MANUSIA APA KODOK

MANUSIA APA KODOK ?

Kodok atau katak atau bangkong adalah salah satu binatang yang namanya di sebut dalam Al-Qur’an.(Lihat surat Al-A’raf: 133).

Kodok mengalami masa perubahan wujud (fase metamorfosis) sebagaimana kupu-kupu. Kalau kupu-kupu dimulai wujud awal yang menjijikkan berupa ulat, namun akhirnya menjadi kupu-kupu yang bisa terbang dengan warnanya yang mempesona. Beda hal nya dengan kodok.

Kodok wujud awalnya setelah keluar dari telornya menjelma jadi kecebong, sama jeleknya dengan ulat, tidak sedap di pandang. Fase berikutnya jadi kodok kecil dan berakhir jadi kodok yang sesungguhnya.

Beda dengan kupu-kupu, kodok dari mulai berudu sampai jadi kodok yang sempurna, sang kodok tidak pernah berubah, tetap jelek. Banyak manusia yang jijik melihatnya, kalau masuk rumah, umumnya manusia pasti mengusirnya bahkan tidak jarang ada yang mau membunuhnya.

Manusia pun sebetulnya mengalami masa perubahan wujud, tapi istilahnya bukan bermetamorfosis sebagaimana kupu-kupu dan kodok.

Di mulai masa bayi yang mungil, kemudian berlanjut menjadi manusia dewasa, tentu saja menusia mengalami banyak perubahan bentuk fisik dan fsikisnya, raga dan jiwanya.

Kalau kodok fase sempurnanya menjadi makhluk yang menjijikkan. Manusia tentu saja harus berbeda dengan kodok. Karena Allah Ta’ala sempurnakan pencipta’an manusia dengan akal dan sifat malu (Al-‘Aqli wal Haya).

Tapi fakta nyatanya, ternyata banyak manusia semakin bertambah dewasa tidak makin elok, bahkan lebih menjijikkan dari kodok.

Lalu kemana akal dan sifat malunya ?

Banyak manusia semakin dewasa sepertinya kehilangan akalnya, tidak mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang menyelamatkan dan yang menyesatkan, yang harus di ta’ati dan yang harus di jauhi.

Begitu pula sifat atau rasa malunya, tidak sedikit manusia bertambah usia, tapi seperti tipis sifat malunya.

Sesungguhnya manusia punya muru’ah yang harus di jaga, yaitu kehormatan diri.

Dan diantara menjaga kehormatan diri yaitu menjaga sikap dan lisannya.

Manusia mudah di nilai tentang kepribadiannya, masa lalu, pergaulan dan dari keluarga bagaimana dia dibesarkan dengan melihat yang di lakukan dan di ucapkannya.

Muru’ah sesuatu yang harus di jaga, karena menyangkut harga diri.

Orang pintar tinggi pendidikannya, bisa hina karena sombong. Namun sebaliknya orang bodoh bisa terhormat karena rendah hati.

Manusia tentu bukan kodok yang menjijikkan, juga bukan kupu-kupu yang sekedar indah di pandang (sebetulnya kupu-kupu dan kodok ada manfa’atnya bagi kelangsungan alam). Tapi manusia harus lebih baik dan lebih berguna bagi hidupnya dan kehidupan orang lain.

برك الله فيكم

Дδµ$ $ąŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

=======

SPEKER BERARTI BID’AH ?

SPEKER BERARTI BID’AH ?

Di gunakannya speker untuk panggilan shalat (adzan) adalah karena sesuai dengan Maqashid asy Syari’ah (مَقَاصِدُ الشَّرِيعَ). Tujuan Syari’at). Dalam hal ini syari’at adzan.

Panggilan shalat (adzan), sejak semula memang di syariatkan supaya di suarakan dengan keras. Tujuannya, supaya panggilan shalat (adzan) tersebut bisa di dengar dari tempat yang jauh.

Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahaman bin Abu Sha’sha’ah Al Anshari Al Mazini dari bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri berkata kepadanya : “Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengembala’an). Jika kamu sedang menggembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, MAKA KERASKANLAH SUARAMU. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat”. Abu Sa’id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (H.R. Bukhari).

Lafadz “Maka keraskanlah suaramu” menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya adzan di kumandangkan dengan suara keras agar bisa didengar dari tempat yang jauh.

Di zaman Rasulullah, mu’adzin sengaja memilih tempat yang tinggi agar suara yang di kumandangkan bisa di dengar banyak orang. Sebagaimana riwayat berikut ini.

Seorang wanita dari Bani Najjar berkata : ”Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang lain di sekitar masjid, dan Bilal mengumandangkan adzan subuh di atasnya”. (H.R. Abu Dawud).

Makna dari hadits tersebut adalah, Bilal sengaja memilih naik rumah salah seorang wanita Anshar yang paling tinggi untuk mengumandangkan adzan. Pemilihan tempat yang paling tinggi oleh Bilal, dimaksudkan supaya suara adzan yang di kumandangkan dengan keras bisa menjangkau tempat jauh sehingga suara adzan bisa didengar banyak orang.

Di zaman mutakhir sa’at ini, dengan adanya alat pengeras suara maka seorang muadzin tidak perlu lagi naik ke tempat tinggi untuk mengumandangkan adzan.

Apakah alat pengeras suara yang di gunakan untuk panggilan shalat (adzan) bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi ?

Untuk memahami mas’alah ini, maka terlebih dahulu harus benar-benar memahami maksud bid’ah yang di peringatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut,

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).

Maksud bid’ah yang Nabi peringatkan kepada umatnya adalah, membuat-buat perkara baru atau menambah-nambah dalam urusan ibadah. Yang tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan, perintahkan atau menyetujuinya.

Kita perhatikan hadits Nabi yang lainnya, berikut ini.

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rasulullah lakukan / perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari, no. 20).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka, janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan, hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham hal 50).

Perhatikan Kalimat íni :

فلاتحدث في دين الله برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri”

Apabila kita perhatikan hadist-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjalasan dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, bahwa yang di maksud dengan jangan berbuat bid’ah itu, adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH.

Perlu di fahami, pengeras suara hanya sebagai sarana, bukan tujuan dari ibadahnya yang di maksud. Dalam hal ini, adalah panggilan shalat (adzan).

Pengeras suara yang di gunakan untuk panggilan adzan, sebagaimana halnya pesawat terbang untuk pergi ibadah haji atau madrasah untuk menuntut ilmu, hanya sebagai alat atau sarana yang di gunakan untuk penunjang ibadah yang di syari’atkan.

Sarana yang di gunakan, kita boleh mengganti atau bahkan tidak menggunakannya apabila ada alat atau sarana lain yang lebih baik.

Berbeda halnya dengan ibadahnya yang jadi tujuan, dalam hal ini panggilan shalat (adzan). Maka tentu saja tidak boleh merubah apalagi meninggalkannya. Karena adzan merupakan syariat Islam yang sudah di tentukan aturannya.

Adapun bagaimana caranya supaya suara adzan tersebut bisa di dengar sampai ke tempat jauh, syari’at tidak menentukan aturannya. Mau di kumandangkan di atas pohon, di atas rumah sebagimana Bilal atau mau di atas bukit atau di atas menara, semua itu di bolehkan. Yang penting suara adzan bisa di dengar banyak orang (umat Islam).

Kesimpulannya :

Alat pengeras suara (speker) yang di gunakan untuk panggilan shalat (adzan) bukan bid’ah yang Rasulullah maksudkan. Alat pengeras suara hanya alat yang di gunakan untuk menunjang berlangsungnya syariat yang di maksudkan, dalam hal ini yaitu adzan.

Tidak menggunakan alat pengeras suara pun tidak mengurangi pahala adzan apalagi menjadi dosa.

