MEMAKNAI KATA KULLU DENGAN BENAR

MEMAKNAI KATA KULLU DENGAN BENAR

Kata KULLU (كُلُّ) bisa bermakna SEBAGIAN juga bisa bermakna SETIAP / SEMUA.

Untuk bisa mengetahui kata KULLU (كُلُّ) apakah bermakna SEBAGIAN atau SEMUA, maka kita harus memperhatikan berbagai qarinah (petunjuk) yang ada, baik dari konteks kalimat itu sendiri, maupun dari dalil-dalil lain yang shahih, atau dengan realita yang ada, sehingga kita tidak salah memaknainya.

Adapun kata KULLU (كُلُّ) pada hadìst

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Maka kata KULLU pada hadìst terebut bermakna SETIAP atau SEMUA.

Jadi arti yang benar dari hadits tersebut adalah :

”SETIAP atau SEMUA bid’ah adalah sesat”

Memaknai kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas dengan arti SETIAP atau SEMUA, bukan berdasarkan hawa nafsu. Tapi berdasarkan beberapa qarinah yang menunjukkan kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas memang menunjukkan arti SETIAP atau SEMUA.

Berikut beberapa qarinah yang menunjukkan kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas yang menunjukkan makna SETIAP atau SEMUA.

• Qarinah dari perkata’an para Salafus Shaalih

– Ibnu Umar berkata :

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

”Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).

– Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

”Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik (hasanah), berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

Dari perkata’an lbmu Umar dan Imam Malik diatas, kita mendapatkan keterangan bahwa semua bid’ah sesat. Tidak ada pengecualian. Jadi kata kullu (كُلُّ) dalam hadits كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ mengandung arti SETIAP atau SEMUA.

• Qarinah dari sikap para Sahabat

Kata kullu dalam hadits كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ bermakna SETIAP atau SEMUA juga bisa kita perhatikan dari sikap para Sahabat yang mengingkari praktek-praktek bid’ah yang di lakukan sebagian orang sa’at itu.

Perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

(1) Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

(2) Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

(3) Terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad !, Begitu cepat kebinasa’an kalian !, Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad ? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah) ?”

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan”. Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid).

Riwayat-riwayat diatas menunjukkan bahwa para Sahabat mengingkari praktek-praktek baru dalam urusan ibadah yang tidak ada tuntunannya (bid’ah).

Kalaulah bid’ah dalam urusan ibadah itu ada yang baik, tentu para Sahabat yang disebutkan dalam riwayat-riwayat diatas tidak akan menegur orang yang melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah tersebut. Karena bid’ah dalam urusan ibadah tidak ada yang baik.

Maka jelas kata kullu (كُلُّ) pada hadìst كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ terebut bermakna SETIAP atau SEMUA.

Menurut kaidah atau ketetapan ilmu usul jika sesuatu kalimah diulang berkali-kali di beberapa tempat sebagaimana diulang-ulangnya kalimah kullu (كُلُّ) dalam menetapkan bahawa “setiap (كل) bid’ah itu sesat”, maka apabila ia terdapat dalam dalil-dalil (al-Quran, al-Hadist dan atsar yang sahih) maka ia menjadi dalil syarii kulli (دليل شرعي كلي) yaitu : “Pasti setiap (كل) bid’ah itu sesat.”

• Menurut Imam Asy-Syatibhi seorang Ulama Shalaf dan pakar gramatika bahasa Arab (nahu-sharf).

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.
Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

– Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

– Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

– Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

– Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.
Tentang lafadz ”KULLU” pada hadits ”Kullu bid’ati dholaalah” Imam Asy Syatibhi rahimahullaah berkata :

“PARA ULAMA MEMAKNAI HADITS DI ATAS SESUAI DENGAN KEUMUMANNYA, TIDAK BOLEH DIBUAT PENGECUALIAN SAMA SEKALI. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA DALAM HADITS TERSEBUT YANG MENUNJUKKAN ADA BID’AH YANG BAIK (HASANAH)”.

(Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah).

