MATI TERLAKNAT AKIBAT KEBODOHAN DAN TA’ASHUB

MATI TERLAKNAT AKIBAT KEBODOHAN DAN TA’ASHUB

Meninggal dalam keada’an husnul khatimah (akhir hidup yang baik) adalah damba’an setiap orang muslim, apakah dia seorang yang ta’at atau tidak.

Sebaliknya tidak ada seorang muslim pun, apakah seorang pelaku kemaksiatan sekali pun yang ingin mati dalam keada’an su’ul khatimah. Terlebih lagi mati dalam keada’an mendapatkan laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mati dalam keada’an di laknat Allah Ta’ala pernah terjadi menimpa seorang yang jahil namun sangat fanatik terhadap seorang tokoh penyesat umat.

Orang jahil tersebut sangat mengagumi Ibnu ‘Arabi tokoh sufi yang diantara kesesatannya pernah berkata : “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal ? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang di beri kewajiban ?” (Al-Futuhat Al- Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, hal. 601).

Ibnu Arabi seorang tokoh sufi yang memiliki faham akidah wihdatul wujûd (keyakinan seorang makhluk yang dapat bersatu dengan Khalik / Sang Pencipta).

Diantara kerusakan akidah Ibnu Arabi sebagai berikut :

• Ibnu Arabi mengaku, bahwa tulisan dan kitab yang ia sebarkan telah mendapatkan izin dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika ia bertemu dengan Rasulullah dalam mimpinya.

• Meyakini bahwa Rabb adalah hamba dan hamba adalah Rabb.

• Mengatakan bahwa hewan-hewan tertentu adalah Rabb.

• Mengatakan bahwa Rabb adalah pendeta yang ada di gereja.

• Bahwa Allah al-Haq al-Munazzah (suci dari segala aib dan kekurangan) adalah hamba yang diserupakan.

• Ia berkata tentang kaum Nabi Nuh, andai saja mereka meninggalkan peribadatan kepada Wadd, Suwâ’, Yaghûts, Ya’ûq dan Nasr, sungguh mereka akan menjadi jauh lebih bodoh tentang Allah al-Haq.

• Allah Al-Haq memiliki wajah pada setiap hamba-Nya.

(Silahkan baca kitab; Aqidah Ibn Arabi wa Hayatuhu, karya Syaikh Taqyuddin al-Farisi (wafat 832 H).

Walaupun Ibnu Arabi memiliki akidah yang sesat dan menyesatkan, akan tetapi banyak orang yang mengagumi dan memujanya.

Diantara pengagum Ibnu Arabi bahkan sampai ada yang bermubahalah dengan seorang Ulama besar Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani adalah seorang Ulama besar bermadzhab Syafi’i, seorang Ulama terkemuka ahli hadits (lahir, 773 H/1372 M-wafat 852 H/1449 M). Lahir dan wafat di Mesir.

Diantara kitab Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang terkenal adalah, Fathul Bari dan Bulughul Maram.

Tentang mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqalani di sebutkan oleh beliau, dalam kitabnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Dan dari pengalaman bahwa orang yang melakukan mubahalah dan dia itu orang yang salah, maka dia tidak akan hidup sampai satu tahun dari sa’at dia bermubahalah. Dan saya pun pernah mengalaminya bermubahalah dengan seorang yang ta’ashub dengan kelompok batil, akhirnya setelah itu dia hanya hidup dua bulan.” (Fathul Bari 7/697).

Mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqolani diceritakan pula oleh Al-Hafizh as-Sakhowi rahimahullah dalam kitab al-jawahir wad Duror, “Biografi Syaikh Islam Ibnu Hajar” (I/1001).

As-Sakhawi menyebutkan : “Berkali-kali aku pernah mendengar Ibnu Hajar terlibat perdebatan serius dengan salah seorang pengagum Ibnu Arabi tentang diri Ibnu Arabi (dedengkot sufi) sehingga mendorongnya mengeluarkan ucapan yang dianggap tidak etis terhadap Ibnu Arabi.

Tentu saja pengagum Ibnu Arabi tadi tidak bisa terima. Ia mengancam akan melaporkan Ibnu Hajar dan kawan-kawannya kepada sang sultan. Tetapi, ancaman itu ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan tenang. Ia mengatakan : “Jangan bawa-bawa sang sultan ikut campur dalam masalah ini. Mari kita mengadakan mubahalah saja”.

Jarang sekali dua orang yang mengadakan mubahalah, lalu pihak yang berdusta akan selamat dari musibah.

Tantangan Ibnu Hajar ini disetujui oleh pengagum Ibnu Arabi tersebut.

Lalu, Ia mengatakan : “Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kesesatan, laknatilah aku dengan laknat-Mu”.