Menggunakan pengeras suara untuk adzan sebagai implementasi dari kesempurna’an akal manusia. Bukankah syari’at adzan itu harus di kumandangkan dengan suara yang keras ?

Sebagaimana di tunjukkan pada hadits-hadits yang sudah di sebutkan di atas. Tapi pengeras suara bukan tujuan utama dari ibadahnya yang di syari’atkan.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

_________________

ADA HADITS YANG MEMBOLEHKAN MERINTIS AMALAN BARU

ADA HADITS YANG MEMBOLEHKAN MERINTIS AMALAN BARU

Dalil lainnya yang sering di pakai oleh mereka yang mengatakan adanya bid’ah hasanah diantaranya hadits berikut ini,

Rasulullah bersabda :

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, . . Dst.

Tanggapan :

Perlu di ketahui, bahwa untuk memahami suatu hadits dengan “baik dan benar”, diantaranya diperlukan metodologi atau suatu cara.

Tidak cukup hanya sekedar melihat teksnya saja dari sebuah hadits, LEBIH KHUSUSNYA KEPADA HADITS YANG MEMPUNYAI ASBABUL WURUD, (sebab turunnya). Melainkan juga kita harus melihat konteksnya.

Dengan kata lain, ketika kita ingin menggali pesan moral dari suatu hadits, perlu memperhatikan konteks historitasnya, kepada siapa hadis itu disampaikan, dalam kondisi sosio-kultural yang bagaimana Nabi waktu itu menyampaikannya.

Tanpa memperhatikan konteks historisitasnya (asbabul wurud) maka akan mengalami kesalahan dalam menangkap makna suatu hadits, bahkan dapat terperosok ke dalam pemahaman yang keliru.

Untuk itu, mengapa asbabul wurud menjadi sangat penting dalam diskursus ilmu hadits, seperti pentingnya asbabun nuzul dalam kajian tafsir al-Qur’an.

Perlu dicatat, bahwa tidak semua hadis mempunyai asbabul wurud (sebab turunnya).

Di bawah ini sedikit penjelasan tentang asbabul wurud.

• PENGERTIAN ASBABUL WURUD DAN URGENSINYA

Apa itu Asbabul Wurud ?

Menurut Imam as-suyuthi, secara terminology (syara’) asbabul wurud berarti :

أنه ما يكون طريقا لتحديد المراد من الحديث من عموم أو حصوص أو إطلاق أوتقييد أونسخ أونحو ذالك.

“Sesuatu yang menjadi thoriq (metode) untuk menentukan suatu hadis yang bersifat umum, atau khusus, mutlak atau muqayyad, dan untuk menentukan ada tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadits”.

Hasbi ash-shiddiqie mengatakan :

علم يعرف به السبب الذي ورد لأجله الحديث والزمان الذي جاء به

“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menyampaikan sabdanya dan waktu Nabi menuturkannya”.

Mengetahui asbabul wurud bukanlah tujuan (ghayah), melainkan hanya sebagai sarana (washilah) untuk memperoleh ketepatan makna dalam memahami pesan moral suatu hadits.

Supaya tidak terjebak hanya kepada teksnya saja dari sebuah hadits, dan terperosok kepada kesalah fahaman dalam memaknai terlebih lagi salah penerapannya.

Sehubungan dengan hadits,

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)

Makna yang benar dari hadits di atas adalah :

“BARANG SIAPA MEMULAI atau MENCONTOHKAN SUATU PERBUATAN BAIK DALAM ISLAM” perbuatan yang memang sudah ada perintah atau tuntunannya. Perbuatan yang valid.

Bukan : “Barang siapa MERINTIS (memulai) perbuatan baik dalam agama Islam, YANG TIDAK PERNAH ADA PERINTAHNYA atau TIDAK PERNAH DI CONTOHKAN”. Yang tidak valid.

Kita perhatikan arti keseluruhannya :

“Barangsiapa mencontohkan atau memulai suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (Riwayat Muslim).

Mengapa kalimat :

” مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ ”

Dimaknai sebagaimana yang di sebutkan di atas !

Sebagaimana dalam pembahasan di awal tulisan. Untuk memahami dan memaknai dengan benar dari sebuah hadits, dalam hal ini hadits yang memiliki asbabul wurud (sebab turunnya), MAKA PERLU DI KETAHUI ASBABUL WURUD DARI HADITS TERSEBUT.

Kita perhatikan asbabul wurud dari hadits di atas sebagai berikut :

Di riwayatkan suatu ketika Rosululloh kedatangan suatu kaum dari Mudlor dengan kondisi yang memprihatinkan, mereka bertelanjang kaki. Maka Rosululloh memerintahkan kepada para sahabat yang ada untuk memberikan bantuan atau sodaqoh. Lalu datanglah seseorang dari kalangan anshor dengan membawa kantung yang tangannya hampir tidak bisa membawanya bahkan tidak mampu, kemudian orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, maka aku melihat wajah Rosulullah berseri-seri bagaikan perak bersepuh emas.

Lalu beliau bersabda ;

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”.

Kalau kita cermati hadits di atas beserta asbabul wurudnya (sebab turunnya) hadits tersebut, maka kita bisa mengetahui dengan sangat jelas, bahwa hadits di atas SEBAGAI BENTUK APRESIASI POSITIF RASULULLAH KEPADA SEORANG SAHABAT YANG MENDAHULUI MEMBERIKAN SHADAQOH.

Maka apabila hadits di atas di jadikan dalil untuk membenarkan, membuat-buat amalan-amalan baru dalam urusan ibadah (bid’ah). Adalah sangat keliru.

Karena Rasulullah bukan sedang merespon seorang Sahabatnya MEMBUAT-BUAT, BERKREASI atau MENCIPTAKAN amalan baru.

Tapi yang Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apresiasi adalah, “AMALAN SHADAQOH” yang di lakukan seorang Sahabatnya, MENDAHULUI Sahabat lainnya.

APAKAH SHADAQOH YANG DI LAKUKAN SEORANG SAHABAT TERSEBUT MAU DI KATAKAN AMALAN BARU ?

Tentu saja tidak ! !

Kesimpulannya : Pendalilan untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah dengan hadits di atas adalah sebuah kesalahan atau istidlal (memaksakan dalil). Bisa juga di sebut pendalilan yang di cari-cari.

• Arti kata “sanna” (سَنَّ)

Kata “sanna” (سَنَّ) secara bahasa adalah : “Memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain”

Sebagaimana terdapat di dalam kamus-kamus bahasa Arab.

Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata :

“Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya”. (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306).

Hal ini juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya, (Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220).

Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits di atas BUKAN BERARTI BERKREASI MEMBUAT AMALAN BARU YANG TIDAK ADA CONTOH SEBELUMNYA. Tapi berupa amalan yang memang sudah ada tuntunannya atau perintahnya. Kita bisa mengetahui maknanya terebut berdasarkan sebab turunnya hadits tersebut (asbabul wurud). Dalam hal ini adalah shadaqoh.

Oleh karenanya lafal “sanna” (سَنَّ) bukan berarti harus berkreasi amalan baru atau berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya.

Akan tetapi lafal “sanna” (سَنَّ) bersifat umum, yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.

Namun dengan melihat sebab kronologi hadits tersebut maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan (سَنَّ) adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bersedekah.

Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits ini : “Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, Maksud Nabi adalah barang siapa yang mengamalkannya untuk diikuti”. (Tahdziib al-Lughoh 12/298).

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

__________

JANGAN MALU UNTUK BERTANYA

JANGAN MALU UNTUK BERTANYA

Tidak mengerti suatu perkara, atau bodoh sekalipun, bukanlah aib yang harus di tutup rapat dan di sembunyikan.

Yang harus malu adalah, orang yang sebetulnya tidak tahu tapi ingin nampak di mata manusia seolah-olah banyak tahu.

