KEBENARAN SUDAH JELAS DAN TERANG

KEBENARAN ITU SUDAH JELAS DAN TERANG

Ada kalanya kita menemukan orang, kalau sudah terpojok atau tidak mampu membela keyakinan batilnya, lalu dia berkata :

“Kita lihat saja di akhirat nanti, siapa yang benar”

Ucapan tersebut tidaklah keluar kecuali dari lisan orang jahil.

Mengetahui kebenaran tidak perlu harus menunggu kematian terlebih dahulu dan meyakininya di akhirat nanti. Sesungguhnya kebenaran (Al-Haq), sudah sangat jelas dan terang, tidak ada kesamaran padanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌٌ

“Sesungguhnya perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas”. (Muttafaqun ‘alaih).

Semua umat manusia yang berbeda faham, keyakinan dan golongannya, merasa di atas kebenaran.

Namun apakah mungkin mereka semua di atas kebenaran, sementara diantara mereka berbeda dan saling bertentangan. Padahal kebenaran itu satu tidak berbilang. Tidak akan ada yang memusuhi kebenaran selain kebatilan dan penyimpangan.

• Haqekat kebenaran (Al-Haq).
.
Allamah Ar-Raghib Al-Ishfahani menyebutkan, bahwa makna kebenaran (Al-Haq) adalah: Kesesuaian. (Mu’jam Mufradat Al-Fauzhil Qur’an hal. 124-125).

• Siapa saja pengikut kebenaran ?

Orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq) ialah, orang-orang yang berdiri di atas empat pilar berikut ini :

1. Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.

2. Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.

4. Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya

Itulah empat pilar yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq).

(1) Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.

Kebenaran (al-haq) hanyalah yang datangnya dari Allah Ta’ala, adapun yang datang dari selain-Nya, adalah kebatilan, penyimpangan dan kesesatan.

Yang datangnya dari Allah Ta’ala sebagai kebenaran (al-hak), Allah Ta’ala sebutkan dalam beberapa firman-Nya,

– Allah Ta’ala berfirman :

َلَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِين

“Sesungguhnya telah datang al-haq (kebenaran) kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah engkau termasuk sekali-kali orang yang ragu-ragu”. (Yunus: 94).

– Allah Ta’ala berrman :

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa al-haq, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu”. (An-Nisaa’: 105).

Itulah diantara beberapa firman Allah Ta’ala, yang menerangkan bahwa yang di turunkan Allah adalah kebenaran (al-haq).

Karena kebenaran (al-haq) itu hanya yang datangnya dari Allah Ta’ala, maka barang siapa yang mengimani dan mengikuti-Nya, maka orang itu di atas kebenaran (al-haq). Dan barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala, maka dia adalah orang yang menyimpang dan tersesat.

2) Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pilar ke dua, yang di jadikan pijakan oleh orang-orang yang berdiri di atas kebenaran (al-haq) adalah mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala, maka yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah kebenaran (al-haq). Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Wahai manusia sesungguhnya telah datang Rasul itu (Muhammad) kepada kamu, dengan (membawa) al-haq dari Rabbmu, maka berimanlah kamu, itu lebih baik bagimu”. (An-Nisa: 170).

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini:
“Yaitu Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang haq dan penjelasan yang memuaskan dari Allah. Maka, berimanlah dengan apa yang dia bawa dan ikutilah dia, itu lebih baik bagi kamu.”

Apa yang Rasulullah sampaikan kepada umatnya, adalah wahyu dari Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)

“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. (Ucapannya) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An-Najm: 3-4).

Ayat di atas menerangkan, bahwa yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah wahyu dari Allah Ta’ala, bukan berdasarkan, perasa’an atau akalnya. Oleh karenanya, apabila seseorang beriman kepada Allah Ta’ala, maka harus beriman pula kepada apa yang di sampaikan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena apa yang di sampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdasarkan wahyu.

(3) Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.

Pilar selanjutnya, yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (al-haq) adalah mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat dalam memahami agama.

