkan air ke mulut yang merupakan permulaan dari meminumnya. Permulaan meminum yaitu berkumur-kumur juga tidak haram”. (I’ilâmul Muwaqqi’în, 4/174).

Kedua :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – جَاءَهُ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ امْرَأَتِى وَلَدَتْ غُلاَمًا أَسْوَدَ . فَقَالَ « هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « مَا أَلْوَانُهَا » . قَالَ حُمْرٌ . قَالَ « فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « فَأَنَّى كَانَ ذَلِكَ » . قَالَ أُرَاهُ عِرْقٌ نَزَعَهُ . قَالَ « فَلَعَلَّ ابْنَكَ هَذَا نَزَعَهُ عِرْقٌ » . متفق عليه

Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mengisahkan, “Ada seorang arab baduwi yang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak berkulit hitam (sedangkan aku berkulit putih)”. Mendengar keluhan sahabatnya ini, Rasûlullâh balik bertanya, “Apakah engkau memiliki onta ?” Penanya menjawab, “Ya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa warna kulit onta-ontamu ?” Sahabat itu menjawab, “Putih kemerah-merahan”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah ada dari ontamu yang berkulit hitam keabu-abuan ?” Ia menjawab, “Ya” Nabi melanjutkan pertanya’annya, “Darimanakah datangnya warna kulit onta itu ?” Penanya berusaha menjelaskan dengan berkata, “Menurutku dahulu ada dari induknya yang berwarna demikian”. Mendengar penjelasan itu, Nabi balik berkata, “Mungkin juga anakmu menuruni warna kulit salah seorang nenek moyangnya”. (Riwayat Bukhâri, no.6455 dan Muslim, no. 1500).

Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah mengatakan, ”Pada hadits ini terdapat perumpamaan, menyerupakan suatu hal yang dipersoalkan dengan hal yang telah diketahui bersama, guna mendekatkan pemahaman. Dan hadits ini merupakan dasar penggunaan qiyâs”. (Fathul Bâri, 9/444).

Ketiga :

Sahabat Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma mengisahkan, “Ada seorang wanita datang menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia bertanya, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia dan meninggalkan kewajiban berpuasa sebulan, apakah boleh bagiku untuk menebusnya ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ. قَالَتْ : نَعَمْ, قَالَ : فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

Andai ibumu menanggung piutang, apakah engkau sudi untuk melunasinya ? Wanita itu menjawab, “Tentu”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya dengan bersabda, “Sesungguhnya piutang milik Allâh lebih layak untuk ditebus”. (Riwayat Bukhâri, no. 1754 dan Muslim, no. 1148).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Pada hadits ini terdapat petunjuk tentang benarnya qiyâs, yaitu pada sabda beliau, “Sesungguhnya piutang milik Allâh lebih layak untuk ditebus”. (Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi, 8/26).

Berbagai dalil di atas merupakan bukti bahwa qiyâs adalah salah satu dasar pengambilan hukum dalam syari’at Islam.

QIYAS TERCELA DAN QIYAS TERPUJI

Walaupun tidak diragukan tentang status qiyâs sebagai dalil hukum dalam syari’at, namun bukan berarti semua bentuk qiyâs dibenarkan dalam syari’at.

Al-Karmani rahimahullah mengatakan, “Ada dua jenis qiyâs. Pertama, qiyâs yang benar, yaitu qiyâs yang memenuhi berbagai persyaratannya. Kedua, qiyâs yang salah, yaitu yang tidak memenuhi persyaratannya. Qiyâs yang inilah yang tercela, sedangkan qiyâs yang benar, maka dia tidak tercela, bahkan dianjurkan. (Fathul Bâri oleh Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah, 13/297).

Bila faktanya demikian, maka sudah sepantasnya bila anda bersikap waspada, sehingga tidak gegabah dalam menerapkan qiyâs atau menerima hasil qiyâs orang lain. Karena kecerobohan anda dapat berakibat fatal dan menyengsarakan anda.

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Segala bentuk amalan bid’ah dan pendapat sesat yang disusupkan ke dalam agama para rasul berawalkan dari qiyâs yang salah.” (I’ilâmul Muwaqqi’în, 2/29).

ANDA BERHAK BERDALIL DENGAN QIYAS ?

Untuk mengetahui apakah anda berhak untuk berdalil dengan qiyâs atau tidak, Saya ajak anda untuk mencermati beberapa ucapan Imam Syâfi’i rahimahullah, beliaulah ulama pertama yang membukukan ilmu ushûl fiqh berikut :

“Tidak dibenarkan untuk berdalil dengan qiyâs selain orang yang telah menguasai ilmu pendukung qiyâs yang terdiri dari :

1. Ilmu hukum-hukum al-Qur’ân, yang wajib, sunnah, penganulir (nâsikh) dan yang dianulir (mansûkh), yang bersifat umum, khusus dan berbagai petunjuknya.

2. Selanjutnya ia menguraikan ayat-ayat yang terkesan multi tafsir dengan bantuan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bila ia tidak menemukannya dalam hadits, maka ia mencari petunjuk dari ijmâ’ Ulama’. Dan bila ia tidak menemukan kesepakatan Ulama’, maka ia dapat mencari petunjuk dari qiyâs. Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk berdalil dengan qiyâs hingga ia menguasai seluruh hadits yang diriwayatkan sebelumnya, berbagai keterangan Ulama’ terdahulu, kesepakatan Ulama’, perselisihan mereka dan juga menguasai bahasa arab. Sebagaimana ia tidak dibenarkan berdalil dengan qiyâs hingga terbukti ia memiliki kecerdasan, sehingga ia mampu membedakan antara hal-hal yang terkesan serupa. Ditambah lagi, hendaknya ia berlaku hati-hati dan tidak terburu-buru dalam menarik kesimpulan sebelum ia memastikan kebenaran dari kesimpulannya. …. Adapun orang yang memiliki kecerdasan akan tetapi ia tidak menguasai berbagai ilmu pendukung yang telah saya jelaskan, maka tidak halal baginya untuk berdalil dengan qiyâs. Yang demikian itu dikarenakan ia tidak mengetahui dalil-dalil yang dapat ia jadikan dasar bagi qiyâsnya. Layaknya seorang ahli fiqih yang cerdas, maka tidak boleh untuk mengutarakan pendapatnya tentang nilai tukar uang dirham, padahal ia tidak mengetahui harga pasarannya. Adapun orang yang menguasai berbagai disiplin ilmu yang telah saya sebutkan hanya dengan menghafalnya tanpa memahaminya dengan utuh, maka ia juga tidak layak untuk berdalil dengan qiyâs, karena bisa saja ia tidak memahami kandungan makna dalil-dalil yang ada.
Demikian pula halnya dengan orang yang kuat hafalannya akan tetapi ia kurang cerdas, atau kurang menguasai bahasa arab. Ia juga tidak berhak untuk berdalil dengan qiyâs, karena ia kurang pandai dalam memahami berbagai disiplin ilmu pendukung dalil qiyâs. Dan menurut pendapatku, orang yang demikian ini halnya tidak halal untuk mengutarakan suatu pendapat – wallahu a’alam- kecuali dengan mengikuti Ulama’ lain dan tidak berdalil sendiri dengan qiyâs”. (ar-Risâlah, hlm. 509-511).

Jujur saja saudaraku ! Bagaimana perasaan Anda tatkala membaca penjelasan Imam Syafi’i rahimahullah di atas ?

Setelah membaca ucapan beliau rahimahullah ini, sudahkah anda merasa layak untuk berdalil dengan qiyâs ?

KAPAN ANDA BOLEH BERDALIL DENGAN QIYAS ?

Mungkin saat ini Anda bergumam dan berkata, “Begitu sulitnya untuk bisa berdalil dengan qiyâs.” Dan mungkin juga Anda bertanya, “Sejatinya, seberapa jauh peranan dalil qiyâs dalam penetapan hukum syari’at ?”

