SETAN MENYURUH IBADAH ?

SETAN MENYURUH MANUSIA UNTUK IBADAH ?

Apakah mungkin syetan laknatullah menyuruh manusia untuk beribadah ?

Persepsi orang awam selama ini, syetan hanyalah menyuruh manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk, jahat dan tercela sehingga pelakunya berlumuran dosa, seperti : Merampas hak orang lain, menipu, curang, menganiaya, minum khamer, berjudi, berzina dan lainnya.

Atau menyuruh manusia untuk meninggalkan kewajiban ibadah. Seperti melalaikan shalat atau bahkan meninggalkannya, tidak puasa, tidak mau
Infaq atau shadaqoh, atau meninggalkan ibadah-ibadah yang lainnya. Itulah anggapan orang-orang awam.

Kalau di katakan kepada orang awam, bahwa setan itu tidak saja menggoda dan menyuruh orang untuk berbuat dosa, tapi juga menggoda dan menyuruh manusia untuk semangat beribadah. Maka tentu saja orang awam akan keheranan.

Orang awam pun pasti akan berkata : Mana mungkin setan menyuruh manusia untuk ibadah. Bukankah setan itu di jadikannya untuk menggoda dan menyuruh manusia untuk melakukan kejahatan, kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan dosa ?

Perlu di ketahui, bahwa setan bukan saja menyuruh manusia untuk melakukan perbuatan maksiat, tapi juga menyuruh dan menyemangati manusia untuk ‘beribadah’.

Dalam sebuah hadits di sebutkan,

وقال الشيطان اهلكتهم باالذنوب، فأهلكونى بالاشتغفار، فلما رايت ذالك، فأهلكتهم بالاهواء.

“Dan berkata syetan, aku akan mencelakakan manusia dengan mendorong untuk berbuat dosa, tapi manusia pun bisa mencelakan aku dengan beristigfar, ketika aku melihat begitu, maka aku akan mencelakakan manusia dengan peribadahan yang dasarnya hawa nafsu (bid’ah)”.

Hadits di atas menyebutkan, bahwa setan akan mencelakakan manusia dengan di goda di bujuk dan di rayunya untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, namun apabila manusia yang di godanya tidak mau, maka kemudian setan pun tidak akan menyerah putus asa. Di cari cara yang lainya. Yaitu dengan menyuruh dan menyemangati manusia untuk melakukan amal ibadah. Namun ibadah yang dasarnya hawa nafsu.

Yang di maksud ibadah dasarnya hawa nafsu yaitu, amal ibadah yang dasarnya anggapan baik (hasanah).

Padahal amal ibadah atau acara keagama’an tersebut tidak pernah Nabi amalkan, perintahkan dan tidak pernah juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya. Artinya perkara dalam urusan ibadah yang di buat-buat (muhdats), perkara dalam urusan ibadah yang baru (bid’ah).

Sungguh cerdik benar syetan dalam rangka menjalankan aksinya menyesatkan manusia.

Bisa kita saksikan dari dulu hingga sa’at ini, begitu antusias dan semangatnya manusia melakukan amalan-amalan ibadah atau acara-acara keagama’an yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (bid’ah).

Apabila manusia sudah terpedaya dengan anggapan baiknya yang di bisikkan oleh syetan terhadap amalan-amalan bid’ahnya, maka akan sangat sulit untuk di sadarkan, bukannya sadar malah mencari-cari dalil pembenaran.

Dicari-carinya ayat-ayat al-Qur’an atau hadits yang kemudian di tafsirkan dan di maknai sesuka hati, lalu di jadikan dalil untuk membenarkan amalan-amalan bid’ahnya. Atau berdalil dengan perkata’an Ulama yang seolah-olah perkata’an Ulama tersebut wahyu yang di bawa oleh malaikat.

Bukan saja mencari-cari dalil untuk pembenaran namun juga akan sangat memusuhi kepada orang yang mengingatkan atau menegur dan menasehatinya.

Caci maki, cibiran, hujatan, dan sikap permusuhan pun di tunjukkan kepada pihak atau orang yang di rasa sudah mengusiknya.

Apabila sudah demikian, maka setan pun tertawa dan merayakan kemenangan besarnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الشيطان قال : وعزتك يا رب لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم …

“Sesungguhnya iblis berkata, wahai Robb, demi kebesaranmu dan Kemulia’anmu, aku benar-benar akan menyesatkan manusia selama ruh mereka masih ada di dalam jasadnya”. (As-Shahihah, 104).

با رك الله فيكم

,Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

_____________

MAKNA AS-SAWADUL A’ZHAM YANG SEBENARNYA

MAKNA AS-SAWADUL A’ZHAM YANG SEBENAR-NYA

As-Sawadul A’zham sering di artikan sebagai kelompok terbesar oleh sebagian pihak yang merasa pihaknya sebagai kelompok terbesar. Sehingga mereka pun merasa sebagai As-Sawadul A’zham

Apa arti As-Sawadul A’zham yang sebenarnya ?

• Arti As-Sawadul A’zham menurut bahasa

Menurut bahasa As sawad (plural/jamak) artinya sesuatu yang berwarna hitam. Al A’zham artinya besar, agung, banyak. Sehingga as sawaadul a’zham secara bahasa artinya sesuatu yang berwarna hitam dalam jumlah yang sangat banyak.

As-Sawadul A’zham menggambarkan orang-orang yang sangat banyak karena rambut mereka umumnya hitam.

• As-Sawadul A’zham menurut syari’at

Adapun yang di maksud As-Sawadul A’zham menurut pengertian syari’at ialah semakna dengan Al- Jama’ah.

Sebagaimana penjelasan Imam Ath Thabari : “…DAN MAKNA AL-JAMA’AH ADALAH AS-SAWADUL A’ZHAM. Kemudian Imam Ath Thabari berdalil dengan riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud bahwa beliau berwasiat kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman bin ‘Affan terbunuh, Abu Mas’ud menjawab : Hendaknya engkau berpegang pada Al Jama’ah karena Allah tidak akan membiarkan umat Muhammad bersatu dalam kesesatan.. ” (Fathul Baari, 13/37).

• Makna As-Sawadul A’zham menurut Sahabat Nabi.

Sahabat Nabi, Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu’anhu, berkata :

عليكم بالسواد الأعظم قال فقال رجل ما السواد الأعظم فنادى أبو أمامة هذه الآية التي في سورة النور فإن تولوا فإنما عليه ما حمل وعليكم ما حملتم

“Berpeganglah kepada As Sawadul A’zham. Lalu ada yang bertanya, siapa As Sawadul A’zham itu ? Lalu Abu Umamah membaca ayat dalam surat An Nur :

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

(HR. Ahmad no.19351. Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 5/220).

Ayat diatas selengkapnya berbunyi :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada rasul, dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (QS. An-Nuur: 54).

Abu Umamah mengisyaratkan bahwa makna As Sawadul A’zham adalah : “ORANG-ORANG YANG TA’AT KEPADA ALLAH DAN RASULNYA”, atau dengan kata lain, “PENGIKUT KEBENARAN”

Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy (wafat 242H) berkata :

عليكم باتباع السواد الأعظم قالوا له من السواد الأعظم، قال: هو الرجل العالم أو الرجلان المتمسكان بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وطريقته، وليس المراد به مطلق المسلمين، فمن كان مع هذين الرجلين أو الرجل وتبعه فهو الجماعة، ومن خالفه فقد خالف أهل الجماعة

“Berpeganglah pada as sawaadul a’zham. Orang-orang bertanya, siapa as sawaadul a’zham itu ? Beliau (Muhammad bin Aslam) menjawab : IA ADALAH SEORANG ATAU DUA ORANG YANG BERILMU, YANG BERPEGANG TEGUH PADA SUNNAH RASULULLAH Shallallahu ’alaihi Wasallam DAN MENGIKUTI JALANNYA. BUKANLAH AS-SAWADUL A’ZHAM ITU MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SECARA MUTLAK. Barangsiapa berpegang pada seorang atau dua orang tadi dan mengikutinya, maka ia adalah Al Jama’ah. Dan barangsiapa yang menyelisihi mereka, ia telah menyelisihi ahlul jama’ah” (Thabaqat Al Kubra Lisy Sya’rani, 1/54).