Para Sahabat adalah generasi terbaik umat. Mereka adalah sebaik-baik manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرَ أُمَّتي قَرْنِيْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Para Sahabat adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (as- alafu ash-shalih).

Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar, merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).

Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas menyebutkan, “Bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib mengikuti jalannya, perkata’an-perkata’annya, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka”.

Itulah keutama’an para Sahabat yang di terangkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Maka bisa di jadikan barometer, siapa yang mengikuti jejak para Sahabat dalam aspek pemahaman, i’tiqad, perkata’an maupun amal, maka dia berada di atas kebenaran (al-haq) .

(4) Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Islam sudah memberikan tuntunan untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Terlalu banyak firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang memerintahkan kita untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

– Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).
– Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah”. (QS. Asy Syura: 10).

– Allah Ta’ala berfirman :

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى

”Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123).

– Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).

Ayat-ayat dan hadits di atas memberikan petunjuk kepada kita, supaya mengembalikan setiap yang di perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Itulah empat pilar, yang harus di jadikan pijakan oleh orang-orang yang mengikuti kebenaran.

Setelah kita mengetahui empat landasan utama dalam mengikuti kebenaran, maka kini kita dapat mengetahui, barang siapa yang tidak berpijak kepada empat landasan di atas, maka mereka adalah orang-orang yang menyimpang dan tersesat. Walaupun mereka mengklaim sebagai, orang atau golongan yang benar.

Kebenaran (al-haq) bisa di klaim oleh siapa pun dan oleh kelompok mana pun.

Banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan mengimani Kitab-Nya, namun faktanya, banyak orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.

Tidak sedikit orang yang menuhankan manusia, mereka selalu membenarkan apapun yang datang dari orang yang mereka anggap hebat, anggap alim, anggap shalih. Apapun yang datang dari orang yang mereka ikuti dan kagumi mereka jadikan seolah-olah wahyu yang tidak boleh di bantah dan selalu di ikuti. Maka orang-orang seperti ini hakekatnya bukan pengikut kebenaran (al-haq). Tapi orang yang menyimpang dan tersesat.

Banyak yang mengaku cinta Rasulullah, namun faktanya justru menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membuat-buat ajaran baru, mereka mengerjakan amalan-amalan yang tidak Rasulullah ajarkan. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran (al-haq).

Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita supaya mengikuti dan menapaki jejak para Sahabat dalam beragama. Namun faktanya, banyak dari umat Islam yang tidak searah dan menyimpang dari manhajnya para Sahabat. Mereka membuat toriqoh-toriqoh baru. Toriqoh-toriqoh yang ajarannya berbeda dengan yang di tempuh, di fahami dan di amalkan para Sahabat. Maka orang-orang tersebut hakekatnya bukanlah pengikut kebenaran (al-haq).

Allah Ta’ala memerintahkan supaya mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Namun yang terjadi, banyak dari umat Islam ketika berselisih, mereka mengembalikan kepada madzhabnya, gurunya, syaikhnya, ustadznya, kiyainya atau jama’ahnya. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran, tapi orang-orang yang menyimpang dan tersesat.

Jalan menuju kebenaran (al-haq), hanyalah satu, yaitu jalan yang Allah Ta’ala sudah tunjukan, jalan yang mendapatkan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jalan yang telah di tempuh oleh para Sahabat generasi terbaik umat. Jalan yang di atasnya tidak ada perselisihan dan pertikaian.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan,
Rasulullah membuat satu garis, kemudian bersabda : “Ini adalah jalan Allah. Kemudian beliau menggaris beberapa garis ke kanan dan ke kiri lalu bersabda : “Ini adalah “Subul” (jalan-jalan), dan di setiap jalan-jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya. Kemudian beliau membaca (ayat 153, surat al-An’aam): “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan lain, sehingga ia akan memisahkan kalian dari jalan-Nya”. (H.R Ahmad (II/318).

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

================

MENGUJI SEBUAH KEYAKINAN

MENGUJI SEBUAH KEYAKINAN

.