Untuk mengobati rasa penasaran Anda, kembali saya mengajak Anda untuk merenungkan penegasan Imam Syâfi’i rahimahullah. Rasa penasaran Anda jauh-jauh hari telah beliau rahimahullah sediakan penawarnya. Simak dan camkanlah jawaban beliau berikut :

“Kami menentukan suatu hukum dengan dasar kesepakatan hasil ijtihâd Ulama’ dan juga qiyâs, dan ini adalah dalil yang jauh lebih lemah bila dibanding dengan dalil al-Qur’ân dan as-Sunnah. Akan tetapi pengambilan dalil dari kesepakatan hasil ijtihâd dan qiyâs ini kami lakukan ketika dalam keadaan darurat. Sejatinya tidak halal berdalil dengan qiyâs selama ditemukan dalil dari al-Qur’ân dan as-Sunnah. Sebagaimana tayammum, dia dianggap sebagai kesucian ketika dalam perjalanan dan kesulitan menemukan air. Tayammum tidak dianggap sebagai kesucian bila Anda mendapatkan air. Tayammum hanya dianggap sebagai kesucian bila sedang dalam kesulitan untuk mendapatkan air.” (ar-Risâlah, hlm. 509-600).

Demikianlah kedudukan qiyâs yang sebenarnya sebagai dalil hukum dalam syari’at. Qiyâs hanya berlaku ketika tidak ada penjelasan hukum dalam al-Qur’ân dan as-Sunnah. Adapun bila pada suatu masalah ditemukan dalil dari al-Qur’ân dan as-Sunnah, maka anda tidak dibenarkan untuk berdalil dengan qiyâs dan menghasilkan kesimpulan hukum yang menyelisihi keduanya. Seluruh Ulama’ telah bersepakat bahwa qiyâs yang menghasilkan kesimpulan hukum yang menyelisihi ayat atau hadits adalah qiyâs tidak sah atau disebut fasidul i’itibar (tidak pada tempatnya).. (al-Ihkâm Fi Ushûlil Ahkâm oleh al-Aamidi, 4/76 dan Irsyâdul Fuhûl oleh as-Syaukâni, 2/158).

PENUTUP

Demikian selayang pandang tentang dalil qiyâs yang pada zaman sekarang sering disalah pahami oleh sebagian umat Islam. Qiyâs yang sejatinya hanya menjadi dalil pada kondisi darurat, yaitu ketika tidak ditemukan dalil al-Qur’ân dan as-sunnah, akan tetapi pada zaman sering dipertentangkan dengan keduanya. Sebagaimana qiyâs hanya boleh digunakan oleh orang yang benar-benar mumpuni, akan tetapi sekarang, banyak orang yang lancang menggunakannya untuk membenarkan sikap dan pendapatnya. Semoga penjelasan singkat ini mampu membuka wawasan Anda tentang dalil qiyâs sebagaimana yang dipahami oleh Ulama’-ulama’ kita. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

Di ringkas dari tulisan : Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA

===============

QIYAS SERAMPANGAN

.
QIYAS SERAMPANGAN
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong
.
• Pengertian qiyas
.
Menurut etimologi (bahasa), qiyas berarti menyamakan atau membandingkan. Sedangkan pengertian qiyas menurut istilah (terminologi) artinya menetapkan status hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah tetap hukumnya berdasarkan nash karena ada persamaan ‘illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu.
.
Adapun qiyas serampangan maksudnya yaitu, qiyas asal-asalan atau asal main qiyas, dan menurut para Ulama ahli usul fiqh, qiyas semacam itu di sebut dengan qiyas fasid i’itibar (qiyas tidak pada tempatnya). Qiyas serampangan termasuk kepada qiyas yang tercela.
.
Qiyas asal-asalan sering dijadikan dalil atau hujjah untuk membenarkan amalan-amalan, pendapat atau keyakinan-keyakinan batil oleh para pengusung kesesatan. Dan qiyas serampangan inilah yang menjadikan kesesatan laris manis di tengah-tengah umat Islam.
.
Tidak diragukan bahwa metode qiyas dalam ber-ijtihad yang dilakukan oleh seorang mujtahid, maka status hukumnya boleh dijadikan dalil dalam syariat. Namun demikian bukan berarti semua bentuk qiyas dibenarkan.
.
Al-Karmani rahimahullah berkata : “Ada dua jenis qiyas. Pertama, qiyas yang benar, yaitu qiyas yang memenuhi berbagai persyaratannya. Kedua, qiyas yang salah, yaitu yang tidak memenuhi persyaratannya. Qiyas yang inilah yang tercela, sedangkan qiyas yang benar, maka dia tidak tercela, bahkan dianjurkan”. (Fathul Bâri oleh Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah, 13/297).
.
• Bid’ah dan pendapat sesat akibat dari qiyas batil
.
– Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : “Segala bentuk amalan bid’ah dan pendapat sesat yang disusupkan ke dalam agama para rasul berawal dari qiyas yang salah”. (I’ilâmul Muwaqqi’în, 2/29).
.
– Imam Ahmad berkata :
.
أَكْثَرُ مَا يُخْطِئُ النَّاسُ مِنْ جِهَةِ التَّأْوِيلِ وَالْقِيَاسِ. وَقَالَ : يَجْتَنِبُ الْمُتَكَلِّمُ فِي الْفِقْهِ هَذَيْنِ الْأَصْلَيْنِ الْمُجْمَلِ وَالْقِيَاسِ وَهَذِهِ الطَّرِيقُ يَشْتَرِكُ فِيهَا جَمِيعُ أَهْلُ الْبِدَعِ الْكِبَارِ وَالصِّغَارِ فَهِيَ طَرِيقُ الجهمية وَالْمُعْتَزِلَةِ وَمَنْ دَخَلَ فِي التَّأْوِيلِ مِنْ الْفَلَاسِفَةِ وَالْبَاطِنِيَّةِ الْمَلَاحِدَةِ
.
“Paling banyak kesalahan manusia itu dari arah ta’wil dan qiyas”. Dan ia berkata : “Dua hal pokok yang menjauhkan pembicara dari kefahaman adalah al-mujmal (garis besar/global, pukul rata) dan qiyas (perbandingan/analogi). Di dalam cara (mujmal dan qiyas) inilah bergabung seluruh ahli bid’ah yang kecil maupun yang besar. Dia itu adalah jalan golongan jahmiyah, mu’tazilah dan orang-orang yang memasuki wilayah ta’wil yaitu filosof, kebatinan, dan atheis/anti Tuhan”. (Al-Fatawa Ibnu Taimyyah 17/ 355, 356).
.
– Imam Ibnu Taimiyah berkata :
.
وَكُلُّ قِيَاسٍ عَارَضَ النَّصَّ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ إلَّا فَاسِدًا وَأَمَّا الْقِيَاسُ الصَّحِيحُ فَهُوَ مِنْ الْمِيزَانِ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللَّهُ وَلَا يَكُونُ مُخَالِفًا لِلنَّصِّ قَطُّ بَلْ مُوَافِقًا لَهُ
.
“DAN SETIAP QIYAS YANG MENENTANG NASH MAKA SESUNGGUHNYA TIDAK ADA KECUALI KERUSAKAN. Adapun qiyas yang benar maka dia dari timbangan yang diturunkan Allah dan tidak menyelisihi nash sama sekali, bahkan menyesuaikan kepadanya”. (Al-Fatawa Ibnu Taimyyah 17/ 355, 356).
.
Karena tidak semua qiyas dibenarkan, maka waspadalah, sehingga tidak ceroboh dalam menerapkan qiyas atau menerima hasil qiyas dari orang lain. Yang akibatnya terperosok kedalam kesesatan.
.
• Yang pertamakali melakukan qiyas batil
.
Qiyas serampangan ternyata pertama kali dilakukan oleh dedengkot kesesesatan, makhluk Allah paling terkutuk yaitu iblis laknatullah ‘alaihi.
.
Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata :
.
أَوَّلُ مَنْ قَاسَ إبْلِيسُ وَمَا عُبِدَتْ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ إلَّا بِالْمَقَايِيسِ
.
“Pertama kali yang berqiyas adalah iblis, dan tidaklah matahari dan bulan itu disembah kecuali karena qiyas”. (Ad-Darimi 1/65).
.
Dari Hasan al-Basri bahwa ia membaca ayat berikut ini :
.
خَلَقْتَنِى مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
.
“Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya (Adam) dari tanah”. (QS. Shaad: 76),
.
Kemudian Hasan Al-Basri berkata :
.
قَاسَ إِبْلِيسُ، وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ قَاسَ
.
“Iblis berqiyas, dan dialah yang pertama kali berqiyas”. (Ad-Darimi 1/65).
.
Qiyas serampangan dilakukan pertama kalinya oleh iblis laknatullah biangnya kesesatan, namun ternyata qiyas asal-asalan di lakukan juga oleh manusia, namun tentunya oleh mereka para pelakon menyimpang dan sesat.
.
• Contoh qiyas serampangan
.
Ketika sedang ramai-ramainya pro kontra terhadap Basuki Cahaya Purnama (Ahok), yang mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur DKI jakarta periode 2017 – 2022, seorang ‘ustadz’ yang dikenal dengan nama ustadz Nur Maulana, pengisi program Islam Itu Indah di salah satu stasiun TV swasta, melontarkan pendapat dalam ceramahnya pada Senin (9/11/2015) pagi, sebagaimana yang dilansir pada halaman Fanpage Facebook, Front Pembela Islam (FPI), yang memancing reaksi keras dari beberapa tokoh umat Islam dan Ormas Islam di Indonesia.
.
Dalam pernyata’an kontroversialnya ‘ustadz’ Maulana mengatakan,
“ . . Kalau kita membahas kepemimpinan tidak usah bicara agama. Kepemimpinan itu tidak berbicara masalah agama. JADI KAU TIDAK MAU NAIK PESAWAT KALAU PILOTNYA AGAMA LAIN ?, jadi berbicara seperti ini jangan ada black campaign . .”
.
Pernyata’an ‘ustadz’ Maulana di atas yang menyamakan (mengqiyaskan) pilot pesawat dengan pimpinan sebuah negara tentu saja adalah sebuah analogi (qiyas) serampangan atau qiyas asal-asalan. Dan ternyata analogi sesat atau qiyas asal-asalan ‘ustadz’ Nur Maulana tersebut mendapatkan reaksi keras dari beberapa tokoh umat Islam dan Ormas Islam di Indonesia.
.
Diantara reaksi keras terhadap qiyas batil ‘ustadz’ Nur Maulana di atas datang dari Kyai Cholil Ridwan, Lc. Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
.
Menurut Kyai Cholil, “Itu menyesatkan pernyata’an seperti itu, karena itu bertentangan dengan Al-Qur’an,” kata Kyai Cholil sa’at dihubungi Panjimas.com, selasa (10/11/2015).
.
So’al analogi pilot pesawat non muslim yang disampaikan Ustadz Maulana, menurut Kyai Cholil analogi tersebut sangat berbeda. Pasalnya, perkara pilot pesawat itu muslim atau non muslim tidak ada masalah, sebab hal ini menyangkut urusan muamalah dalam Islam, dimana hal itu diberikan kelonggaran. Berbeda dengan masalah kepimpinan yang jelas diatur dalam syariat Islam.
.
“Tidak bisa dianalogikan dengan pilot pesawat. Apalagi kalau pesawatnya yang punya orang kafir, sehingga tergantung yang punya pesawat atau perusahaan itu. Kita naik haji pun pakai pesawat, itu tidak masalah. Pesawat hanya mengantar orang naik haji ke Jeddah, lalu kita turun, kemudian pulang naik pesawat itu lagi. Ngga ada yang perlu dipermasalahkan soal itu, karena ngga ada hajinya lalu ngga mabrur karena pilotnya kafir. Begitu juga kalau kita belanja di swalayan yang miliknya orang kafir, itu juga tidak masalah,” ujar Cholil Ridwan, Lc.
.
Diantara reaksi keras lainnya datang dari Ketua Komisi Penelitian Dan Pengkajian Aliran Sesat MUI Kota Bogor, ustadz Willyuddin A.R. Dhani.
.
“Kias dan analogi ustadz Maulana tentang kepempinan dalam Islam digambarkan seperti pilot, jelas tidak nyambung dan semakin menggambarkan kejahilan dirinyanya terhadap masalah agama”. Ujar ustadz Willyuddin A.R. Dhani.
.
Di akhir komentarnya, ustadz Willyuddin A.R. Dhani memberikan pesan, “Tolong sampaikan kepada USTADZ GADUNGAN tersebut agar segera taubat dan membuat pernyataan di TV yang sama untuk mencabut ceramah ngawurnya itu dan meminta ma’af kepada umat Islam, sebelum Allah melaknat dia di akhir hayatnya atau Allah balikkan kepalanya jadi kaki, dan kakinya jdi kepala”.
.
Selain kritikan keras juga datang sindiran terhadap pernyata’an ‘ustad’ Nur Maulana di atas dari ustadz Muhammad Arifin Ilham yang tertulis dalam fans page Facebook milik Ustadz Arifin Ilham. “Ingat setiap mu’min apalagi juru da’wah wajib menyampaikan dalil yang berdasar Al-Qur’an dan Sunnah.
.
Ustadz Muhammad Arifin Ilham juga menuliskan do’anya, “ALLAHUMMA, Ya Allah, lindungilah kami dari juru da’wah jahil yang menyesatkan kami dari PETUNJUKMU dan SUNNAH NABIMU. Aamiin.
.
Semoga bermanfa’at.
.
با رك الله فيكم
.
✍ : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
Sumber tulisan :
.
http://www.panjimas.com/news/2015/11/10/kyai-cholil-ridwan-pernyataan-ustadz-maulana-menyesatkan-bertentangan-dengan-al-quran/
.
https://m.eramuslim.com/berita/nasional/mui-bogor-serukan-agar-pelawak-ini-bertaubat.htm
.
http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2015/11/11/40550/ustadz-arifin-ilham-sindir-maulana/
.
.
_________________