Para pembela bid’ah hasanah yang memaknai lafadz ”Kullu” dengan membuat pengecualian ”ada bid’ah yang baik (hasanah)”, apakah lebih pintar dan lebih faham ilmu tata bahasa Arab nahwu sharf dibanding Imam Asy Syatibhi ?
Yang kredibilitasnya sebagai Ulama dikenal luas oleh umat Islam dan juga sebagai pakar / ahlinya tata bahasa Arab, nahwu sharf. Perkata’an Imam Asy Syatibhi tentu patut diperhatikan.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===================

BID’AH HASANAH MENURUT IMAM ASY-SYATIBHI

BID’AH HASANAH MENURUT IMAM ASY-SYATIBHI

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

• Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

• Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

• Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

• Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

Tentang lafadz ”KULLU” pada hadits:

كل بدعة ظلالة

”Semua bid’ah sesat”

Imam Asy Syatibhi rahimahullaah berkata :

مَحْمُوْلٌ عِنْدَ الْعَلَمَاء عَلَى عَمُوْمِهِ ، لاَيُسْتِثْنَى مِنْهُ شَيْءٌ اَلْبَتَّة وَلَيْسَ فِيْهَا مَا هُوَا حَسَنٌ اَصْلا
ً
“MENURUT PARA ULAMA, HADITS INI DITERAPKAN PADA KE UMUMANNYA TANPA ADA PENGECUALIAN APAPUN DARINYA. PADA BID’AH (di hadist ini) SAMA SEKALI TIDAK ADA YANG DISEBUT (BID’AH) YANG BAIK (HASANAH)”.

(Al-Fatawaa Hal, 180-18 Syatibhi Lihat: علم اصول البدع hlm. 91 Ali Hasan).

Para pembela bid’ah hasanah yang memaknai lafadz ”Kullu” dengan membuat pengecualian ”ada bid’ah yang baik (hasanah)”, apakah lebih pintar dan lebih faham ilmu tata bahasa Arab nahwu sharf dibanding Imam Asy Syatibhi ?

Yang kredibilitasnya sebagai Ulama dikenal luas oleh umat Islam dan juga sebagai pakar / ahlinya tata bahasa Arab, nahwu sharf. Perkata’an Imam Asy Syatibhi tentu patut diperhatikan.

والله اعلم بالصواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

========================

MEWASPADAI SYUBHAT

MEWASPADAI SYUBHAT

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6).

Dalam ayat diatas dinyatakan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka selayaknya manusia selalu waspada terhadap segala tipu dayanya. Dengan segala cara dan upayanya, setan menyeru dan merayu manusia sehingga terjerumus ke dalam jurang kehancuran.

Dan diantara cara yang paling ampuh untuk menjerumuskan manusia adalah dengan menanamkan syubhat di hati manusia. Sehingga betapa banyak manusia yang mati dengan membawa serta kekafiran, kemunafikan, kesyirikan, kebid’ahan dan kesesatan lainnya. Yang ketika hidup mereka merasa kebatilan yang mereka yakini sebagai Al-Haq.

Fitnah syubhat telah dikhawatirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

”Sesungguhnya diantara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan”. [HR. Ahmad].

Yang dimaksud dengan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.

Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Syubhat yang tertanam di hati manusia akan membuat seseorang samar memandang kebenaran. Sehingga jadilah kebenaran dipandang sebagai kebatilan. Dan sebaliknya kebatilan akan di pandang sebagai kebenaran. Itulah tujuan syetan menanamkan syubhat di hati manusia.

Para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kebanyakan bukanlah orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Namun mereka selamat akidahnya, mereka tidak terkena syubhat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka. Namun sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada jaminan umatnya bisa terbebas dari fitnah syubhat.

• Kebodohan penyebab syubhat tertanam di hati manusia.

Yang menjadikan syubhat tertanam di hati manusia adalah karena kebodohan. Bodoh terhadap ilmu agama menimbulkan banyak keburukan, diantaranya : Sifat taqlid, ta’ashub dan sombong.

Sifat Taqlid dan ta’ashub menumbuhkan pengkultusan individu dan fanatisme golongan secara berlebihan. Pengkultusan individu menjadikan seseorang selalu mengikuti apapun yang dikatakan oleh orang yang di kultuskannya. Seolah-olah malaikat yang pasti selalu benar. Dan fanatisme golongan menjadikan manusia buta terhadap kebenaran. Sehingga apapun yang datang dari golongannya di telannya mentah-mentah.

