SUPAYA TIDAK GAGAL FAHAM DENGAN BID’AH HASANAH

BID’AH HASANAH YANG DI MAKSUD IMAM SYAFI’I
.
Diantara musibah terbesar yang menimpa sebagian umat Islam, adalah keyakinan adanya bid’ah hasanah. Sehingga semua amalan atau acara-acara baru / yang di buat-buat dalam urusan agama (bid’ah) dianggapnya sebagai kebaikan atau perkara yang terpuji. Akibatnya, semakin marak bid’ah di tengah-tengah umat, dan menjadikannya sangat sulit untuk di bendung.
.
Adakah bid’ah hasanah ?
.
Tidak di pungkiri, bahwa bid’ah hasanah itu memang ada.
.
Sebagaimana di katakan Imam As-Syafi’i berikut ini :
.
البدعة بدعتان : بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة، فهو محمود، وما خالف السنة، فهو مذموم
.
“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela”. (Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9: 113).
.
Namun demikian, bid’ah hasanah / mahmudah yang di katakan oleh Imam Syafi’i itu adalah bid’ah menurut pengertian secara bahasa.
.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah, ketika menjelaskan bid’ah hasanah yang di katakan oleh Imam Syafi’i.
.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
.
وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة يعني ما كان لها أصل من السنة ترجع إليه وإنما هي بدعة لغة لا شرعا لموافقتها السنة .
.
Adapun bid’ah mahmudah (terpuji) adalah segala yang sesuai dengan sunnah, yakni sesuatu yang ada dasarnya dari sunnah yang kembali padanya, HANYA SAJA PEMAHAMAN INI BID’AH SECARA LUGHOH (BAHASA) BUKAN SECARA SYARI’AT, karena sesuai dengan sunnah. (Jaami’ul‘Ulum wal Hikam hadits no. 28).
.
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa ”Bid’ah Mahmudah” yang dimaksud oleh Imam Syafi’i, adalah bid’ah menurut pengertian SECARA BAHASA. Bukan pengertian bid’ah menurut syari’at. Karena bid’ah menurut syari’at semuanya tercela. Tidak ada yang baik (hasanah / mahmudah).
.
Kesimpulannya, tidak ada bid’ah hasanah menurut syariat. Karena semua bid’ah menurut syari’at adalah tercela.
.
Bid’ah menurut syari’at tercela tidak ada yang baik, sebagaimana yang di katakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani sebagai berikut :
.
فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة
.
“Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela.” (Fathul Bari, 13: 253).
.
Yang di maksudkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani adalah, bahwa membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, namun tidak di lakukan juga tidak di perintahkan dan juga tidak di setujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka menurut syari’at yang di tetapkan Allah dan Rasul-Nya, perkara tersebut tercela. .
Hal ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, Beliau bersabda :
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Dalam riwayat An-Nasa’i dikatakan,
.
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّار

“Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).
.
• TIDAK ADA BID’AH HASANAH MENURUT PERKATA’AN SHALAFUS SHALIH.
.
Tidak adanya bid’ah hasanah dalam urusan ibadah, sudah di katakan oleh para Shalafus Shaleh sebagai berikut,
.
– Sahabat Nabi, Ibnu Umar berkata :
.
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
.
“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).
.
– Imam Malik, seorang Ulama besar gurunya Imam Syafi’i berkata :
.
من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة
.
“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).
.
– Imam Syafi’i berkata :
.
من استحسن فقد شرع
.
“Barang siapa yang menganggap baik (bid’ah), maka ia telah membuat syariat”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).
.
– Imam Syafi’i berkata :
.
إنما الاستحسان تلذذ
.
“Sesungguhnya istihsan (menganggap baik) itu hanyalah menuruti hawa nafsu”. (Ar-Risalah: 507).
.
Tidak adanya bid’ah hasanah dalam urusan agama juga di katakan oleh seorang Ulama besar ahli dan pakarnya tata bahasa arab yang menulis beberapa kitab nahu sharf. Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :
.
• Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.
.
• Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.
.
• Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.
.
Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :
.
• Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.
.
Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.
.
Imam Asy-Syathibi ketika memaknai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam,
.
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“. . Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”,
.
Imam Asy-Syathibi berkata : “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA DALAM HADITS TERSEBUT YANG MENUNJUKKAN ADA BID’AH HASANAH”.
.
(Disebutkan oleh Imam Asy Syatibi dalam fatawanya hal. 180-181. Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91).
.
• PARA ULAMA SHALAF MENGINGKARI BID’AH
.
Tidak adanya bid’ah hasanah dalam urusan agama (ibadah), akan nampak lebih terang apabila kita perhatikan sikap Imam Syafi’i dan para ulama lainnya yang banyak mengingkari bid’ah-bid’ah yang dilakukan umat Islam di zamannya.
.
Berikut ini salah satu bid’ah dari banyak bid’ah yang di ingkari oleh Imam Syafi’i,
.
✔ Imam Asy-Syafi’i membenci seorang khatib mendo’akan seseorang ketika berkhutbah.
.
وقال الأمام الشافعي: إذا كان الأمام يصلي لشخص معين أو لشخص (أي شخص) ثم كرهت ذلك، ولكن ليست إلزامية لآلية القيام بتكرار
.
Imam As-Syafii berkata : “Jika sang imam berdo’a untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya”. (Al-Umm: 2/416-417).
.
Perhatikan perkata’an Iman Syafi’i diatas !
.
Imam Syafi’i membenci seorang khatib yang mendo’akan seseorang ketika sedang berkhutbah.
.
Apakah mungkin Iman Syafi’i mengatakan, bid’ah dalam urusan agama itu ada yang baik, terpuji (hasanah/mahmudah), sementara Imam Syafi’i sendiri membenci seorang khatib mendo’akan seseorang ketika khutbah ?
.
Apakah yang di lakukan khatib tersebut, yaitu mendo’akan seseorang itu tidak baik, tidak terpuji ?
.
Bukankah berdo’a atau mendo’akan itu ada dasarnya dari Qur’an dan Sunnah, selaras dengan tuntunan Qur’an dan Sunnah ?
.
Lalu mengapa Imam Syafi’i membencinya ?
.
Yang menjadi permas’alahan adalah, do’a yang di panjatkan seorang khatib tersebut di lakukan sa’at khutbah. Hal inilah yang tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Berdo’a atau mendo’akan itu, adalah amalan mulia, baik dan terpuji, ada dasarnya dari Qur’an dan Sunnah selaras dengan Qur’an dan Sunnah.
Namun apabila di lakukan tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi tidak pernah melakukan dan memerintahkannya, maka perbuatan tersebut jadi buruk atau tercela.
.
Karena itulah Imam Syafi’i membenci seorang khatib mendo’akan seseorang kita sedang khutbah.
.
Berikutnya, perhatikan bid’ah yang di ingkari oleh Imam Nawawi berikut ini,
.
Imam Nawawi lahir, 631 H /1233 M di Nawa, Damaskus. Beliau seorang Ulama besar bermadzhab Syafi’i.
.
• Pengingkaran Imam Nawawi terhadap bid’ah.
.
Imam Nawawi rahimahullah sering di tuduh sebagai Ulama yang mendukung adanya bid’ah hasanah, padahal bid’ah hasanah yang dimaksud Imam Nawawi adalah bid’ah secara bahasa.
.
Apakah mungkin Imam Nawawi mengatakan bid’ah menurut syari’at ada yang baik (hasanah) ?
.
Sementara Imam Nawawi banyak mengingkari bid’ah-bid’ah yang dilakukan sebagian umat Islam sa’at itu.
.
Berikut ini salah satu bid’ah dari banyak bid’ah yang di ingkari oleh Imam Nawawi,
.
✔ Berdo’a setiap kali mencuci anggota wudhu.
.
Sebagian umat Islam ada yang membaca do’a setiap kali membasuh anggota wudhu.
.
– Ketika berkumur-kumur membaca do’a,
.
اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا
.
“Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-lamanya.”
.
– Membasuh wajah membaca do’a,
.
اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَسْوَدُّ الْوُجُوْه
.
“Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam.”
.
– Mencuci tangan membaca do’a,
.
اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِي
.
ْ“Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku.”
.
Begitu pula ketika mengusap kepala, mengusap telinga dan mencuci kaki membaca do’a.
.
Imam besar Ulama Syafi’iyah, Imam An-Nawawi menegaskan, bahwa do’a ini tidak ada asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafi’iyah.
.
ثم، مع هذا، لا شك أنه يتم تضمين الصلاة في الوضوء بدعة المضللة التي ينبغي التخلي عنها
.
”MAKA, DENGAN INI, TIDAK DIRAGUKAN BAHWA DO’A INI TERMASUK BID’AH SESAT DALAM WUDHU YANG HARUS DITINGGALKAN”. (Lihat Al-Majmu’, 1: 487-489).
.
Perhatikan perkata’an Imam Nawawi di atas !
.
Imam Nawawi mengatakan, do’a-do’a yang di ucapkan ketika membasuh anggota wudlu adalah, “BID’AH SESAT DALAM WUDLU YANG HARUS DI TINGGALKAN”.
.
Mengapa Imam Nawawi mengingkari do’a-do’a tersebut, bukankan berdo’a itu baik ?
.
Bukankah berdo’a itu ada tuntunanya dalam Qur’an dan Sunnah ?
.
Bukankah berdo’a itu sesuai dan selaras dengan Qur’an dan Sunnah ?
.
Lalu mengapa Imam Nawawi mengatakan, do’a-doa tersebut BID’AH SESAT DALAM WUDLU YANG HARUS DI TINGGALKAN ?
.
Permas’alahannya do’a-do’a ketika membasuh anggota wudlu tersebut tidak di lakukan atau di perintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, amalan tersebut sebagai perkara yang di ada-adakan dalam urusan ibadah (bid’ah).
.
Lalu bagaimana dengan keyakinan sebagian umat Islam, yang suka melakukan amalan-amalan baru yang di buat-buat dalam urusan ibadah (bid’ah) yang tidak pernah Rasulullah lakukan dan perintahkan, juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyetujuinya, apakah bisa dibenarkan ?
.
Benarkah bid’ah hasanah dalam urusan agama / ibadah itu ada ?
.
.
برك الله فيكم
.
Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_______________________

HP, KOMPUTER, FACEBOOK, INTERNET, MOBIL, PESAWAT BERARTI BID’AH ?