Semua manusia dilahirkan dalam kondisi tidak tahu apapun. bahkan tidak tahu (mengenal) kepada ibunya yang mengandungnya sekalipun.

Allah Ta’ala berfirman :

وَاللّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ اُمَّهاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَشَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَمْعَ وَالاَبْصَارَ وَالاَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْتَشْكُرُوْنَ.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keada’an tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal pikiran), agar kamu bersyukur”. (Q.S An-Nahl: 78).

Merasa tidak faham ataupun bodoh, kemudian mencari tahu, bukanlah kehina’an.

Tidak perlu malu karena harus bertanya, atau khawatir di cibir. Yang harus ditakutkan adalah kebodohan, karena bodoh adalah pangkal kerusakan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Bahwasanya segala keharaman dari kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan dilakukan oleh seorang hamba karena sebab kebodohannya”. (Majmu’ al-Fatawa 17/22).

Karena kebodohan berdampak buruk, maka sebagai orang berakal mestinya khawatir kebodohan meliputi dirinya. Sehingga tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah.

Karena kebodohan mendatangkan kerusakan, maka seharusnya setiap manusia menyadari bahayanya kebodohan dan mencari jalan keluarnya. Adapun solusinya adalah dengan cara bertanya kepada orang yang faham atau ahlinya.

Bertanya dengan tujuan mencari tahu suatu permas’alahan, diperintahkan Allah Ta’ala sebagaimana dalam firmannya :

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“… Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43).

Ayat ini berlaku umum dalam segala urusan, baik bertanya urusan dunia maupun urusan agama. Dengan bertanya di harapkan seorang yang kebingungan bisa jadi faham. Kegelapan yang menyelimuti dirinya berubah jadi terang.

Tidak perlu ragu dan malu untuk bertanya. Pepatah mengatakan ;

“MALU BERTANYA SESAT DI JALAN”

Bertanya bukan berarti bodoh, tapi bertanya adalah kemulia’an jiwa dan tanda kerendahan hati.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah

================

MATI TERLAKNAT AKIBAT KEBODOHAN DAN TA’ASHUB

MATI TERLAKNAT AKIBAT KEBODOHAN DAN TA’ASHUB

Meninggal dalam keada’an husnul khatimah (akhir hidup yang baik) adalah damba’an setiap orang muslim, apakah dia seorang yang ta’at atau tidak.

Sebaliknya tidak ada seorang muslim pun, apakah seorang pelaku kemaksiatan sekali pun yang ingin mati dalam keada’an su’ul khatimah. Terlebih lagi mati dalam keada’an mendapatkan laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mati dalam keada’an di laknat Allah Ta’ala pernah terjadi menimpa seorang yang jahil namun sangat fanatik terhadap seorang tokoh penyesat umat.

Orang jahil tersebut sangat mengagumi Ibnu ‘Arabi tokoh sufi yang diantara kesesatannya pernah berkata : “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal ? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang di beri kewajiban ?” (Al-Futuhat Al- Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, hal. 601).

Ibnu Arabi seorang tokoh sufi yang memiliki faham akidah wihdatul wujûd (keyakinan seorang makhluk yang dapat bersatu dengan Khalik / Sang Pencipta).

Diantara kerusakan akidah Ibnu Arabi sebagai berikut :

• Ibnu Arabi mengaku, bahwa tulisan dan kitab yang ia sebarkan telah mendapatkan izin dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika ia bertemu dengan Rasulullah dalam mimpinya.

• Meyakini bahwa Rabb adalah hamba dan hamba adalah Rabb.

• Mengatakan bahwa hewan-hewan tertentu adalah Rabb.

• Mengatakan bahwa Rabb adalah pendeta yang ada di gereja.

• Bahwa Allah al-Haq al-Munazzah (suci dari segala aib dan kekurangan) adalah hamba yang diserupakan.

• Ia berkata tentang kaum Nabi Nuh, andai saja mereka meninggalkan peribadatan kepada Wadd, Suwâ’, Yaghûts, Ya’ûq dan Nasr, sungguh mereka akan menjadi jauh lebih bodoh tentang Allah al-Haq.

• Allah Al-Haq memiliki wajah pada setiap hamba-Nya.

(Silahkan baca kitab; Aqidah Ibn Arabi wa Hayatuhu, karya Syaikh Taqyuddin al-Farisi (wafat 832 H).

Walaupun Ibnu Arabi memiliki akidah yang sesat dan menyesatkan, akan tetapi banyak orang yang mengagumi dan memujanya.

Diantara pengagum Ibnu Arabi bahkan sampai ada yang bermubahalah dengan seorang Ulama besar Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani adalah seorang Ulama besar bermadzhab Syafi’i, seorang Ulama terkemuka ahli hadits (lahir, 773 H/1372 M-wafat 852 H/1449 M). Lahir dan wafat di Mesir.

Diantara kitab Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang terkenal adalah, Fathul Bari dan Bulughul Maram.

Tentang mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqalani di sebutkan oleh beliau, dalam kitabnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Dan dari pengalaman bahwa orang yang melakukan mubahalah dan dia itu orang yang salah, maka dia tidak akan hidup sampai satu tahun dari sa’at dia bermubahalah. Dan saya pun pernah mengalaminya bermubahalah dengan seorang yang ta’ashub dengan kelompok batil, akhirnya setelah itu dia hanya hidup dua bulan.” (Fathul Bari 7/697).

Mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqolani diceritakan pula oleh Al-Hafizh as-Sakhowi rahimahullah dalam kitab al-jawahir wad Duror, “Biografi Syaikh Islam Ibnu Hajar” (I/1001).

As-Sakhawi menyebutkan : “Berkali-kali aku pernah mendengar Ibnu Hajar terlibat perdebatan serius dengan salah seorang pengagum Ibnu Arabi tentang diri Ibnu Arabi (dedengkot sufi) sehingga mendorongnya mengeluarkan ucapan yang dianggap tidak etis terhadap Ibnu Arabi.

Tentu saja pengagum Ibnu Arabi tadi tidak bisa terima. Ia mengancam akan melaporkan Ibnu Hajar dan kawan-kawannya kepada sang sultan. Tetapi, ancaman itu ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan tenang. Ia mengatakan : “Jangan bawa-bawa sang sultan ikut campur dalam masalah ini. Mari kita mengadakan mubahalah saja”.

Jarang sekali dua orang yang mengadakan mubahalah, lalu pihak yang berdusta akan selamat dari musibah.

Tantangan Ibnu Hajar ini disetujui oleh pengagum Ibnu Arabi tersebut.

Lalu, Ia mengatakan : “Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kesesatan, laknatilah aku dengan laknat-Mu”.

Lalu, Ibnu Hajar mengatakan : “Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kebenaran, laknatilah aku dengan laknat-Mu”.

Setelah itu, keduanya berpisah.

Ketika pengagum Ibnu Arabi tadi sedang berada di sebuah taman, ia kedatangan rombongan tamu seorang putra serdadu yang sangat tampan. Tidak lama kemudian tamu itu bermaksud minta pamit meninggalkannya dan teman-temannya, tanpa bersedia menginap. Selepas isya’ tamu itu beranjak pergi. Ia dan teman-temannya ikut mengantarkannya sampai di daerah perbatasan.

Sepulang dari mengantarkan tamu, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak pada kakinya. Ia mengeluhkan hal itu kepada teman-temannya. Setelah diperiksa, mereka tidak melihat apa-apa. Ia kemudian pulang ke rumahnya. Begitu sampai di rumah tiba-tiba ia menjadi buta, dan paginya ia meninggal dunia.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 97 Hijriyah. Sedangkan peristiwa mubahalah terjadi pada bulan Ramadhan tahun yang sama.

Ketika berlangsung mubahalah, Ibnu Hajar tahu bahwa siapa yang bersalah akan mendapat celaka kurang dari waktu setahun”.