Seorang yang sudah terkena sifat taqlid dan ta’ashub tidak mengenal tabayyun dan tarjih. Tabayyun artinya mencari kejelasan dan tarjih artinya mencari dalil yang lebih kuat. Bagi seorang yang sudah terkena penyakit taqlid dan ta’ashub, apapun yang datang dari orang yang di pujanya atau dari golongannya akan selalu dibenarkan dan di ikutinya. Adapun yang datang dari pihak lain akan selalu diingkari dan di tolaknya. Sifat taqlid dan ta’ashub inilah yang menjadikan syubhat merasuki hati seseorang.

Keburukan lainnya akibat kebodohan adalah kesombongan. Sombong adalah merasa dirinya atau golongannya paling benar, maka sifat ini menjadikan dirinya menutup diri dari pihak luar. Keterangan dan seruan yang datang dari pihak lain akan di tolaknya mentah-mentah. Keterangan dari kelompok lain dianggapnya sebagai omong kosong yang tidak perlu di hiraukan. Maka akibat kesombongan seseorang terkena syubhat.

• Membentengi dengan ilmu.

Karena begitu merusaknya syubhat kepada keyakinan manusia. Menjadikan manusia samar melihat kebenaran. Maka dibutuhkan cara untuk membentenginya.

Adapun cara untuk terhindar dari fitnah syubhat, yaitu dengan membentengi diri dengan ilmu yang benar. Ilmu yang disampaikan oleh para Ulama yang membimbing umat kepada manhaj yang lurus. Para Ulama yang menyeru umat untuk berpegang taguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka manusia bisa selamat terhindar dari kesesatan.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).

Para Ulama yang menyeru umat untuk meneladani para Sahabat yang telah mendapatkan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian”. (HR. Abu Daud 4607).

Mendatangi majlis ilmu, dekat dengan para Ulama, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan meneladani para Sahabat dalam beragama, maka insya Allah kita bisa selamat dari fitnah syubhat dan terhindar dari kesesatan.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=======================

PERSATUAN YANG SESUNGGUHNYA

PERSATUAN YANG SESUNGGUHNYA

HARI GINI MASIH BAHAS BID’AH, KUNO, ORANG KAFIR SUDAH KEBULAN, ZIONIS DAN SALIBIS MENGANCAM !

Kadangkala mendapatkan celotehan, kenapa masih saling menyalahkan amalan sesama muslim. Kita harus merapatkan barisan bukan saling hantam. Kita lupakan perbeda’an dan kita cari sisi persama’an.

Musuh kita semakin kuat ! !

Zionis, salibis dan antek-anteknya semakin mengancam menunjukkan kekuatannya didepan mata kita. Kenapa umat Islam masih terus ribut saling membid’ahkan saling menyesatkan ! !

Begitu kira-kira celotehan sebagian orang, entah orang awam atau orang yang terusik keyakinannya.

• PERSATUAN ADALAH IDAMAN

Persatuan adalah damba’an umat Islam sepanjang masa. Tapi persatuan yang hakiki, bukan persatuan semu. Persatuan yang dibangun diatas bimbingan dan petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Bukan persatuan syubhat perangkap dan jerat syetan.

Persatuan yang benar menurut Islam. Persatuan yang jelas arahnya. Bukan persatuan menuju jurang kebinasa’an.

Kita bukanlah penyeru persatuan. Tapi tidak faham penyebab runtuhnya bangunan Islam. Kita bukan penyeru persatuan tapi tidak faham dengan konsep apa kita bisa bersatu dan kuat.

Bagaimana Umat Islam bisa bersatu kalau kita membiarkan tumbuh suburnya firqah-firqah yang saling membanggakan firqahnya masing-masing.

Bagaimana Umat Islam bisa bersatu, kalau kita membiarkan bid’ah merajalela.

Bukankah bid’ah itu pemecah belah persatuan !

Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Bagaimana Umat Islam bisa bersatu, kalau kita membiarkan umat menyelisihi sunnah ! !