Lalu, Ibnu Hajar mengatakan : “Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kebenaran, laknatilah aku dengan laknat-Mu”.

Setelah itu, keduanya berpisah.

Ketika pengagum Ibnu Arabi tadi sedang berada di sebuah taman, ia kedatangan rombongan tamu seorang putra serdadu yang sangat tampan. Tidak lama kemudian tamu itu bermaksud minta pamit meninggalkannya dan teman-temannya, tanpa bersedia menginap. Selepas isya’ tamu itu beranjak pergi. Ia dan teman-temannya ikut mengantarkannya sampai di daerah perbatasan.

Sepulang dari mengantarkan tamu, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak pada kakinya. Ia mengeluhkan hal itu kepada teman-temannya. Setelah diperiksa, mereka tidak melihat apa-apa. Ia kemudian pulang ke rumahnya. Begitu sampai di rumah tiba-tiba ia menjadi buta, dan paginya ia meninggal dunia.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 97 Hijriyah. Sedangkan peristiwa mubahalah terjadi pada bulan Ramadhan tahun yang sama.

Ketika berlangsung mubahalah, Ibnu Hajar tahu bahwa siapa yang bersalah akan mendapat celaka kurang dari waktu setahun”.

الله المستعان

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

================

MENGENAL HAKEKAT ULAMA

.
MENGENAL HAKEKAT ULAMA
.
By : Abu Meong
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
.
“Ulama adalah pewaris para Nabi”. (Hr. At-Tirmidzi).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dirham dan dinar kepada umatnya, tapi yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wariskan adalah ilmu.
.
Ilmu yang Nabi wariskan kemudian para Ulama mencatatnya. Dalam sejarah Islam banyak sekali Ulama yang menulis kitab, dan kitab-kitab yang ditulis para Ulama tersebut masih bisa kita baca sampai sa’at ini. Kitab-kitab yang ditulis para Ulama menjadi penerang umat sepanjang masa.
.
Apakah semua Ulama sebagai pewaris Nabi ?
.
Sa’at ini begitu mudahnya melabeli seseorang dengan sebutan Ulama.
.
Ada orang yang disebut Ulama karena kondang namanya sebagai penceramah yang pandai bicara, mahir berdalil, serta sibuk dengan undangan ceramahnya.
.
Ada pula orang yang dikatakan Ulama karena ia memiliki pondok pesantren dan banyak santrinya.
.
Juga ada orang yang dipandang sebagai Ulama karena terkenal sering jadi juara lomba baca Al-Qur’an.
.
Dan juga ada orang yang dianggap sebagai Ulama, karena selalu memakai gamis lengkap dengan sorban melilit di kepala, tongkat di tangan kiri dan biji tasbih di tangan kanannya.
.
Benarkah mereka itu ulama ?
.
Ternyata tidak semua Ulama baik. Dalam dunia islam dikenal ada istilah Ulama Su’ yaitu ulama buruk/jahat.
.
Perlu kita ketahui bahwa ulama ada dua :
.
1. Ulama Robbani
2. Ulama Su’ (buruk/jahat)
.
Apa itu Ulama Robbani dan Ulama Su’ (buruk/jahat) ?
.
(1) ULAMA ROBBANI
.
Ulama Robbani yaitu, Ulama yang mengajak umat untuk memurnikan Tauhid dan menjauhi kesyirikan, Ulama yang menyeru untuk ittiba’ kepada sunnah Nabi dan memperingatkan umat dari bahayanya tahayul, bid’ah dan khurafat. Ulama yang memperingatkan umat untuk tidak taqlid kepada siapapun dan kepada kelompok manapun. Ulama Robbani adalah seorang Ulama yang membimbing umat untuk menapaki jejak para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in. Karena mereka itulah generasi terbaik umat (Shalafus Shalih). Ulama Robbani adalah seorang Ulama yang menjadikan umat menjadi takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin : “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah”. (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).
.
Itulah ciri-ciri dari Ulama Robbani, dan Ulama Robbani itulah yang Rasulullah sebut sebagai Ulama pewaris para Nabi.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
.
“Ulama adalah pewaris para nabi”. (Hr. At-Tirmidzi).
.
(2) ULAMA SU’
.
Tentang Ulama Su’ (buruk/jahat), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya, sebagaimana dalam sebuah hadits berikut ini,
.
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا
.
”Akan muncul para da’i yang menyeru ke Neraka Jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam Neraka”.
.
Itulah Ulama Su’ yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu para da’i yang menjerumuskan umat ke dalam Jahannam.
.
Apa itu Ulama Su’ (buruk/jahat) ?
.
Ulama Su’ adalah para Ulama yang menjadikan umat menyimpang dan bergelimang kesesatan, menyeret umat kepada kesyirikan, bid’ah dan kebatilan lainnya. Menjadikan umat semakin jauh dari Allah Ta’ala.
.
Ulama Su’ lainnya menyeret umat kedalam dunia khurafat, umatnya disesatkan dengan ajaran mistik dan kebatinan, ilmu kebal, bisa menghilang, penglaris, pengasihan dan ajaran setan lainnya yang digemari orang-orang awam.
.
Di samping Ulama Su’ yang memiliki sifat diatas, juga ada Ulama Su’ yang menjadikan agama sebagai barang dagangan. Agama dijadikan sarana untuk mencari keuntungan dunia, popularitas, kekaya’an dan kedudukan.
.
Ulama Su’ model ini sebagaimana layaknya Ulama, nampak alim, santun tutur katanya lembut memikat, fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam.
.
Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, membuat orang awam kagum terpesona, pujian dari manusia mengalir, menjadikan jadwal undangan ceramahnya padat, dan pundi-pundinya pun semakin melimpah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka. Lisan mereka lebih manis dari gula, namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan)”. (Hr. Tirmidzi).
.
Itulah Ulama Su’ yang hadir di tengah-tengah umat. Keberada’annya bukan menerangi umat, mengeluarkan umat dari kejahilan, tapi menjadikan umat semakin jahil. Ulama Su’ menjadikan kebenaran tersamarkan, menjadikan umat memusuhi kebenaran dan sebaliknya menggandrungi kebatilan. Ulama Su’ menjadikan umat untuk selalu manut dan membenarkan kepada apa yang dikatakan dan dilakukannya. Ulama Su’ menjadikan umat menyimpang dan tersesat.
.
Ulama Su’ bukanlah Ulama pewaris Nabi, tapi sebaliknya menodai Risalah Nabi. Ulama Su’ hakekatnya adalah musuh umat Islam.
.
Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari tipu daya mereka, Aamiin.
.
الله المستعان
.
.
Kunjungi blog pribadi di https : //agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
____

