ILMU TAJWID BID’AH ?

ILMU TAJWID BID’AH ?

Ilmu Tajwid bukanlah bid’ah dalam agama Islam bahkan merupakan suatu maslahat mursalah (Lihat al-I’tisham 2/111—112).

Demikian pula ilmu nahwu, ilmu mushtholah, ilmu ushul fikih, dan sebagainya, yang semua itu tidak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun sebab yang mendorong para ulama untuk membuat sebuah metode membaca al-Qur’an (ilmu tajwid), adalah karena tersebarnya bahasa orang-orang non Arab yang merusak ilmu Al-Quran.

Bisa kita perhatikan betapa banyak orang tidak bisa membedakan د (dal) dengan ذ (dzal), ظ (dzo`) dengan ض (dho’). Demikian pula س (sin) dengan ش (syin) atau denganث (tsa’), dan seterusnya.

Maka sebuah ilmu yang menentukan tata cara membaca al-Qur’an yng benar dibutuhkan.

Ilmu tajwid diambil dari Al-Quran dan Sunnah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Quran, serta para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in demikian seterusnya. Sampailah kepada ulama-ulama yang ahli dalam Al-Quran sehingga sampai ilmu qiro’at tersebut dengan cara yang mutawatir.

Ilmu tersebut dinamakan dengan ilmu tajwid, sedangkan tajwidnya sendiri ada dua, yaitu :

Syafawi ‘Amali, yaitu bacaan Al-Quran yang bagus yang diambil dari orang yang ahli dalam membaca Al-Quran.

Nadzory ‘Ilmi, yaitu suatu ilmu yang diajarkan secara turun-temurun menurut kaidah yang diletakkan oleh para ulama.