Banyak orang yang merasa yakin dengan yang di ikuti, di fahami dan usahakannya. Dengan keyakinannya bahkan seseorang bisa menyalahkan orang lain.

.

Keyakinan perlu di miliki setiap orang. Tanpa keyakinan manusia bisa tidak jelas arah dan pegangan hidupnya.

.

Keyakinan bisa menumbuhkan energi positif, terbangunnya sifat optimisme dan gairah hidup, sebaliknya kurang keyakinan atau bahkan tidak punya keyakinan, bisa hidup jadi redup.

.

Keyakinan adalah suatu sikap manusia, dimana seseorang sudah merasa cukup mengetahui dan faham, sehingga dia sampai kepada kesimpulan, bahwa yang di yakininya adalah sebuah kebenaran.

.

Keyakinan seorang manusia, umumnya di peroleh dari imformasi yang menurut logikanya bisa di percaya.

.

Keyakinan bukanlah jaminan kebenaran. Yang di yakini manusia belum tentu pasti benar.

.

Banyak manusia yang membela keyakinannya, sampai harta dan kehormatan bahkan keselamatan jiwanya dia pertaruhkan.

.

Apakah yang di yakininya memang benar-benar sebuah kebenaran yang patut di yakini ?

.

Sebuah keyakinan, tidaklah cukup mengandalkan logika dan perasa’an. Keyakinan yang benar, harus dibangun di atas beberapa pondasi atau landasan.

.

• Tiga pilar untuk membangun sebuah keyakinan.

.

1. Berdasarkan Ilmu.

2. Berdasarkan persaksian.

3. Berdasarkan pengalaman.

.

(1) Berdasarkan ilmu.

.

Maksudnya, apa yang kita yakini, kita mendapatkannya dari ilmu yang kita pelajari. Akan tetapi ilmu yang sudah kita pelajari pun tidak bisa jadi jaminan kita mencapai kebenaran yang bisa di jadikan sebuah keyakinan.

.

Karena bisa jadi ilmu yang kita pelajari, ilmu yang berasal dari sumber yang salah, atau bisa jadi kita salah memahami ilmu.

.

Maka solusinya kita jangan pernah mencukupkan diri dalam berilmu, banyak mencari ilmu dan selektif dalam memilih sumber ilmu.

.

(2) berdasarkan persaksian.

.

Maksudnya, keyakinan yang kita yakini berdasarkan kesaksian. Apakah kesaksian diri kita atau orang lain yang bisa kita percaya.

.

(3) Berdasarkan pengalaman.

.

Maksudnya apa yang kita yakini, berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain yang bisa di percaya.

.

Kita bisa meyakini sesungguhnya api itu panas, apabila memang kita pernah menyentuhnya. Sebuah keyakinan yang di bangun di atas pengalaman.

.

Banyak orang sudah merasa yakin dengan keyakinannya, padahal tiga poin tadi belum dia lewati, maka keyakinannya tersebut hanya berdasarkan kebodohan.

.

Maka tidak jarang kita mendengar, orang yang pindah keyakinan dan menyatakan keyakinan sebelumnya adalah sebuah kekeliruan.

.

.

ﺑﺮﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻜﻢ

.

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

.

https://agussantosa39.wo

rdpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

.

.

===========

HAKEKAT KEMURNIAN

HAKEKAT KEMURNIAN

Semua orang, kecuali orang yang sudah hilang akal sehatnya, pasti akan suka dengan yang murni, karena murni mengandung pengertian : Tidak bercampur dengan unsur lain, belum ternoda atau bisa juga di sebut jernih, bersih atau masih asli.

Emas murni artinya, emas yg belum dicampur dengan logam lain, emas yang memiliki kadar 24 karat. Inilah emas yang di sukai orang. Emas yang sempurna yang memiliki nilai tinggi. Kalau ada orang yang tidak suka dengan emas murni ini, tapi lebih memilih emas campuran, maka akan menjadi sesuatu yang mengherankan. Kemungkinan besar orang tersebut tidak faham arti dari sebuah kesempurna’an.