ILMU TAJWID BID’AH ?

ILMU TAJWID BID’AH ?

Benarkah ilmu tajwid bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi ?

Perhatikan perkata’an Imam Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam, Ulama besar bermadzhab Syafi’i, yang lahir pada tahun 577 H.

Mengenai ilmu tajwid, Imam Al-Iz bin Abdis Salam di dalam kitabnya, beliau berkata :

“ILMU TAJWID BUKANLAH BID’AH DALAM AGAMA ISLAM, BAHKAN MERUPAKAN SUATU MASLAHAT MURSALAH”. (Lihat al-I’tisham 2/111-112).

Kalau bid’ah hasanah itu ada, tentu Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam tidak akan menyebut Ilmu Tajwid dengan Maslahah Mursalah, tapi menyebutnya bid’ah hasanah.

Dari perkata’an Imam Al-Iz bin Abdis Salam, sebetulnya kita bisa memahami ucapan beliau, bahwa dalam urusan agama atau ibadah tidak ada bid’ah hasanah.

Demikian pula ilmu nahwu, ilmu mushtholah hadits, ilmu fara’idh, ilmu ushul fikih, membangun madrasah, memberi titik dan harokat pada Al-Qur’an, berangkat haji pake pesawat terbang, speker untuk panggilan adzan, dakwah di internet atau di facebook dan sebagainya, yang semua itu tidak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh-contoh yang di sebutkan di atas semua itu termasuk kepada Maslahah Mursalah.

Kalau ada yang mengatakan, Maslahah Mursalah itu katanya bid’ah hasanah.

Itulah kejahilannya. KARENA ANTARA MASLAHAH MURSALAH DENGAN BID’AH ADA PERBEDA’ANNYA YANG SANGAT JELAS.

Kalau ada yang mengatakan bahwa Maslahah Mursalah tidak ada perbeda’annya dengan bid’ah. Itulah yang menjadikan mereka rancu dalam memahami bid’ah.

Maka tidak heran kalau perkara-perkara yang termasuk kepada Maslahah Mursalah, mereka menyebutnya bid’ah hasanah.

Karena kejahilannya tidak mengetahui perbeda’an antara Maslahah Mursalah dengan bid’ah.

Adapun sebab yang mendorong para ulama untuk membuat sebuah metode membaca al-Qur’an (ilmu tajwid), adalah karena tersebarnya bahasa orang-orang non Arab yang merusak ilmu Al-Quran.

Bisa kita perhatikan betapa banyak orang tidak bisa membedakan د (dal) dengan ذ (dzal), ظ (dzo`) dengan ض (dho’). Demikian pula س (sin) dengan ش (syin) atau denganث (tsa’), dan seterusnya.