الله المستعان

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

================

MENGENAL HAKEKAT ULAMA

.
MENGENAL HAKEKAT ULAMA
.
By : Abu Meong
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
.
“Ulama adalah pewaris para Nabi”. (Hr. At-Tirmidzi).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dirham dan dinar kepada umatnya, tapi yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wariskan adalah ilmu.
.
Ilmu yang Nabi wariskan kemudian para Ulama mencatatnya. Dalam sejarah Islam banyak sekali Ulama yang menulis kitab, dan kitab-kitab yang ditulis para Ulama tersebut masih bisa kita baca sampai sa’at ini. Kitab-kitab yang ditulis para Ulama menjadi penerang umat sepanjang masa.
.
Apakah semua Ulama sebagai pewaris Nabi ?
.
Sa’at ini begitu mudahnya melabeli seseorang dengan sebutan Ulama.
.
Ada orang yang disebut Ulama karena kondang namanya sebagai penceramah yang pandai bicara, mahir berdalil, serta sibuk dengan undangan ceramahnya.
.
Ada pula orang yang dikatakan Ulama karena ia memiliki pondok pesantren dan banyak santrinya.
.
Juga ada orang yang dipandang sebagai Ulama karena terkenal sering jadi juara lomba baca Al-Qur’an.
.
Dan juga ada orang yang dianggap sebagai Ulama, karena selalu memakai gamis lengkap dengan sorban melilit di kepala, tongkat di tangan kiri dan biji tasbih di tangan kanannya.
.
Benarkah mereka itu ulama ?
.
Ternyata tidak semua Ulama baik. Dalam dunia islam dikenal ada istilah Ulama Su’ yaitu ulama buruk/jahat.
.
Perlu kita ketahui bahwa ulama ada dua :
.
1. Ulama Robbani
2. Ulama Su’ (buruk/jahat)
.
Apa itu Ulama Robbani dan Ulama Su’ (buruk/jahat) ?
.
(1) ULAMA ROBBANI
.
Ulama Robbani yaitu, Ulama yang mengajak umat untuk memurnikan Tauhid dan menjauhi kesyirikan, Ulama yang menyeru untuk ittiba’ kepada sunnah Nabi dan memperingatkan umat dari bahayanya tahayul, bid’ah dan khurafat. Ulama yang memperingatkan umat untuk tidak taqlid kepada siapapun dan kepada kelompok manapun. Ulama Robbani adalah seorang Ulama yang membimbing umat untuk menapaki jejak para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in. Karena mereka itulah generasi terbaik umat (Shalafus Shalih). Ulama Robbani adalah seorang Ulama yang menjadikan umat menjadi takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin : “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah”. (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).
.
Itulah ciri-ciri dari Ulama Robbani, dan Ulama Robbani itulah yang Rasulullah sebut sebagai Ulama pewaris para Nabi.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
.
“Ulama adalah pewaris para nabi”. (Hr. At-Tirmidzi).
.
(2) ULAMA SU’
.
Tentang Ulama Su’ (buruk/jahat), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya, sebagaimana dalam sebuah hadits berikut ini,
.
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا
.
”Akan muncul para da’i yang menyeru ke Neraka Jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam Neraka”.
.
Itulah Ulama Su’ yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu para da’i yang menjerumuskan umat ke dalam Jahannam.
.
Apa itu Ulama Su’ (buruk/jahat) ?
.
Ulama Su’ adalah para Ulama yang menjadikan umat menyimpang dan bergelimang kesesatan, menyeret umat kepada kesyirikan, bid’ah dan kebatilan lainnya. Menjadikan umat semakin jauh dari Allah Ta’ala.
.
Ulama Su’ lainnya menyeret umat kedalam dunia khurafat, umatnya disesatkan dengan ajaran mistik dan kebatinan, ilmu kebal, bisa menghilang, penglaris, pengasihan dan ajaran setan lainnya yang digemari orang-orang awam.
.
Di samping Ulama Su’ yang memiliki sifat diatas, juga ada Ulama Su’ yang menjadikan agama sebagai barang dagangan. Agama dijadikan sarana untuk mencari keuntungan dunia, popularitas, kekaya’an dan kedudukan.
.
Ulama Su’ model ini sebagaimana layaknya Ulama, nampak alim, santun tutur katanya lembut memikat, fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam.
.
Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, membuat orang awam kagum terpesona, pujian dari manusia mengalir, menjadikan jadwal undangan ceramahnya padat, dan pundi-pundinya pun semakin melimpah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka. Lisan mereka lebih manis dari gula, namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan)”. (Hr. Tirmidzi).
.
Itulah Ulama Su’ yang hadir di tengah-tengah umat. Keberada’annya bukan menerangi umat, mengeluarkan umat dari kejahilan, tapi menjadikan umat semakin jahil. Ulama Su’ menjadikan kebenaran tersamarkan, menjadikan umat memusuhi kebenaran dan sebaliknya menggandrungi kebatilan. Ulama Su’ menjadikan umat untuk selalu manut dan membenarkan kepada apa yang dikatakan dan dilakukannya. Ulama Su’ menjadikan umat menyimpang dan tersesat.
.
Ulama Su’ bukanlah Ulama pewaris Nabi, tapi sebaliknya menodai Risalah Nabi. Ulama Su’ hakekatnya adalah musuh umat Islam.
.
Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari tipu daya mereka, Aamiin.
.
الله المستعان
.
.
Kunjungi blog pribadi di https : //agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
____

ILMU TAJWID BID’AH ?

ILMU TAJWID BID’AH ?

Benarkah ilmu tajwid bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi ?

Perhatikan perkata’an Imam Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam, Ulama besar bermadzhab Syafi’i, yang lahir pada tahun 577 H.

Mengenai ilmu tajwid, Imam Al-Iz bin Abdis Salam di dalam kitabnya, beliau berkata :

“ILMU TAJWID BUKANLAH BID’AH DALAM AGAMA ISLAM, BAHKAN MERUPAKAN SUATU MASLAHAT MURSALAH”. (Lihat al-I’tisham 2/111-112).

Kalau bid’ah hasanah itu ada, tentu Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam tidak akan menyebut Ilmu Tajwid dengan Maslahah Mursalah, tapi menyebutnya bid’ah hasanah.

Dari perkata’an Imam Al-Iz bin Abdis Salam, sebetulnya kita bisa memahami ucapan beliau, bahwa dalam urusan agama atau ibadah tidak ada bid’ah hasanah.

Demikian pula ilmu nahwu, ilmu mushtholah hadits, ilmu fara’idh, ilmu ushul fikih, membangun madrasah, memberi titik dan harokat pada Al-Qur’an, berangkat haji pake pesawat terbang, speker untuk panggilan adzan, dakwah di internet atau di facebook dan sebagainya, yang semua itu tidak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh-contoh yang di sebutkan di atas semua itu termasuk kepada Maslahah Mursalah.

Kalau ada yang mengatakan, Maslahah Mursalah itu katanya bid’ah hasanah.

Itulah kejahilannya. KARENA ANTARA MASLAHAH MURSALAH DENGAN BID’AH ADA PERBEDA’ANNYA YANG SANGAT JELAS.

Kalau ada yang mengatakan bahwa Maslahah Mursalah tidak ada perbeda’annya dengan bid’ah. Itulah yang menjadikan mereka rancu dalam memahami bid’ah.

Maka tidak heran kalau perkara-perkara yang termasuk kepada Maslahah Mursalah, mereka menyebutnya bid’ah hasanah.

Karena kejahilannya tidak mengetahui perbeda’an antara Maslahah Mursalah dengan bid’ah.

Adapun sebab yang mendorong para ulama untuk membuat sebuah metode membaca al-Qur’an (ilmu tajwid), adalah karena tersebarnya bahasa orang-orang non Arab yang merusak ilmu Al-Quran.