PENGERTIAN SUNNAH

PENGERTIAN SUNNAH

• Makna sunnah secara bahasa

Sunnah berasal dari kata,

(سن) -> (يسن) -> (سنة)

Secara bahasa (etimologi) arti sunnah adalah : ”Cara atau disebut juga jalan (yang ditempuh)”. (An-Nihayah/ Ibnu Atsir, Lisanul ‘Arab/ Ibnu Manzhur).

Arti sunnah secara bahasa lainnya adalah : Peraturan atau ketetatapan, tradisi atau kebiasa’an juga bisa berarti keterangan

• Sunnah berarti cara

Sunnah berarti ”cara” diantaranya terdapat dalam sebuah hadits sebagai berikut,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa yang mencontohkan “cara” yang baik di dalam Islam, maka ia akan mendapat pahala dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang mencontohkan “cara” yang jelek, maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim: 2398).

Dalam pengertian ini, sunnah berarti ”cara” maka terbagi menjadi dua, sebagaimana dikatakan Ibnu Manzhur :

1. Cara atau jalan yang baik (sunnah mahmudah)

2. Cara atau jalan yang buruk (sunnah madzmumah).

• Sunnah berarti jalan (yang ditempuh)

Sunnah yang berarti jalan (yang ditempuh) diantaranya terdapat dalam sebuah hadits sebagai berikut,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلنّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنّي

”Nikah itu dari sunnahku, maka barangsiapa yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah ia dari golonganku”. (HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 592).

Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan orang yang pertama kali menjalani nikah, melainkan mengikuti jalan yang pernah dijalani oleh para Nabi yang datang sebelumnya.

Makna ini juga terdapat dalam sebuah hadits,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَبْغَضُ النَّاسِ اِلىَ اللهِ ثَلاَثَةٌ: مُلْحِدٌ فِى اْلحَرَمِ وَ مُبْتَغٍ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةَ اْلجَاهِلِيَّةِ وَ مُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقّ لِيُهْرِيْقَ دَمَهُ

”Manusia yang paling dibenci Allah ada tiga golongan, yaitu : Yang melakukan kekufuran di tanah haram, dan menghendaki perjalanan (sunata) jahiliyah di dalam (agama) Islam, dan yang menuntut darah seseorang dengan tidak haq (benar) untuk ditumpahkan darahnya”. (H.R. Bukhari juz 8, hal. 39).

Dari dua hadits diatas, maka kata “sunnah” berarti jalan atau perjalanan yang telah dijalani oleh orang yang datang terlebih dahulu.

Makna sunnah menurut bahasa lainnya bisa juga berarti : Peraturan atau ketetatapan, tradisi atau kebiasa’an juga bisa berarti keterangan.

• Sunnah berarti peraturan atau ketetapan

Makna sunnah berarti peraturan atau ketetapan contohnya dalam firman Allah Ta’ala sebagai berikut,

Allah Ta’ala berfirman :

سُنَّةَ مَنْ قَدْ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيْلاً

”(Yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu”. (Q.S. Al-Israa’: 77).