HP, KOMPUTER, FACEBOOK, INTERNET, MOBIL, PESAWAT BERARTI BID’AH ?

Sering kali kita mendengar ucapan atau membaca komentar seperti ini : “Dakwah di facebook berarti bid’ah dong, di jaman Nabi kan tidak ada facebook” ?

Sangatlah keliru apabila berbagai kemajuan teknologi sa’at ini, seperti : Mobil, speker, komputer, hp, internet, pesawat, motor dan lainnya dianggap sebagai BID’AH.

Di antara mereka mengatakan : “Kalau memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi”.

Ucapan seperti itu tidaklah keluar kecuali dari lisan orang-orang yang tidak faham tentang BID’AH.

Perlu di ketahui bahwa mobil, pesawat, internet, hp, tv, radio, speker itu semua adalah urusan DUNIA. Masalah urusan dunia Rosululloh menyerahkan kepada Umatnya selama tidak melanggar syariat.

Kita perhatikan riwayat berikut ini:

Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara duniawi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ

“Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad).

Dari riwayat diatas bisa kita fahami, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk memberi petunjuk kepada umatnya dalam perkara IBADAH.

Adapun urusan DUNIAWI kita boleh berkreasi, berinovasi dan melakukan apa saja selama tidak melanggar syari’at.

• BID’AH YANG DILARANG

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).

Bid’ah yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah berbuat bid’ah dalam urusan AGAMA.

Darimana kita bisa mengetahui bahwa bid’ah yang dilarang Rasulullah adalah bid’ah dalam urusan agama ?

Kita perhatikan hadist hadist berikut ini :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama/ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan/perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari no.20).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham:50).

Perhatikan Kalimat íni :

فلا تحدث في دين الله حدثا برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah), menurut pendapatmu sendiri”.

Apabila kita memperhatikan hadis-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjelasan dari lisan Rasulullah, bahwa yang di maksud jangan berbuat bid’ah itu adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH bukan urusan DUNIA.

Urusan DUNIAWI ataupun urusan IBADAH, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda.

Berikut qa’idah-qa’idahnya :

– Qa’idah urusan duniawi :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

“Asalnya urusan dunia halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

– Qa’idah urusan ibadah :

الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Kaidah-kaidah di atas perlu di pahami, sehingga tidak rancu dalam memahami bidah.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/.

===============

MEMAHAMI AL-‘AADAH DAN AL-‘IBAADAH

MEMAHAMI AL-‘AADAH DAN AL-‘IBAADAH

Aktifitas dalam hidup kita sehari-hari, terbagi menjadi dua.

1. Al-‘Aadah (العادة)
2. Al-‘Ibaadah (العبادة)

1. Al-Aadah (العادة)

Al-Aadah adalah : perkara atau aktifitas sehari-hari kita yang sifatnya terkait dengan urusan duniawi.

Contohnya : Bekerja, berdagang, berkebun, bertani, berolahraga, rekreasi, bermain dengan menggunakan media sosial seperti facebook, whatsapp dan lain-lain. Mempelajari ilmu-ilmu duniawi seperti, matematika, bahasa, kedokteran dan lainnya. Atau misalnya aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan.

Walaupun aktifitas yang kita lakukan menyangkut urusan duniawi, Kita tetap akan mendapatkan pahala dan bernilai ibadah dimata Allah, apabila yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah Ta’ala, untuk kemaslahatan diri, keluarga dan masyarakat (umat). Tapi tetap saja urusan itu di katagorikan sebagai perkara atau urusan duniawi.

Shahabat Rasulullah Ali bin Abi Tholib berkata :

حَيَّتُنَا كُلُّهَا عِبَادَةٌ

“Hidup kita seluruhnya ibadah”.

Perkara duniawi yang kita niatkan untuk mencari ridho Allah (pahala), Para Ulama menyebutnya dengan Istilah ibadah ghoir mahdoh.

2. Al-‘Ibaadah (العبادة)

Al-‘Ibadah, adalah urusan atau aktifitas yang sifatnya menyangkut urusan ibadah.

Contohnya : Shalat, shalawat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdo’a, tawasul dan lainnya.

Ibadah-ibadah seperti yang dicontohkan diatas, para Ulama menyebutnya dengan istilah ibadah mahdoh.

Urusan duniawi ataupun urusan ibadah, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda.

Berikut kaidahnya,

1. Urusan duniawi (العادة) kaidahnya :

الأَصْلُ فِي العَادَةِ حَلَالٌ حَتَّى يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَى النَهْيِ

“Asalnya urusan duniawi halal (boleh) kecuali ada dalil yang melarangnya”.

Maksudnya : Perkara duniawi hukum asalnya boleh, kecuali ada dalil yang melarangnya.

2. Urusan ibadah (العبادة) kaidahnya :

الأَصْلُ فِي العِبَادَةِ بُطْلَانٌ حَتَّي يَقُوْمُ الدَّلِيْلُ عَلَى الاَمْرِ

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”.

Maksudnya : Perkara ibadah hukum asalnya terlarang / tidak boleh diamalkan (dilakukan), kecuali ada dalil yang memerintahkannya.