Dari penjelasan Muhammad bin Aslam di atas, kita mendapatkan keterangan bahwa, As-Sawadul A’zham dalam istilah syar’i itu “TIDAK HARUS BERJUMLAH BANYAK (MAYORITAS)”. Dan jelas juga ternyata As- Sawaadul A’zham adalah “AL-JAMA’AH” dan “BUKANLAH KEBANYAKAN ORANG SECARA MUTLAK”.

As Sawaadul A’zham adalah “ORANG-ORANG YANG TA’AT KEPADA ALLAH, dan MENGIKUTI SUNNAH NABI” Shallallahu ’alaihi Wasallam dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat Nabi, “BAIK JUMLAH MEREKA BANYAK MAUPUN SEDIKIT”.

• Orang bodoh memaknai As-Sawadul A’zham ialah kebanyakan manusia (mayoritas).

Ishaq bin Rahawaih, guru dari Imam Al Bukhari, mengatakan bahwa hanya orang bodoh yang mengira bahwa As Sawaadul A’zham adalah mayoritas orang secara mutlak :

لَوْ سَأَلْتَ الْجُهَّالَ مَنِ السَّوَادُ الْأَعْظَمُ؟ قَالُوا: جَمَاعَةُ النَّاسِ وَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ الْجَمَاعَةَ عَالِمٌ مُتَمَسِّكٌ بِأَثَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَرِيقِهِ، فَمَنْ كَانَ مَعَهُ وَتَبِعَهُ فَهُوَ الْجَمَاعَةُ، وَمَنْ خَالَفَهُ فِيهِ تَرَكَ الْجَمَاعَةُ

“Jika engkau tanyakan kepada orang-orang bodoh siapa itu As Sawadul A’zham, NISCAYA MEREKA AKAN MENJAWAB, KEBANYAKAN MANUSIA (MAYORITAS). Mereka tidak tahu bahwa Al Jama’ah itu adalah orang alim yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam dan jalannya. Barangsiapa yang bersama orang alim tersebut dan mengikutinya, ialah Al Jama’ah, Dan yang menyelisihinya, ia meninggalkan Al Jama’ah” (Hilyatul Aulia, 9/238)

Kesimpulan :

As-Sawadul A’zham semakna dengan Al Jama’ah, yaitu sekumpulan orang yang berpegang teguh pada ajaran atau tuntunan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, baik jumlah mereka banyak maupun sedikit.

Sangat keliru apabila As-Sawadul A’zham di maknai kebanyakan manusia (mayoritas), padahal kebanyakan manusia tersebut menyimpang dari tuntunan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak sesuai dengan pemahaman para Sahabat Nabi.

Apabila di suatu tempat atau wilayah kebanyakan (mayoritas) adalah ahli bid’ah, apakah mungkin As-Sawadul A’zham adalah ahli bid’ah ?

Bukankah As-Sawadul A’zham itu adalah ahlu sunnah, yang mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

بارك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===============

MEMAKNAI LAFADZ KULLU SESUKA HATI

MEMAKNAI LAFADZ KULLU SESUKA HATI

Demi membela keyakinan adanya bid’ah hasanah, sepertinya ahli bid’ah tidak merasa takut, walaupun harus menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tidak sesuai dengan makna yang sesungguhnya.

Mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an bukan dengan metode yang benar yang di syaratkan oleh para Ulama, diantaranya yaitu merujuk kepada penafsiran para Ulama ahli tafsir.

Tapi mereka memaknai ayat-ayat Al-Qur’an mengikuti hawa nafsu.

Sungguh celaka menafsirkan Al-Qur’an dengan hawa nafsu. Padahal Rasulullah sudah memberikan ancaman yang sangat keras.

Sebagaimana sabdanya :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2874].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa mengatakan tentang al-Qur’an dengan akalnya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2875].

Lafadz kullu (كل) dalam hadts :

كل بدعة ضلالة

“Semua bid’ah sesat”

Mereka menolak lafadz “kullu” (كل) dalam hadits tersebut diartikan “SEMUA”.

Mereka maknai lafadz “kullu” (كل) dalam hadits tersebut dengan arti “SEBAGIAN”.

Kemudian mereka menunjukkan lafadz “kullu” (كل) yang terdapat di dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Kemudian mereka membuat penafsiran sendiri terhadap ayat-ayat tersebut dengan model penafsiran yang tidak kita temukan dalam kitab-kitab tafsir para Ulama.

Berikut ini beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang terkait dengan lafadz “kullu” (كل) yang mereka maknai sesuka hati.

1. Allah Ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍ

”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya ayat 30).

Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menerangkan, bahwa air sebagai sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di muka bumi.

Artinya : Semua makhluk yang hidup di muka bumi bisa tumbuh dan bertahan hidup karena adanya air.
Itulah penafsiran yang benar.

Adapun ahli bid’ah, mereka menafsirkannya sebagai berikut :

Lafadz KULLA (كل) pada ayat ke 30 Surat Al-Anbiyya tersebut, maknanya “SEBAGIAN”. Sehingga ayat itu berarti : Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluk hidup. Karena Allah juga berfirman menceritakan tentang penciptaan jin dan Iblis yang berbunyi : “Khalaqtanii min naarin”. Artinya : “Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api”.

http://aswajazone.blogspot.co.id/2012/04/makna-kullu-bidah-dholalah.html?m=1

Tanggapan :

Allah Ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya: 30).

Ayat ke 30 Surat Al-Anbiya di atas menerangkan bahwa AIR MERUPAKAN SUMBER KEHIDUPAN BAGI SEMUA MAKHLUK YANG HIDUP DI MUKA BUMI.

AYAT TERSEBUT BUKAN SEDANG MENERANGKAN MENGENAI PENCIPTA’AN MANUSIA ATAU APAPUN.

Perhatikan penafsiran ayat tersebut dalam kitab tafsir jalalain,

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan : “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya air lah yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap ke esa’an Allah ?”. [Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008, hlm. 126-127].

Untuk mendapatkan penafsiran yang benar ayat ke 30 dari surat Al-Anbiyya tersebut, maka diantaranya harus melihat kepada ayat sebelumnya masih dalam ayat yang sama.

Perhatikanlah ayat sebelumnya !

Allah Ta’ala berfirman :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

”Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”

Dengan melihat ayat sebelumnya, maka jelaslah bahwa ayat ke 30 surat Al-Anbiyaa tersebut sedang menerangkan tentang langit dan bumi yang dahulunya bersatu. Dan menerangkan bahwa air sebagai sumber kehidupan bagi makhluk yang ada di bumi.

Maka jelaslah makna air dalam ayat ke 30 dalam Surat Al-Anbiyaa tersebut adalah air yang sesungguhnya, bukan jenis air apapun.

Dan lafadz (كُلَّ) pada ayat tersebut, artinya SETIAP / SEMUA. Karena memang semua makhluk yang hidup di muka bumi kehidupannya bergantung kepada air.

Tidak ada satu pun makhkuk hidup di muka bumi yang tidak membutuhkan air.

Jadi sangat keliru apabila lafadz kullu (كل) pada ayat tersebut diartikan SEBAGIAN.