Juga dalam firman Allah Ta’ala :

سُنَّةَ اللهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً

”Sebagai ketetapan Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada ketetapan Allah”. (Q.S. Al-Ahzab: 62).

• Sunnah berarti tradisi atau kebiasa’an

Sunnah berarti tradisi atau kebiasa’an terdapat pada sebuah hadits,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Niscaya kalian pasti akan mengikuti tradisi (kebiasa’an) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka memasuki lubang dhob (sejenis biawak) maka kalian akan mengikuti mereka”. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah (mereka itu) Yahudi dan Nashara ??”. Beliau menjawab : “Lalu siapa lagi (kalau bukan mereka)”. (Riwayat Bukhari).

• Sunnah berarti keterangan

Sunnah yang berarti keterangan, seperti perkata’an ulama ahli bahasa (lughat) sebagai berikut :

سَنَّ اللهُ اَحْكَامَهُ لِلنَّاسِ

”Allah telah menerangkan hukum-hukumnya kepada manusia”.

Juga perkata’an sebagai berikut :

سَنَّ الرَّجُلُ اْلاَمْرَ

”Lelaki itu telah menerangkan satu urusan”.

• Makna Sunnah menurut Ahli Fikih

Menurut Ahli Fikih, sunnah adalah : ”Suatu amal yang dianjurkan oleh syariat namun tidak mencapai derajat wajib”.

Juga dikatakan : ”Segala perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa”.

Sunnah dalam makna ini terbagi menjadi dua :

1. Sunnah muakadah (sangat dianjurkan).

2. Sunnah ghoir muakadah

(1) Sunnah muakadah (sangat dianjurkan) artinya : Sesuatu yang yang sangat dianjurkan atau dikerjakan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara rutin, seperti : Shalat witir, shalat dua raka’at sebelum fajar, shalat rowatib. Termasuk juga menikah, karena Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

من أحب فطرتي فليستن بسنتي ومن سنتي النكاح

“Barang siapa yang cinta dengan “fitroh-ku“, maka hendaknya dia melaksanakan sunnahku, dan diantara sunnahku adalah menikah”. (HR Baihaqi : 7/ 78).

(2) Sunnah ghoir muakadah.

Contohnya : Shalat Dhuha, shalat empat raka’at sebelum Dhuhur, dan lain-lain.

• Makna sunnah menurut ahli hadits dan ahli ushul fiqih

Para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqih mendefinisikan kata sunnah sebagai berikut :

مَاجَاءَ عَنِ النَّبِيّ ص مِنْ اَقْوَالِهِ وَاَفْعَالِهِ وَ تَقْرِيْرِهِ وَمَاهَمَّ بِفِعْلِهِ

“Apa-apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa perkata’annya, perbuatannya dan taqrirnya (persetujuannya) dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya”.

Maka arti sunnah menurut ahli hadits dan ahli ushul fiqih sunnah Nabi ada empat macam :

1. Sunnah Qauliyyah (perkata’an Nabi)
2. Sunnah Fi’liyyah (perbuatan Nabi)
3. Sunnah Taqririyyah (persetujuan Nabi)
4. Sunnah Hammiyah (keinginan Nabi)

Ada juga ahli usul fikih yang mendefinisikan sunnah sebagai berikut :

كل ما صد رعن النبي صلى الله عليه وسلم غيرالقران من قول او فعل او تقرير مما يصلح ان يكون دليلا لحكم شرعي

”Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selain Al-Qur’an, baik berupa perkata’an, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk di jadikan dalil bagi penetapan hukum syara’ (hukum agama).

Senada dengan definisi diatas :

السنة ما جاء منقولا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير للحكم

“Sunnah adalah segala yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (testimonial) yang bisa dijadikan dasar penetapan hukum syara”.

Definisi ahli usul fikih ini membatasi pengertian sunnah hanya pada sesuatu yang disandarkan atau yang bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkaitan dengan penetapan hukum syara’.

Maka dengan demikian, segala sifat, perilaku, sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada hubungannya dengan hukum syara’, tidak dianggap sebagai sunnah.

• Sunnah lawan dari bid’ah

Pengertian sunnah selain disebutkan diatas juga kata sunnah sebagai lawan dari kata bid’ah. Sebagaimana disebutkan oleh Al Imam asy-Syathibi,

Al Imam asy-Syathibi berkata : “Dipakai juga (lafazh sunnah) sebagai lawan dari bid’ah. Dikatakan fulan diatas Sunnah jika dia beramal sesuai dengan apa yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu’alayhi wa salam, dan dikatakan fulan diatas bid’ah jika dia mengamalkan kebalikannya”. (Al-Muwafaqat 4/4).

• Sunnah sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيّهِ

”Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat apabila kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. (H.R. Malik, Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899).

Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah mengirim surat kepada Syuraih, ketika ia menjabat qadli, yang bunyinya :

اِذَا اَتَاكَ اَمْرٌ فَاقْضِ ِبمَا فِى كِتَابِ اللهِ. فَاِنْ اَتَاكَ مَا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللهِ فَاقْضِ ِبمَا سَنَّ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص

“Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka hukumilah dengan apa yang ada di dalam Kitab Allah dan jika datang kepadamu apa yang tidak ada di dalam Kitab Allah, maka hukumilah dengan apa yang pernah dihukumi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Al-Muwafaqaat, 4 : 6).

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

PEMECAH BELAH UMAT YANG SEBENARNYA

PEMECAH BELAH UMAT YANG SESUNGGUHNYA

Pemecah belah umat, anti persatuan, suka ngajak ribut, intoleran, biang kerok dan banyak lagi kata-kata semacam itu yang dituduhkan kepada pihak yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, ajaran Islam yang tidak dinodai dengan beragam kepercaya’an takhayul, bid’ah dan kesyirikan.

Tidak aneh dengan tuduhan seperti itu, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dahulu dikatakan pemecah belah oleh orang-orang yang menentangnya ?

Siapa sesungguhnya pemecah belah umat ?

Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak akan bisa dipersatukan. Padahal kiblat mereka sama, Nabinya sama yang di ibadahi juga sama, yaitu Allah Ta’ala.

Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih ?

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Yang dimaksud jalan-jalan lain dalam ayat diatas yaitu, macam-macam bid’ah dan syubhat. Sebagaimana di terangkan oleh Imam Mujahid rahimahullah dalam tafsirnya, Beliau berkata : “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Dari keterangan para Ulama diatas, maka jelaslah sesungguhnya terjadinya perselisihan sehingga umat terpecah belah dan saling bermusuhan adalah diakibatkan adanya orang-orang yang membuat bid’ah ditengah-tengah umat.

Apabila tidak ada yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah), maka niscaya umat Islam pun akan utuh dalam persatuan diatas kemurnian Islam berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

TIGA GENERASI TERBAIK UMAT

TIGA GENERASI TERBAIK UMAT

Sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala bahwa setiap para Nabi diutus, disamping ada banyak orang yang menentangnya juga ada orang-orang yang menjadi pengikut setianya, mereka adalah para sahabat Nabi. Dan mereka adalah umat para Nabi yang terbaik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ نَبيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أمَّةٍ قَبْلِي إلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأصْحَابٌ يَأخُذُونَ بِسنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لا يُؤْمَرونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلسَانِهِ فَهُوَ مُؤمِنٌ, وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلبِهِ فَهُوَ مُؤمِنٌ، وَلَيسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

“Tidak ada seorang nabipun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali ia memiliki para pengikut dan sahabat yang setia, yang mengikuti ajarannya dan mematuhi perintahnya. Kemudian datang setelah mereka itu suatu generasi yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa memerangi mereka dengan tangannya, maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan lisannya maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya maka dia itu orang yang beriman. Setelah itu, tidak ada keimanan walau hanya sebesar biji sawipun”. (HR Muslim).

Umat Nabi Nuh terbaik adalah umat dari Nabi Nuh yang ikut serta naik kedalam perahu bersama Nabi Nuh. Umat Nabi Musa terbaik adalah mereka yang menyebrangi laut merah bersama Nabi Musa. Umat Nabi Isa terbaik adalah mereka yang membela dan melindungi Nabi Isa dari gangguan orang-orang yang memusuhinya.

Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki umat terbaiknya, yaitu para Sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim ajma’in, dari kalangan Muhajirin dan Anshor.

Para Sahabat Nabi sebagai umat yang terbaik disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Yang dimaksud sebaik-baik umatku pada masaku dalam hadits diatas adalah para Sahabat Nabi, di tambah generasi selanjutnya yaitu Tabi’in dan generasi selanjutnya yaitu Tabi’ut tabi’in. Itulah generasi terbaik dari umat Islam.

Tiga generasi umat Islam terbaik diatas, mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi (Salafus shalih).

Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar dan selamat merujuk kepada mereka (Salafus shalih).

Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).

• KEWAJIBAN UNTUK MENGIKUTI PARA SAHABAT NABI

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mengikuti para sahabat, berjalan di atas jalan yang mereka tempuh. Berperilaku selaras dengan apa yang telah mereka perbuat. Dan menapaki jalan, metode atau cara (manhaj) dalam memahami agama sesuai dengan manhaj mereka.

– Allah Ta’ala berfirman :

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).

Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas menyebutkan, bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib mengikuti jalannya, perkata’an-perkata’annya, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka . .” (Kun Salafiyan ‘alal Jaddah, Abdussalam bin Salim bin Raja’ As-Suhaimi, hal, 14).

– Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَ ِلإِقَامَةِ دِيْنِهِ فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ.

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keada’annya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutama’an mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus”. (Majma’-uz Zawaa-id, oleh al-Hafizh al-Haitsamy, cet. Daarul Kitab al-‘Araby-Beirut, th. 1402 H).

– Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) berkata :

اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ بِمَا قَالُواْ، وَكُفَّ عَمَّا كُفُّوْا عَنْهُ، وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَّالِحَ، فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسِعَهُمْ

“Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka”. (Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq: Ahmad Mu-hammad Syakir, cet. Daarul Hadits, th. 1416 H).

Beliau juga berkata :

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهُ لَكَ بِالقَوْلِ

“Hendaklah kamu berpegang kepada atsar (jalan yang di tempuh) Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkata’annya yang indah”. (Sunan at-Tirmidzi).

– Imam Ahmad rahimahullah (wafat 241 H) berkata :

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ البِدَعِ وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلاَلَةٌ

“Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, oleh Imam al-Lalikaa-i, cet. Daar Thayyibah, th. 1418 H).

– Imam Malik berkata :

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Tidak akan baik akhir umat ini melainkan apabila mereka mengikuti baiknya generasi yang pertama umat ini (Shahabat)”. (Ighatsatul Lahfaan min Mashaayidhis Syaitan hal. 313, oleh Ibnul Qayyim).

• ANCAMAN ALLAH TA’ALA KEPADA MEREKA YANG TIDAK MENEMPUH JALANNYA (MANHAJ) PARA SAHABAT.

Terdapat ancaman yang datang dari Allah Ta’ala terhadap orang-orang yang memilih jalan-jalan selain jalan yang ditempuh as-salafu ash-shalih.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (An-Nisa’: 115).

Yang dimaksud orang-orang mukmin dalam ayat diatas adalah para Sahabat. Karena ketika turunnya wahyu tersebut tidak ada orang yang beriman kecuali para Shahabat.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum mukminin (para Sahabat) sebagai sebab seseorang akan terjatuh ke dalam kubangan kesesatan dan Allah mengancamnya dengan Neraka Jahannam.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

Silahkan di share semua artikel yang ada di blog ini dengan sarat selalu mencantumkan linknya.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

MEMAHAMI ARTI MANHAJ, AQIDAH, SALAF DAN SALAFIYAH

MEMAHAMI ARTI MANHAJ, AQIDAH, SALAF DAN SALAFIYAH

Apa yang dimaksud dengan manhaj ?

Manhaj menurut bahasa artinya jalan yang jelas dan terang.

Kata manhaj diantaranya terdapat di dalam surat al-Maidah ayat, 48 sebagai berikut,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“…Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang (minhaj) …” (QS. Al-Maa-idah: 48).

Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut berkata : “Maksudnya, jalan dan syari’at”. (Tafsiir Ibnu Katsiir (III/129) tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah, cet. IV Daar Thayyibah, th. 1428).

Sedangkan manhaj menurut istilah ialah, “Kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pembelajaran ilmiah, seperti kaidah-kaidah bahasa Arab, ushul aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir di mana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam Islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar”. (Al-Mukhtasharul Hatsiits fii bayaani Ushuuli Manhajis Salaf Ash-haabil Hadiits halaman 15).

Manhaj artinya jalan atau metode. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para sahabat Nabi.

PERBEDA’AN MANHAJ DAN AQIDAH

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan menjelaskan perbeda’an antara aqidah dan manhaj, beliau berkata, “Manhaj lebih umum daripada aqidah. Manhaj diterapkan dalam aqidah, suluk, akhlak, muamalah, dan dalam semua kehidupan seorang muslim. Setiap langkah yang dilakukan seorang muslim dikatakan manhaj. Adapun yang dimaksud dengan aqidah adalah pokok iman, makna dua kalimat syahadat, dan konsekuensinya. Inilah aqidah”. (Al-Ajwibah al-Mufiidah ‘an As-ilati Manaahijil Jadiidah halaman 123).

ARTI SALAF

Apa yang dimaksud dengan salaf ?

Salaf menurut bahasa berasal dari kata salafa-yaslufu-salafan, artinya : “Telah lalu”.

Kata salaf juga bermakna : “Seseorang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutama’an dan kebaikan”.

Ibnu Manzhur mengatakan, “Salaf juga berarti orang yang mendahului kamu, baik dari bapak maupun orang-orang terdekat (kerabat) yang lebih tua umurnya dan lebih utama. Karena itu generasi pertama dari umat ini dari kalangan para Tabi’in disebut sebagai as-Salafush Shalih”. (Lisaanul ‘Arab, VI/331).

• Sebaik-baik salaf adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah bersabda kepada anaknya Fathimah : “Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku”. (HR. Muslim no. 2450).

SALAF MENURUT ISTILAH

Adapun menurut istilah, Salaf adalah sifat yang khusus dimutlakkan kepada para Sahabat Nabi. Ketika disebutkan Salaf maka yang dimaksud pertama kali adalah para Sahabat. Adapun selain mereka ikut serta dalam makna Salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya, bila mereka mengikuti para Sahabat maka disebut Salafiyyin, yaitu orang-orang yang mengikuti Salafush Shalih. (Mulia dengan Manhaj Salaf halaman 15).

SALAF ADALAH NABI, PARA SAHABAT, TABI’IN DAN YANG MENGIKUTINYA.

Allah Ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dari Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah rida kepada mereka dan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalammnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar”.

Dalam ayat diatas Allah Ta’ala menyebutkan generasi pertama umat ini yaitu para Sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka dijamin masuk surga. Dan orang-orang setelah mereka, yang mengikuti mereka dengan baik dalam aqidah, manhaj dan lainnya, maka mereka pun akan mendapatkan ridha Allah dan akan masuk surga.

– Imam al-Ghazali berkata ketika mendefenisikan salaf, “Yang saya maksud adalah madzhab Sahabat dan Tabi’in”. (Iljamul Awaam ‘An ‘Ilmil Kalaam, halaman 62).

– Al-Baijuri berkata, “Maksud dari orang-orang terdahulu (salaf) adalah orang-orang terdahulu dari kalangan para Nabi, para Sahabat, Tabi’in, dan para pengikutnya”. (Tuhfatul Muriid Syarah Jauharut Tauhiid).

Yang dimaksud dengan Salaf pertama kali adalah Sahabat karena Rasulullah telah menyebutkan, Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in)”. (HR. Al-Bukhari, no. 2652 dan Muslim 2533).

Berdasarkan keterangan di atas menjadi jelaslah bahwa kata salaf mutlak ditujukan untuk para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. (Usus Manhaj Salaf fii Da’wati ilallah halaman 24).

Salaf adalah istilah yang sah. Istilah yang dipakai untuk orang-orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasululllah dan para sahabatnya sebelum terjadi perselisihan dan perpecahan. (Bashaa-iru Dzawisy Syaraf halaman 21).