=========

JANGAN BERGAUL DENGAN AHLI BID’AH

JANGAN BERGAUL DENGAN AHLI BID’AH
.
Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan teman dalam hidupnya. Terbukti di sa’at masa kanak-kanak sampai menginjak usia dewasa, seorang manusia akan mencari teman dalam kesehariannya. Seorang anak kecil dia akan mencari teman yang bisa di ajaknya bermain, tanpa memperdulikan status sosial atau agama temannya. Ketika menginjak usia dewasa seorang manusia tidak lagi asal berteman, tapi akan memilih teman yang memiliki kesama’an, apakah statusnya, kegemaran atau kesama’an idiologi.
.
Islam sebagai agama yang sempurna, memberikan petunjuk kepada umatnya untuk tidak asal berteman. Karena seorang teman bisa memberikan pengaruh yang kuat dalam hidupnya.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ
.
“Apabila engkau wahai Rasul melihat orang-orang musyrikin membicarakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kebatilan dan olokan, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicara’an yang lain”. (QS. Al-An’am: 68).
.
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :
.
و في الآية النهي عن مجالسة أهل البدع و الأهواء، و أن من جالسهم حكمه حكمهم، و قد ذهب إلى ذلك الإمام أحمد ب حنبل و الأوزاعي و ابن المبارك فإنهم قالوا في رجل شأنه مجالسة إهل البدع قالوا: ين عن مجالستهم فإن انتهى و إلا ألحق بهم، يعنون في الحكم (تفسر القرطبي / ٤ / ١٢٥ – ١٢٦).
.
“Pada ayat ini ada larangan untuk duduk bermajelis dengan ahli bid’ah dan ahli ahwa’. Siapa yang duduk bersama mereka, maka hukumnya sama dengan hukum mereka. Telah berpendapat seperti ini Imam Ahmad, Al-Auza’i dan Ibnul Mubarak. Mereka berkata tentang keada’an orang yang suka bermajelis dengan ahli bid’ah bahwa orang tersebut harus dilarang dari bermajelis dengan mereka jika dia berhenti (dari bermajelis dengan mereka), maka itu baik baginya karena menerima nasihat. Namun jika tidak, maka akan diikutkan dengan mereka, artinya hukumnya sama dengan hukum mereka”. (Tafsir Al-Qurthubiy, 4/125-126).
.
Berhati-hati dalam memilih teman juga di peringatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabdanya :
.
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
.
“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman“. (HR Abu Dâwud no. 4833).
.
Hadits di atas sebagai peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selektif dalam memilih teman. Karena seorang manusia memiliki sifat yang mudah di pengaruhi oleh teman bergaulnya.
.
Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Qâsim berkata, “Sifat manusia adalah cepat terpengaruh dengan teman pergaulannya“.
.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
لا تجالس أهل الأهواء فإن مجالستهم ممرضة للقلوب ( الشريعة للآجري برقم : ١٣٣ )
.
“Janganlah engkau duduk dengan ahli ahwa’ (ahli bid’ah), karena sesungguhnya bermajelis dengan mereka adalah penyakit bagi hati”. (Asy-Syari’ah, Al-Ajurriy, no.133).
.
Manusia-manusia yang menyimpang dan tersesat dari kebenaran, semenjak dahulu sampai hari ini adalah berawal dari perteman dengan orang yang menyimpang dan sesat. Begitu pula orang-orang salih yang berjalan di atas petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya berawal dari pertemanan dengan orang salih.
.
Sungguh besar pengaruh seorang teman bergaul bagi kehidupan manusia. Seorang teman bisa memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap agama seseorang. Rusak atau selamatnya agama seseorang bisa di pengaruhi oleh teman bergaulnya.
.
Berteman dengan orang yang menyimpang dan tersesat akan mendatangkan penyesalan di akhirat kelak. Sebagaimana penyesalannya orang-orang kafir yang di sebutkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
.
“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelaka’an besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an sesudah Al-Qur’an itu datang kepadaku”. (QS. Al Furqan: 27-29).
.
Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata, Sekalipun latar belakang turunnya ayat ini berkena’an dengan Uqbah ibnu Abu Mu’it atau lainnya dari kalangan orang-orang yang celaka, tetapi maknanya bersifat umum mencakup semua orang yang zalim. (Tafsir Imam Ibnu Katsir QS. Al-Furqon, 27).
.
Itulah penyesalan orang-orang yang berpaling dari kebenaran di akhirat karena salah memilih teman bergaul. Namun tentu saja ratapan mereka di akhirat tidak ada gunanya.
.
• Permisalan Teman Yang Baik Dan Teman Yang Buruk
.
Terdapat perbeda’an antara orang-orang yang salih dengan orang-orang yang buruk agamanya, sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
.
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
.
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”. (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).
.
Imam An Nawawi rahimahullah (L 631 H) berkata : “Hadits ini juga menunjukkan keutama’an bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227).
.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah (773-852 H) mengatakan : “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita”. (Fathul Bari 4/324).
.
Islam melarang umatnya bergaul dengan ahli bid’ah karena di khawatirkan akan mempengaruhi dan menjerumuskannya dalam kebid’ahan, sehingga kemudian kebid’ahan di yakininya sebagai ajaran agama dan akhirnya sulit untuk bertaubat. Bukankah kebid’ahan itu menjadikan pelakunya sulit untuk bertaubat. Sebagaimana yang di katakan Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah (w. 161 H),
.
وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا
.
“Dan pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya, sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya”. (Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, no. 238).
.
• Peringatan Para Ulama Untuk Tidak Bergaul Dengan Ahli Bid’ah.
.
Dan berikut peringatan para Ulama untuk tidak bergaul dengan ahli bid’ah,
.
– Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata :
.
لا تجلس مع صاحب بدعة، فإني أخشى عليك اللعنة (الإبانة لإبن بطة)
.
“Janganlah engkau duduk bersama ahli bid’ah, karena sesungguhnya aku takut engkau akan tertimpa laknat”. (Al-Ibanah, Ibnu Batthoh).
.
– Fudhail bin Iyadh berkata : “Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid’ah, maka hati-hatilah darinya. Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid’ah dia tidak akan diberi hikmah. Aku menginginkan ada benteng dari besi yang memisahkan aku dengan ahlul bid’ah…” Beliau berkata, “Aku bertemu orang-orang terbaik, dan mereka semua adalah Ahlus Sunnah, semuanya melarang bergaul dengan ahlul bid’ah”.
.