2. Ayat lainnya yang di salah tafsirkan ialah,

Allah Ta’ala berfirman :

ﺗُﺪَﻣِّﺮُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻳُﺮَﻯ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺴَﺎﻛِﻨُﻬُﻢْ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧَﺠْﺰِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣِﻴﻦَ

“Angin yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”. (QS al-Ahqaf: 25).

Ahli bid’ah berkata :

Kata kullu (كل) belum tentu berarti “SEMUA”. sebagai contoh kata kullu dalam ayat ke 25 surat Al-Ahkaf. Angin topan pada ayat diatas tidak menghancurkan Nabi Hud dan orang-orang beriman. juga tidak menghancurkan langit dan bumi.

Tanggapan :

Kalimah “kullu” (كل) yang terdapat pada ayat ke 25 surat Al-Ahkaf tersebut, harus dimaknai “SEMUA”. Tidak bisa di maknai “SEBAGIAN”

Karena memang realitanya Allah Ta’ala menghancurkan “SEMUA” yang Allah perintahkan untuk di hancurkan, yaitu orang-orang yang durhaka dari kaum ‘Ad.

Perhatikan di penghujung ayat tersebut,

ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧَﺠْﺰِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣِﻴﻦَ

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”.

Di penghujung ayat tersebut menerangkan tentang pembalasan Allah Ta’ala kepada kaum yang berdosa, yaitu kaum ‘Ad. Juga penghujung ayat tersebut sebagai penjelas bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk di hancurkan hanyalah orang-orang yang berdosa.

Adapun Nabi Hud ‘alaihis salam beserta orang-orang beriman, tentu saja tidak termasuk kepada orang-orang berdosa. Dan tidak Allah perintahkan untuk di hancurkan.

Jadi memang benar apabila lafadz kullu (كل) pada ayat tersebut dimaknai “SEMUA” karena kenyata’annya memang Allah Ta’ala menghancurkan semua kaum ‘Ad yang berdosa.

Adapun pengecualiannya,

ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺴَﺎﻛِﻨُﻬُﻢْ

“Kecuali tempat tinggal mereka (negri tempat mereka berada)”.

Yang tidak Allah Ta’ala hancurkan. Tidak bisa merubah makna kata kullu (كل) pada ayat tersebut. menjadi “SEBAGIAN”. Karena tempat tinggal mereka, sebagaimana halnya Nabi Hud ‘alaihis salam dan orang-orang beriman, bukan yang Allah Ta’ala perintahkan untuk di hancurkan.

Yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk dihancurkan. Yaitu kaum ‘Ad yang berdosa, Adapun Nabi Hud dan orang-orang beriman, begitu pula langit dan bumi tidak hancur, karena memang tidak Allah Ta’ala perintahkan untuk dihancurkan.

Perhatikan penjelasan Ibnu Jarir dalam tafsirnya :

اِنَّمَا عَنَى بِقَوْلِهِ : { تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِاَمْرِ رَبِّهَا } مِمَّا اُرْسِلَتْ بِهَلاَكِهِ لاَنَّهَا لَمْ تُدَمِّْ هُوْدًا وَمَنْ كَانَ آمَنَ بِهِ

“Sesungguhnya yang di maksudkan Allah Subhanahu wa ta’alla dengan firmanNya : Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya. Adalah bahwa angin menghancurkan segala sesuatu YANG DIKEHENDAKI oleh Allah Ta’alla untuk di hancurkan. Sebab angin tidak menghancurkan Nabi Hud alaihis salam dan orang-orang yang beriman kepadanya”. (Lihat: تفسير الطبرى (13/ 26-27)).

Penjelasan Ibnu Jarir dalam tafsirnya tersebut menerangkan, bahwa yang dimaksud angin yang menghancurkan segala sesuatu, maksudnya ialah YANG DI KEKENDAKI oleh Allah Ta’ala untuk di hancurkan. Dalam hal ini adalah kaum ‘Ad yang berdosa.

Penafsiran yang sama kita dapatkan dari Imam Al-Qurtubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut :

اَيُّ كَلُّ شَيْءٍ مَرَّتْ عَلَيْهِ مِنْ رَجَالِ عَادٍ وَاَمْوَالِه

“Maksudnya, yang di hancurkan hanyalah segala sesuatu yang dilewati angin dari kaum ‘Ad dan harta mereka”. (الجامع لاحكام القرآن (16/206). Al-Qurtubi).

Dari keterangan para Ulama ahli tafsir diatas, maka jelaslah makna kata kullu (كل) yang benar pada ayat ke 25 surat Al-Ahkaf tersebut adalah “SEMUA” bukan “SEBAGIAN”.

3. Ayat lainnya yang di salah artikan,

Allah Ta’ala berfirman :

وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَيْءٍ

“Ratu Balqis itu telah diberikan semua (segala sesuatu)”. (Q.S An-Naml: 23).

Ahli bid’ah berkata :

Kata kullu (كل) tidak berarti semua, bisa kita perhatikan pada ayat di atas. Bagaimana bisa kata kullu (كل) diartikan semua, bukankah ratu Balqis tidak memiliki kebesaran sebagaimana kebesaran yang dimiliki Nabi Sulaiman ‘alaihis salam ?

Bantahan :

Di dalam al-Qur’an banyak dijumpai ungkapan-ungkapan yang disajikan dengan gaya bahasa kinayah (kiasan).

Kata-kata kinayah bisa di fahami hanya oleh orang-orang yang mempelajari ilmu balaghah (sastra Arab).

Dalam ilmu balaghah kata “kullu” pada ayat tersebut termasuk kepada kalimat kinayah (kiasan). yang berarti menerangkan sesuatu dengan perkata’an lain.

Makna kata “kullu” (كل) yang artinya “SEGALANYA” dari ayat tersebut mengandung arti, “RATU BALQIS MEMILIKI KERAJA’AN YANG BESAR”.

Sebagaimana disebutkan pada kalimat selanjutnya, masih dalam ayat yang sama.

وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

“Serta mempunyai singgasana yang besar.(QS. An-Naml: 23).

Ratu Balqis itu telah diberikan SEMUA (segala sesuatu), kalau kita fahami dengan ilmu balaghah (sastra Arab) tentu kita bisa faham, bahwa tentu saja ratu Balqis bukan berarti memiliki segalanya yang ada di dunia ini. Termasuk yang dimiliki keraja’an Nabi Sulaiman.

Arti SEMUA (segalanya) yang di miliki ratu Balqis mengandung pengertian : “RATU BALQIS MEMILIKI KERAJA’AN YANG BESAR”.

Jadi kata “kullu” (كل) pada ayat ke 23 dalam Surat An-Naml tersebut artinya memang “SEMUA” sebagai kinayah (kiasan) dari “KERAJA’AN YANG BESAR”.

Sebagai perumpama’an : Apabila ada orang kaya, dia disebut memiliki segalanya. Kita tentu faham, arti SEGALANYA yang dimaksud adalah : ORANG TERSEBUT SANGAT KAYA. Sehingga dikatakan, MEMILIKI SEGALANYA.

Kesimpulannya : Yang di sebut ratu Balqis memiliki segalanya, makna sesungguhnya ratu Balqis memang memiliki SEGALANYA dalam artian ratu Balqis memiliki KERAJA’AN YANG BESAR.

Jadi memaknai kata “kullu” (كل) pada ayat tersebut dengan artian “SEGALANYA” adalah pengertian yang benar.

MEMAKNAI KATA KULLU DENGAN BENAR

Kata KULLU (كُلُّ) bisa bermakna SEBAGIAN juga bisa bermakna SETIAP / SEMUA.

Untuk bisa mengetahui kata KULLU (كُلُّ) apakah bermakna SEBAGIAN atau SEMUA, maka kita harus memperhatikan berbagai qarinah (petunjuk) yang ada, baik dari konteks kalimat itu sendiri, maupun dari dalil-dalil lain yang shahih, atau dengan realita yang ada, sehingga kita tidak salah memaknainya.