Bisa kita perhatikan betapa banyak orang tidak bisa membedakan د (dal) dengan ذ (dzal), ظ (dzo`) dengan ض (dho’). Demikian pula س (sin) dengan ش (syin) atau denganث (tsa’), dan seterusnya.

Maka sebuah ilmu yang menentukan tata cara membaca al-Qur’an yang benar dibutuhkan.

Ilmu tajwid diambil dari Al-Quran dan Sunnah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Quran, serta para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in demikian seterusnya.

Sampailah kepada ulama-ulama yang ahli dalam Al-Quran sehingga sampai ilmu qiro’at tersebut dengan cara yang mutawatir.

Ilmu tersebut dinamakan dengan ilmu tajwid.

Sedangkan tajwidnya sendiri ada dua, yaitu :

1. Syafawi ‘Amali, yaitu bacaan Al-Quran yang bagus yang diambil dari orang yang ahli dalam membaca Al-Quran.

2. Nadzory ‘Ilmi, yaitu suatu ilmu yang diajarkan secara turun-temurun menurut kaidah yang diletakkan oleh para ulama.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=========

SIAPA YANG SEBENARNYA INTOLERAN ?

SIAPA SEBENARNYA YANG INTOLERAN ?

Para da’i yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, mengikuti manhaj Shalafus Shalih, dan orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi, menjauhi praktek-praktek ibadah yang di buat-buat (bid’ah), sering di tuduh sebagai kelompok intoleran, tidak bisa menerima perbeda’an, suka mencela amalan-amalan orang lain yang tidak sefaham.

Benarkah tuduhan tersebut ?

Atau, apakah bukan mereka ahli bid’ah yang sebenarnya intoleran itu ?

Kita sering menyaksikan dalam kehidupan bermasyarakat, mereka para pelaku bid’ah sering mencibir, mencemo’oh, dan memusuhi pihak atau orang-orang yang tidak mau mengikuti, duduk bersama mereka melakukan amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka ada-adakan.

Rasa tidak suka dan permusuhan ahli bid’ah kepada pihak yang tidak mau duduk bersama mereka mengamalkan amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka adakan, sungguh nyata dan terang-terangan.

Orang-orang yang tidak mau bersama mereka mengamalkan ke bid’ahan sering di kucilkan bahkan sampai di musuhi.

Begitu pula para da’i yang menyeru umat untuk beribadah sesuai petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menjauhi amalan-amalan yang di buat-buat (bid’ah), sering menjadi bulan-bulanan, di cibir, di jadikan bahan olok-olokan, di caci maki dan di hinakan bahkan tidak jarang yang di usir dari kampung halamannya.

Jadi siapa yang sebenarnya intoleran itu ?

Ada riwayat mayshur, suatu sa’at Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling).

Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil.

Lalu syaikh tersebut menyuruh mereka ; “Bertasbihlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu syaikh itu berkata lagi ; “Bertahmidlah seratus kali”. Dan demikianlah seterusnya . .

Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya, tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia segera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu ia pun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya.

Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud : “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidak lah saya melihat melainkan kebaikan”.
Lalu Abu Musa menceritakan keada’an halaqah dzikir tersebut.

Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikit pun ?”

Abu Musa pun menjawab : “Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka”.

Berkatalah Ibnu Mas’ud, Mari kita pergi menuju mereka.

Sesampainya di tempat tujuan, lalu Ibnu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya.

Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ?”

Mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, tahlil dan takbir”.

Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ?, ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”,
Mereka pun menjawab :

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ

“Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”.

Ibnu Mas’ud pun berkata :

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”.

Berkata Amru bin Salamah, “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang An-Nahrawan bersama kaum Khawarij”.

(Riwayat Darimi dengan sanad shahih).

Coba kita perhatikan riwayat tersebut !

Ibnu Mas’ud menegur dan mencela orang yang sedang berdzikir di pimpin oleh seorang syaikh.

Bukankah apa yang mereka lakukan baik ?

Mereka sedang berdzikir, apakah dzikir itu tidak baik ?

Lalu mengapa Ibnu Mas’ud menegur mereka ?

Mereka mendapatkan teguran dan cela’an dari Ibnu Mas’ud, karena model dzikir yang mereka lakukan tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, mereka telah berbuat bid’ah dalam ibadah.

Kalau sa’at ini ada orang yang menegur, mencela amalan-amalan atau acara-acara baru (bid’ah) dikatakan intoleran.

Apakah mereka berani juga menyebut Sahabat Ibnu Mas’ud intoleran, karena menegur dan mencela sekelompok orang yang berbuat bid’ah ?

Apakah mereka berani juga mengatakan, Sahabat Ibnu Mas’ud tidak bisa menerima perbeda’an ?

Apakah mereka berani juga mengatakan, Sahabat Ibnu Mas’ud suka mencela amalan-amalan orang lain yang tidak sefaham ?