Padahal dengan ittiba’ kepada Sunnah kita bisa bersatu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Berjama’ah lah, karena dengan berjama’ah kita bisa kuat.

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan“. [Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran: 103.]

Jama’ah yang dimaksud adalah :

مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك

“Apa-apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”. (Abdullah bin Mas’ud).

Al Qurthubi berkata : ”Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasa’an dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.” [Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159].

Ikutilah para Sahabat sebagai generasi terbaik umat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Para Sahabat yang paling faham tentang Islam. Meninggalkan mereka, maka akan muncul berbagai pertikaian.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan”. (QS al-Baqarah: 137).

Raih dan genggam kuat tali Allah, jika ingin selamat dan tidak ada perpecahan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَاِعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ

“Berpeganglah kalian semua pada tali Allah . .” (Q.S. Ali Imron: 103).

Apa yang dimaksud dengan tali Allah ?

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah Al-Qur’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الأَرْضِ

“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi”. (Sunan Tirmidzi, 3788).

Fahami Al-Qur’an mengikuti pemahaman para Sahabat, karena para Sahabat yang menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika wahyu turun. Para Sahabatlah yang paling memahami makna dari Al-Qur’an. Apabila kita menghendaki beragama dengan benar hendaknya kita maknai Al-Qur’an sebagaimana yang difahami oleh para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

Itulah konsep kita bila ingin bersatu !

Persatuan yang sesungguhnya, bukan persatuan yang menipu.

Memperingatkan umat untuk meninggalkan bid’ah menyeru ittiba’ kepada sunnah, itulah sesungguhnya yang menyeru kepada persatuan.

Adapun mereka yang membiarkan bid’ah merajalela, toleran dengan kesesatan. Maka hakekatnya mereka tidak menghendaki Umat Islam bersatu.

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/06-syubuhat/17-sahabat-utsman-membuat-bidah/

===========================

KAMI CIPTAKAN DARI AIR SEPERMA, SEBAGIAN MAKHLUK HIDUP ?