Adapun kata KULLU (كُلُّ) pada hadìst,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Maka kata KULLU pada hadìst terebut bermakna SETIAP atau SEMUA.

Jadi arti yang benar dari hadits tersebut adalah :

”SETIAP atau SEMUA bid’ah adalah sesat”

Memaknai kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas dengan arti SETIAP atau SEMUA, bukan berdasarkan hawa nafsu. Tapi berdasarkan beberapa qarinah yang menunjukkan kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas memang menunjukkan arti SETIAP atau SEMUA.

Berikut beberapa qarinah yang menunjukkan kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas yang menunjukkan makna SETIAP atau SEMUA.

• Qarinah dari perkata’an para Salafus Shaalih

– Ibnu Umar berkata :

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

”Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).

– Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik (hasanah), berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

Dari perkata’an lbmu Umar dan Imam Malik diatas, kita mendapatkan keterangan bahwa semua bid’ah sesat. Tidak ada pengecualian.

Jadi kata kullu (كُلُّ) dalam hadits كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ mengandung arti SETIAP atau SEMUA.

• Qarinah dari sikap para Sahabat

Kata kullu dalam hadits كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ bermakna SETIAP atau SEMUA juga bisa kita perhatikan dari sikap para Sahabat yang mengingkari praktek-praktek bid’ah yang di lakukan sebagian orang sa’at itu.

Perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

(1) Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

(2) Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

(3) Terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad !, Begitu cepat kebinasa’an kalian !, Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad ? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah) ?”

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَه

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan”
Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid).

Riwayat-riwayat diatas menunjukkan bahwa para Sahabat mengingkari praktek-praktek baru dalam urusan ibadah yang tidak ada tuntunannya (bid’ah).

Kalaulah bid’ah dalam urusan ibadah itu ada yang baik, tentu para Sahabat yang disebutkan dalam riwayat-riwayat diatas tidak akan menegur orang yang melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah tersebut.

Maka jelas kata kullu (كُلُّ) pada hadìst كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ terebut bermakna SETIAP atau SEMUA.

Menurut kaidah atau ketetapan ilmu usul jika sesuatu kalimah diulang berkali-kali di beberapa tempat sebagaimana diulang-ulangnya kalimah kullu (كُلُّ) dalam menetapkan bahawa “setiap (كل) bid’ah itu sesat”, maka apabila ia terdapat dalam dalil-dalil (al-Quran, al-Hadist dan atsar yang sahih) maka ia menjadi dalil syarii kulli (دليل شرعي كلي) yaitu : “Pasti setiap (كل) bid’ah itu sesat.”

• MENURUT SEORANG ULAMA PAKAR BAHASA ARAB

Menurut Imam Asy-Syatibhi seorang Ulama Shalaf dan pakar gramatika bahasa Arab (nahu-sharf).

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

– Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

– Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

– Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

– Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

Tentang lafadz ”KULLU” pada hadits ”Kullu bid’ati dholaalah” Imam Asy Syatibhi rahimahullaah berkata :

“PARA ULAMA MEMAKNAI HADITS DI ATAS SESUAI DENGAN KEUMUMANNYA, TIDAK BOLEH DIBUAT PENGECUALIAN SAMA SEKALI. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA DALAM HADITS TERSEBUT YANG MENUNJUKKAN ADA BID’AH YANG BAIK (HASANAH)”.

(Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah).

Para pembela bid’ah hasanah yang memaknai lafadz ”Kullu” dengan membuat pengecualian ”ada bid’ah yang baik (hasanah)”, apakah lebih pintar dan lebih faham ilmu tata bahasa Arab nahwu sharf dibanding Imam Asy Syatibhi ?

Yang kredibilitasnya sebagai Ulama dikenal luas oleh umat Islam dan juga sebagai pakar / ahlinya tata bahasa Arab, nahwu sharf.

Perkata’an Imam Asy Syatibhi tentu patut diperhatikan.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

HARGAI PERBEDA’AN ?

HARGAI PERBEDA’AN ?

Orang-orang atau pihak yang mendakwahkan sunnah, yaitu menyeru manusia untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sering di tuduh sebagai pihak yang tidak bisa menghargai perbeda’an di antara sesama umat Islam.

Apakah benar tuduhan tersebut ?

Perlu di ketahui, perbeda’an pendapat dalam Islam, bukanlah hal yang baru.

Di kalangan para Sahabat juga di kalangan para Imam Madzhab, banyak sekali perbeda’an faham di antara mereka. Namun tentu saja tidak menjadikan mereka saling bermusuhan terlebih lagi saling menyesatkan.

Akan tetapi tentu saja berbeda halnya sikap mereka, yaitu para Sahabat juga para Imam madzhab terhadap para pelaku bid’ah. Sikap mereka dalam menyikapi bid’ah sangat jelas, menolak dan mengingkarinya.

Perhatikan peringatan para Sahabat kepada bid’ah berikut ini,

– Umar bin khatab radhiyallahu ‘anhu berkata ;

إن أصدق القيل قيل الله و إن أصدق الهدى هدى محمد و إن شر الأمور محدثاتها، ألا و إن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار

“Sesungguhnya perkata’an yang paling benar adalah firman Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasalam dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu (tempatnya dineraka). [Dikeluarkan oleh Ibnul Wudhah dalam al Bida’, hal. 31 dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100 (1/84)].

– Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata ;

إتبعو و لا تبتدعوا فقد كفيتم و كل بدعة ضلالة

“Ber ittiba’lah kamu kepada Rosululloh dan janganlah berbuat bid’ah (perkara baru dalam agama), karena sesungguhnya agama ini telah dijadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan” [Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan Al Laalikaa’iy, no. 104 (1/86)].

– Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata ;

كل بدعة ضلالة و إن رأها الناس حسنة

“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya baik (hasanah)”. [Al Ibaanah, no. 205 (1/339) Al Laalikaa’iy, no. 126 (1/92)].

Perhatikan juga perkata’an para Imam madzhab berikut ini,

– Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

– Imam Syafi’i berkata :

من استحسن فقد شرع

“Barang siapa yang menganggap baik (bid’ah), maka ia telah membuat syariat”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).

– Imam Syafi’i berkata :

ولو جاز لأحد الاستحسان في الدين : لجاز ذلك لأهل العقول من غير أهل العلم, ولجاز أن يشرع في الدين في كل باب, وأن يخرج كل أحد لنفسه شرعا !

”Andai seseorang boleh melakukan istihsan dalam agama, niscaya hal tersebut menjadi boleh bagi setiap siapa saja yang cerdas sekalipun bukan dari ahli ilmu, dan boleh baginya membuat syariat pada setiap bab dalam agama, juga boleh bagi setiap orang membuat syariat untuk dirinya sendiri”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).

– Imam Syafi’i berkata :

إنما الاستحسان تلذذ

“Sesungguhnya istihsan (menganggap baik) itu hanyalah menuruti hawa nafsu”. (Ar-Risalah: 507).

Perkata’an para Sahabat juga perkata’an para Imam madzhab di atas, sebagai peringatan kepada umat untuk tidak melakukan amalan-amalan bid’ah, karena bid’ah adalah kesesatan.

PENTINGNYA MEMBANTAH AHLI BID’AH

Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai ? Beliau menjawab : “Apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfa’atnya untuk dia sendiri, tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/ lebih utama”. Beliau menjelaskan bahwa manfa’atnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah.

Memurnikan agama Allah, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu fardu kifayah. Seandainya tidak ada yang menolak/ membantah bahaya (bid’ah) nya para pelaku bid’ah, maka akan rusaklah agama ini.