برك الله فيكم

Дδµ$ $ąŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

==============

CERDIK DAN LICIKNYA SETAN DALAM MENCELAKAKAN MANUSIA

.
CERDIK DAN LICIKNYA SETAN DALAM MENCELAKAKAN MANUSIA
.
Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Sebagai musuh abadi bagi Adam dan keturunannya.
.
Allah Ta’ala menjelaskan dalam firmannya,
.
وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
.
”Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (Qs. az-Zukhruf: 62).
.
Dalam ayat di atas Allah Ta’ala menegaskan, bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka hendaklah manusia selalu waspada terhadap berbagai bujuk rayunya. Goda’an dan bujuk rayu setan, hanya akan menjadikan manusia berakhir dalam penyesalan dan kebinasa’an.
.
Dalam menjalankan programnya menjerumuskan manusia, setan tidak mengenal putus asa. Dengan berbagai trik, intrik licik, cara halus dan kasar semua upaya dikerahkan untuk meraih tujuannya. Selama 24 jam siang dan malam, setan tidak pernah berhenti menjalankan tipu dayanya kepada manusia.
.
Tujuan utama setan adalah mencelakakan manusia sehingga menjadikan manusia berkubang dosa, dan akan menjadi temannya setan di dalam kobaran panasnya adzab api Neraka.
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
.
إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ
.
“Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala”. (Qs. Fathir: 6).
.
Setiap waktu didorong-dorongnya manusia untuk melakukan berbagai kejahatan dan kemaksiatan dan pelanggaran-pelanggaran dalam agama lainnya. Sehingga banyak dari manusia yang tidak bisa melepaskan dirinya dari perbuatan dosa, bahkan tidak sedikit dari manusia yang menjadikan kemaksiatan bagian dari kehidupannya sehari-hari, apakah menyangkut kegemaran atau pekerja’an. Namun demikian, ada juga sebagian dari manusia yang tidak mau mengikuti bujuk rayu setan.
.
Tapi setan tidak mengenal lelah dalam mencelakakan manusia. Ketika tidak mempan dari kanan diintipnya dari kiri, diumpan dari depan ditikam dari belakang.
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
.
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ
.
“Iblis berkata, Karena Engkau telah menghukumiku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (Qs. Al-A’raf: 14-17).
.
Cerdik dan liciknya setan laknatullah ‘alaihi, menjadikan manusia sungguh tidak berdaya menghadapi aksinya. Ketika manusia tidak bisa ditipu dengan sesuatu, maka setan mencari cara lainnya. Sehingga yang terjerat tipu daya setan bukan saja orang awam tapi juga orang-orang alim. Bukankah banyak riwayat, orang saleh yang terjerat tipu daya setan yang akhirnya tersesat dan bahkan kemudian menyesatkan banyak manusia.
.
Banyak manusia yang bisa menjauhi perbuatan-perbuatan yang tercela menurut syari’at, seperti berjudi, menipu, merampas, peraktek riba, dan lainnya. Tapi setan tidak menyerah, dicarinya cara lain yang lebih halus, nampak indah dimata manusia, padahal kemungkaran yang amat besar.
.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
.
وقال الشيطان اهلكتهم باالذنوب، فأهلكونى بالاشتغفار، فلما رايت ذالك، فأهلكتهم بالاهواء.
.
“Dan berkata syetan, aku akan mencelakakan manusia dengan mendorong untuk berbuat dosa, tapi manusia pun bisa mencelakan aku dengan beristigfar, ketika aku melihat begitu, maka aku akan mencelakakan manusia dengan peribadahan yang dasarnya hawa nafsu (bid’ah)”.
.
Begitu mahirnya setan dalam menjerumuskan manusia, ketika manusia lari dari perbuatan yang dianggapnya sebagai dosa, maka setan tidak putus asa, diarahkannya manusia untuk melakukan kemungkaran dalam bentuk yang berbeda.
.
Didorong dan disemangatinya manusia untuk melakukan amalan-amalan yang tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan, tidak pernah Rasulullah perintahkan juga tidak pernah menyetujuinya.
.
Sebagai pakarnya dalam soal menipu dan memperdaya, setan menjadikan manusia antusias dan sangat semangat melakukan amalan-amalan atau acara-acara yang tidak pernah dilakukan, diperintahkan dan disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembimbing umat.
.
Kita saksikan semenjak dahulu hingga hari ini, betapa banyak manusia berbondong-bondong mengamalkan acara-acara atau amalan-amalan baru yang diada-adakan, yang di buat-buat. Sebagian dari mereka mengetahui dan menyadarinya bahwa yang dilakukannya adalah perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), namun mereka menganggapnya sebagai bid’ah hasanah.
.
Padahal para Shalafus Shalih sebagai generasi terbaik umat memperingatkan, bahwa bid’ah dalam urusan agama tidak ada yang baik, yang terpuji, tidak ada bid’ah hasanah. Semua bid’ah tercela, sebuah kesesatan yang bisa mendatangkan murka Allah subhanahu wa ta’ala.
.
Sahabat Nabi, Ibnu Umar berkata,
.
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
.
“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i, 11/50).
.
Imam Malik, seorang Ulama besar gurunya Imam Syafi’i berkata,
.
من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة
.
“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom, 1/64-65).
.
Imam Syafi’i berkata,
.
من استحسن فقد شرع
.
“Barang siapa yang menganggap baik (bid’ah), maka ia telah membuat syariat”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).
.
Imam Syafi’i berkata,
.
إنما الاستحسان تلذذ
.
“Sesungguhnya istihsan (menganggap baik) itu hanyalah menuruti hawa nafsu”. (Ar-Risalah: 507).
.
Iblis laknatullah ‘alaihi yang menyandang titel sebagai pakar penyesat manusia, mahir benar memainkan perannya, dengan kepiawaiannya, iblis mampu menyihir manusia, menjadikan manusia memandang kemaksiatan sebagai keta’atan, bid’ah jadi dipandang sebagai ibadah.
.
Makar iblis yang mendorong manusia untuk melakukan amalan-amalan atau acara-acara bid’ah, adalah tipu daya iblis paling jitu. Bukan saja orang awam yang terkecoh tetapi mampu juga memperdaya orang alim.
.
Orang alim yang berhasil diperdaya setan merupakan keberhasilan yang sangat menguntungkan.
.
Orang alim yang sudah terpedaya kemudian dijadikan setan sebagai bagian dari pasukannya. Dengan kemahirannya seorang alim memainkan dalil, menjadikan kesesatan merajalela sulit dibendung.
.
Manusia antusias menyimak ketika orang alim memberikan pelajaran agama, ketika orang alim berfatwa. Padahal yang keluar dari lisan orang alim yang sudah disesatkan setan ibarat bisa ular yang mematikan.
.
Sungguh pandai setan menghiasi keburukan. Menjadikan manusia semangat menjalankan kesesatan. Waktu, harta bahkan nyawa sekalipun dikorbankan untuk kesesatan yang dilakoninya. Orang yang sudah disesatkan setan selain dirinya sesat juga sangat semangat menyesatkan orang banyak.
.
Ibnu Mas’ud berkata,
.
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَه
.
“Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya”. (Riwayat Darimi).
.
Perkata’an Ibnu Mas’ud tersebut, sehubungan dengan halaqoh dzikir yang dilakukan sekelompok orang, namun cara dzikir mereka tidak sesuai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.
.
Ketika mereka mandapatkan teguran dari Ibnu Mas’ud, mereka menjawab,
.
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ
.
“Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”.
.
Begitulah para pelakon bid’ah. Selalu pandai membuat bantahan.
.
Maha benar Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
.
وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ أَكْثَرَ شَىْءٍ جَدَلً
.
”Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”. (Qs. Al-Kahfi: 54).
.
Para pelaku bid’ah berharap, dengan amalannya mendapatkan limpahan pahala yang banyak. Mereka menganggap perbuatannya sebagai bentuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah Ta’ala.
.
Semenjak dahulu hingga sa’at ini, para pelaku bid’ah punya banyak hujjah yang dijadikan andalan untuk membela amalan-amalan bid’ahnya. Dan hujjah mereka yang paling terkenal adalah anggapan baik (ihtisan).
.
Bid’ah yang dalam Islam dicela sebagai perbuatan sesat sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tegaskan,
.
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
”Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).
.
Mereka para pembela bid’ah entah sadar atau tidak, bahwa dengan keyakina tentang adanya BID’AH HASANAH, adalah musibah terbesar dari berbagai macam musibah yang menimpa ummat ini.
.
Keyakinan adanya bid’ah hasanah pada akhirnya akan menghalalkan semua bentuk bid’ah yang pada gilirannya akan memunculkan syariat-syariat baru dalam agama.
.
Memang sungguh licik dan cerdik iblis dan bala tentaranya menyesatkan manusia, sehingga sebagian besar manusia terpedaya oleh tipu muslihatnya.
.
Tipu daya iblis tersebut padahal sudah disebutkan dalam Al-Qur’an.
.
Allah Ta’ala berfirman,
.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
.
”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. (Qs. al-Hijr: 39).
.
Begitulah kenyata’an yang terjadi semenjak dahulu hingga sa’at ini, manusia lebih banyak yang terpedaya oleh makar iblis dibanding yang selamat.
.
الله المستعان
.
Abu Meong
.
.
Kunjungi blog pribadi di: https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______

MEMAHAMI PEMBAGIAN BID’AH MENJADI LIMA

MEMAHAMI PEMBAGIAN BID’AH MENJADI LIMA OLEH AL-‘IZZ BIN ABDIS SALAM

Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah (lahir thn 577 H) bermazhab Syafi’i.

Dalam kitabnya Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, dia membahagi bid‘ah menjadi lima kategori :

1. Bid‘ah Wajibah
2. Bid‘ah Muharramah
3. Bid‘ah Mandubah
4. Bid‘ah Makruhah
5. Bid‘ah Mubahah

(‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam, Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, hal. 133).

Sebenarnya pembagian bid’ah menjadi lima yang di buat Al-‘Izz bin Abdis Salam tersebut, merujuk kepada ta’rif bid‘ah yang disebutnya pada awal kitab dia sendiri.

Kalau memperhatikan ta’rif (definisi) bid’ah yang Al-‘Izz bin Abdis Salam sebutkan, yaitu :

البدعة فعل ما لم يعهَدْ في عصر رسول الله

“Bid‘ah adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasulullah”.

(Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, m.s. 133).

Maka, ta’rif (definisi) bid’ah yang Al-‘Izz bin Abdis Salam sebutkan tersebut, mencakup semua perkara bid’ah. Baik bid’ah dalam urusan duniawi (al-‘Aadah), maupun bid’ah dalam urusan ibadah (al-‘Ibaadah).

