BAIK MENURUT KITA BELUM TENTU BAIK MENURUT ALLAH DAN RASULNYA

BAIK MENURUT KITA BELUM TENTU BAIK MENURUT ALLAH DAN RASULNYA

Seringkali orang awam kebingungan tidak faham ketika dikatakan amalan-amalan atau acara-acara yang dilakukannya dikatakan bid’ah. Mereka pun berkata ; Bukankah amalan ini baik ?

Ketahuilah, baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman ;

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“. . Tetapi boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh Jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (Al Baqarah, 216).

Coba kita perhatikan riwayat-riwayat berikut ini.

1. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyata’an tiga orang. Yang pertama berkata : “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua berkata : ”Saya akan puasa dan tidak akan berbuka”, yang terakhir berkata : “Saya tidak akan menikah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata : “Apa urusan mereka dengan berkata seperti itu ?, Padahal saya puasa dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pun tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku”. (Muttafaqun alaihi).

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencela seseorang yang hendak shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam.

* Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bukankah tujuan orang tersebut baik, hendak memperbanyak ibadah ?

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencela seseorang yang akan puasa dan tidak akan berbuka.

* Kenapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bukankah tujuan orang tersebut baik, hendak memperbanyak ibadah ?

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencela seseorang yang tidak akan menikah, karena hendak taqorrub kepada Allah.

* Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bukankah tujuan orang tersebut baik, hendak taqorrub kepada Allah ?

2- Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah :

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ

“Yaa Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada Nabimu yang Engkau utus”

Nabi berkata :

فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ

“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah doa ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”

Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata “Dan aku beriman kepada RasulMu yang Engkau utus”

Nabi berkata : “Tidak, (akan tetapi) : Dan aku beriman kepada NabiMu yang Engkau utus”. (HR Al-Bukhari no 6311).

* Kenapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyalahkan perkata’an Al-Baroo’ bin ‘Aazib yang berkata : “Dan aku beriman kepada RasulMu yang Engkau utus”. Bukankah perkata’an “RasulMu” itu baik ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Perhatikan juga atsar para Sahabat berikut ini.

1. Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

* Kenapa Sa’id bin Musayyib melarang seorang laki-laki yang menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya, Bukankah Shalat itu adalah amalan yang paling utama ?

2. Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahtera’an bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

* Kenapa Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengajarkan kepada seorang laki-laki yang bersin, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari, kalau bersin untuk mengucapkan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal”. Bukankah ucapan “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” yang diucapkan seorang laki-laki itupun baik ?

3- Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka, “Bertasbihlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahmidlah seratus kali” Dan demikianlah seterusnya . . Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya, tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud , “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan”. Lalu Abu Musa menceritakan keada’an halaqah dzikir tersebut. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun ?” Abu Musa pun menjawab, “Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka”. Berkatalah Ibnu Mas’ud, Mari kita pergi menuju mereka. Lalu Ibnu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? Ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”, Mereka pun menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”. Berkata Amru bin Salamah, “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang An-Nahrawan bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih).

* Mengapa Ibnu Mas’ud menegur orang-orang yang sedang berdzikir, Bukankah dzikir itu baik ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kalau kita perhatikan riwayat-riwayat diatas,

* Kenapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencela orang yang hendak memperbanyak ibadah, bukankah ibadah itu baik ?

* Kenapa para Sahabat mencela dan mengingkari orang yang sedang beribadah, bukankah ibadah itu baik ?

Apa yang dicela dan diingkari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga para Sahabat, tujuan mereka melakukannya adalah untuk memperbanyak ibadah. Maksud mereka tentu saja baik.

Tapi mengapa mereka dicela ?

Tidak lain, karena apa yang mereka lakukan tidak dibenarkan oleh syari’at. Apa yang mereka lakukan tidak ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Yang mereka lakukan adalah perkara yang dibuat-buat. Perkara yang baru (bid’ah) dalam urusan ibadah.

Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga para Sahabat tidak faham kalau bid’ah ada yang baik ?

Apakah ahli bid’ah yang mengatakan ada bid’ah hasanah lebih faham Islam daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat ?