Kaidah-kaidah di atas perlu diketahui dan dipahami, sehingga tidak rancu memahami urusan duniawi dan urusan ibadah dan hukum asalnya.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

========

APAKAH SYARI’AT ISLAM BELUM CUKUP ?

APAKAH SYARI’AT ISLAM BELUM CUKUP ?
.
Banyak sekali syari’at Islam yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, dari mulai urusan yang kecil sampai urusan yang besar semuanya sudah disampaikan dan dijelaskan.
.
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (Hr. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir, 1647).
.
Imam Baihaqi dalam kitab sunannya meriwayatkan dari Muththalib bin Hanthab, “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak aku tinggalkan sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinggalkan kepada kamu sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah larang/cegah kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu dari mengerjakannya”.
.
Perhatikan baik-baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, tidak ada satu pun perintah dan larangan Allah Ta’ala kecuali semuanya telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya.
.
Seorang Sahabat Nabi yang mulia, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,
.
لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَتَقَلَّبُ فِي السَّمَاءِ طَائِرٌ إِلَّا ذَكَّرَنَا مِنْهُ عِلْمًا
.
”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dan tidak ada burung yang terbang kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan tentang ilmunya”. (Musnad Ahmad, 20467).
.
Maksud perkataan Abu Dzar radlyallahu ’anhu ialah, bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam, baik dalam bab keimanan, ibadah, muamalat, adab dan akhlak, kabar-kabar, perintah-perintah dan larangan dan segalanya. Hal yang paling kecilpun telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam kepada umatnya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya di atas menerangkan, sesungguhnya syari’at Islam sudah mencukupi. Oleh karena itu tidak dibenarkan apabila ada umatnya yang ingin mendapatkan jalan menuju surga-Nya Allah Ta’ala membuat-buat lagi cara-cara baru dalam agama. Oleh karena itu barang siapa mencari jalan untuk menuju surga dengan menempuh cara-cara yang tidak diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia menempuh jalan yang menyimpang dan sesat.
.
Banyak amalan-amalan dalam Islam yang dapat kita lakukan guna meraih ridho Allah Ta’ala dan pahala sebanyak-banyaknya.
.
Ada puasa-puasa sunnat, seperti : Puasa sunnat 6 hari dibulan syawwal, puasa sunnat senin dan kamis, puasa Daud, puasa sunnat tiga hari dalam sebulan, puasa sunnat arafah, puasa sunnat di bulan muharram dan puasa sunnat di bulan sya’ban.
.
Ada shalat-shalat sunnat, seperti : Shalat sunnat rowatib, shalat sunat dhuha, shalat sunnat tahajud, shalat sunnat witir, shalat sunnat tahiyatul masjid.
.
Dan masih banyak lagi amalan-amalan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan ridha Allah dan pahala yang melimpah.
.
Dari ibadah-ibadah sunnat yang di sebutkan di atas, apakah ada diantaranya yang sudah secara rutin kita amalkan ?
.
Perkara berdo’a saja untuk kebaikan diri dan orang yang kita cintai, belum tentu kita bisa mengamalkan semuanya. Padahal berdo’a adalah amalan mulia dan terpuji, merupakan ibadah yang utama.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
.
“Do’a adalah ibadah”. (Hr. Abu Daud, no. 1479).
.
Banyak sekali do’a-doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya, diantaranya :
.
Berdo’a ketika bangun tidur, keluar dari rumah, masuk ke dalam rumah, ketika hendak bepergian, hendak naik kendara’an, pulang dari bepergian, ketika terbangun dari tidur malam, apabila ada yang menakutkan sa’at tidur, supaya terhindar dari ke syirikan, masuk wc, keluar dari wc, apabila ada ada angin ribut, apabila turun hujan, mendengar petir, minta supaya hujan berhenti, mengalami keraguan iman, bila dipuji orang, melihat orang yang mendapatkan coba’an, mengagumi sesuatu, ketika marah, ketika bersin, masuk mesjid, keluar mesjid, menengok orang sakit, sa’at mengenakan pakaian, menanggalkan pakaian, ketika masuk suatu kampung, masuk pasar, mengenakan pakaian baru, mengusir setan, apabila ada yang menyenangkan atau menyusahkan, ketika ada firasat buruk, melihat bulan sabit, mendengar adzan, ingin sembuh dari sakit, sa’at gelisah, do’a perlindungan buat anak, mendo’akan pengantin, mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, sa’at dilanda ketakutan, sebelum makan, setelah makan, dan banyak lagi do’a-do’a yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya.
.
Dari semua do’a-doa di atas, berapa banyak yang sudah kita amalkan secara rutin ?
.
Masuk kamar mandi (wc) saja, apakah kita sudah biasa membaca do’anya ?
.
Kalau yang diajarkan oleh Rasulullah saja belum bisa kita amalkan secara rutin, lalu mengapa juga kita mengamalkan amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan ?
.
Apakah kita merasa ajaran Islam itu masih kurang ?
.
Sehingga harus mengamalkan lagi amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan ?
.
Itu baru perkara do’a. Dan masih banyak lagi ibadah-ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah untuk mendapatkan ridha Allah dan meraih pahala yang melimpah, misalnya : Shalat qobliah subuh,
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua raka’at sebelum shubuh, lebih utama dari dunia dan isinya”. (Hr. Muslim, no. 725).
.
Dua raka’at sebelum subuh, lebih utama dari dunia dan isinya. Apakah kita sudah mengamalkannya secara rutin ?
.
Kalau yang diajarkan oleh Rasulullah saja belum bisa kita amalkan secara rutin, lalu mengapa juga kita mengamalkan amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan ?
.
Apakah ajaran Islam tidak cukup, sehingga harus membuat-buat ajaran baru (bid’ah) ?
.
Mengapa kalau mengerjakan amalan-amalan bid’ah banyak yang bersemangat, sementara mengerjakan amalan-amalan yang diajarkan oleh Rasulullah banyak yang lalai, tidak diperhatikan bahkan banyak yang ditinggalkan.
.
Apakah semua yang diajarkan Nabi sudah mampu kita amalkan ?
.
Dan merasa masih kurang ?
.
Lalu mengapa, mengerjakan amalan-amalan yang tidak Nabi ajarkan ?
.
Apakah amalan bid’ah itu lebih utama dari pada amalan sunnah ?
.
MENGERJAKAN AMALAN YANG DIAJARKAN NABI (SUNNAH) SAJA KEDODORAN, KENAPA PULA HARUS MENGAMALKAN AJARAN YANG TIDAK DIAJARKAN NABI (BID’AH) ?
.
با رك الله فيكم
.