Sehingga, apabila ada orang yang mengatakan ada bid’ah hasanah dalam urusan Ibadah, berhujah dengan perkata’an Al-‘Izz bin Abdis Salam, tentu saja sangat keliru. Karena Al-‘Izz bin Abdis Salam tidak menta’rif bid’ah hanya dalam urusan Ibadah. Namun ta’rif bid’ah secara umum.

Dengan ta’rif (definisi) bid’ah yang Al-‘Izz bin Abdis Salam sebutkan yang mencakup segala perkara, secara umum. Maka pantas kalau Al-‘Izz bin Abdis Salam membagi bid’ah menjadi lima.

Adapun sebagian orang yang mengatakan ada bid’ah hasanah dalam urusan Ibadah dengan berhujah kepada perkat’an Al-‘Izz bin Abdis Salam, maka sangat tidak tepat.

Karena bid’ah dalam urusan Ibadah (bid’ah menurut syari’at), semuanya tercela tidak ada yang baik. Tidak ada bid’ah hasanah.

Perhatikan perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah sebagai berikut, (Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah seorang Ulama besar bermadzhab Syafi’i lahir pada thn 773 H. Dia amirul mukminin dalam bidang hadits. Banyak kitab yang dia tulis. Yang paling terkenal adalah, kitab Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari dan Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam. Tidak ada seorang muslim yang alim yang tidak mengenal dua kitab tersebut). Perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani sangat patut di perhatikan.

Semua bid’ah dalam urusan ibadah tercela, tidak ada yang baik, tidak ada bid’ah hasanah. Dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai berikut,

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata :

فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة

“MAKA BID’AH MENURUT SYARI’AT ADALAH TERCELA”. (Fathul Bari, 13: 253).

* Yang dimaksud bid’ah menurut syari’at adalah, “Membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah”. Maka menurut syari’at tercela.

Perkata’an Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang menyebutkan, bid’ah menurut syari’at tercela berdasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

“Hati-hatilah dengan perkara yang di ada-adakan (dalam urusan ibadah) karena setiap perkara yang di ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).

Kita kembali kepada perkata’an Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam.

Dalam menyebutkan bid’ah yang wajib, Al-‘Izz bin Abdis Salam mencontohkan seperti ; Mempelajari Ilmu Nahu yang dengan ilmu tersebut dapat memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi. (Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam, jld. 2, hal. 133).

Mempelajari Ilmu Nahu tentu saja bukan bid’ah menurut syari’at, karena bid’ah menurut syariat semuanya tercela.

Sebagaimana yang di katakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani di atas :

فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة

“Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela.” (Fathul Bari, 13: 253).

Apakah mungkin mempelajari Ilmu Nahu yang dengan ilmu tersebut kita jadi bisa memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi adalah tercela ?

Mempelajari Ilmu Nahu tentu saja bukan perkara yang tercela, bahkan suatu yang wajib bagi yang memiliki kemampuan, sebagaimana yang Al-‘Izz bin Abdis Salam sebutkan.

Maka yang di maksudkan mempelajari Ilmu Nahu sebagai bid’ah yang wajib oleh Al-‘Izz bin Abdis Salam adalah bid’ah menurut bahasa, bukan bid’ah menurut syari’at.

Perhatikan penjelasan dari Imam As-Syatibi rahimahullah sebagai berikut: “Barangsiapa yang mengatakannya bid’ah (mempelajari Ilmu Nahu), maka yang di maksud adalah bid’ah menurut “BAHASA” sebagaimana perkata’an Umar bin Khatab “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” ketika melihat orang-orang berkumpul (berjama’ah) untuk shalat ramadhan (tarawih)”. “Atas dasar kejahilan dalam membedakan antara sunnah dan bid’ah, maka pendapat yang mengatakannya bid’ah, tidak perlu di perhatikan”. (al-Syatibi, al-I’tishom, 27-28. [nukilan terpisah]).

* Imam Al-Syatibi seorang Ulama besar (wafat 790), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu).

Ada beberapa kitab nahwu sharf yang beliau tulis, ini menunjukkan Imam As-Syatibhi sebagai pakarnya Ilmu Nahu Sharaf. Dan kitab yang paling terkenal yang Imam As-Syatibhi tulis adalah, Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya. Maka sangat layak kalau perkata’an Imam As-Syatibhi di atas kita perhatikan.

Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam, yang membagi bid’ah menjadi lima, adalah seorang Ulama Ahlu Sunnah. Namun demikian, walaupun dia seorang Ulama. Tetap saja bukan manusia ma’shum yang selalu benar dan tidak akan pernah salah.

Sehingga wajar kalau pembagian bid’ah menjadi lima di kritisi, di bantah oleh Ulama besar lainnya seperti oleh Imam As-Syathibi dan Imam As-Syaukani. Bahkan Imam As-Syatibhi menyebutnya, pembagian bid’ah menjadi lima oleh Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam sebagai pembagian yang di ada-adakan.

Kita perhatikan tanggapan dari Imam As-Syatibhi dan Imam As-Syaukani terhadap pembagian bid’ah menjadi lima yang di buat oleh Imam Al-Izz bin Abdis Salam berikut ini,

(1) Tanggapan dari Imam Asy-Syathibi.

Berkata Imam Asy-Syathibi : “Sesungguhnya pembagian tersebut adalah PEMBAGIAN YANG DI ADA-ADAKAN, tidak ada satupun dalil syar’i yang mendukungnya, BAHKAN PEMBAGIAN ITU SENDIRI SALING BERTOLAK BELAKANG, sebab hakikat bid’ah adalah jika sesuatu itu tidak memiliki dalil yang syar’i, tidak berupa dalil dari nas-nas syar’i, dan juga tidak terdapat dalam kaidah-kaidahnya. SEBAB SEANDAINYA DISANA TERDAPAT DALIL SYAR’I TENTANG WAJIBNYA, ATAU SUNNAHNYA ATAU BOLEHNYA NISCAYA TIDAK MUNGKIN BID’AH ITU ADA, DAN NISCAYA AMALAN-AMALAN TERSEBUT MASUK KE DALAM AMALAN-AMALAN SECARA UMUM YANG DI PERINTAHKAN, ATAU YANG DI BERIKAN PILIHAN. Karena itu maka mengumpulkan beberapa hal tersebut sebagai suatu bid’ah, dan antara keberadaan dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, maka semua itu merupakan pengumpulan antara dua hal yang saling menafikan”. (Al-I’tisham, 1/246).

(2) Tanggapan dari Imam As-Syaukani.

Dalam penjelasan Imam Asy-Syaukani mengenai hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang artinya : “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami yang bukan dari padanya, maka hal itu tertolak”. (muttafaq alaih).