Kalau ada kain yang sudah kena noda, maka artinya kain tersebut sudah tidak bersih.

Kalau ada air yang sudah tercemar dengan kotoran, maka air tersebut sudah tidak jernih.

Semua orang yang berakal walaupun anak kecil sekalipun, tidak akan suka dengan noda dan kotoran.

Bagi orang yang masih sehat pikirannya (waras), dia pasti suka dengan yang bersih dan jernih. Ketika memakai pakaian dia akan memilih pakaian yang bersih, ketika minum dia akan minum air yang jernih.

Lalu bagaimana sekiranya ada orang yang suka memakai pakaian tidak bersih dan kalau minum sembarangan, tidak peduli tercampur racun atau air comberan ?

Orang yang senang dengan pakaian tidak bersih dan sembarangan minum, bisa di pastikan orang tersebut ada kelainan mental, terkena gangguan jiwa atau mengalami kerusakan otak. Atau mungkin juga kerasukan setan.

Orang sehat akalnya, pasti akan suka yang bersih dan jernih. Karena bersih dan jernih pertanda baik dan bagus.

Kalau urusan pakaian dan minum saja kita memilih yang bersih dan jernih, lalu bagaimana dengan urusan agama ?

Padahal agama sangat penting, menyangkut keselamatan di akhirat nanti ?

Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kalinya menerima wahyu sampai hari ini, adalah rentang waktu yang cukup panjang. Hal inilah diantara penyebab jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Umat Islam berganti generasi ke generasi berikutnya. Menjadikan Islam makin bercorak berwarna-warni. Baik amalan dan pemahamannya.

Ibarat aliran sungai yang telah melewati ribuan kilometer meninggalkan mata airnya, semakin jauh, semakin berubah baik warna, rasa maupun baunya.

Akan ternodanya kemurnian Islam, sudah Rasulullah shallallahu kabarkan dalam sabdanya :

فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ يَوْمٌ أَوْ زَمَانٌ إِلَّا وَالَّذِي بِعَدِّهِ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تُلْقُوا رَبَّكُمْ

“Tidaklah datang kepada kalian suatu hari atau suatu zaman melainkan sesudahnya lebih buruk dari sebelumnya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian”. (HR. Ibnu Hibban (XIII/282 no. 5952).

Namun demikian, walaupun meluasnya penyimpangan dan kesesatan di tengah-tengah umat. Merebaknya kepercaya’an kepada tahayul dan mitos, sulit di bendungnya bid’ah dan ke syirikan, akan tetapi akan tetap ada sekelompok orang yang berdiri di atas ilmu, walaupun jumlah mereka sangat sedikit.

Sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, Beliau berkata :

وَلَا يُمْنَعْ مِنْ ذَلِكَ وُجُودُ طَائِفَةً مِنْ أَهْلِ العِلْمِ، لِأَنَهُمُّ يَكُونُونَ حِينَئِذٍ مَغْمُورِينَ فِي أُولَئِكَ

”Namun hal itu tidaklah menghalangi untuk tetap adanya sekelompok ahli ilmu (ulama) di tengah umat, karena pada waktu itu mereka tertutup oleh dominasi masyarakat yang bodoh akan ilmu agama”. (Fathul-Baariy, [13/16]).

Sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala, disa’at kesesatan merajalela, yang menodai kemurnian Islam, akan tetap ada sekelompok orang yang berdiri diatas risalah Nabi, sekelompok orang yang menjaga aqidah dan manhajnya dari kerusakan akibat tipu daya para penyeru kesesatan yang mengemas syubhat dan kebatilan dengan kepandaian lisan mereka memainkan dalil yang membuat orang-orang bodoh tersihir dan terkecoh. Maka mereka inilah benteng Islam, yang akan menjadikan Islam tetap terjaga kemurniannya.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://­agussantosa39.wordpre­ss.com/category/­04-bidah/­02-memahami-bidah/

___________________