Maka sebuah ilmu yang menentukan tata cara membaca al-Qur’an yang benar dibutuhkan.

Ilmu tajwid diambil dari Al-Quran dan Sunnah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Quran, serta para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in demikian seterusnya.

Sampailah kepada ulama-ulama yang ahli dalam Al-Quran sehingga sampai ilmu qiro’at tersebut dengan cara yang mutawatir.

Ilmu tersebut dinamakan dengan ilmu tajwid.

Sedangkan tajwidnya sendiri ada dua, yaitu :

1. Syafawi ‘Amali, yaitu bacaan Al-Quran yang bagus yang diambil dari orang yang ahli dalam membaca Al-Quran.

2. Nadzory ‘Ilmi, yaitu suatu ilmu yang diajarkan secara turun-temurun menurut kaidah yang diletakkan oleh para ulama.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=========

SIAPA YANG SEBENARNYA INTOLERAN ?

SIAPA SEBENARNYA YANG INTOLERAN ?

Para da’i yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, mengikuti manhaj Shalafus Shalih, dan orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi, menjauhi praktek-praktek ibadah yang di buat-buat (bid’ah), sering di tuduh sebagai kelompok intoleran, tidak bisa menerima perbeda’an, suka mencela amalan-amalan orang lain yang tidak sefaham.

Benarkah tuduhan tersebut ?

Atau, apakah bukan mereka ahli bid’ah yang sebenarnya intoleran itu ?

Kita sering menyaksikan dalam kehidupan bermasyarakat, mereka para pelaku bid’ah sering mencibir, mencemo’oh, dan memusuhi pihak atau orang-orang yang tidak mau mengikuti, duduk bersama mereka melakukan amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka ada-adakan.

Rasa tidak suka dan permusuhan ahli bid’ah kepada pihak yang tidak mau duduk bersama mereka mengamalkan amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka adakan, sungguh nyata dan terang-terangan.

Orang-orang yang tidak mau bersama mereka mengamalkan ke bid’ahan sering di kucilkan bahkan sampai di musuhi.

Begitu pula para da’i yang menyeru umat untuk beribadah sesuai petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menjauhi amalan-amalan yang di buat-buat (bid’ah), sering menjadi bulan-bulanan, di cibir, di jadikan bahan olok-olokan, di caci maki dan di hinakan bahkan tidak jarang yang di usir dari kampung halamannya.

Jadi siapa yang sebenarnya intoleran itu ?

Ada riwayat mayshur, suatu sa’at Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling).

Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil.

Lalu syaikh tersebut menyuruh mereka ; “Bertasbihlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu syaikh itu berkata lagi ; “Bertahmidlah seratus kali”. Dan demikianlah seterusnya . .

Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya, tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia segera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu ia pun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya.

Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud : “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidak lah saya melihat melainkan kebaikan”.
Lalu Abu Musa menceritakan keada’an halaqah dzikir tersebut.

Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikit pun ?”

Abu Musa pun menjawab : “Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka”.

Berkatalah Ibnu Mas’ud, Mari kita pergi menuju mereka.

Sesampainya di tempat tujuan, lalu Ibnu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya.

Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ?”

Mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, tahlil dan takbir”.

Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ?, ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”,
Mereka pun menjawab :

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ

“Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”.

Ibnu Mas’ud pun berkata :

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”.

Berkata Amru bin Salamah, “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang An-Nahrawan bersama kaum Khawarij”.

(Riwayat Darimi dengan sanad shahih).

Coba kita perhatikan riwayat tersebut !

Ibnu Mas’ud menegur dan mencela orang yang sedang berdzikir di pimpin oleh seorang syaikh.

Bukankah apa yang mereka lakukan baik ?

Mereka sedang berdzikir, apakah dzikir itu tidak baik ?

Lalu mengapa Ibnu Mas’ud menegur mereka ?

Mereka mendapatkan teguran dan cela’an dari Ibnu Mas’ud, karena model dzikir yang mereka lakukan tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, mereka telah berbuat bid’ah dalam ibadah.

Kalau sa’at ini ada orang yang menegur, mencela amalan-amalan atau acara-acara baru (bid’ah) dikatakan intoleran.

Apakah mereka berani juga menyebut Sahabat Ibnu Mas’ud intoleran, karena menegur dan mencela sekelompok orang yang berbuat bid’ah ?

Apakah mereka berani juga mengatakan, Sahabat Ibnu Mas’ud tidak bisa menerima perbeda’an ?

Apakah mereka berani juga mengatakan, Sahabat Ibnu Mas’ud suka mencela amalan-amalan orang lain yang tidak sefaham ?

برك الله فيكم

Дδµ$ $ąŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

==============