Ibn Abbas r.a berkata : “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”. (Al-Aqrimany:315, al-Mawa’idz).

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

================

KHUTBAH JUM’AT DENGAN BAHASA INDONESIA BERARTI BID’AH ?

KHUTBAH MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA BERARTI BID’AH ?

Perlu di fahami bahwa tujuan di adakannya syari’at (maqoosidus syari’at) dari khutbah, diantaranya adalah : Memberi nasehat, sebagai peringatan, pelajaran, kabar baik dan menyampaikan ancaman dari Allah Ta’ala.

Maka apabila khutbah jum’at di sampaikan dengan bahasa yang tidak dimengerti umat, maka maksud dan tujuan dari syari’at khutbah tidak akan sampai, khutbah menggunakan bahasa yang tidak di fahami umat tidak ada faedahnya atau sia-sia. Orang berakal, pasti akan faham hal ini ?

Tidak ada dalil yang mewajibkan khutbah harus berbahasa arab. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam khutbah dengan bahasa Arab, karena Rasulullah adalah orang Arab begitu pula para Sahabat.

Pendapat yang masyhur di kalangan syafiiyah berpendapat : ”Khutbah disyaratkan menggunakan bahasa arab bagi yang mampu, kecuali jika semua jama’ah tidak memahami bahasa arab, maka khatib menggunakan bahasa mereka”. (al-Majmu’, 4/522).

Abu Hanifah berpendapat : ”Khutbah dianjurkan menggunakan bahasa arab dan bukan syarat. Khatib boleh menggunakan bahasa selain arab”. (Rad al-Mukhtar, 1/543).

Khutbah menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa yang difahami kaum setempat, sejalan dengan prinsip syariah, bahwa Allah mengutus para nabi-Nya dengan bahasa kaumnya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

”Tidaklah Kami mengutus seorang Rasul-pun, kecuali dengan bahasa kaumnya. Agar rasul itu menjelaskan (kebenaran) kepada mereka”. (QS. Ibrahim: 4).

• TUJUAN UTAMA KHUTBAH

Imam As-Syaukani berkata :

ثم اعلم أن الخطبة المشروعة هي ما كان يعتاده صلى الله تعالى عليه وآله وسلم من ترغيب الناس وترهيبهم فهذا في الحقيقة روح الخطبة الذي لأجله شرعت, وأما اشتراط الحمد لله أو الصلاة على رسول الله أو قراءة شيء من القرآن فجميعه خارج عن معظم المقصود من شرعية الخطبة

”Ketahuilah bahwa khutbah yang disyariatkan adalah khutbah yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu memotivasi masyarakat dan memberi peringatan bagi mereka. Pada hakekatnya, bagian ini adalah inti khutbah, yang karenanya, di syariatkan adanya khutbah jumat. Sementara persyaratan memuji Allah, shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau membaca beberapa ayat al-Quran, semua ini bukan tujuan utama di syariatkannya khutbah”.

Kemudian beliau menegaskan,

ولا يشك منصف أن معظم المقصود هو الوعظ دون ما يقع قبله من الحمد والصلاة عليه صلى الله تعالى عليه وآله وسلم, وقد كان عرف العرب المستمر أن أحدهم إذا أراد أن يقوم مقاما ويقول مقالا شرع بالثناء على الله وعلى رسوله وما أحسن هذا وأولاه, ولكن ليس هو المقصود بل المقصود ما بعده

”Orang cerdas tidak akan ragu bahwa tujuan utama dalam khutbah nasehat (bagi jama’ah), bukan pujian atau shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, kebiasaan masyarakat arab turun-temurun, ketika mereka hendak menyampaikan ceramahnya, mereka mulai dengan memuji Allah dan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini kebiasaan yang sangat bagus dan mulia. Namun, ini bukan tujuan utama khutbah. Yang menjadi inti khutbah adalah nasehat setelahnya”. (ar-Raudhah an-Nadiyah, 1/137).

• FATWA PARA ULAMA

Berikut fatwa para Ulama yang membolehkan khutbah jum’at dengan bahasa selain bahasa arab.

– Fatwa Al-Majma’ al-Fiqhi

Al-Majma’ al-Fiqhi di bawah Rabithah Alam Islami juga menguatkan pendapat yang menyatakan, bahasa arab bukan syarat khutbah jumat.

Dalam sebuah keputusannya dinyatakan,

الرأي الأعدل هو أن اللغة العربية في أداء خطبة الجمعة والعيدين في غير البلاد الناطقة بها ليست شرطاً لصحتها ، ولكن الأحسن أداء مقدمات الخطبة وما تضمنته من آيات قرآنية باللغة العربية ، لتعويد غير العرب على سماع العربية والقرآن ، مما يسهل تعلمها ، وقراءة القرآن باللغة التي نزل بها ، ثم يتابع الخطيب ما يعظهم به بلغتهم التي يفهمونها

”Pendapat paling kuat, bahwa bahasa arab untuk bahasa pengantar khutbah jumat atau khutbah id, di selain negeri yang tidak berbahasa arab, bukanlah bagian dari syarat sah khutbah. Hanya saja yang terbaik, menyampaikan mukaddimah khutbah dan ayat al-Quran yang dibaca, menggunakan bahasa arab. Untuk membiasakan orang non arab agar medengarkan bahasa arab dan al-Quran. Yang ini memudahkan mereka belajar bahasa arab, serta membaca al-Quran dengan bahasa asli dia diturunkan. Selanjutnya khatib bisa menyampaikan nasehat dengan bahasa mereka, yang bisa mereka pahami”. (Keputusan al-Majma’ al-Fiqhi, volume 5, keputusan ke-5, hlm. 99).

– Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, Apa hukum khutbah jum’at dengan bahasa selain bahasa Arab ?

Syaikh rahimahullah menjawab : ”Yang benar dalam masalah ini adalah tidak boleh bagi khotib berbicara ketika khutbah jum’at dengan bahasa yang tidak dipahami oleh jama’ah yang hadir. Apabila jama’ah tersebut bukan orang Arab dan tidak paham bahasa Arab, maka khotib lebih tepat berkhutbah dengan bahasa mereka karena bahasa adalah pengantar agar sampai penjelasan kepada mereka. Alasan lain, maksud dari khutbah adalah untuk menjelaskan hukum Allah subhanahu wa ta’ala pada hamba-Nya, juga memberikan nasehat dan petunjuk. Namun ketika membaca ayat Al Qur’an haruslah dengan bahasa Arab, lalu setelah itu boleh ditafsirkan dengan bahasa yang jama’ah pahami.

Dalil yang menunjukkan bahwa khutbah diharuskan dengan bahasa yang jama’ah pahami adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tidaklah kami mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya untuk memberi penjelasan pada mereka.” (QS. Ibrahim: 4).

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa agar sampainya penjelasan, artinya hendaklah pembicara menggunakan bahasa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara.

Demikian fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam.

• IJMA’ ULAMA

Khutbah jum’at dengan bahasa Indonesia atau dengan bahasa yang dimengerti umat setempat bukanlah bid’ah, karena sudah menjadi ketetapan dan ijma’ para Ulama Shalaf maupun Khalaf.