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=======================

HUKUM ASALNYA IBADAH

HUKUM ASALNYA IBADAH
.
Semua orang yang beribadah tentu saja mengharapkan pahala yang melimpah dan kecinta’an Allah Ta’ala.
.
Sangat di sayangkan apabila kita beribadah kepada Allah Ta’ala hanya berdasarkan hawa nafsu, bukan berdasarkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana orang-orang menyimpang dan sesat dari zaman dahulu sampai sa’at ini, mereka beribadah di bangun di atas anggapan baik semata. Sehingga bermunculan cara-cara baru dalam ibadah yang tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan, perintahkan dan setujui.
.
Padahal baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan Rasul-Nya. Dan tentu saja apabila ibadah di bangun berdasarkan perasa’an baik, maka ibadah yang kita lakukan akan sia-sia, bahkan akan mendapatkan murka Allah Ta’ala.
.
Para Ulama menyebutkan bahwa asal hukumnya ibadah adalah di lakukan setelah di ketahui adanya dalil.
.
Ulama Syafi’i berkata :
.
اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف
.
“Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil)”.
.
Perkata’an di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5: 43).
.
Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi rujukan. Perkata’an Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan. Itu artinya asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan.
.
Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata :
.
أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف
.
“Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)”. (Fathul Bari, 2: 80).
.
Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar bermadzhab Syafi’i juga berkata :
.
لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ
.
“Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”.
.
Kaedah ini disebutkan oleh beliau dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.
.
Dalam kitab ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan di sebutkan,
.
الأصل في العبادات التوقيف
.
“Hukum asal ibadah adalah tawqif (menunggu sampai adanya dalil)”.
.
Dalam Al-Adabu Asy Syar’iyah, Ibnu Muflih berkata :
.
أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ
.
“Sesungguhnya amal diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai sebab kecuali jika telah di syari’atkan karena standar ibadah boleh dilakukan jika ada dalil”.
.
Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits, Imam Syafi’i termasuk di dalamnya berkata :
.
إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ
.
“Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)”. (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17).
.
Itulah beberapa perkata’an para Ulama Ahlussunnah yang mensyaratkan bahwa ibadah tidak boleh di lakukan jika tidak ada dalil yang memerintahkannya.
.
Berbeda dengan orang-orang yang menyimpang dan sesat, mereka beribadah bukan berdasarkan dalil, tapi di bangun di atas hawa nafsu, yaitu anggapan baik. Kemudian di cari-carinya dalil untuk membenarkan amalan-amalannya, sehingga semarak bid’ah di tengah-tengah umat, yang kemudian umat meyakininya sebagai ajaran Islam. Dan kemudian mereka sulit untuk meninggalkan amalan-amalan bid’ahnya.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______________

MAYORITAS BUKAN UKURAN KEBENARAN

MAYORITAS BUKAN UKURAN KEBENARAN
.
Banyak firqoh, aliran dan faham bermunculan di tengah-tengah kaum muslimin. Masing-masing dari setiap kelompok memiliki pengikut. Ada persepsi keliru yang di anut sebagian orang bahwa yang banyak pengikutnya berarti golongan tersebut benar, sedangkan yang sedikit pengikutnya dianggap sebagai kelompok menyimpang bahkan tidak jarang di tuduh sebagai kelompok sesat, karena menyelisihi kelompok yang banyak. Perinsip demikian sama dengan perinsip yang dianut orang-orang jahiliyah zaman dahulu.
.
Sesungguhnya orang-orang jahiliah dahulu punya anggapan bahwa yang banyak itulah yang benar, adapun yang menyelisihinya, yang jumlahnya sedikit maka itulah yang sesat.
.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata : “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al-Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38).
.
• Jangan Mengikuti Kebanyakan Manusia
.
Sikap mengikuti kebanyakan manusia ternyata di larang oleh Allah Ta’ala. Karena akan menyebabkan tersesat dari jalan Allah.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am: 116).
.
Banyaknya jumlah manusia yang mengikuti bukan parameter sebuah kebenaran. Al-haq adalah yang berdiri diatas petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bukan di ukur dengan jumlah manusia.
.
• Kebanyakan Manusia Menyimpang Dari Kebenaran
.
Kebanyakan manusia bahkan ternyata bukan pengikut kebenaran malah justru sebaliknya. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan, justru manusia kebanyakan tidak beriman, menentang para Rasul, tidak punya pengetahuan, kufur dan sesat.
.
– Kebanyakan manusia tidak beriman, Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
.
“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya”. (QS. Yusuf: 103).
.
– Kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan, Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
.
“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 187).
.
– Kebanyakan manusia fasik, Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ
.
“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102).
.
Dari ayat-ayat diatas ternyata kebanyakan manusia di dunia ini justru bukanlah pengikut kebenaran.
.
• Pengikut Kebenaran Jumlahnya Sedikit
.
Dan di banyak ayat kita dapati bahwa ternyata pengikut kebenaran jumlahnya sedikit.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
.
“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit”. (QS. Hud: 40).
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّاهُمْ
.
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, dan amat sedikit mereka ini”. (QS. Shad : 24).
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
.
“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”. (QS. Saba’: 13).
.
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna dengan itu.
.
Banyaknya jumlah manusia yang mengamalkan acara-acara atau amalan-amalan bid’ah, bagi Ahlu Sunnah tidak perlu menjadikan lemah untuk tetap tegar diatas sunnah.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قُلْ لا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
.
“Katakanlah, Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al-Maidah: 100).
.
Tidak perlu silau dan terpedaya oleh banyaknya pengikut pada kelompok tertentu yang menyimpang dari kebenaran.
.
Imam an Nawawi rahimahullah berkata : “Janganlah seorang manusia terpedaya dengan banyaknya orang-orang yang melakukan perbuatan yang dilarang melakukannya, yaitu orang-orang yang tidak mengindahkan adab-adab Islam. Ikutilah perkata’an Al-Fadhl bin Iyadh, ia berkata : “Janganlah merasa asing dengan jalan hidayah karena sedikitnya orang yang melaluinya. Dan jangan pula terpedaya dengan banyaknya orang-orang yang sesat binasa”. (Ucapan ini dinukil oleh adz Dzahabi dalam kitab Tasyabbuhil Khasis, halaman 33).
.
Dikucilkan dan terasing di tengah-tengah mayoritas ahli bid’ah, maka Ahlu Sunnah tidak perlu menjadi kecil hati, tapi justru beruntung karena mendapatkan kabar gembira dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
.
“Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_____________________