MAKNA SALAFIYYAH

Adapun salafiyyah, maka itu adalah nisbat kepada manhaj salaf, dan ini adalah penisbatan yang baik kepada manhaj yang benar, dan bukan suatu bid’ah dari madzhab yang baru.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) mengatakan : “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu darinya berdasarkan kesepakatan (para ulama) karena madzhab salaf tidak lain kecuali kebenaran”. (Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah, IV/149).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga mengatakan : “Telah diketahui bahwa karakter ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) ialah meninggalkan atau tidak mengikuti salaf”. (Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah, IV/155).

Dirangkum dari tulisan Abu Aslam bin Syahmir Marbawi.

================

ANCAMAN BAGI YANG MENYELISIHI SUNNAH NABI

ANCAMAN BAGI YANG MENYELISIHI SUNNAH NABI

Menyelisihi sunnah Nabi terlebih lagi menentang dan meninggalkannya akan menjadikan seseorang, rendah, hina dan tersesat. Sebagaimana di tunjukkan oleh beberapa dalil berikut ini.

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ

“. . Dan dijadikan kehina’an dan kerendahan itu bagi orang yang menyelisihi/menentang perintahku . .” (HR. Ahmad, 2I/50 dan 92).

Lebih berbahaya lagi apabila sampai membenci sunnah Nabi, maka konsekuensinya tidak lagi dianggap sebagai umatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Barang siapa membenci Sunnahku, dia tidak termasuk golonganku”. (HR. al-Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401).

Dan ancaman yang keras datang dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang menyelisihi, menentang dan meninggalkan sunnah Nabi akan ditimpa dengan azab yang pedih.

Allah Ta’ala berfirman :

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya takut akan ditimpa coba’an atau ditimpa azab yang pedih”. (an-Nur: 63).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat diatas berkata : “Maksudnya, hendaknya takut orang yang menyelisihi syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, baik secara tampak maupun tidak, (akan ditimpa coba’an) dalam hati mereka, yang berupa kekufuran, kemunafikan, ataupun kebid’ahan, (atau ditimpa azab yang pedih) yakni azab di dunia berupa hukuman mati, hukum had, penjara, atau yang serupa dengannya.” (LihatTafsir Ibnu Katsir pada surat an-Nur: 63).

Dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Allah Jalla wa ‘Ala menyebutkan bahwa orang yang menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berada dalam bahaya besar, yaitu terancam akan tertimpa fitnah berupa penyimpangan, kesyirikan, dan kesesatan, atau terancam (juga) dengan azab yang pedih.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat 9/149).

Bagi seorang muslim tentu saja tidak akan pernah berharap mendapatkan kehina’an bahkan terjerumus kedalam kesesatan sehingga mendapatkan adzab yang pedih. Maka selayaknya, tidak menyelisihi sunnah Nabi, terlebih lagi menentang dan membencinya.

Dan hendaknya seorang muslim selalu ta’at dan patuh kepada apapun yang diperintahkan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥١ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخۡشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقۡهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ٥٢

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan ta’at”. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Barang siapa ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, dan takut kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (an-Nur: 51-52)

Keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan prinsip yang paling mendasar dalam Islam, dan merupakan ciri dari orang-orang beriman sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

KEWAJIBAN MENGIKUTI SUNNAH NABI

KEWAJIBAN MENGIKUTI SUNNAH NABI

Tidak ada perselisihan diantara umat Islam kecuali orang-orang sesat, bahwa sumber hukum ke dua setelah al-Qur’an adalah as-Sunnah.

Berhukum kepada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jalan menuju keselamatan dan kebahagia’an baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Banyak dalil-dalil baik dari al-Qur’an maupun hadits Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk menjadikan sunnah Nabi sebagai tuntunan dalam kehidupan sehari-hari, baik menyangkut aqidah, ibadah, mu’amalah dan akhlaq.

Dan berikut ini diantara dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya mengikuti sunnah Nabi,

• Dalil dari al-Qur’an

– Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad) : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (tuntunan dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran: 31).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata : “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam”.

– Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat . . ” (QS. al- Ahzaab: 21).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan : “Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah, karena Allah sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang mengikuti sunnah Rasulullah berarti dia telah menempuh ash- shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah”. (Tafsir syaikh Abdurrahman as-Sa’di, hal. 481).

• Dalil dari hadits Nabi

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيّيْنَ

“Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang rasyidin yang mengikuti petunjuk”. (H.R. Darimiy juz 1, hal. 45, no. 93).

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيّهِ

”Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat apabila kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. (H.R. Malik, Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899).

• Dalil dari perkata’an Sahabat

– Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah mengirim surat kepada Syuraih, ketika ia menjabat qadli, yang bunyinya :

اِذَا اَتَاكَ اَمْرٌ فَاقْضِ ِبمَا فِى كِتَابِ اللهِ. فَاِنْ اَتَاكَ مَا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللهِ فَاقْضِ ِبمَا سَنَّ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص

“Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka hukumilah dengan apa yang ada di dalam Kitab Allah dan jika datang kepadamu apa yang tidak ada di dalam Kitab Allah, maka hukumilah dengan apa yang pernah dihukumi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Al-Muwafaqaat, 4 : 6).

– Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :

اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hendaklah kalian mengikuti (Sunnah Nabi) dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi dengan Islam ini, dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jaamul Kabiir, no. 8770).

• Dalil dari perkata’an para Ulama

– Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) berkata :

اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ بِمَا قَالُواْ، وَكُفَّ عَمَّا كُفُّوْا عَنْهُ، وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسِعَهُمْ.

“Bersabarlah dirimu diatas As-Sunnah, tetaplah tegak diatasnya sebagaimana para Sahabat tegak diatasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan As-Salafush Sholih, karena ia (Sunnah Nabi) akan mencukupimu sebagaimana ia telah mencukupi mereka”. (Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah I/174 no. 315).

– Muhammad bin Sirin rahimahullah (wafat 110 H) berkata :

كَانُوْا يَقُوْلُوْنَ: إِذَا كَانَ الرَّجُلُ عَلَى اْلأَثَرِ فَهُوَ عَلَى الطَّرِيْقِ.

“Mereka (para sahabat dan tabi’in) mengatakan : “Jika ada seseorang berada diatas atsar (Sunnah Nabi), maka sesungguhnya ia berada diatas jalan yang lurus”. (HR. Ad-Darimi (I/54).

– Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata :

اِتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلاَ يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلاَلَةِ وَلاَ تَغْتَرْ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ

“Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Sunnah Nabi), tidak akan membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasa’an”. (al-I’tishaam oleh imam Asy-Syathibi (I/112).

Itulah keterangan dari firman Allah Ta’ala, sabda Rasulullah dan juga perkata’an Sahabat dan para Ulama yang menjadi dalil wajibnya mengikuti sunnah Nabi.

Mengikuti (ittiba’) kepada sunnah Nabi sebagai perwujudan kesempurna’an iman dan manifestasi dari sahadat, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Ta’ala.

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

================

RAJIN IBADAH BELUM TENTU DIATAS KEBENARAN

RAJIN IBADAH BUKAN JAMINAN DIATAS KEBENARAN

Suatu yang perlu di syukuri apabila kita selalu memiliki gairah dalam ibadah, karena tidak sedikit dari manusia yang malas bahkan tidak mau beribadah.

Apa gunanya harta melimpah jabatan yang tinggi apabila tidak mau beribadah, bukankah ibadah yang bisa memasukkan manusia ke dalam surganya Allah Ta’ala.

Kadang-kadang ibadah di jadikan patokan oleh sebagian manusia, bahwa orang yang mau beribadah apalagi ibadahnya rajin pasti akan masuk surga.

Persepsi demikian tidak sepenuhnya benar, karena banyak dari orang-orang sesat dan para penyesat umat, kental menggunakan symbol-symbol keagama’an dan mereka nampak sangat rajin beribadah, kuantitas ibadah mereka bahkan melebihi kadar ibadah manusia pada umumnya.

Sebagai contoh orang-orang khawarij, mereka adalah kelompok sesat yang benih-benih kemunculannya sudah nampak dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelompok khawarij di mata manusia mereka nampak sangat alim, mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara’ dan zuhud, akan tetapi tanpa disertai dengan ilmu.