Dan para ulama menetapkan, bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber hukum Islam dalam menetapkan sesuatu hukum.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

SARANA BUKAN BID’AH

SARANA BUKAN BID’AH YANG DIMAKSUDKAN NABI
.
Seringkali kita mendapatkan omongan orang awam atau orang-orang yang gagal faham misalnya mereka berkata, “Pergi haji naik pesawat terbang berarti bid’ah, di zaman Nabi kan tidak ada pesawat terbang”. Atau omongan, “Dakwah di internet atau facebook berarti bid’ah, di zaman Nabi kan tidak ada internet dan facebook”. Atau mereka berkata, “Televisi, radio, jam dinding, madrasah, kalender, pengeras suara untuk panggilan adzan berarti bid’ah karena tidak ada di zaman Nabi ?”
.
Perkata’an-perkata’an seperti itu sering kita jumpai, baik di dunia maya ataupun di dunia nyata.
.
Benda-benda yang disebutkan di atas seperti, televisi, radio, pesawat terbang, jam dinding, mobil, sepeda motor, kalender dan lainnya, juga berbagai hasil karya inovasi yang di ciptakan manusia seperti, internet, facebook dan lainnya, memang benar bid’ah kalau di tinjau dari sisi bahasa. Karena bid’ah menurut bahasa adalah sejala perkara yang baru, baik yang terpuji ataupun yang tercela.
.
Sebagaimana yang di sebutkan oleh Ibnu ‘Asaakir,
.
مَا ابْتُدِعَ وَأُحْدِثَ مِنَ الأُمُوْرِ حَسَناً كَانَ أَوْ قَبِيْحًا
.
“Bid’ah (menurut bahasa) adalah perkara-perkara yang baru dan diada-adakan baik yang terpuji maupun yang tercela”. (Tabyiinu kadzibil muftari hal 97).
.
Jadi memang benar contoh-contoh di atas seperti, facebook, internet, kalender, televisi, radio, jam dinding, pengeras suara, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, hp, computer dll. Memang bid’ah menurut bahasa. Karena memang tidak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun bukan bid’ah yang dimaksud oleh syari’at. Karena bid’ah yang dimaksud oleh syari’at adalah membuat-buat cara-cara baru dalam ibadah yang tidak ada di zaman Nabi.
.
Manusia adalah makhluk yang lebih unggul di banding makhluk yang lainnya. Manusia tidak memiliki sayap, tapi ternyata manusia mampu melayang di udara bahkan katanya sampai bisa mendarat di bulan. Wallahu a’lam.
.
Diantara keunggulan manusia di banding makhluk hidup lainnya, karena Allah Ta’ala melengkapi pencipta’annya dengan akal. Sehingga dengan akalnya manusia inovatif, insfiratif dan kreatif, maka tercipta berbagai karya imaginer buah dari akalnya yang berkembang. Dan manusia pun bisa hidup secara dinamis sepanjang zaman.
.
Kalau di zaman dahulu syi’ar sebatas di mimbar, maka sa’at ini dengan perkembangan teknologi informasi yang berkembang pesat, maka dakwah bisa di sampaikan kapan saja dan dimana saja tanpa di batasi ruang dan waktu.
.
Adanya berbagai perangkat teknologi informasi yang di ciptakan manusia sa’at ini, bisa digunakan sebagai sarana untuk dakwah dan dakwah pun bisa dilakukan dengan mudah.
.
Dalam waktu yang cepat pengolahan dan penyajian materi bisa menggunakan teknologi komputer, gadget bahkan telpon genggam.
.
Sehingga materi dakwah yang baru ditulis bisa di sampaikan dalam waktu hitungan detik dengan menggunakan media internet. Yang apabila di sampaikan dengan cara seperti di masa lalu bisa membutuhkan waktu yang lama.
.
Munculnya beragam jejaring sosial sa’at ini, maka dakwah pun bisa semakin meluas.
.
Apakah berbagai alat yang di gunakan bisa di katakan bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi ?
.
Sarana, metode atau alat yang di gunakan umat Islam apakah untuk tujuan sebagai penunjang kelancaran ibadah atau tidak ada korelasinya dengan urusan ibadah, bukanlah bid’ah yang di maksudkan oleh syari’at.
.
Adapun bid’ah yang di larang oleh syari’at ialah, sebagaimana yang di definisikan oleh para Ulama sebagai berikut,
.
– Imam Al-’Iz bin ‘Abdis salam berkata :
.
هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ
.
“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Qowa’idul Ahkam 2/172).
.
– Imam An-Nawawi berkata :
.
هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ
.
“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).
.

– Al-Fairuz Abadi berkata :
.
الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ
.
“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).
.
Dari definisi-definisi bid’ah yang di sebutkan oleh para Ulama di atas, maka bid’ah yang di maksud oleh syari’at adalah : “Menambah-nambah atau membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah yang tidak ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak di kerjakan, tidak di perintahkan juga tidak pernah di setujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
.
Dan bid’ah menurut syari’at seluruhnya tercela, artinya tidak ada yang baik, sebagaimana yang di katakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani sebagai berikut :
.
فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة
.
“Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela”. (Fathul Bari, 13: 253).
.
Perkata’an Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di atas, berdasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sebagai berikut,
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Apakah peralatan yang di gunakan untuk kebutuhan ibadah juga bid’ah ?
.
Peralatan atau metode yang di gunakan untuk beribadah, maka tidak termasuk kepada bid’ah yang di maksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Namun apabila suatu alat tertentu yang di gunakan untuk ibadah dan di yakini sebagai keharusan menggunakannya. Dan tidak mau meninggalkannya, padahal Nabi tidak pernah melakukannya, maka pengguna’an alat tersebut menjadi bid’ah yang sesat. Tapi apabila pengguna’an suatu alat tertentu dalam ibadah tanpa ada keyakinan dengan alat tersebut jadi lebih afdhol ibadahnya, maka alat yang di gunakan dalam ibadah tersebut bukan bid’ah yang dimaksud oleh syari’at.
.
• PERALATAN HANYALAH SEBAGAI SARANA DAN BUKAN TUJUAN (GHAYAH).
.
Kalau kita pergi ke masjid untuk shalat mengendarai sepeda, mobil atau becak. Maka kendara’an tersebut hanya sebagai sarana untuk sampainya ke masjid. Tidak lebih dari itu.
.
Sarana yang di gunakan tersebut termasuk ke dalam urusan duniawi yang memiliki qa’idah tersendiri.
.
Adapun qa’idahnya sebagai berikut :
.
الاصل فى العادة حلال حتى يقوم الدليل على النهي
.
“Asalnya urusan duniawi boleh (halal) kecuali ada dalil yang melarangnya (mengharamkannya)”.
.
Kalau di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang (jihad) menggunakan panah dan pedang. Lalu kalau sa’at ini menggunakan senjata api jenis Beretta 92 atau FN 57 atau menggunakan peluncur roket Grad BM 21, maka tentu saja peralatan perang tersebut bukan bid’ah yang di larang dalam syari’at. Jadi menggunakan peralatan tersebut tidak di hukumi bid’ah sehingga sesat dan masuk neraka. Karena peralatan tersebut hanya sebagai alat atau sarana.
.
Contoh lainya lagi misalnya pergi haji. Kalau di masanya Nabi pergi untuk melaksanakan ibadah haji kendara’an yang di gunakannya adalah unta, maka kalau sa’at ini menggunakan mobil Toyota, maka tentu saja mobil atau kendara’an tersebut bukan bid’ah yang di maksud oleh syari’at. Karena kendara’an tersebut hanya sarana. Jadi pergi haji tidak naik unta sebagaimana Nabi tapi mengendarai Toyota, maka tentu saja tidak di hukumi bid’ah sehingga sesat dan masuk neraka.
.
Banyak sarana yang di gunakan untuk beribadah atau syi’ar yang tidak ada di masa Nabi, misalnya : Madrasah dengan system pendidikannya, jam dinding, karpet, speker, media internet, kaca mata, radio, telivisi, telpon gengam, computer, laptop, gadget dan banyak lagi yang di gunakan sebagai sarana untuk berlangsungnya sebuah syi’ar atau ibadah.
.
Sarana dan peralatan yang di sebutkan di atas, kita boleh menggantinya atau bahkan tidak menggunakannya. Dan tidak ada keyakinan dengan menggunakan sarana dan peralatan tersebut jadi bertambah pahala ibadahnya, dan juga tidak ada keyakinan kalau tidak menggunakan sarana dan peralatan tersebut jadi berdosa.
.
Hal ini sangat berbeda dengan acara-acara, atau metode-metode juga amalan-amalan bid’ah yang di amalkan oleh para pelaku bid’ah. Mereka tidak mau meninggalkan bid’ah-bid’ahnya, karena mereka meyakini bid’ah-bid’ah yang mereka kerjakan sebagai cara dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Mereka meyakini di dalam bid’ah-bid’ah yang mereka kerjakan terdapat keutama’an. Bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan di yakini sebagai bentuk ibadah. Sehingga mereka tidak mau meninggalkannya.
.
Adapun sarana yang digunakan untuk menunjang terlaksananya ibadah, tidak menjadi masalah apabila harus di tinggalkan atau tidak di gunakan.
.
Inilah yang menunjukkan bahwa peralatan yang di gunakan untuk beribadah tersebut hanya sebatas sebagai sarana bukan tujuan dari ibadah.
.
Apakah ada yang meyakini akan mendapatkan tambahan pahala atau lebih afdhol, apabila pergi haji naik unta sebagaimana Nabi ?
.
Tentu saja tidak ada yang meyakini lebih afdhol kalau naik haji naik unta.
.
Atau ada yang merasa berdosa apabila pergi haji naik pesawat terbang, karena pesawat terbang buatan orang kafir ?
.
Pesawat terbang dan unta hanya sarana (kendara’an) untuk bisa tercapainya tujuan dari ibadah. Dan bukan tujuan dari ibadah.
.
Onta dan pesawat terbang termasuk perkara duniawi, yang qa’idahnya sebagaimana sudah di sebutkan di atas yaitu,
.
الاصل فى العادة حلال حتى يقوم الدليل على النهي
.
“Asalnya urusan duniawi boleh (halal) kecuali ada dalil yang melarangnya (mengharamkannya)”.
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
بارك الله فيكم
.
Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii/
.
.
_________________