.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
_________________

KEWAJIBAN SALING MENASEHATI

KEWAJIBAN SALING MENASEHATI

Memberi nasehat kepada sesama, terlebih lagi terhadap saudaranya sesama muslim adalah bentuk kecinta’an dan kepedulian, disamping karena memang diperintahkan dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr : l-3].

Sebagian orang memang ada yang sulit untuk menerima nasehat, bahkan sesak dadanya.

Semakin sulit untuk menerima nasehat apabila orang yang menasehatinya dipandang tidak lebih baik dari dirinya atau lebih rendah, apakah lebih rendah setatus sosialnya, ilmunya, atau orang yang dinasehati beranggapan bahwa dirinya diatas kebenaran. Atau yang dinasehati memandang orang yang menasehatinya tidak lebih pintar dari guru-gurunya.

Memberi nasehat harus ikhlas semata-mata karena Allah ta’ala juga harus bijaksana dan sabar, karena terkadang orang yang diberi nasehat malah menunjukkan rasa tidak suka, sinis bahkan mencibir seakan-akan dirinya sedang disalahkan.

Padahal semestinya nasehat diterima dengan kerendahan hati dan lapang dada, apabila sebuah nasehat di sampaikannya dengan baik, karena setiap nasehat pasti ada hikmahnya.

• Nasehat adalah pokok dalam ajaran Islam

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikan nasehat sebagai pokok ajaran agama.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama itu adalah nasihat”. Kami berkata : “Kepada siapa wahai Rasulullah ?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan para imam kaum Muslimin serta segenap kaum Muslimin”. (HR. Muslim (no. 55).

“AKU MENASEHATIMU BUKAN BERARTI AKU YANG TERBAIK”

Al-Imam Hasan Basri Rahimahullaah berkata : “Wahai manusia sesungguhnya aku tengah menasehati kalian dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shaleh di antara kalian. Sungguh aku pun telah banyak melampaui batas terhadap diriku aku tak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membencinya sesuai dengan kewajiban dalam menta’ati Rabbnya. Andai kata orang muslim tidak memberi Nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang sempurna niscaya tidak akan ada pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang yang berdakwah di jalan Allah ‘azza wa jalla tidak akan ada yang mengajak untuk ta’at kepada-Nya, tidak akan ada pula yang melarang dari perbuatan maksiat kepada-Nya, . .”

• Manusia tidak luput dari salah dan dosa.

Sesungguhnya manusia tidak akan luput dari salah dan dosa, tidak terkecuali orang alim atau para Ulama, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun sering mendapatkan teguran dari Allah ta’ala karena melakukan kesalahan.

Teguran Allah ta’ala kepada Rasulullah salah satunya bisa kita lihat di Surah Ali-Imran ayat 128.

Allah ta’ala menegur Rasulullah :

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

”Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (Ali-Imran ayat 128).

Imam Bukhari meriwayatkan daripada Humaid bin Tsabit daripada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka di kepalanya semasa Perang Uhud, maka beliau bersabda : ‘Bagaimana akan beruntung kepada kaum yang melukai nabi mereka ?’ Maka turunlah ayat “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka”.

Teguran Allah ta’ala kepada Rasulullah lainnya bisa kita lihat di surah Abasa ayat 1-10, surah al-Tahrim ayat 1, surah at-Taubah ayat 84, surah at-Taubah ayat 43, surah ali-Imran ayat 128, dan surah al-Anfal ayat 67.

Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bisa melakukan kesalahan lalu bagaimana dengan manusia biasa seperti para Ulama atau bahkan kita ? ?

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===============

KEBENARAN SUDAH JELAS DAN TERANG

KEBENARAN ITU SUDAH JELAS DAN TERANG

Ada kalanya kita menemukan orang, kalau sudah terpojok atau tidak mampu membela keyakinan batilnya, lalu dia berkata :

“Kita lihat saja di akhirat nanti, siapa yang benar”

Ucapan tersebut tidaklah keluar kecuali dari lisan orang jahil.