Imam Asy-Syaukani mengatakan :

ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ؛ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻳَﻨْﺪَﺭِﺝُ ﺗَﺤْﺘَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﺣْﻜَﺎﻡِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﺤَﺼْﺮُ. ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺻْﺮَﺣَﻪُ ﻭَﺃَﺩَﻟَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺇﺑْﻄَﺎﻝِ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻪُ ﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀُ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﺴِﻴﻢِ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻗْﺴَﺎﻡٍ ﻭَﺗَﺨْﺼِﻴﺺِ ﺍﻟﺮَّﺩِّ ﺑِﺒَﻌْﻀِﻬَﺎ ﺑِﻠَﺎ ﻣُﺨَﺼِّﺺٍ ﻣِﻦْ ﻋَﻘْﻞٍ ﻭَﻟَﺎ ﻧَﻘْﻞٍ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻚ ﺇﺫَﺍ ﺳَﻤِﻌْﺖ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻫَﺬِﻩِ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﺑِﺎﻟْﻘِﻴَﺎﻡِ ﻓِﻲ ﻣَﻘَﺎﻡِ ﺍﻟْﻤَﻨْﻊِ ﻣُﺴْﻨِﺪًﺍ ﻟَﻪُ ﺑِﻬَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜُﻠِّﻴَّﺔِ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺸَﺎﺑِﻬُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻧَﺤْﻮِ ﻗَﻮْﻟِﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : { ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٌ } ﻃَﺎﻟِﺒًﺎ ﻟِﺪَﻟِﻴﻞِ ﺗَﺨْﺼِﻴﺺِ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗَﻊَ ﺍﻟﻨِّﺰَﺍﻉُ ﻓِﻲ ﺷَﺄْﻧِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟِﺎﺗِّﻔَﺎﻕِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ، ﻓَﺈِﻥْ ﺟَﺎﺀَﻙ ﺑِﻪِ ﻗَﺒِﻠْﺘﻪ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻉَ ﻛُﻨْﺖ ﻗَﺪْ ﺃَﻟْﻘَﻤْﺘﻪ ﺣَﺠَﺮًﺍ ﻭَﺍﺳْﺘَﺮَﺣْﺖ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﺩَﻟَﺔِ. ‏(ﻧﻴﻞ ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ, ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻼﺓ, ﺑﺎﺏ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺛﻮﺏ ﺍﻟﺤﺮﻳﺮ ﻭﺍﻟﻤﻐﺼﻮﺏ ‏).

“Hadits ini merupakan salah satu pondasi agama, karena tak terhingga banyaknya hukum yang masuk ke dalamnya. ALANGKAH JELASNYA DALIL INI SEBAGAI PEMBATAL BAGI APA YANG DI LAKULAN SEBAGIAN FUQAHA KETIKA MEMBAGI BID’AH MENJADI MACAM-MACAM. Atau ketika mereka mengkhususkan jenis bid’ah tertentu yang tertolak, tanpa bersandar pada dalil baik secara logika maupun riwayat. KARENANYA, KETIKA MENDENGAR ADA ORANG MENGATAKAN : “INI BID’AH HASANAH”, WAJIB BAGI ANDA UNTUK MENOLAKNYA. Yaitu dengan bersandar pada keumuman hadits ini dan hadits-hadits senada seperti : “KULLU BID’ATIN DHOLALAH”. Anda harus menanyakan dalil mana yang mengkhususkan bid’ah-bid’ah lain yang masih diperdebatkan, setelah disepakati bahwa hal itu merupakan bid’ah ? Kalau ia bisa mendatangkan dalilnya, kita akan terima. Namun jika tidak mampu, maka anda telah membungkamnya seribu bahasa, dan tak perlu melanjutkan perdebatan”. (Nailul Authar, 1/66 cet. Daarul Fikr).

Ahli bid’ah bisa saja berkelit dan berkilah dengan mengatakan, Imam As-Syathibi dan Imam As-Syaukani bukan pengikut madzhab Syafi’i, jadi tidak boleh menanggapi, mengkritisi atau membantah pendapat dari Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam yang bermadzhab Syafi’i.

Jika ahli bid’ah berkilah seperti itu, maka kita minta kepada mereka, untuk menunjukkan keterangan dari Allah dan Rasul-Nya, juga perkata’an para Sahabat dan Imam madzhab yang melarang pengikut suatu madzhab menanggapi, mengkritisi atau membantah pengikut madzhab lain.

Bahkan dalam banyak riwayat, Ulama dari salah satu madzhab biasa menanggapi, mengkritisi atau membantah pendapat Ulama lainnya yang berlainan madzhab.

Kita juga mengetahui, Imam Syafi’i mengkritisi pendapat dari Asbagh bin Al-Farj bin Sa’di, seorang faqih dari kibar ulama yang bermadzhab Maliki. Juga Imam Syafi’i menanggapi dan membantah pendapat Imam Ahmad bin Hambal (madzhab Hambali) tentang kekufuran mereka yang meninggalkan shalat.

• AL-‘IZZ BIN ABDUS SALAM SEORANG ULAMA YANG SANGAT ANTI BID’AH

Ahli bid’ah sering menjadikan pembagian bid’ah menjadi lima yang disebutkan Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam sebagai dalil adanya bid’ah hasanah.

Padahal Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam adalah seorang Ulama yang sangat anti terhadap amalan-amalan bid’ah.

Apakah mungkin Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam membenarkan adanya bid’ah hasanah menurut syari’at, sementara Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam banyak sekali mengingkari bid’ah-bid’ah yang di lakukan sebagian umat Islam ?

Berikut bid’ah-bid’ah yang diingkari Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam ;

1. Berjabat tangan setelah shalat

Al-‘Izz bin Abdis Salam menjawab ketika ditanya hukumnya bersalaman setelah shalat.

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata : ”Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk bid’ah kecuali bagi orang yang baru datang dan bertemu dengan orang yang dia berjabat tangan dengannya sebelum sholat, karena berjabat tangan disyari’atkan tatkala datang”.

(Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

2. Mengangkat kedua tangan ketika berdo’a

Al-’lzz bin Abdus Salam berkata :

و لا يستحبّ رفع اليدين فى الدعاء إلا فى المواطن الّتى رفع فيها رسول الله صلّى الله عليه و سلّم يديه

“Dan tidaklah disukai (disunnahkan) mengangkat kedua tangan ketika berdo’a, kecuali pada tempat-tempat yang padanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya”. (Fataawaa Al ‘Izz Ibnu Abdissalaam, hal. 47, no. 15, Cet. Daarulbaaz).

3. Mengusap wajah setelah berdo’a

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata :

و لا يمسح وجهه بيديه عقب الدعاء إلاّ جاهل

”Dan tidaklah mengusap wajah setelah do’a kecuai orang jahil”.

(Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

4. Bersholawat ketika qunut.

Al-‘Izz bin Abdis Salam juga melarang bersholawat kepada Nabi ketika qunut.

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata : ”Dan tidak semestinya ditambah sedikitpun atau dikurangi atas apa yang dikerjakan Rasulullah tatkala qunut”.

(Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

Ketika mengornentari perkata’an Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam di atas, Syaikh Al-Albany berkata : “Di dalam perkata’an beliau ini terdapat isyarat bahwasanya kita tidak memperluas istilah bid’ah hasanah, sebagaimana yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang sa’at ini. Saya katakan : “Dari apa yang telah dibahas, maka menjadi jelaslah bahawasanya yang dimaksudkan oleh Ai-’lzz bin Abdus Salam dalam pembagian beliau terhadap bid’ah adalah bid’ah secara bahasa, bukan merupakan pengertian bid’ah menurut agama.”

5. Mentalqin mayat

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata : ”Mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid’ah”. (Lihat Kitab fataawaa Al-‘Izz bin Abdis Salam, hal: 96).

6. Al-‘Izz bin Abdis Salam juga menyatakan, Bahwa mengirim baca’an qur’an kepada mayat tidaklah sampai”. (Lihat Kitab fataawaa Al-Izz bin Abdis Salam, hal: 96).

Dan banyak lagi bid’ah-bid’ah yang diingkari oleh Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam seperti : Menancapkan pedang di atas mimbar, shalat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua sholat tersebut”.

(Tobaqoot Asy-Syafi’iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-‘Iz bin Abdissalam).

Kesimpulannya :

Pembagian bid’ah menjadi lima yang di buat Al-‘Izz bin Abdis Salam bukan sebagaimana yang mereka ahli bid’ah fahami. Dan mereka yang menyebutkan adanya bid’ah hasanah dengan membawa-bawa Al-Izz bin Abdis Salam adalah keliru, karena Al-‘Izz bin Abdis Salam adalah seorang Ulama Ahlus Sunnah, dan Al-‘Izz bin Abdis Salam sangat anti terhadap praktek-praktek bid’ah di masanya.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===============