MEMAHAMI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB

MEMAHAMI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB

Perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan :

” نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ”

“Sebaik-baik bid’ah, adalah ini”

Seringkali dijadikan dalil, untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah.

Bagaimana sebenarnya perkata’an Umar bin Khatab tersebut ?

Untuk memahami perkata’an Umar bin Khatab dengan benar, maka kita harus memahami perkata’an Umar bin Khatab tersebut sebagaimana yang difahami dan di jelaskan oleh para Ulama Mu’tabar yang keilmuannya di akui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Berikut ini penjelasan Imam Ibnu Katsir seorang Ulama ahli tafsir bermadzhab Syafi’i dan Ibnu Rajab, semoga Allah Ta’ala merahmati mereka berdua.

Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab menjelaskan tentang perkata’an Umar bin Khatab sebagai berikut,

– Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : “Bid’ah ada dua macam, bid’ah menurut syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. DAN BID’AH LUGHOWIYAH (bahasa) SEPERTI PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB KETIKA MENGUMPULKAN MANUSIA UNTUK SHALAT TARAWIH : “INILAH SEBAIK-BAIKNYA BID’AH”. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adziem 1/223).

– Ibnu Rajab Rahimahullah berkata : ”JADI PERKATA’AN UMAR, “SEBAIK-BAIK BID’AH ADALAH INI”, ADALAH BID’AH SECARA LUGHOWI (BAHASA)”. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2:128).

Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab tersebut, maka kita mendapatkan penjelasan bahwa, perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan ; ”Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Adalah bid’ah secara bahasa. Bukan bid’ah menurut syari’at.

Bagaimana mungkin shalat tarawih berjama’ah mau dikatakan bid’ah menurut syari’at, karena bid’ah menurut syari’at adalah tercela (sesat).

Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullaah, Beliau berkata :

فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة

“MAKA BID’AH MENURUT SYARI’AT ADALAH TERCELA”. (Fathul Bari, 13: 253).

Perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani di atas, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

“Hati-hatilah dengan perkara yang di ada-adakan (dalam urusan ibadah) karena setiap perkara yang di ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).

• SHALAT TARAWIH BERJAMA’AH BUKAN BID’AH

Perlu di ketahui, bahwa shalat tarawih berjama’ah bukan bid’ah sebagaimana yang di katakan sebagian orang.

Shalat tarawih berjama’ah adalah sunnah, karena pernah di lakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya. Sebagaimana di sebutkan dalam riwayat berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)

Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radhiyallahu ‘anha : “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam hari sholat di masjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau, beliau sholat dan pengikut bertambah ramai (banyak) pada hari ke tiga dan ke empat orang-orang banyak berkumpul menunggu Nabi, tetapi Nabi tidak keluar (tidak datang) ke masjid lagi. Maka di waktu pagi, Nabi bersabda : “Sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku khawatir kalau sholat ini (tarawih) di wajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata: “Hal itu terjadi pada bulan Ramadlan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari riwayat di atas, maka sangat jelas, bahwa shalat tarawih secara berjama’ah bukan bid’ah. Tapi sunnah, karena pernah di lakulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya.

Adapun kemudian di tinggalkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir apabila shalat tarawih di wajibkan kepada umatnya. Sebagaimana Rasulullah bersabda :

وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

“Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku khawatir kalau sholat ini (tarawih) di wajibkan pada kalian”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana mungkin shalat tarawih secara berjama’ah mau dikatakan bid’ah, bukankah bid’ah itu sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan arti bid’ah, yang di jelaskan oleh para Ulama berikut ini.

– Imam An-Nawawi berkata :

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).

– Al-Fairuz Abadi berkata :

الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ

“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).

– Imam Al-‘Aini berkata :

وَقِيْلَ: إِظْهَارُ شَيْءٍ لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ

“Dan dikatakan juga (bid’ah adalah) menampakkan sesuatu (dalam urusan ibadah) yang tidak ada pada masa Rasulullah dan tidak ada juga di masa para sahabat”. (Umdatul Qori’ 25/37).

Kesimpulannya :

Perkata’an Umar bin Khatab yang menyebutkan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” adalah bid’ah secara bahasa, sebagaimana di jelaskan para Ulama di atas. Bukan bid’ah menurut syari’at.

Bagaimana mungkin shalat tarawih berjama’ah mau dikatakan bid’ah menurut syari’at, karena shalat tarawih berjama’ah, pernah di lakukan Nabi bersama para Sahabatnya. Artinya shalat tarawih berjama’ah itu sunnah.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