.
KAMI CIPTAKAN DARI AIR SEPERMA, SEBAGIAN MAKHLUK HIDUP ?
.
Menurut para pembela bid’ah hasanah, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan,
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “KULLU” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “KULLU” bid’ah adalah kesesatan”, dan ‘KULLU” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Menurut para pembela bid’ah hasanah, Lafadz “KULLU” dalam hadits di atas bermakna “SEBAGIAN”, bukan “SEMUA”.
.
Untuk menguatkan pendapatnya, mereka menunjukkan ayat Al-Qur’an yang mereka ambil hanya sebagian atau sepotong, tidak mereka perhatikan secara keseluruhannya. Kemudian mencari ayat lain lalu di hubungkan dengan ayat yang sudah diambilnya secara sepotong. Kemudian ayat yang mereka potong tersebut mereka maknai sesukanya.
.
Berikut ini ayat yang mereka ambil secara sepotong.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
”Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya ayat 30).
.
Para pembela bid’ah hasanah mengatakan : Lafadz “KULLA” pada ayat 30 surat al-Anbiyya tersebut haruslah di terjemahkan dengan arti : “SEBAGIAN” sehingga ayat itu berarti : “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluk hidup”. Karena pada kenyata’annya tidak semua makhluk yang diciptakan Allah berasal dari air.
.
Itulah penafsiran mereka terhadap ayat Al-Qur’an di atas. Mereka pun tidak menunjukkan penafsiran para Ulama ahli tafsir yang memberikan penafsiran demikian. Karena memang tidak ada para Ulama ahli tafsir yang mengatakan seperti itu. Terlebih lagi para Ulama ahli tafsir terdahulu.
.
Dalam menguatkan penafsiran ayat di atas, mereka menunjukkan ayat lain yang terdapat dalam surat Al-A’raf ayat 12 berikut ini,
.
خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
.
“Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api sedangkan engkau menciptakannya (adam) dari tanah liat”. (QS Al-A’raf : 12).
.
Para pembela bid’ah hasanah selanjutnya berkata, Dengan demikian, ternyata lafadz “KULLU” tidak dapat di terjemahkan secara mutlak dengan arti : “SETIAP/ SEMUA, sebagaimana umumnya jika merujuk ke dalam kamus bahasa Arab umum, karena hal itu tidak sesuai dengan kenyata’an.
.
Itulah perkata’an mereka akibat dari memotong-motong ayat dan menghubungkannya dengan ayat yang mereka kehendaki. Sehingga timbullah penafsiran yang mereka buat-buat sendiri.
.
Kita perhatikan kesalahan mereka !
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
”Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya ayat 30).
.
Itulah arti dari ayat di atas yang sebenarnya. Lafadz “KULLU” pada ayat tersebut arti yang sebenarnya memang “SEGALA”, bukan “SEBAGIAN” sebagaimana menurut mereka.
.
Memang benar, bahwa kata-kata yang bernada umum dalam bahasa Arab seperti kata “KULLU” (كُلُّ), tidak harus diartikan umum tanpa kecuali.
.
Namun dengan memperhatikan konteks kalimat, realita, penalaran, dan nash-nash lainnya, maka kita bisa menyimpulkan apakah keumuman suatu ungkapan dalam bahasa Arab tadi masih berlaku mutlak, ataukah tidak.
.
Dan untuk memaknai dengan benar makna yang terkandung dari suatu ayat, maka diantaranya kita harus mengkaji ayat tersebut secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong.
.
Perhatikan kembali ayat yang mereka potong di atas sebagai berikut,
.
Allah ta’ala berfirman :
.
“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”
.
“Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Lafadz “KULLU” pada ayat di atas artinya : “SEGALA”, namun mereka para pembela bid’ah hasanah mengartikannya : “SEBAGIAN”.
.
Lalu arti yang benar yang mana, “SEGALA” atau “SEBAGIAN” ?
.
Perhatikan ! !
.
Supaya tidak salah memaknai ayat di atas, maka perlu di perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya, tidak hanya sepotong.
.
Perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya berikut ini :
.
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ
.
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. DAN DARI AIR KAMI JADIKAN SEGALA SESUATU YANG HIDUP. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Jika kita perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya, maka kini kita bisa mengetahui bahwa ayat tersebut sedang menyebutkan tentang kebesaran Allah, yaitu menerangkan bagaimana dahulunya langit dan bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya. Dan ayat itu menerangkan bahwa AIR SEBAGAI SUMBER DARI SEGALA YANG HIDUP DI BUMI.
.
Sebagai bukti bahwa ayat dalam surat al-Anbiyya ayat 30 itu sedang berbicara tentang bumi, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya yang artinya :
.
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”. (QS. al An-Biyya : 31).
.
Kita perhatikan juga penafsiran para Ulama ahli tafsir tentang air yang di sebutkan dalam ayat di atas,
.
Berikut ini dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
‘Dan dari air Kami jadikan “SEGALA” sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiya: 30).
.