Kelompok sesat khawarij sangat bersemangat sekali dalam ibadah, sifat mereka di terangkan oleh Rasulullah sebagai berikut,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يخَرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَتيِ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآَنْ. لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِليَ قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ. وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلىَ صَلاَتِهِمْ بِشَيْءٍ. وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلىَ صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ

“Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, yang mana baca’an kalian tidaklah sebanding baca’an mereka sedikitpun, tidak pula shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun, dan tidak pula puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun”. (Muslim II/743-744 No. 1064).

Dalam hadits diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan sifat-sifat dari orang-orang khawarij yang sangat bersemangat dalam ibadah.

Sampai-sampai Rasulullah menyebutkan, ibadahnya mereka (orang-orang khawarij) tidak sebanding dengan ibadahnya para Sahabat Nabi ‘sedikitpun’. Artinya orang-orang khawarij semangat ibadahnya jauh diatas para Sahabat. Padahal para Sahabat adalah orang-orang yang sangat giat dalam ibadah.

Bersemangat dalam ibadah-ibadah sunah terlebih lagi dalam ibadah-ibadah wajib merupakan perkara yang masyhur di kalangan orang-orang khawarij. Mereka dikenal sebagai qura’ (ahli membaca al-Qur’an).

Dalam Fathu Al-Bari, XII/283 disebutkan : ”Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura’ (ahli membaca Al-Qur’an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta’wil Al-Qur’an dengan ta’wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendapatnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu’ dan lain sebagainya”.

Besarnya semangat orang-orang khawarij dalam ibadah juga di sebutkan oleh Ibnu Abbas yang pernah menemui mereka sebagai utusan khalifah Ali bin Abi Thalib untuk berunding dengan mereka.

Ibnu Abbas berkata : ”Aku belum pernah menemui suatu kaum yang bersungguh-sungguh (dalam ibadah), dahi mereka terluka karena seringnya sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai gamis yang murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang tidur karena banyak berjaga di malam hari”. (Lihat Tablis Iblis, halaman 91).

Keterangan dari Ibnu Abbas menunjukkan akan besarnya semangat mereka dalam ibadah, bahkan melampaui batasan yang di syari’atkan. Mereka juga menjauhi kenikmatan dunia.

Besarnya semangat ibadah mereka, suka membaca al-Qur’an, rajin berdzikir, senang mendirikan shalat malam, rajin puasa dan ibadah-ibadah lainnya baik yang wajib maupun yang sunah, ternyata tidak menjadikan mereka diatas kebenaran, sebaliknya mereka diatas kesesatan. Bahkan mereka disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai anjing-anjing neraka.

Abu Ghalib rahimahullah berkata,

لَمَّا أُتِيَ بِرُءُوسِ الْأزَارِقَةِ فَنُصِبَتْ عَلَى دَرَجِ دِمَشْقَ جَاءَ أَبُو أُمَامَةَ فَلَمَّا رَآهُمْ دَمَعَتْ عَيْنَاهُ فَقَالَ كِلَابُ النَّارِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ هَؤُلَاءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلَاءِ قَالَ فَقُلْتُ فَمَا شَأْنُكَ دَمَعَتْ عَيْنَاكَ قَالَ رَحْمَةً لَهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ قَالَ قُلْنَا أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ هَؤُلَاءِ كِلَابُ النَّارِ أَوْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي لَجَرِيءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا ثِنْتَيْنِ وَلَا ثَلَاثٍ قَالَ فَعَدَّ مِرَارًا

”Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah (salah satu sekte khawarij yang dicetuskan oleh Nafi’ bin Al-Azraq) dan dipancangkan di atas tangga-tangga Kota Damaskus, datanglah Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuk matanya dan berkata, “Mereka adalah anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka. Mereka ini (Khawarij) adalah sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah kolong langit ini, dan sebaik-baik orang yang terbunuh dibawah kolong langit adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij). Abu Ghalib kemudian bertanya, ”Kenapa engkau menangis ?” Abu umamah radhiyallahu anhu- menjawab, ”Aku kasihan kepada mereka, dahulunya mereka itu ahlul islam” Abu Ghalib berkata lagi, ”Apakah pernyata’anmu, “Mereka adalah anjing-anjing neraka” adalah pendapatmu sendiri atau perkata’an yang engkau dengar (langsung) dari Nabi Sholllallahu ‘alaihi wa sallam ?” Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menjawab, ”Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh aku adalah orang yang lancang. Tapi perkata’an ini aku dengar dari Rasulullah Sholllallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua kali atau tiga kali.” (HR. At-Tirmidzi [3000], Ibnu Majah [176], Ahmad [V/253]).

Anjing-anjing neraka yang disebutkan oleh Rasulullah, sebagai cela’an yang buruk kepada mereka, khawarij adalah seburuk-buruk orang yang dibunuh diatas permuka’an bumi. Na’udzu billahi min dzalik.

Kesimpulannya :

Orang-orang yang rajin ibadah, nampak alim di mata manusia belum tentu akan menjadi penghuni surga, mereka belum tentu diatas kebenaran apalagi dianggapnya sebagai Wali Allah yang patut diikuti.

Sungguh banyak manusia awam terpesona dan tertipu oleh orang yang nampak shaleh, zuhud, wara’, alim padahal sejatinya orang tersebut sesat dan menyesatkan manusia.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

MENGAKU BERMADZHAB SYAFI’I TAPI MENYELISIHINYA

MENGAKU BERMADZHAB SYAFI’I TAPI MENYELISIHI IMAM SYAFI’I

Sungguh mengherankan dengan sikap sebagian kelompok dari umat Islam yang mengaku bermadzhab kepada Imam As-Syafi’i tapi realitanya justru tidak sesuai dengan ajaran Imam Syafi’i atau tidak sesuai dengan yang Imam Syafi’i sukai.

Berikut diantara sebagian contohnya,

• Mas’alah adzan jum’at

Diantara yang di perselisihkan diantara umat Islam adalah masalah adzan jum’at. Apakah adzan untuk sholat jum’at itu satu kali atau dua kali.

Apabila kita perhatikan dalam sebuah riwayat, adzan jum’at di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga di zaman Khalifah Abu Bakar dan di zaman Khalifah Umar bin Khattab, di sebutkan bahwa adzan jum’at dikumandangkan hanya satu kali.

Adapun adzan jum’at di kumandangkan dua kali ialah dimasa Khalifah Utsman bin Affan, dengan alasan karena sa’at itu umat Islam semakin banyak. Dan sa’at itu adzan jum’at pertama pun di kumandangkan di luar masjid, yaitu di sebuah pasar. Tidak seperti sebagian umat Islam sa’at ini yang mengumandangkan adzan jum’at dua kali. Adzan pertama dan kedua dikumandangkan di dalam masjid (tidak sama dengan yang di lakukan Utsman bin Affan).

Berikut riwayat adzan jum’at yang di maksud,

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallohu ‘anhuma. Maka pada masa Utsman Radhiallohu ‘anhu dan orang-orang sudah banyak, ia menambahkan azan yang ketiga diatas Zaura’. Berkata Abu Abdillah, Zaura’ adalah suatu tempat di pasar di kota Madinah. (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Ashqalani, kitab jumu’ah).

Itulah riwayat adzan jum’at dimasa Rasulullah sampai dimasa Khalifah Utsman bin Affan.

Lalu bagaimana dengan Imam Syafi’i dalam mas’alah adzan jum’at ini, apakah Imam Syafi’i menyukai adzan jum’at satu kali atau dua kali ?

Berikut perkata’an Imam Syafi’i dalam mas’alah ini di dalam kitabnya (Al-Umm),

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَأُحِبُّ أَنْ يَكُونَ الْأَذَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حِينَ يَدْخُلُ الْإِمَامُ الْمَسْجِدَ وَيَجْلِسُ عَلَى مَوْضِعِهِ الَّذِي يَخْطُبُ عَلَيْهِ خَشَبٌ، أَوْ جَرِيدٌ أَوْ مِنْبَرٌ، أَوْ شَيْءٌ مَرْفُوعٌ لَهُ، أَوْ الْأَرْضُ فَإِذَا فَعَلَ أَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْأَذَانِ فَإِذَا فَرَغَ قَامَ فَخَطَبَ لاَ يَزِيدُ عَلَيْهِ

Imam Asy-Syafi’i berkata : “Dan aku sukai bahwa Adzan pada hari jum’at adalah ketika imam masuk kedalam masjid dan duduk diatas tempatnya yakni tempat ia hendak berkhutbah yang terbuat dari kayu, atau mimbar atau sesuatu yang dapat menjadikannya tinggi, atau tanah. Maka apabila telah selesai (imam naik keatas mimbar) hendaklah muadzin mengumandangkan adzan dan apabila selesai adzan tersebut hendaklah imam berkhutbah tanpa ada tambahan lain.