– Ibnu ‘Aun rahimahullah berkata :
.
من يجالس أهل البدع أشد علينا من أهل البدع (الإبانة لإبن بطة برقم: ٤٨٦)
.
“Orang yang duduk-duduk bersama ahli bid’ah itu lebih buruk ketimbang ahli bid’ah itu sendiri.” (lihat Al-Ibanah, Ibnu Batthoh, no. 486).
.
– Imam Ahmad berkata : “Tidaklah sepantasnya seseorang duduk dengan ahlul bid’ah atau bergaul dengannya, tidak pula punya hubungan dekat dengannya”. Beliau juga berkata dalam suratnya kepada Musaddad : “Janganlah kamu bermusyawarah dengan ahlul bid’ah dalam perkara agamamu dan janganlah berteman safar dengannya”.
.
– Ibnu Taimiyah berkata : “Jika pergaulan seseorang adalah dengan orang-orang jelek, maka peringatkanlah orang darinya. Jika dia beranggapan baik kepada ahlul bid’ah mengaku bahwa dia belum tahu keada’an mereka, maka dia diberitahu tentang keada’an mereka. Jika setelah dijelaskan, dia tidak berpisah dengan mereka (ahli bid’ah) dan tidak menampakkan pengingkaran terhadap mereka, maka dia digabungkan dan disikapi seperti mereka”.
.
– Yahya bin Sa’id Al-Qaththan berkata : Ketika Sufyan datang ke Bashrah, beliau melihat Rabi’ bin Shubaih serta kedudukannya di sisi manusia. Beliau bertanya, “Bagaimana pemahamannya ?” Mereka menjawab, “Pemahamannya adalah Ahlus Sunnah”. Beliau berkata, “Siapa teman-temannya ?” Mereka menjawab, “Orang-orang Qadariyyah (pengingkar takdir)”. Beliau berkata, “Berarti dia adalah pengingkar taqdir juga”.
.
– Abu Dawud As-Sijistani pernah berkata kepada Al-Imam Ahmad : “Aku melihat ada seorang Ahlus Sunnah sedang bersama dengan ahlul bid’ah. Apakah aku tinggalkan bicara dengannya ?”. Imam Ahmad menjawab, “Jangan, engkau beritahu dia bahwa orang yang kamu lihat dia bersamanya adalah ahlul bid’ah. Jika dia meninggalkan perbuatannya berbicara dengan ahlul bid’ah tersebut, maka sambunglah hubungan dengannya. Namun jika tetap seperti itu, tinggalkanlah. Ibnu Mas’ud berkata : Seseorang itu sama dengan temannya”.
.
– Ibnul Jauzi berkata : “Takutlah kalian kepada Allah dari berteman dengan mereka (ahli bid’ah). Wajib untuk mencegah anak-anak dari pergaulan bersama mereka, agar tidak ada pada hati mereka satu kebid’ahan pun. Sibukkanlah mereka dengan hadits-hadits Rasulullah agar lembut hati mereka”.
.
– Imam Al-Barbahari berkata : “Jika nampak kepadamu dari seseorang satu kebid’ahan, hati-hatilah darinya. Karena yang dia sembunyikan darimu lebih banyak dari yang ditampakkannya”.
.
• Akibat Buruk Bergaul Dengan Ahli Bid’ah.
.
Para Ulama memperingatkan untuk tidak bergaul dengan ahli bid’ah karena akibat buruk yang ditimbulkannya. Dan berikut ini beberapa akibat buruk bergaul dengan mereka.
.
– Sufyan Ats-Tsauri berkata : “Seseorang yang duduk dengan ahlul bid’ah tidak akan selamat dari satu diantara tiga perkara, Menjadi fitnah bagi yang lainnya, masuk dalam hatinya kebid’ahan hingga dia tergelincir dengannya, atau di masukkan oleh Allah ke dalam neraka …”
.
– Ketika ada orang yang berkata kepada Ibnu Sirin, Sesungguhnya fulan (salah seorang ahlul bid’ah) ingin datang dan berbicara denganmu. Beliau berkata, “Katakan kepadanya, jangan datang kepadaku. Sesungguhnya hati anak Adam itu lemah. Aku khawatir mendengar satu kalimat darinya kemudian hatiku tidak bisa kembali seperti semula”.
.
– Duduk dengan ahlul bid’ah menentang perintah Allah dan Rasul-Nya serta menyimpang dari jalan sahabat. Karena Allah berfirman : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa coba’an atau ditimpa azab yng pedih.” (An-Nur:63).
.
– Duduk dengan ahlul bid’ah menyebabkan kecinta’an kepada mereka. Ibnu Mas’ud berkata, “Seseorang hanya akan berteman dan berjalan dengan orang yang sejenis dengannya”.
.
– Duduk dengan ahlul bid’ah bermudharat bagi ahli bid’ah itu sendiri, karena diantara hikmah menjauhi mereka adalah agar jera dan kemudian rujuk (keluar) dari kebid’ahannya. Adanya orang yang dekat dengannya akan menjadi sebab jauhnya dia dari bertaubat, karena merasa jalan yang ditempuhnya adalah kebenaran.
.
– Duduk dengan ahlul bid’ah menjadi sebab orang lain berburuk sangka kepadanya.
.
Ini hanyalah sebagian dari keburukan yang kita ketahui. Hanya Allah yang tahu betapa banyak mafsadah yang muncul akibat duduk dan berteman dengan ahlul bid’ah. Mudah-mudahan ini cukup sebagai nasihat bagi orang yang menginginkan keselamatan agamanya. (Mauqif Ahlis Sunnah hal. 550-551)
.
• Beberapa Contoh Kasus Orang Yang Terjatuh Dalam Kesesatan Karena Berteman Dengan Ahli Bid’ah.
.
Berteman dengan ahlul bid’ah adalah bencana yang besar dan bahaya yang menyebar. Karena ahlul bid’ah lebih berbahaya dari orang fasik. Banyak orang yang bergaul dengan ahlul bid’ah dan tidak selamat dari kebid’ahan mereka.
.
Al-Imam Adz-Dzahabi berkata, dalam biografi Rawandi : Dia berteman dengan Rafidhah dan orang-orang menyimpang lainnya. Jika dihukum, dia menjawab, “Aku hanya ingin tahu ucapan-ucapan mereka”. Sampai akhirnya dia pun menjadi mulhid (atheis/penyimpang) dan turun dari dien dan millah (agama) ini.
.
Al-Imam Adz-Dzahabi juga berkata, dalam biografi Ibnu Aqil Al-Hanbali, ketika menukil ucapannya, beliau berkata, “Para ulama Hanbali ingin agar aku menjauhi sekelompok ulama, padahal itu menyebabkan aku luput dari sebagian ilmu”.
.
Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari ucapannya : “Para ulama melarangnya bergaul dengan Mu’tazilah namun dia enggan menerimanya. Akhirnya dia terjatuh dalam jerat mereka dan menjadi lancang dalam menakwil dalil-dalil. Kepada Allah sajalah kita memohon keselamatan”. (Ni’matul Ukhuwah hal. 21-25)
.
Setelah mengetahui banyak akibat buruknya bergaul dengan ahli bid’ah, maka sangat tepat apabila seorang muslim tidak bergaul dengan mereka karena khawatir akibat buruk yang di timbulkannya.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______________________________

FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA BID’AH

FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA BID’AH

Kenapa bid’ah bisa muncul dan eksis ditengah-tengah umat ?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya bid’ah ditengah-tengah umat. Di antaranya :

1. Anggapan baik (ihtisan).

Faktor anggapan baik ini merupakan penyebab yang paling banyak dijadikan alasan mengapa mereka (ahli bid’ah) melakukan amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya.

Kita perhatikan jawaban sekelompok orang yang membuat halaqoh dzikir yang tidak sesuai tuntutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ditegur oleh Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dan mereka menjawab dengan alasan :

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ

“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan”.

Perhatikan ucapan mereka !, alasan mereka membuat perkara baru dalam urusan agama (bid’ah) alasannya adalah anggapan ”baik” (ihtisan).

Ibnu Mas’ud menjawab perkata’an mereka :

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi).

Padahal menganggap baik bid’ah, sama artinya telah menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghianati risalah. Sebagaimana yang dikatakan Imam Malik rahimahullah.

Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

Ahli bid’ah tidak faham, bahwa syarat diterimanya ibadah selain baik juga harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Ash-Shawab).

2. Berdalil dengan hadits dhaif bahkan palsu

Tidak sedikit amalan-amalan bid’ah dibangun diatas hadits-hadits dhaif bahkan palsu.

Berikut ini diantaranya :

– Mengusap tengkuk ketika wudhu

Diantara hadits dhaif yang sering digunakan

مَسَحُ الرَّقَبَةِ أَمَانٌ مِنَ الْغُلِّ

“Mengusap leher adalah pengaman dari dengki, iri hati, benci”.

Juga hadits yang berbunyi,

مَنْ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عُنُقَهُ لَمْ يُغَلَّ بِالْأَغْلاَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang berwudhu dan mengusap lehernya, ia tidak akan dibelenggu dengan (rantai) belenggu hari kiamat”.

Berkata Imam An-Nawawy : “Tidak ada sama sekali (hadits) yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalamnya (yakni dalam masalah mengusap leher/tengkuk)”.

Berkata Ibnul Qayyim : “Tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mengusap leher”. (Zadul Ma’ad 1/195).

Baca Al-Majmu’ 1/488 dan Nailul Authar 1/206-207.

– Berdoa setiap mencuci anggota wudhu

Ada sebagian umat Islam yang membaca do’a setiap kali membasuh anggota wudhu.

Ketika kumur-kumur membaca do’a,

اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا

“Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-lamanya.”

Membasuh wajah membaca do’a,

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَسْوَدُّ الْوُجُوْهُ

“Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam.”