==================

AKULTURASI BUDAYA DAN SINGKRETISASI DI NUSANTARA

.
AKULTURASI BUDAYA DAN SINGKRETISASI DI NUSANTARA
.
Situasi kehidupan religius di Nusantara pada umumnya dan pada masyarakat Jawa khususnya, sebelum datangnya Islam sangatlah beragam (heterogen).
.
Sebelum menganut agama Hindu dan Budha, masyarakat di Nusantara pra sejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan dinamisme.
.
Masyarakat Jawa khususnya sebelum menganut ajaran Islam, mereka meyakini kekuatan magis pada benda-benda seperti keris, tombak, dan senjata lainnya. Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa. Selain itu orang Jawa juga mengkultuskan raja-raja sebagai titisan dewa. Kepercaya’an tersebut setelah mereka menganut ajaran Hindu-Budha yang mengajarkan konsep dewa-raja atau raja titising dewa.
.
Era Wali Songo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara. Wali Songo adalah simbol penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa.
.
Dalam menyebarkan dakwahnya, Wali Songo menerapkan pola Akulturasi budaya dan Singkretisasi.
.
✺ Akulturasi Budaya
.
Akulturasi budaya ialah menyatukan budaya-budaya yang berbeda menjadi sebuah kebudaya’an baru.
.
Akulturasi budaya dalam menyebarkan Islam yang diterapkan Wali Songo yaitu menggunakan pendekatan sosial budaya dengan cara mengakulturasikan budaya setempat pada ajaran Islam.
.
Akulturasi budaya yang masih kita saksikan sa’at ini ialah bangunan masjid yang didirikan oleh Sunan Kudus dengan menaranya yang berarsitekturkan rumah ibadah masyarakat setempat yaitu pure atau candi, yaitu tempat ibadah bagi umat hindu.
.
Akulturasi budaya lainnya yang dilakukan Wali Songo yaitu kesenian wayang kulit yang menjadi tontonan menarik sa’at itu.
.
Salah seorang Wali Songo yang piawai memainkan wayang kulit sebagai media penyebaran islam adalah Sunan Kalijaga.
.
Sebelum kedatangan para Wali menyebarkan agama Islam, cerita pewayangan tentu saja sarat dengan unsur Hindu-Budha, maka Sunan Kalijaga berusaha memasukkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam ke dalam cerita pewayangan tersebut, Walaupun lakon atau kisah dalam pewayangan tersebut tetap mengambil cerita Pandawa dan Kurawa yang mengandung ajaran kebaikan dan keburukan.
.
Dengan akulturasi budaya antara kebudaya’an Hindu yang dimasukkan kedalamnya ajaran Islam (di-Islamisasikan), maka ajaran Islam sedikit demi sedikit mulai dikenal masyarakat yang pada waktu itu masih menganut agama Hindu-Budha atau Animisme. Dan selanjutnya banyak dari mereka mulai tertarik dengan ajaran Islam lalu kemudian masuk Islam.
.
Akulturasi budaya yang dilakukan Wali Songo sebenarnya masih banyak, seperti terhadap sastra dan tetembangan.
.
✺ Singkretisme
.
Singkretisme, berasal dari bahasa Yunani “Sunistanto, Sunkretamos”. Artinya : “Kesatuan” dan kata “Synkerannumi” yang berarti “Mencampur aduk”.
.
Sinkretisme dalam beragama adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan murni tidaknya suatu agama.
.
Dalam menyebarkan agama Islam, Wali Songo selain mengakulturasikan budaya juga mengsingkretisasikan atau memadukan tradisi-tradisi keagama’an lokal yang sudah mentradisi di masyarakat, kemudian memasukkan ajaran Islam ke dalamnya, yang selanjutnya menjadi ajaran baru yang di amalkan dan diyakini sebagai ajaran agama.
.
Pada masyarakat Jawa khususnya dan Nusantara umumnya, sebelum menganut ajaran Islam, mereka sudah menjalankan ritual-ritual keagama’an yang sudah menjadi tradisi secara turun-temurun berkaitan dengan siklus kehidupan. Seperti di moment kelahiran, kematian, membangun atau pindah rumah, menanam dan memanen padi, melaut serta penghormatan terhadap roh para leluhur dan roh halus.
.
Ketika Islam datang ritual-ritual ini tetap dilanjutkan, hanya isinya diubah dengan unsur-unsur dari ajaran Islam. Maka terjadilah islamisasi dan masih di amalkan dan dipertahankan oleh sebagian masyarakat Indonesia sampai sa’at ini.
.
✺ Syngkretisme dan
Wali Songo
.
Syngkretisasi yang dilakukan oleh sebagian dari Wali Songo, sebenarnya tidak disukai dan dibenarkan oleh sebagian dari Wali Songo lainnya.
.
Sebagai bukti ketidak setujuan dari sebagian Wali Songo terhadap praktek Syingkretisasi yang dilakukan oleh sebagian Wali, bisa kita ketahui di dalam buku “Het Book Van Bonang”.
.
Buku Het Book Van Bonang disimpan di perpustakaan Universitas Heiden Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap.
.
Buku Het Book Van Bonang ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.
.
Dalam naskah kuno itu diantaranya menceritakan tentang Sunan Ampel yang memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan acara selamatan arwah yang sudah di-Islamisasikan, yang kita kenal sa’at ini dengan istilah “Tahlilan”.
.
Sunan Ampel berkata : ”Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk BIDA’H”.
.
Sunan Kalijogo menjawab : “Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya selamatan arwah itu”.
.
Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H . Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini.
.
Dimana Sunan Kalijogo, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria berbeda pandangan mengenai adat istiadat yang di-Islamisasikan dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat.
.
Sunan Kalijogo mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman.
.
Sunan Ampel berpandangan lain.
.
“Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ?, jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi BID’AH ?. Sunan kudus mengatakan bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari ada yang menyempurnakannya. (Het Book Van Bonang, hal 41, 64).
.
Sunan Ampel, Sunan Drajat dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah.
.
Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisasi/mencampur adukkan ajaran Hindu dan Budha dengan Islam.
.
Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam.
.
Sampai sa’at ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti sekatenan, ruwatan, selamatan arwah, upacara tujuh bulanan, sedekah bumi, sedekah laut dan lainnya.
.
(Sumber : Abdul Qadir Jailani, Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu).
.
✺ NASEHAT SUNAN BONANG
.
Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Mbonang” itu adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH.
.
Bunyinya sebagai berikut : “Ee..mitraningsun !, karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam, lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.
.
Artinya : “Wahai saudaraku !, karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam, maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan BIDA’H.
.
Buku Het Book Van Bonang adalah sumber tentang Wali Songo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda.
.
Buku Het Book Van Bonang ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935 .
.
✺ Apakah sebagian Wali Songo sesat, karena mencampur adukkan ajaran Islam ?
.
Meng-Islamisasikan tradisi masyarakat yang dilakukan oleh Sunan Kalijogo, Sunan Kudus, Sunan Gunung jati dan Sunan Muria. adalah sebuah bentuk Ijtihad sebagaimana Ijtihadnya yang dilakukan oleh khalifah utsman bin Affan yang membuat adzan jum’at dua kali dan juga Ijtihadnya Khalifah Abu Bakar yang membukukan Al-Qur’an.
.
Dan Ijtihad dibenarkan dalam Islam, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.
.
“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (Hr. Al-Bukhaari, 13/268 dan Muslim, no. 1716).
.
Ijtihad dalam bentuk meng-Islamisasikan budaya dan tradisi yang dilakukan oleh Wali Songo sa’at itu, disebabkan adanya kebutuhan dalam menyebarkan agama Islam, bagaimana supaya masyarakat yang masih menganut kepercaya’an leluhurnya tertarik kepada Islam. Dan dikhawatirkan apabila tradisi dan ritual-ritual yang sudah turun-temurun mereka lakukan dilarang, akan membuat mereka tidak mau masuk Islam dan bahkan memusuhi Islam.
.
Wali Songo meng-Islamisasikan budaya dan tradisi masyarakat sa’at itu bukanlah melakukan kebid’ahan terlebih lagi apabila Wali Songo dikatakan sebagai ahli bid’ah, karena Wali Songo pun berharap di kemudian hari ada orang-orang yang menyempurnakan pemahaman agama yang sudah mereka anut.
.
Sebagaimana Sunan Kalijogo menjawab Sunan Ampel : “BIARLAH NANTI GENERASI SETELAH KITA KETIKA ISLAM TELAH TERTANAM DI HATI MASYARAKAT YANG AKAN MENGHILANGKAN BUDAYA SELAMATAN ARWAH ITU”.
.
Wali Songo juga anti bid’ah sebagaimana diketahui dari peringatan dan nasehat sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH.
.
با رك الله فيكم
.
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί (Abu Meong)
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
___________________