Mengetahui kebenaran tidak perlu harus menunggu kematian terlebih dahulu dan meyakininya di akhirat nanti. Sesungguhnya kebenaran (Al-Haq), sudah sangat jelas dan terang, tidak ada kesamaran padanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌٌ

“Sesungguhnya perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas”. (Muttafaqun ‘alaih).

Semua umat manusia yang berbeda faham, keyakinan dan golongannya, merasa di atas kebenaran.

Namun apakah mungkin mereka semua di atas kebenaran, sementara diantara mereka berbeda dan saling bertentangan. Padahal kebenaran itu satu tidak berbilang. Tidak akan ada yang memusuhi kebenaran selain kebatilan dan penyimpangan.

• Haqekat kebenaran (Al-Haq).
.
Allamah Ar-Raghib Al-Ishfahani menyebutkan, bahwa makna kebenaran (Al-Haq) adalah: Kesesuaian. (Mu’jam Mufradat Al-Fauzhil Qur’an hal. 124-125).

• Siapa saja pengikut kebenaran ?

Orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq) ialah, orang-orang yang berdiri di atas empat pilar berikut ini :

1. Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.

2. Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.

4. Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya

Itulah empat pilar yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq).

(1) Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.

Kebenaran (al-haq) hanyalah yang datangnya dari Allah Ta’ala, adapun yang datang dari selain-Nya, adalah kebatilan, penyimpangan dan kesesatan.

Yang datangnya dari Allah Ta’ala sebagai kebenaran (al-hak), Allah Ta’ala sebutkan dalam beberapa firman-Nya,

– Allah Ta’ala berfirman :

َلَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِين

“Sesungguhnya telah datang al-haq (kebenaran) kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah engkau termasuk sekali-kali orang yang ragu-ragu”. (Yunus: 94).

– Allah Ta’ala berrman :

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa al-haq, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu”. (An-Nisaa’: 105).

Itulah diantara beberapa firman Allah Ta’ala, yang menerangkan bahwa yang di turunkan Allah adalah kebenaran (al-haq).

Karena kebenaran (al-haq) itu hanya yang datangnya dari Allah Ta’ala, maka barang siapa yang mengimani dan mengikuti-Nya, maka orang itu di atas kebenaran (al-haq). Dan barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala, maka dia adalah orang yang menyimpang dan tersesat.

2) Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pilar ke dua, yang di jadikan pijakan oleh orang-orang yang berdiri di atas kebenaran (al-haq) adalah mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala, maka yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah kebenaran (al-haq). Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Wahai manusia sesungguhnya telah datang Rasul itu (Muhammad) kepada kamu, dengan (membawa) al-haq dari Rabbmu, maka berimanlah kamu, itu lebih baik bagimu”. (An-Nisa: 170).

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini:
“Yaitu Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang haq dan penjelasan yang memuaskan dari Allah. Maka, berimanlah dengan apa yang dia bawa dan ikutilah dia, itu lebih baik bagi kamu.”

Apa yang Rasulullah sampaikan kepada umatnya, adalah wahyu dari Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)

“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. (Ucapannya) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An-Najm: 3-4).

Ayat di atas menerangkan, bahwa yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah wahyu dari Allah Ta’ala, bukan berdasarkan, perasa’an atau akalnya. Oleh karenanya, apabila seseorang beriman kepada Allah Ta’ala, maka harus beriman pula kepada apa yang di sampaikan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena apa yang di sampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdasarkan wahyu.

(3) Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.

Pilar selanjutnya, yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (al-haq) adalah mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat dalam memahami agama.

Para Sahabat adalah generasi terbaik umat. Mereka adalah sebaik-baik manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرَ أُمَّتي قَرْنِيْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Para Sahabat adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (as- alafu ash-shalih).

Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar, merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).

Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas menyebutkan, “Bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib mengikuti jalannya, perkata’an-perkata’annya, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka”.

Itulah keutama’an para Sahabat yang di terangkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Maka bisa di jadikan barometer, siapa yang mengikuti jejak para Sahabat dalam aspek pemahaman, i’tiqad, perkata’an maupun amal, maka dia berada di atas kebenaran (al-haq) .

(4) Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Islam sudah memberikan tuntunan untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Terlalu banyak firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang memerintahkan kita untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

– Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).
– Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah”. (QS. Asy Syura: 10).

– Allah Ta’ala berfirman :

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى

”Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123).

– Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).

Ayat-ayat dan hadits di atas memberikan petunjuk kepada kita, supaya mengembalikan setiap yang di perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Itulah empat pilar, yang harus di jadikan pijakan oleh orang-orang yang mengikuti kebenaran.

Setelah kita mengetahui empat landasan utama dalam mengikuti kebenaran, maka kini kita dapat mengetahui, barang siapa yang tidak berpijak kepada empat landasan di atas, maka mereka adalah orang-orang yang menyimpang dan tersesat. Walaupun mereka mengklaim sebagai, orang atau golongan yang benar.

Kebenaran (al-haq) bisa di klaim oleh siapa pun dan oleh kelompok mana pun.

Banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan mengimani Kitab-Nya, namun faktanya, banyak orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.

Tidak sedikit orang yang menuhankan manusia, mereka selalu membenarkan apapun yang datang dari orang yang mereka anggap hebat, anggap alim, anggap shalih. Apapun yang datang dari orang yang mereka ikuti dan kagumi mereka jadikan seolah-olah wahyu yang tidak boleh di bantah dan selalu di ikuti. Maka orang-orang seperti ini hakekatnya bukan pengikut kebenaran (al-haq). Tapi orang yang menyimpang dan tersesat.

Banyak yang mengaku cinta Rasulullah, namun faktanya justru menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membuat-buat ajaran baru, mereka mengerjakan amalan-amalan yang tidak Rasulullah ajarkan. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran (al-haq).

Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita supaya mengikuti dan menapaki jejak para Sahabat dalam beragama. Namun faktanya, banyak dari umat Islam yang tidak searah dan menyimpang dari manhajnya para Sahabat. Mereka membuat toriqoh-toriqoh baru. Toriqoh-toriqoh yang ajarannya berbeda dengan yang di tempuh, di fahami dan di amalkan para Sahabat. Maka orang-orang tersebut hakekatnya bukanlah pengikut kebenaran (al-haq).

Allah Ta’ala memerintahkan supaya mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Namun yang terjadi, banyak dari umat Islam ketika berselisih, mereka mengembalikan kepada madzhabnya, gurunya, syaikhnya, ustadznya, kiyainya atau jama’ahnya. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran, tapi orang-orang yang menyimpang dan tersesat.

Jalan menuju kebenaran (al-haq), hanyalah satu, yaitu jalan yang Allah Ta’ala sudah tunjukan, jalan yang mendapatkan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jalan yang telah di tempuh oleh para Sahabat generasi terbaik umat. Jalan yang di atasnya tidak ada perselisihan dan pertikaian.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan,
Rasulullah membuat satu garis, kemudian bersabda : “Ini adalah jalan Allah. Kemudian beliau menggaris beberapa garis ke kanan dan ke kiri lalu bersabda : “Ini adalah “Subul” (jalan-jalan), dan di setiap jalan-jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya. Kemudian beliau membaca (ayat 153, surat al-An’aam): “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan lain, sehingga ia akan memisahkan kalian dari jalan-Nya”. (H.R Ahmad (II/318).

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

================

MENGUJI SEBUAH KEYAKINAN

MENGUJI SEBUAH KEYAKINAN

.

Banyak orang yang merasa yakin dengan yang di ikuti, di fahami dan usahakannya. Dengan keyakinannya bahkan seseorang bisa menyalahkan orang lain.

.

Keyakinan perlu di miliki setiap orang. Tanpa keyakinan manusia bisa tidak jelas arah dan pegangan hidupnya.

.

Keyakinan bisa menumbuhkan energi positif, terbangunnya sifat optimisme dan gairah hidup, sebaliknya kurang keyakinan atau bahkan tidak punya keyakinan, bisa hidup jadi redup.

.

Keyakinan adalah suatu sikap manusia, dimana seseorang sudah merasa cukup mengetahui dan faham, sehingga dia sampai kepada kesimpulan, bahwa yang di yakininya adalah sebuah kebenaran.

.

Keyakinan seorang manusia, umumnya di peroleh dari imformasi yang menurut logikanya bisa di percaya.

.

Keyakinan bukanlah jaminan kebenaran. Yang di yakini manusia belum tentu pasti benar.

.

Banyak manusia yang membela keyakinannya, sampai harta dan kehormatan bahkan keselamatan jiwanya dia pertaruhkan.

.

Apakah yang di yakininya memang benar-benar sebuah kebenaran yang patut di yakini ?

.

Sebuah keyakinan, tidaklah cukup mengandalkan logika dan perasa’an. Keyakinan yang benar, harus dibangun di atas beberapa pondasi atau landasan.

.

• Tiga pilar untuk membangun sebuah keyakinan.

.

1. Berdasarkan Ilmu.

2. Berdasarkan persaksian.

3. Berdasarkan pengalaman.

.

(1) Berdasarkan ilmu.

.

Maksudnya, apa yang kita yakini, kita mendapatkannya dari ilmu yang kita pelajari. Akan tetapi ilmu yang sudah kita pelajari pun tidak bisa jadi jaminan kita mencapai kebenaran yang bisa di jadikan sebuah keyakinan.

.

Karena bisa jadi ilmu yang kita pelajari, ilmu yang berasal dari sumber yang salah, atau bisa jadi kita salah memahami ilmu.

.

Maka solusinya kita jangan pernah mencukupkan diri dalam berilmu, banyak mencari ilmu dan selektif dalam memilih sumber ilmu.

.

(2) berdasarkan persaksian.

.

Maksudnya, keyakinan yang kita yakini berdasarkan kesaksian. Apakah kesaksian diri kita atau orang lain yang bisa kita percaya.

.

(3) Berdasarkan pengalaman.

.

Maksudnya apa yang kita yakini, berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain yang bisa di percaya.

.

Kita bisa meyakini sesungguhnya api itu panas, apabila memang kita pernah menyentuhnya. Sebuah keyakinan yang di bangun di atas pengalaman.