Mencuci tangan membaca do’a,

اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِيْ

“Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku.”

Begitu pula ketika membasuh kepala, telinga dan kaki ada do’a-do’a nya yang di baca.

Do’a-do’a tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Besar ulama Syafi’iyah, Imam An-Nawawy menegaskan, bahwa do’a ini tidak ada asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafi’iyah.

Imam An-Nawawi berkata :

ثم، مع هذا، لا شك أنه يتم تضمين الصلاة في الوضوء بدعة المضللة التي ينبغي التخلي عنها

”Maka, dengan ini, tidak diragukan bahwa do’a ini termasuk bid’ah sesat dalam wudhu yang harus ditinggalkan”. (Lihat Al-Majmu’ 1: 487-489).

3. Salah kaprah memahami nash / ayat

Faktor lainnya adalah salah memahami nash. Banyak hadits-hadits sohih, namun mengamalkan hadits sohih tersebut dengan membuat cara-cara atau model-model baru dalam ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga Shalafus Shaalih. Hal ini pun sebab terbanyak lahirnya bid’ah.

Sebagai contoh diantaranya, tentang keutama’an malam nishfu sya’ban. Keutama’an malam nishfu sya’ban banyak diriwayatkan oleh para Sahabat. Sebagaimana diriwayatkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان ، فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah Ta’ala menampakkan kepada hamba-Nya pada malam nishfu sya’ban, maka Dia mengampuni bagi seluruh hambaNya, kecuali orang yang musyrik atau pendengki.”

(Diriwayatkan oleh banyak sahabat nabi dan satu sama lain saling menguatkan. yakni oleh Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amr, ‘Auf bin Malik, dan ‘Aisyah. Lihat kitab As Silsilah Ash Shahihah, 3/135, No. 1144. Darul Ma’arif. Juga kitab Shahih Al Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/785. Al Maktab Al Islami).

Hadits ini menunjukkan keutama’an malam nishfu sya’ban (malam ke 15 di bulan Sya’ban), yakni sa’at itu Allah mengampuni semua makhluk kecuali yang menyekutukanNya dan para pendengki.

Tentunya sa’at itu waktu yang sangat baik untuk banyak beristighfar dan ibadah lainnya. Tetapi hadits ini sama sekali tidak menerangkan cara-cara tertentu dalam bentuk ibadah.

Tidak disebutkan di hadits tersebut perintah membaca yasin sebanyak tiga kali dengan tujuan tertentu, atau shalat tertentu dengan fadhilah tertentu, lalu sambil membawa air, juga tidak ada perintahnya semua amalan itu dilakukan ba’da maghrib sebagaimana yang dilakukan sebagian umat Islam sa’at ini.

Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” juz II hal 254 disebutkan bahwa jumhur ulama memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban. Dan mereka menegaskan bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bid’ah menurut para imam yang melarangnya, yaitu ‘Atho bin Abi Robah dan Ibnu Malikah.

Apabila sengaja berkumpul saja di malam nishfu sya’ban para Ulama memakruhkannya. Bagaimana pula apabila di malam nishfu sya’ban sengaja membuat perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah) ?

Keutama’an malam nishfu sya’ban memang shahih, tetapi amalan-amalan khusus malam nishfu sya’ban tidak ada tuntunannya. Jadi apabila ada sebagian orang yang melakukan amalan-amalan tertentu dengan cara-cara tertentu di malam nisfu sya’ban ini adalah bid’ah.

4. Mengikuti hawa nafsu

Penyebab lainnya yang menjadikan bid’ah muncul dan semarak ditengah-tengah umat adalah di dorong hawa nafsu.

Mereka beranggapan, Islam akan lebih baik bisa diterima umat, apabila ada inovasi dan kreasi-kreasi tertentu yang membuat umat bergairah dalam beragama.

Ketika dikatakan bahwa hal itu tidak dibenarkan oleh syari’at, tidak ada dasarnya, mereka menolak dengan keras. Mereka lebih mengikuti perasa’an dan logikanya, dibanding dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ثلاث مهلكات ، فقال : ثلاث مهلكات : شح مطاع و هوى متبع و إعجاب المرء بنفسه

“Ada tiga hal yang membinasakan. Lalu Beliau bersabda: “Tiga hal yang membinasakan adalah syahwat yang dita’ati, hawa nafsu yang dituruti, dan seorang yang kagum dengan dirinya sendiri . .”. (Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1802).

Wallahu Ta’ala A’lam Wa Fauqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/06-syubuhat/17-sahabat-utsman-membuat-bidah/

========================