Imam Ibnu Katsir mengatakan . . “Dari Ibnu Umar, bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepadanya menanyakan langit dan bumi yang dahulunya suatu yang padu, lalu Allah memisahkan keduanya. Ibnu Umar berkata, “Pergilah kepada syekh itu, lalu tanyakanlah kepadanya, kemudian datanglah kamu kemari dan ceritakanlah kepadaku apa yang telah dikatakannya.” Lelaki itu pergi menemui Ibnu Abbas dan menanyakan masalah itu kepadanya. Ibnu Abbas menjawab, “Ya, memang dahulunya langit itu terpadu, tidak dapat menurunkan hujan, dan bumi terpadu (dengannya) sehingga tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan. Setelah Allah menciptakan bagi bumi orang yang menghuninya, maka Dia memisahkan langit dari bumi dengan menurunkan hujan, dan memisahkan bumi dari langit dengan menumbuhkan tetumbuhan.” (Tafsir Ibnu Katsir QS Al-Anbiya: 30).
.
Dan berikut ini keterangan tentang air yang dimaksudkan dalam ayat ke 30 dalam Surat Al-Anbiya dalam Tafsir Jalalain.
.
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan : “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya AIR LAH YANG MENJADIKAN PENYEBAB BAGI SELURUH KEHIDUPAN BAIK MANUSIA, HEWAN, MAUPUN TUMBUH-TUMBUHAN. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap ke esaan Allah”. (Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, [Bandung: Sinar Baru Algensindo], 2008, hlm. 126-127).
.
Setelah kita mengetahui ayat di atas secara utuh, tidak membacanya secara sepotong dan juga kita perhatikan keterangan dari para Ulama ahli tafsir, maka jelaslah lafadz “KULLU’ pada ayat tersebut maknanya : SETIAP, SEMUA, SEGALA, SELURUH. Bukan SEBAGIAN.
.
Jadi ayat di atas bunyinya :
.
“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”
.
“Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Itulah pengertian dari ayat tersebut yang sebenarnya.
.
SEGALA sesuatu yang hidup yang di maksudkan dalam ayat di atas artinya, SEMUA YANG HIDUP DI MUKA BUMI BERSUMBER DARI AIR. Tidak akan ada kehidupan di muka bumi apabila tidak ada air.
.
Perhatikan keterangan dalam Tafsir Jalalain di atas sekali lagi,
.
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan : “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya AIR LAH YANG MENJADIKAN PENYEBAB BAGI SELURUH KEHIDUPAN BAIK MANUSIA, HEWAN, MAUPUN TUMBUH-TUMBUHAN.
.
Apakah ada makhluk hidup di muka bumi yang bisa hidup tanpa air ?
.
Dengan melihat ayat di atas secara utuh tidak sepotong, maka jelas sangat keliru apabila air yang disebutkan dalam ayat tersebut di maknai air sperma. Namun air dalam ayat tersebut air yang sesungguhnya. Air yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup yang ada di permuka’an bumi. Karena ayat tersebut sedang menerangkan tentang bumi. Dan kata “KULLU” dalam ayat tersebut juga bermakna “SEGALA” bukan “SEBAGIAN”.
.
Kita kembali kepada hadits Nabi yang menyebutkan,
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “KULLU” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “KULLU” bid’ah adalah kesesatan”, dan “KULLU” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Kata “KULLU” dalam hadits tersebut memang artinya “SEGALA”, “SETIAP” atau “SEMUA”. Bukan “SEBAGIAN”.
.
Apabila kata “KULLU” dalam hadits tersebut di artikan “SEBAGIAN”, maka akan menimbulkan pertanya’an yang tidak akan bisa di jawab.
.
Coba kita artikan kata “KULLU” dalam hadits di atas dengan arti “”SEBAGIAN sebagaimana yang di artikan oleh para pembela bid’ah hasanah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “SEBAGIAN” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “SEBAGIAN” bid’ah adalah kesesatan” dan “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Karena lafadz “KULLU” dalam hadits di atas diartikan “SEBAGIAN”. Jadi akhir dari hadits tersebut berbunyi “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka.
.
Apabila dalam hadits tersebut di sebutkan “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka.
.
Maka ada “SEBAGIAN” kesesatan lagi yang tempatnya di surga.
.
Maka kini timbul pertanya’an, “SEBAGIAN” kesesatan apa yang tempatnya di surga ?
.
Pertanya’an itu perlu di pertanyakan, karena di akhirat tempat itu hanya ada dua, yaitu surga dan neraka.
.
Berbeda halnya apabila lafadz “KULLU” dalam hadits di atas di maknai SETIAP, SEMUA atau SEGALA.
.
Kita perhatikan apabila hadits di atas dengan lafadz “KULLU” dimaknai “SETIAP/SEMUA”.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “SETIAP/SEMUA” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “SETIAP/SEMUA” bid’ah adalah kesesatan” dan “SETIAP/SEMUA” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Perhatikan lafadz hadits di atas dengan lafadz “KULLU” dimaknai SETIAP/SEMUA. Tidak menimbulkan kerancuan sebagaimana halnya di maknai SEBAGIAN.
.
Maka jelaslah lafadz “KULLU” dalam hadits tersebut bermakna SETIAP/SEMUA. Bukan “SEBAGIAN”
.
Dan inilah yang di fahami oleh para Sahabat.
.
Ibnu Umar berkata :
.
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
.
“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
__________________