.

Banyak orang sudah merasa yakin dengan keyakinannya, padahal tiga poin tadi belum dia lewati, maka keyakinannya tersebut hanya berdasarkan kebodohan.

.

Maka tidak jarang kita mendengar, orang yang pindah keyakinan dan menyatakan keyakinan sebelumnya adalah sebuah kekeliruan.

.

.

ﺑﺮﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻜﻢ

.

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

.

https://agussantosa39.wo

rdpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

.

.

===========

HAKEKAT KEMURNIAN

HAKEKAT KEMURNIAN

Semua orang, kecuali orang yang sudah hilang akal sehatnya, pasti akan suka dengan yang murni, karena murni mengandung pengertian : Tidak bercampur dengan unsur lain, belum ternoda atau bisa juga di sebut jernih, bersih atau masih asli.

Emas murni artinya, emas yg belum dicampur dengan logam lain, emas yang memiliki kadar 24 karat. Inilah emas yang di sukai orang. Emas yang sempurna yang memiliki nilai tinggi. Kalau ada orang yang tidak suka dengan emas murni ini, tapi lebih memilih emas campuran, maka akan menjadi sesuatu yang mengherankan. Kemungkinan besar orang tersebut tidak faham arti dari sebuah kesempurna’an.

Kalau ada kain yang sudah kena noda, maka artinya kain tersebut sudah tidak bersih.

Kalau ada air yang sudah tercemar dengan kotoran, maka air tersebut sudah tidak jernih.

Semua orang yang berakal walaupun anak kecil sekalipun, tidak akan suka dengan noda dan kotoran.

Bagi orang yang masih sehat pikirannya (waras), dia pasti suka dengan yang bersih dan jernih. Ketika memakai pakaian dia akan memilih pakaian yang bersih, ketika minum dia akan minum air yang jernih.

Lalu bagaimana sekiranya ada orang yang suka memakai pakaian tidak bersih dan kalau minum sembarangan, tidak peduli tercampur racun atau air comberan ?

Orang yang senang dengan pakaian tidak bersih dan sembarangan minum, bisa di pastikan orang tersebut ada kelainan mental, terkena gangguan jiwa atau mengalami kerusakan otak. Atau mungkin juga kerasukan setan.

Orang sehat akalnya, pasti akan suka yang bersih dan jernih. Karena bersih dan jernih pertanda baik dan bagus.

Kalau urusan pakaian dan minum saja kita memilih yang bersih dan jernih, lalu bagaimana dengan urusan agama ?

Padahal agama sangat penting, menyangkut keselamatan di akhirat nanti ?

Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kalinya menerima wahyu sampai hari ini, adalah rentang waktu yang cukup panjang. Hal inilah diantara penyebab jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Umat Islam berganti generasi ke generasi berikutnya. Menjadikan Islam makin bercorak berwarna-warni. Baik amalan dan pemahamannya.

Ibarat aliran sungai yang telah melewati ribuan kilometer meninggalkan mata airnya, semakin jauh, semakin berubah baik warna, rasa maupun baunya.

Akan ternodanya kemurnian Islam, sudah Rasulullah shallallahu kabarkan dalam sabdanya :

فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ يَوْمٌ أَوْ زَمَانٌ إِلَّا وَالَّذِي بِعَدِّهِ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تُلْقُوا رَبَّكُمْ

“Tidaklah datang kepada kalian suatu hari atau suatu zaman melainkan sesudahnya lebih buruk dari sebelumnya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian”. (HR. Ibnu Hibban (XIII/282 no. 5952).

Namun demikian, walaupun meluasnya penyimpangan dan kesesatan di tengah-tengah umat. Merebaknya kepercaya’an kepada tahayul dan mitos, sulit di bendungnya bid’ah dan ke syirikan, akan tetapi akan tetap ada sekelompok orang yang berdiri di atas ilmu, walaupun jumlah mereka sangat sedikit.

Sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, Beliau berkata :

وَلَا يُمْنَعْ مِنْ ذَلِكَ وُجُودُ طَائِفَةً مِنْ أَهْلِ العِلْمِ، لِأَنَهُمُّ يَكُونُونَ حِينَئِذٍ مَغْمُورِينَ فِي أُولَئِكَ

”Namun hal itu tidaklah menghalangi untuk tetap adanya sekelompok ahli ilmu (ulama) di tengah umat, karena pada waktu itu mereka tertutup oleh dominasi masyarakat yang bodoh akan ilmu agama”. (Fathul-Baariy, [13/16]).

Sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala, disa’at kesesatan merajalela, yang menodai kemurnian Islam, akan tetap ada sekelompok orang yang berdiri diatas risalah Nabi, sekelompok orang yang menjaga aqidah dan manhajnya dari kerusakan akibat tipu daya para penyeru kesesatan yang mengemas syubhat dan kebatilan dengan kepandaian lisan mereka memainkan dalil yang membuat orang-orang bodoh tersihir dan terkecoh. Maka mereka inilah benteng Islam, yang akan menjadikan Islam tetap terjaga kemurniannya.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://­agussantosa39.wordpre­ss.com/category/­04-bidah/­02-memahami-bidah/

___________________