Selanjutnya Imam Syafi’i berkata :

وَأُحِبُّ أَنْ يُؤَذِّنَ مُؤَذِّنٌ وَاحِدٌ إذَا كَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ لاَ جَمَاعَةُ مُؤَذِّنِينَ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنِي الثِّقَةُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ الْأَذَانَ كَانَ أَوَّلُهُ لِلْجُمُعَةِ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَلَمَّا كَانَتْ خِلاَفَةُ عُثْمَانَ وَكَثُرَ النَّاسُ أَمَرَ عُثْمَانَ بِأَذَانٍ ثَانٍ فَأُذِّنَ بِهِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

“Dan aku sukai bahwa muadzin mengumandangkan adzan seorang diri apabila ia (imam) telah diatas mimbar, dan tidak boleh mengumpulkan dua muadzin. Telah mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Asy-Syafi’i ia berkata : telah mengabarkan kepada kami secara tsiqoh (terpercaya) dari Az-Zuhri dari Saib bin Yazid bahwa Adzan pertama kali untuk jum’at adalah ketika imam telah duduk diatas mimbar, ini pada masa Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, dan Abu Bakar dan Umar, kemudian pada masa khalifah Utsman sedangkan saat itu manusia telah ramai (banyak) maka Utsman memerintahkan untuk mengadakan adzan kedua, maka terjadilah adzan (kedua) pada masa itu, dan menjadi tetaplah hal itu.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَقَدْ كَانَ عَطَاءٌ يُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ عُثْمَانُ أَحْدَثَهُ وَيَقُولُ أَحْدَثَهُ مُعَاوِيَةُ، وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Berkata Asy-Syafi’ie : Dan sesungguhnya ‘Atha memungkiri (tidak menyetujui) perbuatan itu bahwa Utsman telah melakukan perbuatan muhdats (baru) akan tetapi ia (‘Atha) berkata bahwa Mu’awiyahlah yang melakukan perbuatan muhdats itu. Wallohu Ta’ala a’lam.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَأَيُّهُمَا كَانَ فَالْأَمْرُ الَّذِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَحَبُّ إلَيَّ

Berkata Asy-Syafi’ie : Dan manapun dari kedua hal itu (pada masa utsman atau muawiyah) maka Apa yang terjadi dimasa Rosululloh shallallohu’alaihi wasallam lebih aku sukai.

[Kitab Al-Umm Juz I, kitab Sholat Bab Kewajiban Jumat].

Dalam permas’alahan adzan jum’at ternyata Imam Syafi’i lebih menyukai adzan jum’at di kumanndangkan satu kali, tidak dua kali sebagaimana perkata’anya :

فَالْأَمْرُ الَّذِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَحَبُّ إلَيَّ

“Maka apa yang terjadi dimasa Rosululloh shallallohu ’alaihi wasallam lebih aku sukai”. (maksudnya adzan jum’at satu kali).

Kalau Imam Syafi’i menyukai adzan jum’at satu kali, lalu bagaimana dengan sebagian umat Islam yang mengumandangkan adzan jum’at dua kali, padahal mereka mengakunya bermadzhab Imam Syafi’i.

• Mas’alah dzikir setelah shalat berjama’ah.

Sebagian umat Islam berdzikir setelah shalat fardlu berjama’ah dengan mengeraskan suara secara bersama-sama di pimpin oleh imam shalat.

Bagaimana dengan Imam Syafi’i ?

Berikut perkata’an Imam Syafi’i dalam permasalahan ini, Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يَرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.

Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat. Hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir kecuali jika imam ingin mengajar baca’an-baca’an zikir tersebut, maka ketika itu di keraskanlah dzikir, hingga dia menduga bahwa telah dipelajari darinya (baca’an-baca’an dzikir tersebut), lalu setelah itu ia memelankan kembali dzikirnya (Al-Umm, 2/288).

Adapun mengenai hadits-hadits yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi terdengar suara dzikirnya, maka Imam Syafi’i menjelaskan seperti berikut :

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلّم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يُذكر فيها بعد التسليم تَهليلٌ ولا تكبير، وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصَفْتُ، ويذكر انصرافه بلا ذكر، وذكرتْ أمُّ سلمةَ مُكْثَه ولم يذكر جهرا، وأحسبه لم يَمكُثْ إلاّ ليذكرَ ذكرا غير جهْرٍ.

Menurutku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (dzikir) sedikit agar orang-orang bisa belajar dari beliau. Karena kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir. Kadangkala riwayat menyebut Nabi berdzikir selepas sholat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut bahwa Nabi pergi tanpa berdzikir. Ummu Salamah menyebutkan bahwa Nabi selepas sholat menetap di tempat sholatnya akan tetapi tidak menyebutkan bahwa Nabi berdzikir dengan jahr (keras). Aku rasa beliau tidaklah menetap kecuali untuk berdzikir dengan tidak dijaharkan.

فإن قال قائل: ومثل ماذا؟ قلت: مثل أنه صلّى على المنبر يكون قيامُه وركوعُه عليه وتَقهْقَرَ حتى يسجدَ على الأرض، وأكثر عمره لم يصلّ عليه، ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بَعُد عنه كيف القيامُ والركوعُ والرفع. يُعلّمهم أن في ذلك كله سعة. وأستحبُّ أن يذكر الإمام الله شيئا في مجلسه قدر ما يَتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطولَ من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له.

Jika seseorang berkata: “Seperti apa ?” (maksudnya permasalahan ini seperti permasalahan apa yang lain ?-pen). Aku katakan, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersholat di atas mimbar, dimana beliau berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian beliau mundur belakang untuk sujud di atas tanah. Nabi tidaklah sholat di atas mimbar pada kebanyakan usia beliau. Akan tetapi menurutku beliau ingin agar orang yang jauh yang tidak melihat beliau, dapat mengetahui bagaimana cara berdiri (dalam solat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Beliau ingin mengajarkan mereka keluasan dalam itu semua.

Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sebentar dengan kadar hingga perginya jama’ah wanita sebagaimana yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum boleh pula pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia tunda/ akhirkan sehingga imam pergi, atau ia pergi bersama imam, maka itu lebih aku sukai untuknya. ” (Al-Umm, 2/288-289).

Penjelasan :

Dari keterangan yang Imam As-Syafi’i sampaikan, maka dzikir yang di lakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah shalat fardu, adalah tidak mengeraskannya, imam dan makmum masing-masing berdzikir secara pelan, akan tetapi kadang-kadang ada kalanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskannya sedikit, agar orang-orang bisa belajar lafadz-lafadz do’a dan dzikir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaiman Imam Syafi’i dalam permas’alahan ini ?

Dalam permas’alahan dzikir setelah shalat, apakah makmum dan imam masing-masing berdzikr secara pelan atau makmum dan imam berdzikir secara bersama-sama ?

Ternyata Imam Syafi’i berpendapat,

وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ

Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat. Dan hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir.

إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يَرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.

Kecuali jika imam ingin mengajar baca’an-baca’an zikir tersebut, maka ketika itu di keraskanlah dzikir.

Jika Imam Syafi’i berpendapat hendaknya makmum dan imam memelankan suara ketika berdzikir setelah shalat.

Lalu bagaimana dengan kebiasa’an orang-orang yang mengaku bermadzhab Syafi’i, setiap selesai shalat selalu mengeraskan dzikirnya bersama-sama dengan imam ?

Pendapat siapa yang mereka ikuti ?

Benarkah mereka yang mengaku bermadzhab Syafi’i itu benar-benar mengikuti Imam Syafi’i, atau pengakuan di bibir saja ?

Sebenarnya masih banyak lagi amalan-amalan mereka yang mengaku bermadzhab Syafi’i yang tidak sesuai dengan ajaran Imam Syafi’i.

Jangan-jangan mereka yang mengaku bermadzhab Syafi’i ajarannya tidak sesuai juga dengan yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Semoga tidak demikian.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=========

ِ